
Aria dan mama Lena berembuk untuk dapat datang pada Mira dengan maksud melamar.
Lena sempat was- was dengan segala yang Aria lakukan.
Seperti hari ini, Aria ingin bertemu dengan Mira membicarakan aneka masakan untuk acara lamaran.
" Mira.. ada di rumah? Mas mau ketemu bicara untuk katering masakan." kata Aria.
" Ada mas aku di rumah. Datang aja," kata Mira.
Tak lama Aria pun datang. Ia berbicara dengan Mira di teras depan.
" Mira.. mas mau bicara soal masakan untuk nanti acara lamaran mas," kata Aria.
" Kapan mas acaranya," tanya Mira.
" Hari Sabtu sore, jadi bisa kah kamu masak nya sudah selesai jam 3 siang. Biar nanti ada yang menghangatkan masakanmu pada saat sebelum acara lamaran. Buat masakannya yang tidak mudah basi, yang tetap segar untuk di makan di acara jam 6 sore. Karena aku mau mereka tamu- tamu ku makan dulu sebelum acara. Agar mereka bisa konsentrasi nanti waktu acara lamaran." kata Aria.
" Kenapa harus siap jam 3 mas, kan aku bisa standby jam 5 an nantinya," kata Mira.
" Ya orang- orang katering memang harus siap jam 4 atau jam 5, tetapi kamu harus jam 3 selesai masak agar kamu pun dapat didandani untuk ikut acara lamaran ini mendampingi aku," kata Aria.
" Kok bukan mama mas yang dampingi?" tanya Mira heran.
" Ya mama dan kamu lah. Nanti aku berikan kebayanya, di pakai ya, aku minta kamu nggak banyak tanya, ikuti saja," kata Aria.
" Ya sudah, nanti aku ikuti semua yang mas mau," kata Mira.
" Bagus kalau begitu," kata Aria.
" Satu lagi Mira, aku ingin rumahmu yang kujadikan tempat aku melamar ya," kata Aria.
" Haah.. kok bisa gitu. Memang tidak punya tempat tinggalkah calon mas ini ?" tanya Mira heran.
" Dia kost Mir, rumah orangtuanya juga jauh, jadi tidak mungkin mas melamar di kost nya dia," kata Aria.
Mira mengangguk- anggukkan kepalanya tanda ia mengerti.
Tinggal 2 hari lagi, Mira sudah bersiap- siap beli belanjaan untuk acara masakan lamaran mas Aria.
Ia berusaha profesional walau hatinya sedih karena pria yang ia diam- diam cintai akan melamar wanita lain.
Mira hanya bisa pasrah dan berpikir mungkin Aria bukan jodohnya
Karena itu ia akan fokus pada katering dan anaknya saja, tidak mau lagi berpikir atau mempunyai keinginan untuk berkenalan dengan pria lain.
__ADS_1
Yunia yang sudah lincah berjalan mendatanginya ke dapur.
ia memanggil- manggil Mira ingin digendong.
" Maa.. maa .. endong .. Ia mo endong maa.. " katanya seraya mengulurkan tangannya minta di gendong. Yunia belum fasih menyebut namanya, Dia memanggil dirinya dengan nama Ia,
Mira langsung menggendongnya dan mengusap pipinya dengan lembut.
" Papaa.. maa .. papaa.. " katanya lagi.
" Sayang.. papa tidak kemari. Jangan panggil papa- papa lagi ya, itu bukan papa Yunia nak," kata Mira.
Yunia terus merengek ingin bertemu Aria, dipanggilnya terus nama Aria dengan sebutan papa.
" papaaa maaa papaa .. " serunya seraya menangis
Neni mengambil Yunia dari gendongan Mira, tetapi Yunia dengan erat terus menempel pada tubuh Mira.
" Yunia.. jangan seperti itu ya, nanti mama marah. Itu bukan.... " kalimat Mira langsung dipotong oleh Aria yang ternyata melihat semua ini dari depan.
" Yunia... ini papa, sini digendong papa ya," kata Aria seraya tersenyum pada Yunia.
Mira terdiam melihat betapa manjanya Yunia pada Aria.
" Walau memang Yunia bukan anakku, tetapi aku sangat sayang dengannya," kata Aria.
Ia merasa ada yang sakit di hatinya. Ingatannya melayang pada Bagas.
