Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 124. Intan Melakukan Semua itu Sebelum Pergi (1)


__ADS_3

Intan mendatangi makam ibu kandungnya pagi itu bersama bu Marsih.


Ada tangis tertahan dalam mulut Intan dari tadi.


Bu Marsih menuntun Intan mendatangi makam adiknya, Narsih, ibunya Intan.


Intan menangis mengenang perlakuan dan perbuatannya dulu sebelum ibunya meninggal.


Waktu itu ia masih SMP, masih baik dan masih butuh sosok ibu di hidupnya.


Ia merasa kehilangan, bu Marsih menggantikan sosok ibu itu.


Tetapi sejak meninggal ibunya, hatinya tetap hampa walau ada bu Marsih, ia mulai mencari sesuatu yang hilang itu dalam hidupnya sampai ia lulus SMA dan kuliah, mulailah hidupnya berubah, terutama sejak ia menjadi simpanan Anton, bu Marsih sangat marah.


Ia menangis di makam ibunya, ia memeluk nisan ibunya memohon ampun atas segala dosa- dosanya.


Ia menabur bunga dan berdoa bagi ibunya bersama Marsih.


" Intan .. ayo kita pulang, ini hari mau hujan sudah gelap, kamu yang penting sudah melihat makam ibumu, sudah berdoa mohon ampun, biar hatimu lega, " kata Marsih.


Intan mengangguk lalu berdiri dan berjalan untuk meninggalkan makam ibunya.


Hatinya juga sudah lega, sudah memohon ampun pada ibunya, ibu kandung yang melahirkannya.


Sesampainya di rumah, ia mandi dan melihat Dion sedang bermain dengan ayahnya Darso.


Tampak Dion tertawa senang bersama kakeknya.


Intanpun menghampiri mereka dan menyapa.


" Anak mama lagi main apa sama kakek ?" tanyanya.


" Lagi main ini ma tebak- tebakan, lihat kakek kalah terus," kata Dion sambil tertawa.


Pak Darso pun tertawa mendengar jawaban Dion.


" Intan .. bapak pergi kerja dulu ya, kan kamu sudah datang. Bapak mau ke pabrik penggilingan padi kita, tadi ada yang mau menggiling padi di tempat kita, jadi bapak mau mengontrol dulu," kata bapak seraya bergegas ke dalam pamit pada bu Marsih.


" Ya pak, makasih ya sudah mau bermain dengan Dion," kata Intan sopan.


Siang itu Intan mencari- cari nama Bagas di kontak nama ponselnya.


Ia harus menelepon Bagas memohon maaf.

__ADS_1


Ada rasa takut ketika ia nanti menelepon, tetapi ia abaikan karena ia ingin sebelum ia pergi meninggalkan dunia ini, ia sudah meminta maaf pada orang- orang yang ia sakiti.


Dengan percaya diri ia menelepon nomor itu.


Ditunggunya beberapa saat tak ada jawaban.


Ia mencoba lagi, niat ia sudah bulat ia ingin meminta maaf.


Tetapi sudah di coba beberapa kali, tak di angkat.


Akhirnya ia menutup panggilan.


Di carinya nama Shinta, ia pun mencoba memanggilnya.


Sekali, dua kali belum tersambung.


Pada hitungan ke 3 kali ia menghubungi, ternyata Shinta mengangkatnya.


" Halo... dengan siapa ini ?" tanya suara Shinta di sana.


" Shinta.. ini aku Intan," sahutnya


" Intan.. Intan dulu teman SMA ku ?" tanyanya heran.


" Iya Shinta.. ini aku Intan." jawabmya pelan.


" Kamu tidak puas menghancurkan rumah tangga sahabatku? Apa kamu mau hancurkan rumah tanggaku juga?" sahut Shinta curiga karena Intan tiba- tiba telepon.


" Dengar dulu Shinta, maksudku menelepon ini punya niat baik, aku ingin minta maaf pada mu Shin.. atas kesalahanku yang dulu- dulu padamu," kata Intan pelan.


" Minta maaf ? Apa aku nggak salah dengar nih? Kok tumben kamu mau minta maaf, tapi memang kamu banyak salah sih, dari dulu suka merebut laki orang," kata Shinta enteng.


Ia masih suka jengkel kalau ingat betapa liciknya Intan merebut Rian darinya. Tetapi itu sudah dilupakan Shinta karena ia sudah bahagia sekarang dengan Riki.


