Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 107. Mira Menerima


__ADS_3

Mira masih sangat terkejut sekali. Aria melamarnya dengan cara seperti itu.


Tak pernah ia membayangkan akan dilamar oleh Aria dengan cara dibuat cemburu dulu.


Ia merasa malu ketika membayangkan sikapnya selama ini diperhatikan oleh Aria.


Memang ia mencintai Aria, tetapi ia tak menyangka bahwa Aria akan menyelidiki hatinya dengan cara- cara seperti itu.


Ia mengutuki tindakannya yang bodoh, hatinya yang mudah untuk jatuh cinta pada Aria, padahal baru disakiti oleh Bagas.


Ia mengutuki kebodohannya yang mudah untuk terlena melihat segala kebaikan dan ketampanan Aria selama ini.


Beragam pikiran dan perkataan serta khayalan berkecamuk dalam hatinya.


Ia tak sanggup menampungnya dan tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya ingin semua itu berlalu dalam pikiran dan hatinya.


Aria menunggu jawaban dari Mira dengan hati yang cemas. Ia berharap Mira dapat menerimanya.


Pandangan matanya terus melihat Mira.


Pada saat ia melihat Mira menggelengkan kepala, ia kaget melihat kenyataan Mira menolaknya.


Ada yang terasa menghantam hatinya, usahanya tak berhasil. Mira menolak dilamar olehnya.


Aria terdiam, Lena merasa kecewa melihat Mira tak menerima lamaran anaknya.


Sari, ibunya Mira melihat itu, ia pun berharap Mira menerima lamaran itu, walau ibu Sari tidak sepenuhnya terlibat dalam permainan Aria yang ingin memberi kejutan melamar Mira .


" Mira... ibu tahu kamu kaget dengan semua rencana dan permainan Aria. Kamu coba pertimbangkan lagi. Maksud Aria sebenarnya baik, ia hendak melamar kamu, tetapi mungkin caranya yang kurang tepat, sehingga yang ada di moment ini kamu kaget dan kamu menolaknya. Kamu pikirkan itu dulu dengan hati dan pikiran yang jernih. Jangan menolak di saat pikiranmu sedang kacau atau marah," kata Sari dengan lembut.


Mira terdiam, ia memang merasa kaget, sampai ia tak dapat berkata- kata.


Ia ingin mengangguk tetapi kepalanya terasa berat. Ia mendadak merasa pusing dan berkeringat dingin. Tatapannya mulai tak menentu. Tetapi ia usahakan untuk menjawab dan memberitahukan bahwa ia pun mencintai Aria.


" Bu... aku... " tiba- tiba tubuhnya ambruk ke samping. Ia tak ingat apapun. Mira pingsan.


Aria yang melihat itu langsung sigap memeluk Mira.


Ia membopong tubuh Mira dan dengan wajah panik berniat menidurkan Mira di kursi.


Sari yang melihat itu lalu menyuruh Aria membawa Mira ke kamar dan membaringkannya.


Lena menyalahkan Aria yang bersikap konyol melamar Mira. Ia kaget melihat Mira yang sedang pingsan.


Aria dengan panik menelepon dokter keluarganya untuk datang ke rumahnya Mira.

__ADS_1


" Aria, lihat itu Mira. Kamu buat rencana ide gilamu membuat Mira pingsan. Dari pertama mama sudah tidak setuju dengan rencanamu. Tetapi kamu tetap kekeh yakin rencanamu akan berhasil.


Mira itu memang wanita kuat, tetapi hatinya rapuh, masih terluka dengan sikap suaminya dulu, sekarang kamu lamar dengan cara seperti ini, membuat pertahanannya goyah dan akhirnya ia pingsan." kata Lena marah.


" Nak Aria, bagaimana apa bisa dokternya kemari? Ibu cemas dengan keadaan Mira. Mudah- mudahan tidak terjadi apa- apa dengan Mira," kata Sari dengan cemas.


" Bu, saya minta maaf. Saya tidak tahu akan seperti ini jadinya. Saya menyesal bu dengan sikap saya. Saya berjanji tak akan mengulangi cara ini dan saya tidak akan memaksa Mira menerima lamaran saya," kata Aria dengan wajah menunduk.


Mereka bersama- sama menunggu dokter datang.


Tak ada yang bicara lagi, semua larut dalam diam. Sampai akhirnya dokter datang memeriksa Mira.


" Pak Aria, ini ibu Mira tidak apa- apa. Hanya kecapean saja. Mungkin istirahat satu sampai dua hari akan pulih kembali," kata dokter.


Semua bernapas lega mendengar penjelasan dokter.


