Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 122. Mencari Kebenaran


__ADS_3

Intan perlahan berhenti di depan sebuah rumah yang penuh kenangan.


Dulu rumah ini saksi ia kecil sampai SMA, di mana ia mendapatkan didikan dan kasih sayang ibu kandungnya sebelum meninggal dan ibu Marsih adik ibunya yang ia sudah anggap ibunya.


Di pandanginya lama rumah itu, tak banyak yang berubah.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, sehari semalam sampailah ia di desa tempat masa kecilnya.


" Permisi.. ibu.. " sapanya seraya mengetuk pintu rumah.


Cukup lama ia berdiri di depan rumah, sampai akhirnya keluar seseorang wanita yang sudah tua dan memandang Intan.


" Cari siapa?" tanyanya heran.


Ia menatap Intan dan Dion.


Matanya tak lepas dari Intan, seolah sedang mengingat orang yang di depannya.


" Bu.. ini Intan bu," kata Intan seraya meneteskan air mata.


Ia kaget melihat perubahan pada ibunya.


10 tahun yang lalu ia meninggalkan ibunya untuk pergi mencari keberuntungan di kota. Kota yang dituju pertama adalah Surabaya, tetapi sejalan waktu akhirnya ia pindah ke Bali ikut bekerja dengan pak Anton.


Intan ingat ibu kandungnya yang sudah meninggal di saat ia masih SMP. Hatinya menangis melihat ini semua.


Adik ibunya yang menggantikan nya menjadi sosok ibu baginya ada di hadapannya sekarang.


Ibu Marsih adalah adik ibunya Intan yang sudah meninggal lama.


Intan yang sangat dekat dengan bibinya ini sangat kehilangan sosok ibu sehingga ia memanggil nama ibu pada adik ibunya ini.


Marsih pun senang Intan memanggil nya dengan nama ibu karena Marsih tidak mempunyai anak hasil pernikahannya dengan Darso .


Sedangkan ayah kandungnya sudah pergi lama meninggalkan dia, tak tahu di mana sekarang dan terakhir yang ia tahu di Sulawesi.


Intan menangis menatap ibu nya, ibu yang selama ini merawatnya setelah ibu kandungnya meninggal.


Ibu yang mulai sakit- sakitan dan ibu yang marah ketika ia menjadi simpanannya Anton.


" Ibu.. masih ingat aku bu ?" tanyanya dalam tangis.


" Kamu Intan... Intan anakku ," katanya seraya memeluk Intan dengan erat.


" Ya bu.. ini aku Intan," katanya seraya memeluk dan menangis pilu.


" Ayo masuk nak.. sudah lama sekali kamu tidak pulang, " kata Marsih senang.


" Ini siapa?" tanya Marsih menatap Dion yang digendong Intan.


" Ini Dion bu, anakku," kata Intan.

__ADS_1


" Kamu sudah menikah nak? Sudah bukan simpanan si Anton lagi ?" tanya Marsih nanar menatap Intan.


Intan terdiam menangis. Marsih menatapnya tajam.


" Katakan Intan.. ini anak siapa?" tanyanya.


" Ini anak Intan bu," katanya lirih.


" Siapa bapaknya?" tanya bu Marsih dengan tegas.


" Hmm ada bu ," jawab Intan.


" Siapa bapaknya Intan, ibu perlu tahu," katanya lagi


" Bu.. jangan marah, aku minta maaf bu.. Dion ini anaknya Anton bu," kata Intan takut.


Ya Intan takut bu Marsih marah, karena Anton memang tidak ia sukai.


" Apa.. anak Anton ?? Kamu masih berhubungan dengan Anton?? kenapa Intan?? ibu kan sudah bilang ibu tidak suka Anton, dia itu suami orang. Kenapa kamu ini selalu ingin dengan pria yang sudah beristri. Kamu ini pelakor tahu !! " kata Marsih dengan marah.


" Sekarang kamu datang ke sini setelah suami mu mencampakkan kamu kan ?? Aneh kamu ini Intan, bisa- bisa nya kamu pulang bawa anak hasil hubunganmu, dasar kamu tak punya moral Intan. Ibu tidak suka cara kamu itu! " kata Marsih marah dan jengkel.


Intan terdiam tak bersuara. Ia merasa bersalah pada ibunya.


Ia seharusnya menyenangkan ibunya ketika pulang, bukan malah membuat pikiran dan perasaan Marsih marah.