" Shin.. dengar, niatku telepon ini untuk minta maaf, bukan untuk ribut, aku sakit Shin.. dokter vonis aku tidak lama lagi hidupku, aku ingin tobat dan ingin minta maaf pada orang- orang yang sudah kusakiti, karena itu aku meneleponmu," kata Intan pelan.


Shinta terdiam berusaha untuk percaya pada Intan.


" Kamu sakit apa Intan?" tanyanya.


" Dokter vonis aku sakit kanker rahim. Kata dokter yang memeriksaku kemarin hidupku dalam hitungan bulan, karena itu aku punya niatan ingin minta maaf pada kalian semua yang pernah ku sakiti," kata Intan mulai tersedu.


" Astaga Intan.. separah itukah penyakitmu ?" tanya Shinta tak percaya.

__ADS_1


" Ya.. aku sudah pasrah. Aku sedang mempersiapkan diriku sampai nanti ajalku menjemput," kata Intan pelan.


" Intan.. aku maafkan kamu, sudah jangan kamu sedih. Hidup dan mati di tangan Tuhan. Kamu terus berusaha ya, jangan putus asa. Kamu harus kuat menghadapi semua ini. " kata Shinta sedih mendengar temannya menderita seperti itu.


" Kamu sekarang di mana? Terus yang kamu kandung itu anak siapa? Bagas bilang itu bukan anaknya ?" tanya Shinta penasaran.


" Aku sudah pulang ke Jawa. Dan anak yang ku kandung sudah usia 5 tahun sekarang. Namanya Dion.


Itu bukan anak Bagas. Itu anak Anton bosku dulu di Bali.


Aku memang salah, aku menipu Bagas, karena aku pun masih ragu itu anak Bagas atau anak Anton. Maka itu aku menyuruh Bagas test DNA untuk membuktikan.


Ternyata setelah di test, itu anak Anton." kata Intan.


" Ya ampun Intan, aku tak menyangka seperti itu, tapi aku berdoa semoga kamu semangat menjalani hidupmu ya Intan. Aku sudah maafkan kamu ya," kata Shinta sedih.


" Terima kasih Shinta, aku lega satu persatu aku akan minta maaf.


Boleh aku tanya, apa nomor Bagas masih yang sama, tadi ku telpon tidak mengangkat. " tanya Intan.


" Masih Intan, nomor Bagas masih yang lama, ia sekarang makin sibuk kerja, seolah ia tak peduli lagi dengan dirinya.


Aku kasihan dengan hidupnya, dia sendiri sejak ditinggal Mira dan anaknya, juga ditinggal kamu, " kata Shinta.


" Aku akan minta maaf padanya, kesalahanku sangat besar pada Bagas dan Mira," kata Intan menyesal.


" Kamu punya nomor Mira Shin? Aku juga akan minta maaf padanya sudah mengambil Bagas darinya," kata Intan lirih.


" Ada, nanti ku kasih. Mira sudah bahagia hidupnya. Ia menikah lagi dengan pria kaya dan sangat bahagia pernikahannya, apalagi ia baru punya anak lagi." kata Shinta


" Syukurlah.. aku merasa penyesalanku sedikit berkurang pada Mira, karena ternyata Mira sangat bahagia, mudah- mudahan Mira mau memaafkanku. " kata Intan dengan sendu.


" Cobalah kamu telepon mereka, aku merasa Mira orang baik pasti ia mau memaafkanmu juga, yang kuat ya bila kamu tidak di maafkan oleh Bagas dan Mira, karena memang kamu yang telah hancurkan pernikahan mereka sehingga sekarang Bagas sahabatku masih terpuruk dalam kesendiriannya karena sakit hati padamu," sahut Shinta.


" Iya Shinta, aku siap menerima koensekuensinya bila memang aku tidak dimaafkan. Karena itu memang salahku, aku sudah merusak kebahagiaan keluarga mereka dulu, terima kasih ya Shinta kamu sudah mau menerima teleponku, memaafkanku, aku bisa pergi dengan tenang nanti," kata Intan pelan.


" Oke Intan, semakin kamu memperdalam imanmu pada Tuhan, perbanyak berbuat baik, dan tetap semangat," kata Shinta menutup teleponnya.


Intan menghela napas nya, ada kelegaan yang menyeruak dalam hatinya.


Ia senang bisa minta maaf pada Shinta sahabatnya dulu.


Langkah selanjutnya menelepon Bagas dan Mira.

__ADS_1


Walau hatinya merasa takut, tapi ia harus lakukan untuk meminta maaf.


***


__ADS_2