Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 134. Bagas Harus mulai Kehidupan Baru


__ADS_3

Dalam dua hari ini Bagas merasakan kehilangan Intan.


Bagaimana pun Intan pernah hadir dan bersemayam di lubuk hatinya.


Intan yang dulu sangat ia cintai sebelum kebohongan itu datang membongkar semua keindahan cinta.


Tak terasa air mata Bagas menetes mengingat Intan, gadis yang telah membuat Bagas kehilangan akal sehat meninggalkan istrinya yang mencintainya. Mencintai sampai terdalam yang akhirnya membuat dirinya terpuruk.


Semua kenangan bercampur aduk menjadikan rasa penyesalan dalam dirinya.


Dihela napasnya lalu ia bergumam berdoa memohon ampunan pada Tuhan bagi dirinya dan ampunan bagi Intan.


Bagas ingin bertobat atas apa yang dilakukannya dulu.


Kematian Intan menyadarkan Bagas betapa ia sudah jauh dari Tuhan, betapa ia melupakan sang penciptanya.


Bagas ingin memulai kehidupan baru.


Ia berdiri lalu ia bergegas masuk kamar mandi, ia ingin melupakannya karena itu masa lalu baginya. Ia akan melangkah ke depan dengan kehidupan barunya.


Ia bersyukur Tuhan mengingatkan dirinya untuk mendekat pada Tuhan kembali.


*


1 tahun berlalu setelah Intan meninggal, Bagas sudah jauh lebih tenang hidupnya, ia sudah melupakan dan membuang rasa sakit hatinya.


Ia sudah melangkah dan bangkit dari keterpurukannya.


Hari- hari di lalui dengan kesibukan bekerja, ia terlalu bekerja keras selama ini dengan tujuan untuk membangun perusahaan yang dipercayakan papanya lebih berkembang lagi dan tujuan lainnya Bagas tak ingin untuk dekat lagi pada wanita manapun, ingin fokus pada pekerjaannya, dan itu dilakukan selama berbulan- bulan bahkan 1- 2 tahun ini agar hidupnya bisa melupakan masa lalunya.


Usahanya berhasil.. sekarang Bagas dapat bangkit kembali dari keterpurukannya.


Siang itu Bagas tergesa ke kantin perusahaan. Ia merasakan perutnya lapar. Tadi pagi karena kesiangan bangun hanya minum kopi saja.


Sebenarnya Bagas dapat memesan makanan lewat office boy yang memang tugasnya melayani Bagas dan pegawai lainnya, tetapi kali ini Bagas ingin langsung memesan dan makan di kantin.


Ketika sampai di muka pintu kantin, ia ternyata menabrak seseorang yang hendak keluar. Tubuh mungil dari orang itu pun terhempas ke samping dan terjatuh.


" Aduh... Lihat- lihat jalannya dong, masa pintu selebar itu tidak cukup sampai harus tabrak orang," omel orang itu yang ternyata seorang gadis.


Ia terlihat berusaha bangkit berdiri.


" Maaf.. maafkan saya, membuat anda terjatuh," kata Bagas kaget dan berusaha menolong gadis itu berdiri.


Gadis itu menepis uluran tangan Bagas dan berusaha berdiri dengan muka cemberut. Rasa kesalnya belum hilang.

__ADS_1


Ketika ia mendongak, ia melihat Bagas sedang berusaha untuk menjelaskan dan meminta maaf.


Gadis itu pun kaget dan merasa tidak enak, ternyata bos nya yang menabraknya. Ia pun langsung bersikap sopan dan meminta maaf.


" Maaf pak, saya tidak tahu yang menabrak saya itu bapak, mohon maaf sudah bersikap tidak sopan pada bapak," ujarnya menunduk.


Bagas mengamati karyawannya lalu ia berkata," Kamu siapa dan dari bagian apa?" tanyanya.


" Saya Desi pak, saya dari bagian pemasaran pak," jawabnya sopan.


" Lain kali kamu lihat- lihat orang dulu kalau hendak mengomel, memang salah saya tetapi jangan bersikap seperti itu pada orang lain ya," jawab Bagas tegas.


" Baik pak, saya mohon maaf sekali lagi, saya tidak akan mengulanginya lagi pak," sahut Desi dengan menunduk.


" Ya.. " sahut Bagas seraya berjalan kembali masuk ke dalam kantin.


Ia pun memesan makanan dan ibu kantin bergegas menyiapkannya dan mengantarkannya sendiri pada Bagas.


" Silahkan pak, ini pesanan bapak," katanya sopan seraya menaruh makanannya.


" Baik bu, " sahut Bagas.


Ia pun langsung makan dengan lahap.


Sambil makan ia mengamati keadaan sekeliling kantin. Ia merasa ada yang harus diperbaiki dan di atur ulang dengan suasana kantin, agar karyawan yang makan terasa nyaman duduk di kantin di sela kesibukan mereka bekerja.


