
Bagas tak mampu untuk berpikir, hatinya dipenuhi dengan kemarahan.
Ia berkali- kali mengepalkan tangannya dan meremas rambutnya.
Akhirnya ia lelah dan duduk di kursi.
Ia mengambil ponselnya dan melihat apa ada pesan masuk atau tidak dari Intan sesuai dengan apa yang dia bilang.
Bagas mencoba untuk chat Intan. Ia menarik napas dulu sebelum menulis untuk ia dapat tahu reaksi Intan.
" Intan.. kamu di mana? Mas sudah dapat hasil testnya, Dion itu benar anak kita, jadi mas mau susul kamu ke kampung ibu dan bapamu, jawab ya,"
Bagas berusaha untuk menahan rasa dulu, ia ingin tahu kebohongan Intan sampai di mana walau dirinya marah tetapi ia masih memakai akal sehatnya untuk mengetahui rahasia Intan membohonginya.
Ditunggunya dengan sabar, sampaii akhirnya ada balasan Intan.
" Mas.. maaf baru balas, benarkah itu mas, Dion anak kita? mas tidak salah? aku ada di kampung Sindangsirna, Brebes mas, aku ada di sini, datang saja mas, kalau memang Dion anak kita, aku senang," tulisnya.
Bagas menghentakkan tangannya ke pegangan kursi, ia sangat marah atas ketidakjujuran Intan.
Selama ini ia percaya pada Intan sampai ia tak pernah tahu keberadaan alamat mertuanya di kampung.
Ia sudah mendapat alamatnya, ia ingin membuat perhitungan dengan Intan. Dia ingin menanyakan apa maksudnya dia selama ini berbohong padanya.
Masuk lagi chat dari Intan, Bagas membacanya.
" Mas.. jawab jujur mas, apa benar Dion itu anak kita, aku cuman memastikannya saja mas,"
Bagas yang membaca itu dadanya terasa sesak, Intan ingin kepastian. Mungkin dipikir Intan bila ini anak Bagas maka Intan akan meneruskan hubungan ini.
Belum pernah Bagas merasakan sesakit ini di bohongi oleh orang yang telah ia bela mati- matian demi cintanya pada Intan dan anak yang dulu dikandungnya.
Berarti Intan benar - benar bermain tidak dengan dirinya saja tetapi juga dengan pria lain, batinnya berkata .
Bagas menulis pesan lagi," Mengapa kamu tanyakan? Apa kamu merasa itu bukan anakku ? kalau bukan anak kita, apa anak dari selingkuhanmu yang lain Intan? " tanyanya.
Ditunggunya jawaban dari Intan, tetapi tak ada jawaban lagi dari Intan.
Bagas berdiam diri lalu ia teringat Riki dan Shinta dan omongan Shinta saat marah dengan Intan.
Diraihnya ponsel dan dicarinya nomor Riki. Mereka janjian bertemu besok di cafe dekat kantor Bagas.
Malam ini Bagas pulang dengan tubuh yang lemas seperti orang yang baru kalah perang.
Ia sangat sakit, jiwa dan fisiknya lelah, karena itu ia langsung tidur malam itu tanpa sempat ia mandi.
__ADS_1
Keesokan harinya ia bangun dengan tubuh lebih segar, cepat ia mandi dan berangkat ke kantor.
Ia harus bertindak profesional, walau ada masalah tetapi ia harus tunjukkan kualitas dan sikapnya yang baik di hadapan rekan kerjanya di kantor.
Hari ini papa Yanto datang ke kantor, setiap 2 hari sekali papa datang ke kantor dan hari yang lain papa akan ke kantor yang satunya lagi.
Dia melihat Bagas hari ini banyak diam dan termenung.
Setelah Yanto memeriksa dan berkeliling, ia mendatangi Bagas dan memintanya untuk ikut ke ruangan Yanto.
" Duduklah, ada apa Gas, kok kamu dari tadi papa lihat diam terus dan melamun?" tanya Yanto.
" Kamu sakit, atau anakmu yang sakit ?" lanjutnya.
Bagas menggeleng lalu terdiam.
" Kenapa Bagas, jawab kalau papa tanya," sentak Yanto.
" Tidak ada apa- apa pa, cuman Bagas terasa lemas saja," katanya.
" Betul kamu lemas saja atau ada apa, kamu tidak diurus wanita itu atau anakmu yang tidak diurusnya?" tanya Yanto kembali.
" Pa... Bagas minta maaf karena tidak pernah mendengar apa kata papa, Bagas menyesal pa, Bagas tak menyangka semua itu akan terjadi pada Bagas pa," kata Bagas menundukkan kepalanya.
Yanto menatap Bagas tajam lalu dengan lembut berkata," Katakan Gas, papa siap mendengarnya," katanya.