Sampai detik ini sejak perpisahan itu Bagas tak pernah sekalipun menelepon untuk menanyakan Yunia. Wajar bila Yunia yang belum mengerti apa- apa tentang yang terjadi antara mama dan papanya memanggil Aria dengan sebutan papa.
Karena yang ia tahu sosok di hadapannya yang selalu dekat mama inya, ia panggil papa.
" Biarkan Yunia memanggilku papa Mir.. ia masih terlalu kecil untuk tahu bahwa kalian sudah berpisah. Yunia rindu sosok ayahnya yang biasa dekat dengannya, sehingga ketika aku muncul dalam kehidupannya ia menyangka aku ini papanya, orang yang biasa dekat dengan mamanya. " kata Aria dengan lembut menatap wajah Mira.
Mira lekas memalingkan wajahnya, ia melawan keinginan hatinya yang telah berdesir ketika ditatap Aria.
Wajahnya merona merah. Dan itu sempat tertangkap mata oleh Aria.
Aria bersorak dalam hati, ia sangat yakin Mira pun mencintainya hanya masih malu untuk saling mengungkapkan.
Setelah semua sudah dipersiapkan Aria dengan baik, ia tinggal menunggu hari Sabtu sore.
Dan hari itu telah datang, ya hari ini hari Sabtu.
Sejak pagi ia sudah sibuk dengan masakannya. Ia tak mau mengecewakan Aria dan Lena.
__ADS_1
Setelah selesai semua, ia pun didandani oleh perias untuk acara jam 6 sore itu.
Sari pun terlihat senang hari ini. Ia sibuk mengatur semuanya.
Setelah selesai mereka menunggu kedatangan rombongan Aria.
Tak lama menjelang jam 6 sore rombongan datang. Keluarga Mira menyambutnya. Bibi nya Rina yang dari Jogja pun datang .
Sesuai rencana mereka akan makan lebih dahulu baru acara lamaran.
Mira yang dari tadi tidak melihat calon istri Aria bertanya pada Aria.
" Mas.. mana calon istrinya kok belum datang ?" tanyanya.
" Mungkin bentar lagi Mir," katanya tersenyum.
Setelah makan semua keluarga berkumpul di ruang tamu .
Papa dan mama Lena sudah mulai berbicara dengan ibu Sari dan ayah.
Mira bingung sampai jam segini calon Aria belum datang. Aria yang melihat kebingungan Mira lalu berkata," Mira.. maaf.. maksud kedatangan dari mana dan papaku hari ini adalah untuk melamar.. " kata Aria dengan hati- hati.
" Mas.. kan calon istri mas belum datang, padahal ini sudah mau acara lamaran," kata Mira.
Aria menghela napas lalu melihat pada papa dan mamanya.
" Mira... calon istriku sudah ada kok, di depanku, kamu Mir.. kamu yang mau aku lamar, bukan orang lain," kata Aria dengan serius.
Mira yang mendengar terkejut sekali.
" Apa mas ? akuuu? nggak salah mas? bukankah mas bilang sudah ada calon? kok jadi aku? apa karena calon mas tidak datang jadi mas minta aku sebagai gantinya?? " kata Mira melotot marah pada Aria.
Demi melihat Mira yang marah, Lena langsung mengambil alih pembicaraan.
" Mira... tidak ada yang salah, dan tidak ada yang menggantikan orang lain. Memang Aria yang berniat melamar kamu. Kamu yang akan dilamar Aria Mir.. Dia membuat ide gila ini untuk mengetahui seberapa besar kamu suka dengan Aria," kata Lena menjelaskan.
Mira yang mendengarkan itu terbelalak kaget. Dirinya tak menyangka akan dilamar Aria.
" Ya Mir.. kamu bersedia menerima aku dan Antony jadi bagian kehidupanmu Mir? Aku cinta padamu sejak pandangan pertama aku kemari mengambil katering mama. Aku berusaha memendamnya, tetapi tak bisa Mir. Semakin hari aku makin mencintaimu. Antony pun setuju kamu jadi mamanya," kata Aria serius.
Mira tak dapat berkata- kata. Rasa terkejut masih menguasai hati dan pikirannya.
Ia berpikir ini hanya mimpi dan khayalannya. Ia kuatir nanti tersadar ia kan sakit karena bukan kenyataan.
Ketika ia cubit lengannya ia kesakitan.
__ADS_1
Ini bukan mimpi, ini kenyataan, Aria akan melamarnya, Aria cinta padanya, Aria mau hidup dengannya. Akankah ku terima lamaran ini ?? batinnya pun terus berkata.
***