
Mira berusaha untuk melupakan apa yang sudah terjadi dengan Bagas.
Ia harus berfokus pada yang ada di depannya, bagaimana untuk tetap hidup dan berusaha mencukupi kebutuhan mereka berdua Yunia.
Hari ini ia akan mengajak Yunia ke rumah mertuanya, karena mereka berpesan untuk membawa Yunia sebelum ia pindah.
Bersama dengan Neni, Mira pergi ke rumah mertuanya. Ia berpesan pada Neni, untuk tidak membocorkan tempat di mana nanti mereka akan tinggal di luar kota . Ia tak ingin di ganggu lagi oleh Bagas.
Sesampainya di rumah mertua, ia melihat mereka ada di depan rumah. Mira masuk setelah mengucap salam.
Rianti yang melihat Yunia, langsung berteriak senang.
" Cucuku... Yunia .. oma kangen padamu nak, sudah terlihat makin tinggi cucuku ini," katanya seraya berjalan bergegas menghampiri Mira.
Rianti langsung memeluk Yunia dan mengambilnya dari tangan Neni. Ia langsung mengajak main cucunya. Hatinya senang dapat melihat lagi Yunia yang berteriak senang ketemu dengan mereka.
Yanto melihat dan tersenyum, ia tahu Mira sebenarnya tak ingin pergi jauh, ia ingin dekat dengan mertuanya, tetapi ia tidak ingin harus berada dekat Bagas, karena berada dekat Bagas membuat hatinya terasa perih terus.
" Mira... apa kamu jadi pergi ke luar kota?" tanya Yanto.
Mira mengangguk dan berkata," Ya pa, jadi, besok kami pergi ke luar kota, karena itu saya pamit pada papa dan mama," katanya.
" Secepat itu Mir? Kamu tidak tunggu berita dari pengadilan saja untuk kamu tandatangan bukti cerai kamu?" kata Yanto.
" Tidak pa, aku sudah bicarakan pada ibu untuk memberitahukan padaku bila ada berita dari pengadilan untuk memberitahukan saya," katanya.
Ketika sedang bermain dan bercakap- cakap, mobil Bagas datang.
Bagas tersenyum senang melihat Yunia, ia langsung menghampiri anaknya, lalu menggendongnya dengan penuh kasih.
__ADS_1
Ia mengajak anaknya bermain dan tertawa senang melihat kelucuan Yunia.
" Tumben Mir.. kamu datang ke sini menemui orangtuaku," katanya seraya menatap Mira
" Gas.. Mira ini mau pamit pada mama dan papa, ia mau pindah," kata Rianti.
" Kamu mau pindah ke mana ? Tidak bisa kamu pergi begitu saja sebelum panggilan dari pengadilan yang mensahkan perceraian kita," kata Bagas menatap tajam Mira.
" Kamu mau bawa anak kita untuk menjauh dariku? Kamu mau Yunia tidak mengenalku lagi? Tidak ku sangka ternyata hatimu seperti itu ya, main di belakangku membawa pergi anakku," katanya.
" Gas.. bukan begitu maksud Mira Gas.. dengarkan dulu penjelasannya, kamu jangan marah tanpa dengar yang Mira mau," kata Rianti.
" Penjelasan apa lagi ma, ini dengan jelas kok ia mau pergi menjauhiku membawa Yunia agar aku tidak dapat menemui anakku lagi," jawab Bagas.
Mira menyuruh Neni membawa Yunia ke dalam terlebih dahulu, ia tidak mau anaknya terbiasa mendengar pertengkaran orangtua.
" Gas... kamu bisa tidak marah dulu pada Mira, dengarkan dulu alasan dia untuk pergi dari mu," kata Yanto.
Mira membalas tatapan Bagas, lalu memalingkan mukanya dan berkata,
" Aku bukan melarikan diri atau melarang kamu nanti bertemu anakmu, silahkan saja. Tetapi aku tidak ingin kamu mencari aku, hatiku masih sakit tiap melihatmu mas, kamu tinggal telepon ke nomor ku yang masih sama sampai sekarang, kita akan atur kapan kamu akan bertemu Yunia. Aku bukan akan menguasai atau mempengaruhi Yunia, tidak... aku hanya belum mampu untuk bertemu kamu mas, aku mau sembuhkan luka hatiku dulu dengan menjauh dari mu mas, tetapi bila ingin bertemu Yunia, silahkan saja atur waktu," kata Mira.
" Kenapa harus pindah? kenapa kamu tidak di kota ini saja, tetapi tidak harus bertemu aku, kan itu lebih simpel, daripada harus pindah ke luar kota, menyebabkan aku tidak dapat bertemu dengan anakku, ingat Yunia juga anakku, bukan hanya anakmu, jadi ku minta jangan kau halangi aku untuk bertemu dengannya," katanya lagi dengan tegas.