Yanto terdiam, ia sudah menduga tetapi ia perlu bukti dan bukti sudah di dapat tetapi yang ia lihat anaknya terpukul oleh bukti itu.
" Kamu kecewa Gas?" tanya papa.
" Ya pa.. aku kecewa pa, tetapi itu
bukan karena Dion ternyata bukan anakku pa, tetapi aku kecewa aku sudah bela- belain Intan, mempertahankan dia, rela berpisah dengan Mira demi dia, tetapi akhirnya aku yang dibohongi pa," katanya sendu.
" Kamu menyesal karena Intan membohongimu ?" tanya papa memastikan lagi.
" Ya pa, aku menyesal telah menukar sesuatu yang berharga dalam hidupku hanya untuk mendapatkan yang tak berguna di hidupku ini pa," sahutnya.
" Aku menjaganya, mencintainya, memperhatikannya, demi dia aku rela diturunkan jabatan, di musuhi dan di marahi papa , demi dia aku menurunkan ego ku dan wibawaku di mata rekan kerjaku demi dia, tapi ternyata yang ku dapat... aku di bohongi pa," sahutnya lirih dan pelan.
Yanto terdiam, ia pun tak menyangka reaksi Bagas setelah ia mengetahui dibohongi Intan seperti itu, dia akhirnya tahu Bagas anaknya sangat membela dan mencintai Intan tetapi ternyata Intan menipu dan membohonginya.
Rasa sakit itu yang membuat reaksi Bagas terdiam. Rasa syok itu yang membuat Bagas lemas, rasa cinta yang akhirnya berubah menjadi benci dan rasa memiliki itu yang akhirnya musnah di telan kebohongan dan dusta.
Yanto mengijinkan Bagas untuk pulang cepat hari ini, Bagas ijin mau bertemu Riki.
__ADS_1
Di tempat yang sudah ditentukan Bagas melihat Riki dan Shinta yang telah menantinya duduk di ujung sudut itu.
" Gas.. apa kabarmu ?" sapa Riki.
Bagas melihat pada Riki dan Shinta.
" Kamu mau minum apa Gas," tanya Riki.
" Aku lemon tea saja," kata Bagas.
Sesudah orang yang mencatat pesanan itu pergi Riki mulai bertanya.
" Gas.. selamat ya, aku dengar istrimu baru melahirkan anak laki- laki," kata Riki
" Riki.. aku boleh bicara dengan Shinta?" tanyanya.
Riki melirik Shinta dan Shinta pun menatap suaminya, lalu berkata," Silahkan, ada apa ya Gas?" tanyanya heran.
" Shinta.. apa kamu bisa ceritakan Intan itu dulu seperti apa?" tanyanya.
Shinta menatap heran lalu bertanya," Gas.. memang ada apa dengan Intan?" tanyanya heran.
" Intan telah menipu dan membohongiku Shin.. anak yang dilahirkannya itu bukan anakku," kata Bagas pelan.
Shinta dan Riki terkejut, mereka kaget mendengarnya
" Ya memang Intan dari dulu sering gonta- ganti pacar, ia menganggap dengan kecantikannya bisa dengan mudah mendapatkan laki- laki yang diinginkan.
Selera dan incarannya laki- laki kaya yang dapat membuat hidupnya enak dan bahagia. Salah satunya Rian, teman sekelas kami sewaktu di SMA.
Rian begitu tergila- gila padanya sampai Rian rela mencampakkan kekasihnya yang telah bersamanya dari SMP.
Dari Rian Intan mendapatkan segalanya karena memang orangtua Rian sangat kaya, sehingga Intanpun memanfaatkannya habis- habisan.
Terakhir terdengar Intan mencampakkan Rian karena ada anak baru yang masuk ke sekolah kami lebih ganteng dan lebih kaya.
Rian yang tersaingi menjadi sakit hati, ia mengemis cinta Intan, tetapi Intan tak bergeming sampai akhirnya Rian sakit dan karena semakin parah sakitnya Rian tak tertolong.
Rian meninggal karena patah hati, dan aku tidak terima, aku benci Intan dan tak akan ku maafkan dia, karena dia yang sudah merebut Rian dariku, kekasihnya Rian dari SMP, " kata Shinta sambil menangis tersedu- sedu.
Riki menenangkan Intan yang masih emosi.
Bagas terpekur diam Ia tak menyangka sepak terjang Intan sudah terlihat dari muda.
Intan gampang menggoda dan yang diincarnya laki- laki kaya dan setelah ia melihat yang lebih dari semua yang ada maka dengan mudah ia campakkan dan mencarinya lagi.
__ADS_1
Bagas menyesal... Inilah penyesalan Bagas yang terdalam, terpikat oleh pesona dan keluwesan Intan yang membuat rumah tangganya hancur berantakan.
***