Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 145. Baskoro Membuktikan Ucapannya


__ADS_3

Acara pertunangan Aria dan Anita berjalan dengan lancar. Mereka berdua sangat gembira dan lega dapat melewati pertunangan ini.


Tinggal menunggu waktu 6 bulan lagi untuk menikah.


Baskoro tidak tampak hadir di acara pertunangan ini.


Aria sangat semangat untuk mempersiapkan acara pernikahan mereka dari sekarang.


Ia sangat senang akhirnya akan menikah dengan Anita, wanita yang dicintainya.


Waktu pun berlalu 6 bulan kemudian..


Baskoro sedang meeting bersama dengan staffnya ketika ponselnya berdering.


Ia melihat nama Aria di layar ponselnya.


" Halo Aria?" Baskoro mendahului bicara.


" Halo Bas... apa kabar ? tanya Aria balik.


Semoga kamu sehat dan baik- baik saja ," kata Aria kembali.


" Ada apa Aria, tumben kamu meneleponku ?" sahut Baskoro heran.


" Kamu kenapa tidak datang pada saat acara pertunanganku Bas? Aku tunggu- tunggu kamu waktu itu. " kata Aria


" Aku sibuk," jawab Baskoro singkat.


" Aku mohon nanti ketika aku menikah kamu datang ya.


Sabtu ini aku menikah di hotel X . Kamu datanglah.. aku mengharapkan kamu datang Bas.. demi persahabatan kita," kata Aria


" Hmm... aku tidak janji, tapi aku usahakan. Aku sedang sibuk sekali Aria. Bisnisku mulai ramai dan aku harus memantaunya terus. " kata Baskoro.


" Syukur bila bisnismu sedang naik, aku ikut senang mendengarnya. Sukses terus ya Bas..


Usahakan ya kamu datang demi persahabatan kita," kata Aria.


" Ya .. ya ... aku usahakan, " kata Baskoro dengan nada dingin dan datar.


Sesudah menutup telepon Aria merasakan bahwa Baskoro menjadi berbeda sejak dari pertemuan mereka 3 tahun lalu.


Entah ada apa yang membuat Baskoro sepertinya menjauh dari mereka berdua Anita.


Tetapi akhirnya Aria terdiam mengacuhkan perasaannya karena ia sedang lebih fokus memikirkan untuk acara pernikahannya.


Ketika ia sedang melamun memikirkan perubahan Baskoro, Anita meneleponnya.


" Halo Mas.. jadi kan kita pergi untuk melihat persiapan gedung pernikahan kita ?" tanya Anita manja.


" Jadi sayang.. sebentar lagi aku pulang ya.

__ADS_1


Aku tadi telepon Baskoro untuk ia tidak lupa datang di pernikahan kita, tetapi aku aneh tanggapan Baskoro itu cuek dan dingin. Kenapa ya? Aku aneh melihat perubahan dia," kata Aria.


" Ya sudah mas, mungkin Baskoro sedang sibuk, jadi mungkin terganggu oleh telepon mas. Doakan saja mudah- mudahan Baskoro mau datang di acara pernikahan kita mas," kata Anita meyakinkan Aria untuk berpikir positif.


Anita diam- diam juga berdoa agar Baskoro tidak mengganggu acara pernikahan dirinya dengan Aria.


Seminggu setelah Aria dan Anita menikah, Baskoro tiba- tiba menelepon Aria.


Aria sangat senang Baskoro meneleponnya.


" Hai Bas... apa kabar? Aku tungu- tunggu kamu datang ke pernikahanku tetapi ternyata kamu tak datang. " tanya Aria .


" Aku minta maaf Aria, aku tak bisa datang pada pernikahanmu, sibuk sekali karena aku lagi bikin perusahaan baru yang bergerak di bidang produksi. " jawab Baskoro.


" Wah.. hebat sekali kamu Bas.. dalam waktu singkat sudah mempunyai perusahaan baru. " sahut Baskoro.


" Aku ingin bertemu kamu Aria, aku akan memberi kado pernikahan mu ini, dan biar kita berbincang- bincang tentang usaha, pekerjaan dan.bisnis, bagaimana Aria apa kamu ada waktu untuk bertemu ?" tanya Baskoro berharap.


" Oke.. nanti hari sabtu ya Bas. Aku kan kalau hari Sabtu bebas. Biar kita bicara banyak tentang bisnis barumu itu. Aku penasaran padamu Bas, biar aku bisa belajar banyak darimu," jawab Aria.


" Berarti 3 hari lagi ya, jam 4 sore ya Aria, aku akan datang tepat waktu. Kita bertemu di cafe dekat mall ya, " kata Baskoro.


" Mengapa tidak di cafe ku saja Bas, biar lebih nyaman kita ngobrolnya," kata Aria lagi.


" Hmm.. kalau di cafe mu nggak bebas, karena nanti ada saja pelayan yang bisa jadi menganggu pertemuan kita karena beberapa hal?" kata Baskoro.


" Sudah .. aku yang tentukan tempatnya saja," jawab Aria tegas.