" Maaf pak, ada apa ?" tanyanya dengan sopan.


" Duduk dulu bu, saya ingin bicara untuk kemajuan kantin ini, " katanya .


" Setiap hari bila jam istirahat apa kantin ini penuh bu ? dan apa kursi yang ada tidak dapat menampung mereka yang datang untuk makan ?" tanyanya .


" Memang pak bila jam istirahat semua karyawan datang dan makan di sini. Meja yang tersedia tidak dapat menampung semua yang datang, terpaksa harus bergantian. Ada yang hanya pesan lalu di bawa pergi karena mungkin meja yang tersedia sudah penuh. " kata ibu kantin.


" Baik..nanti saya akan bicarakan pada bagian pengaturan di perusahaan ini, agar semua karyawan merasa nyaman dan betah di kantin." kata Bagas.


" Baik pak, terima kasih " sahut ibu kantin.


Bagaspun lalu pergi dan kembali ke ruangannya untuk kembali bekerja.


Sore itu ketika ia akan pulang, tak sengaja berpapasan lagi dengan Desi.


Desi tertunduk malu melihat Bagas, dan Bagas pun terlihat cuek dengannya.


Bagas lalu melangkah menuju mobilnya dan melesat meninggalkan Desi yang melihat dengan mata sayu.

__ADS_1


Desi merasa tak enak melihat itu, di pikirannya Bagas bosnya masih marah soal tadi siang.


Desi takut di pecat sehingga ia tampak galau dengan kenyataan yang baru di lihatnya.


Seraya menunggu ojek di depan kantor, Desi memutuskan untuk besok datang ke ruangan Bagas untuk meminta maaf atas segala kesalahannya.


Jujur ia sangat takut diberhentikan dari pekerjaannya yang sekarang, ia sangat butuh pekerjaan itu untuk membantu perekonomian keluarga orang tuanya.


Rasa takut dan bersalah itu membuat Desi tak tenang menunggu esok tiba.


Malam itupun setelah selesai mencuci piring sehabis makan malam, ia terus memikirkannya.


Ketika pikirannya sudah tak mampu lagi, ia memejamkan matanya dan tertidur dengan gelisah di malam yang tak berbintang itu.


Sementara itu Bagas terlihat bersiap- siap untuk pergi menemui teman- temannya di cafe. Mereka akan minum dan berbincang- bincang melepas lelah setelah suntuk seharian bekerja.


Bagas datang paling lambat, teman- temannya sudah menunggunya dari tadi.


" Gas.. kukira kamu nggak datang, kami tunggu dari tadi, baru kau datang," sapa Indra teman nongkrong nya.


" Aku pasti datang biar malam sekalipun," kata Bagas seraya mengambil minuman.


Bagas memang sudah berbeda, dulu tak pernah ia datang ke cafe sampai malam hanya untuk ngobrol dan minum.


Bagas dulu tak pernah menghabiskan waktu di luar rumah, tetapi sejak ia tak bersama Intan pelarian Bagas adalah kerja, cafe, minum dan teman- temannya.


" Heeh.. kenapa mukamu itu Gas, kok terlihat kesal, ada apa? banyak kerjaan ya?" tanya Boni padanya.


" Bukan.. aku kesal tadi siang tak sengaja menabrak anak buahku di kantin kantor, tetapi bukannya minta maaf tapi malah aku yang di marahi olehnya, dia pikir siapa malah balik marah padaku, " kata Bagas dengan muka masam.


" Hahaha.... kamu di marahi bawahanmu ?" tanya Boni seraya tertawa lebar.


" Itu tandanya kau itu sudah harusnya dapat wanita lagi Gas, jangan jomblo terus, cari kehidupan baru Gas.. jangan sendiri terus," kata Indra seraya tertawa.


" Ayo Gas.. tunggu apa lagi siapa tahu itu jodohmu Gas," sahut Indra lagi.


Bagas hanya tersenyum sinis diledek oleh teman- temannya.


" Kalian ini tahu apa? Aku kalian jodoh- jodohkan, sekarang kalian sudah punya pacar belum? enak banget jodohin orang," kata Bagas dengan kesal.


" Sabar Gas... kamu kan yang paling siap di antara kita, karena itu kamu harus lekas duluan," kata Indra tersenyum.


" Pikirkan kehidupanmu Gas , kamu harus move on dan harus bisa menata hidup yang lebih baik, jangan berkubang pada masa lalu," sahut Boni menatap Bagas.


Bagas hanya menatap tajam mereka, lalu bangkit dari kursi, tangannya mengambil kunci mobil lalu pergi meninggalkan teman- temannya.

__ADS_1


" Gas.. heh .. Gas, kok kamu pergi ?" tanya Indra seraya mengelengkan kepalanya.


***


__ADS_2