" Apa yang sudah kamu perbuat Intan ? Sampai kamu punya anak tidak ada bapaknya. Mau kamu kasih makan apa anakmu ini Intan. Masih waras kah pikiranmu ini ?" kata Marsih terus mengomel marah pada Intan.


" Ibu.. maafkan Intan. Intan mau bicara dulu. Ibu apa boleh Intan mengemukakan sesuatu?" tanyanya lirih.


" Apa yang mau kamu bicarakan Intan ? Apa? Jangan- jangan kamu mau titip anakmu pada ibu terus kamu bersenang- senang di kota lagi mencari suami orang yang baru gitu?" tanya Marsih marah.


" Tidak ibu... dengarkan Intan dulu bu, beri kesempatan Intan bicara bu," jerit Intan menangis.


Dion yang kaget langsung menangis mendengar suara Intan berteriak.


" Baik ibu akan dengarkan kamu, tapi bila itu alasanmu saja ibu akan usir kamu dari sini," Marsih sudah sangat marah pada Intan.


" Ibu... aku sakit bu, aku ini lagi sakit, aku bukannya tidak mau urus Dion, tapi memang aku lagi sakit, ibu tidak lihat perubahan pada tubuhku kah bu?" tanya Intan.


Marsih melihat dan mengamati Intan.


Memang tubuh Intan sangat kurus dan tidak terawat.


Ia hanya berpikir mungkin Intan kelelahan merawat Dion.


" Sakit apa kamu Intan?" tanya Marsih menatapnya.


" Aku sakit kanker rahim bu, sudah stadium akhir. Hidupku tidak lama lagi bu, aku divonis dokter hanya tinggal beberapa bulan lagi.


Aku bingung bu.. nanti bila aku sudah meninggal, Dion dengan siapa bu? Anton menghilang tak tahu kemana bu, aku sudah mencarinya tapi ia bagai ditelan bumi.

__ADS_1


Aku rencananya akan menitipkan Dion di panti asuhan bu, tetapi sebelum ke panti asuhan aku mencoba dulu ke ibu apa ibu mau merawat Dion bila aku sudah tiada, tetapi bila ibu tak mau terpaksa aku titip Dion ke panti." kata Intan berlinang air mata.


Marsih yang mendengar meraung pilu, ia mengelus dadanya seraya berteriak.


" Kamu kena kanker rahim?? Ya Tuhan.. kenapa ini terjadi.. kamu sudah berdosa pada Tuhan. Ini akibat dari dosamu, anakmu yang tak bersalah harus menanggung akibatnya. Ibu benar- benar tak habis mengerti denganmu." kata Marsih sambil menangis.


Ia menatap Dion, anak ini tidak bersalah, yang bersalah orangtuanya.


Anak sekecil ini harus menanggung semuanya.


Marsih tak tega bila Dion harus tinggal di panti asuhan.


Ia berpikir dalam- dalam, keputusannya tidak boleh salah.


Bila ia mengambil Dion dan merawatnya apa konsekuensinya, itu harus dipikirkan secara baik- baik.


Marsih belum bisa menentukan keputusan.


" Hari telah larut malam, istirahatlah kamu dulu.


Besok bila kita sudah segar semua kita akan bicarakan langkah selanjutnya.


Sekarang pergilah kamu mandi.


Ibu akan menjaga Dion dulu, baru setelahnya kamu makan dan tidur. " kata Marsih pada Intan.


Intan terdiam. Ia mengikuti semua yang dikatakan Marsih padanya.


Ia sudah kelelahan dari tadi, hanya di tahannya karena Marsih yang masih bicara.


" Baik ibu.. aku sudah lelah, apa boleh aku tidur duluan?" tanya Intan pada Marsih.


" Ya kamu tidurlah lebih dahulu dengan Dion. Jangan banyak pikiran dulu, besok baru kita bicarakan. " kata Marsih lagi.


" Ya ibu terima kasih, aku mau tidur," katanya dengan mata lelah.


Tak lama maka Intan pun tertidur dengan lelap.


Pada jam 2 subuh ia terbangun .


Rasa sakit di perutnya tak tertahan. Ia meringis menahan sakit.


Airmatanya meleleh menahan sakit.


Lekas ia mengambil obat di tasnya dan meminumnya.


Ada rasa berkurang sedikit dibandingkan tadi sebelum minum obat.


Matanya tak dapat lagi terpejam.


Ia pun mengambil waktu untuk berdoa pada Tuhan meminta kekuatan serta kesembuhan pada Nya.

__ADS_1


***


__ADS_2