" Baiklah Aria, 3 hari lagi ya kita bertemu, di cafe mu jam 4 sore," jawab Baskoro sebelum menutup teleponnya.


Aria pun kemudian sibuk menjalankan tugas kegiatan setiap hari di perusahaannya.


3 hari kemudian..


Baskoro menunggu Aria datang.


Dari dulu memang Baskoro selalu tepat waktu datang.


Tak lama Aria datang dengan tergesa. Ia baru saja meeting dengan para jajaran staff nya.


" Sorry ya.. aku telat, habis meeting," sahut Aria.


Baskoro tersenyum dengan tarikan bibir seperti tak suka Aria terlambat.


" Bagaimana sih Aria.. bukan kamu yang menyambutku, malah aku yang menunggumu," sahut Baskoro menatap Aria.


Aria menatap Baskoro dengan tatapan aneh. Ia mulai merasa temannya ini sudah sangat berubah. Tetapi untuk lebih meyakinkannya maka ia pun terdiam lalu ia berkata dengan nada gurau.


" Aku kan sudah bilang ada meeting. Kamu tidak akan bosan di sini karena pelayan- pelayanku sudah ku beritahukan untuk melayanimu sebelum aku datang. " katanya.


" Aku ke sini untuk bicara denganmu Aria, bukan dengan pelayanmu," kata Baskoro kesal.

__ADS_1


" Ya sudah, ada apa kamu ingin bertemu aku ?" tanya Aria dengan sedikit jengkel melihat sikap Baskoro.


" Aku ingin menawari kamu untuk kerjasama dengan perusahaanku ini. " kata Baskoro.


" Kerjasama dalam bidang apa Bas ?" tanya Aria.


" Aku sudah merintis dalam bidang produksi pangan. Apa kamu bersedia Aria ?" tanya Baskoro.


Mereka pun berbicara dengan serius. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 7 malam. Mereka berbicara selama 3 jam.


Aria sedikit banyak berminat untuk usaha yang akan mereka tekuni bersama.


Melihat Aria yang berminat, maka Baskoro pun dengan lancar membicarakan secara detail keuntungan dan kerugian yang ada.


" Aku tidak mau kerjasama kita ini dinilai tidak baik olehmu ya Ar.. maka itu aku sudah kasih tahu padamu keuntungan dan kerugiannya dari awal, agar kau pikirkan dulu baik- baik baru bila kau setuju kita kerjasama," kata Baskoro meyakinkan.


Aria pun berjanji akan mempelajari dulu berkas kerjasama nya ini karena ia tak mau rugi juga.


" Oke.. aku pelajari dulu ya Bas.. 2 hari lagi aku akan kasih kabar padamu," kata Aria.


Baskoro mengangguk mengiyakan.


Aria pun lanjut berbicara dengan Baskoro seraya menikmati makan malam di cafe nya.


" Bas.. aku lihat kamu gigih sekali dalam bekerja . Aku salut dalam waktu 3 tahun sejak kita bertemu dulu kamu bisa buat perusahaan produksi pangan yang berkembang pesat.


Kalau boleh ku tanya waktu itu kamu kan usaha kertas saja, apa yang mendorongmu untuk tambah usaha di bidang ini ?" tanya Aria penasaran.


" Aku berusaha di bidang usaha ini di samping usaha kertas ku karena ya ingin lebih berhasil lagi dalam hidup.


Aku pernah di tolak wanita Ar.. hanya karena aku tidak semampu pria yang dicintainya. Aku ingin membuktikan pada wanita itu aku pun dapat bersaing dengan usaha pria nya dan aku buktikan ucapanku agar aku tidak diremehkan. " kata Baskoro.


" Wah... sampai segitunya Bas kamu membuktikan.


Apa wanita itu sekarang sudah mulai berpaling padamu ?" tanya Aria.


" Wanita itu sudah menikah dengan pria yang dicintainya sejak dari kuliahnya. Aku berusaha berjuang untuk wanita itu tahu akupun bisa berhasil. " kata Baskoro.


" Apa wanita itu sudah tahu kamu punya perusahaan besar yang sedang berkembang sekarang ?" tanya Aria.


" Belum.. aku belum kasih tahu. Percuma aku kasih tahu pun ia sudah menikah dan sangat mwncintai suaminya. " kata Baskoro tertunduk.


" Sabar ya Bas... cinta tak harus memiliki. Mungkin nanti akan ada wanita lain yang akan Tuhan berikan padamu mendampingi seumur hidupmu," kata Aria seraya menepuk pundak Baskoro.


" Ya mudah- mudahan Aria. Walau cintaku tak padam padanya tapi aku sudah pasrah karena ia sudah milik orang lain. " kata Baskoro.


" Ayo.. move on sahabat. Masih banyak wanita lain. Tak usah kamu sesali yang sudah pergi. Aku jadi penasaran wanita mana yang membuatmu sampai seperti ini ?" kata Aria


Baskoro terdiam dan tersenyum perih. Ia tak sampai hati memberitahu pada Aria bahwa wanita yang sampai sekarang ia cintai adalah istrinya Aria yaitu Anita.


***

__ADS_1


__ADS_2