" Terima kasih dok," kata Aria sambil mengantar dokter itu menuju halaman.


Lena pun berbicara pada semua setelah Aria masuk kembali.


" Ibu Sari dan seluruh kerabat dekat Mira, kami memohon maaf karena sudah membuat rencana yang seperti ini di hari lamaran Aria.


Memang Aria yang merencanakan semua maksudnya membuat surprise di hari ini.


Kami mohon maaf dan kami ijin pamit pulang, kami berjanji tidak akan memaksa Mira untuk dilamar dan mencintai Aria. Mungkin Aria salah menduga setiap sikap Mira padanya," Lena berkata dan menghela napas panjang.


Aria pun meminta maaf pada ibu Sari dan semua yang ada.


" Ibu dan bapak, saya Aria mohon maaf juga atas apa yang terjadi hari ini. Saya tidak memikirkan hati Mira yang mungkin masih terluka karena peristiwa perceraiannya. Saya terlalu egois memaksakan kehendak saya untuk melamar Mira. Sehingga Mira shock dan pingsan.


Saya janji tidak akan memaksa bila Mira tidak mencintai saya.


Saya iklas dan rela asal Mira bahagia." kata Aria seraya menunduk.


Ia berat sebenarnya mengucapkan kata- kata terakhir, tapi ia pun ingin Mira bahagia tanpa adanya tekanan dari Aria.


Ketika mereka akan pergi dan menuju teras depan, salah satu kerabat Mira yang disuruh untuk menjaga Mira, berlari ke depan.


" Ibu.. mbak Mira sudah sadar, ia memanggil - manggil nama mas Aria." katanya pada ibu.


Aria yang mendengar namanya disebut langsung setengah berlari masuk kamar Mira.


Dilihatnya Mira yang sudah membuka mata hanya masih tergolek di pembaringan.


" Mira... kenapa memanggil mas Mir?" tanya Aria.

__ADS_1


Mira menatap Aria lalu berkata," Mas.. maafkan Mira ya, tadi itu Mira mau bicara tapi mendadak pusing dan kepala berat sekali sehingga Mira tidak sanggup bicara dan langsung pingsan. "


" Lupakan sudah ya Mir, yang penting kamu istirahat saja dulu kata dokter kamu kecapean," kata Aria menatap Mira.


" Mas..pamit dulu ya Mir, nanti bila kamu sudah sembuh mas pasti main lagi kesini, " ujar Aria seraya bangkit berdiri.


" Mas.. tidak ingin tahu tadi Mira mau bilang apa?" tanya Mira.


" Memangnya Mira mau bilang apa? Kan tadi mas lihat menggelengkan kepala, jadi mas merasa Mira sudah menolak mas," kata Aria sedih.


" Mas.. dengarkan dulu, tadi Mira menggelengkan kepala itu rasa tidak yakin dengan semua yang sudah mas atur seperti itu, dan tadi Mira mau bilang Mira itu juga mencintai mas Aria, Mira sayang pada mas, dan Mira mau menerima lamaran mas Aria," kata Mira tersenyum.


Aria yang mendengar itu tersenyum bahagia lalu berkata," Benar apa yang kamu bilang Mir? Mas tidak salah dengar?" kata Aria meyakinkan.


" Benar kamu mau dan terima lamaran mas ?" tanyanya lagi.


" Iya mas, benar.. Mira menerima lamaran mas Aria," katanya seraya mengangguk.


Aria berteriak kegirangan sehingga membuat semua yang ada di luar kamar masuk ingin tahu apa yang terjadi.


Lena, Sari langsung menyeruak masuk. Mereka kaget mendengar Aria berteriak.


" Ada apa Aria, Mira kenapa?" kata Lena heran .


Sari sebelum masuk sudah menangis, dia takut anaknya terjadi sesuatu.


Mereka melihat Aria sedang tertawa bahagia, dan Mira yang tersenyum.


" Ada apa Mira, Aria? ," sahut Sari dan Lena berbarengan. Mereka menatap Aria dan Mira bergantian.


" Ma, ibu dan papa serta ayah.. Mira menerima lamaranku .. tadi ia ingin mengucapkan itu tetapi keburu pingsan," kata Aria tertawa senang.


" Benar itu Mira?" sahut Lena tersenyum.


Mira mengangguk.


Lena, Sari tersenyum bahagia. Mereka senang mendengar Mira menerima lamaran Aria.


Semua yang berada di dalam kamarpun tersenyum dan tertawa bahagia.


Aria menunduk dan mencium kening Mira.


Ada pancaran sinar bahagia di tatapan mereka berdua.


***

__ADS_1


__ADS_2