" Mas.. sudah berapa kali aku bilang, silahkan saja bertemu Yunia, aku tidak apa- apa," kata Mira mulai kesal.
" Apa alasanmu hah ..melarang aku bertemu anakku?" tanya Bagas mulai marah.
" Aku tidak melarangnya mas, aku kan sudah bilang dari tadi, kenapa mas sudah kita berpisah baru kau ributkan tentang Yunia? Apa kau bisa mengasuh Yunia sedangkan kau sibuk bekerja dan sibuk dengan wanita simpananmu itu ?" tanya Mira terpancing emosi.
__ADS_1
" Apa urusanmu dengan Intan? Aku hanya ingin kamu tak larang aku bertemu Yunia!" kata Bagas membentaknya.
Mira menggelengkan kepalanya dan menghela napas. Ia tak menjawab Bagas lagi. Ia diam .
Yanto yang melihat itu lalu berkata," Bagas... sudah, Mira kemari untuk membuat papa dan mama senang, jangan kau rusak kegrmbiraan papa dan mama dengan pertanyaanmu yang menyerang Mira," kata Yanto.
" Kenapa papa bela Mira dari pada aku pa, apa aku salah bila aku menanyakan alasan kenapa ia pindah," kata Bagas.
" Tidak salah Bagas kalau kamu menanyakan itu, tetapi tadi Mira sudah menjelaskan secara detail sebab mengapa ia mau pindah, dan lagi pula kenapa kamu baru peduli pada Yunia, waktu Yunia sakit kamu kemana? waktu Yunia nangis melihat kamu pergi kamu tak peduli, sekarang Yunia ingin di bawa mamanya untuk pergi baru kamu marah dan tanya alasannya, aneh kamu tuh Bagas, papa tidak mengerti jalan pikiranmu," kata Yanto lagi.
" Semua ini salahmu Bagas, bila kau tak bermain api, tak akan mungkin semua ini terjadi. Setelah api besar baru kau sadar untuk memadamkannya, tetapi sayang sudah ***** semua menjadi abu," kata Yanto.
" Biarkan Mira pergi dari hidupmu, mungkin dia akan lebih baik bila tidak di sisimu, biarkan ia menata hidup barunya tanpa mu sehingga luka hatinya akan cepat pulih dan ia bisa membesarkan Yunia dengan baik," lanjut Yanto.
Mira tertunduk mendengar ucapan papa mertuanya. Hatinya di liputi rasa haru atas perhatiannya.
" Bagas, 1 hal lagi papa bicara padamu, ternyata kamu lebih memilih untuk bersama wanita murahan itu, sehingga Mira mengambil suatu keputusan bercerai darimu, tanpa kamu pikirkan akan tumbuh kembang Yunia, kamu terlalu egois Bagas," kata Yanto menatap anaknya.
" Apa yang kau bisa harapkan dari wanita murahan itu hah?" tanya Yanto.
" Wanita itu hanya mengharapkan hartamu saja, bila kamu papa keluarkan dari perusahaan pasti kau ditinggalkan oleh wanita itu, pasti itu, karena umumnya wanita murahan seperti itu pasti hanya ingin harta dan uang," sahut Yanto.
" Pa... jangan keluarkan Bagas dari perusahaan, ingat pa ada anak yang di kandung wanita itu.anak Bagas juga," kata Rianti kaget mendengar suaminya akan mengeluarkan anak kesayangannya dari perusahaan.
" Ma... kamu malah membela Bagas dan wanita itu, kamu boleh sayang pada anakmu, tetapi dia itu salah menghianati istrinya," kata Yanto.
" Pa... sekali ini saja mama tidak menurut apa kata papa, mama tetap sayang Mira, mama tetap sayang Yunia dan anak yang di kandung wanita itu tetap cucu kita, walau bukan dari Mira. Anak itu tidak salah pa, yang salah orangtuanya, kalau papa keluarkan Bagas ia mau menghidupi anak- anaknya dari mana?" tanya Rianti.
Yanto terdiam, lalu ia menatap Bagas dengan tajam serta berkata," Kalau bukan mamamu yang bilang padaku seperti ini, sudah ku keluarkan kamu dari perusahaanku, 1 hal yang papa minta padamu, kirim tiap bulan biaya untuk Yunia cucuku dari gajimu, bila aku lihat kau lalai, jangan salahkan papa akan memberhentikan kamu dari perusahaanku, mengerti kamu Bagas?" kata Yanto mendengus kasar dan masuk ke dalam meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
***