Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 81. Mira Mengambil Keputusan


__ADS_3

Bagas pulang dengan pikiran yang kalut, ia tak habis pikir Mira akan bertindak seperti ini padanya.


Hati kecilnya ingin melihat Mira dan Intan bersatu dengannya, tetapi apa yang dipikirkan sangat jauh dengan yang terjadi.


Mira seolah- olah tak menghiraukannya lagi, tidak memperdulikannya lagi sebagai seorang suami yang masih sah baginya.


Baru kali ini hati Bagas sakit, merasa diacuhkan oleh Mira.


Hati Bagas galau, karena itu ia marah- marah sepanjang perjalanan pulang. Ia kesal dengan sikap Mira padanya. Ia berniat untuk minum di cafe dulu, menenangkan pikirannya.


Bagas memesan jus kesukaannya, lalu ia merenungkan semua kata- kata Mira. Ia tahu hatinya Mira masih sakit, masih belum memaafkan sikapnya.


Ia melayangkan matanya lalu ia melihat ada Riki sedang berkumpul dengan teman- temannya.


Secara tak sengaja Riki pun melihat Bagas.


Ia melambaikan tangannya pada Bagas lalu tersenyum dan menghampirinya.


" Gas... pa kabar, lagi sendiri ?" tanya Riki.


" Ya, sendiri Rik.. " katanya.


" Gas, kamu masih lama? aku ingin ngobrol denganmu, tunggu sebentar ya, aku pamit dulu dengan teman- temanku, " kata Riki.


Lalu Riki berlalu kembali ke teman- temannya. Tak lama ia pun datang kembali menemui Bagas


" Gas.. sory ya aku suruh kamu nunggu," katanya.


" Tak apa Rik.. justru aku yang nggak enak, kamu kan lagi bersama teman- temanmu," katanya.


" Santai Gas, teman- temanku sudah mau pulang, jadi aku bebas denganmu," katanya.


" Ehh Gas, kok kamu sendiri, tidak sama Mira atau sama Intan?" tanyanya.


" Tidak.. aku tadi dari rumah Mira, ia masih belum mau bicara banyak padaku, " katanya.


" Ya Gas kamu harus mengerti wanita, bila ia sakit hati maka ia lama untuk memaafkanmu, tetapi bila ia dicintai dan di sayang maka ada kesalahan sedikit saja, ia akan anggap tidak ada kesalahan," katanya.


" Ya itu, Mira memberi waktu 2 minggu lagi untuk ia memberi keputusan apa ia akan memaafkan dan kembali padaku atau ia akan pergi jauh dariku," kata Bagas.


" Kamu ingin pilihan yang mana Gas?" tanyanya seraya menatap Bagas.

__ADS_1


Bagas terdiam sejenak, lalu ia berkata," Jujur kalau boleh aku ingin kembali padanya, tetapi ada calon anakku di rahim Intan, aku ingin mereka bisa bersatu Rik.. bersama denganku dan aku akan bersikap adil pada mereka," katanya.


" Tidak bisa gitu Gas, kamu harus tentukan pilihan. Bila kamu ingin dua- duanya kamu egois, kamu tidak dapat mengerti hati Mira yang tersakiti. Kamu pun tak mengerti hati Intan yang sebenarnya.


Bila kamu memilih Mira, lepaskan Intan, demikian juga sebaliknya. Tetapi bila kamu ingin kedua- duanya harus ada perembukan dulu antara kalian bertiga, jangan sepihak," katanya Riki.


" Aku bingung Rik... aku tak menyangka jadi serumit ini, memang ini salahku, aku tak memikirkan sampai sejauh itu," katanya.


" Ya sudah Gas, kamu pikirkan dengan tenang dulu, coba nanti kamu bicarakan berdua Mira setelah kamu pikirkan. Mana yang terbaik untuk kalian berdua, dan ingat ada anakmu juga dengan Mira, itu harus kamu pikirkan.


Riki dan Bagas pun masih berbincang- bincang sampai akhirnya mereka pun masing- masing pamit pulang.


Mira memikirkan semua yang tadi telah di katakannya. Ia memberi waktu pada Bagas untuk Bagas dapat berpikir dengan baik.


Ia mau melihat Bagas dapat berubah dan mengambil keputusan yang lebih baik.


Mira memikirkan itu semua, waktu yang ia berikan pada Bagas bukan waktu yang panjang, tetapi waktu yang pendek, karena itu ia ingin mencari bukti dulu apa suaminya ini ditinggalkan olehnya sementara ini berubah atau tidak.


Sementara itu setelah Bagas bertemu Riki, ia memutuskan tidak pulang ke rumahnya, tetapi ia menuju rumah Intan.


Bagas berencana akan menginap di rumah Intan untuk melepas segala penatnya sekaligus menunggui Intan yang sedang hamil.


Pagi itu Mira ingin mencari bukti, ia sengaja menyewa gojek yang bisa mengantarkan nya ke alamat yang di tuju.


Ia meminta tukang gojek berhenti dan ia memperhatikan rumah itu, tiba- tiba pintu rumah terbuka, keluarlah Bagas dari dalam bersama Intan.


Intan terlihat bergelayut manja pada Bagas dan Bagas pun sebelum masuk mobil mencium mesra kening dan pipi Intan.


Ada yang terasa sesak di dada Mira, rupanya suaminya tidak menunjukkan perubahan.


Bagas tetap berbohong dan tidak menunjukkan rasa bersalah dan penyesalannya.


Ia terlihat mesra dengan Intan, akan sangat sulit bagi Mira untuk percaya dan merubah Bagas.


Mira pun berlalu dari situ dan ia pulang.


2 Minggu pun berlalu, Mira akan melakukan suatu keputusan.


Ia ingin secepatnya berbicara dengan Bagas.


Kemarin ia sudah menghubungi Bagas lewat Riki.

__ADS_1


Ia meminta bertemu dengan Bagas malam ini jam 7 di cafe .


Bagas pun senang akhirnya Mira menghubunginya.


Tepat jam 7 Mira datang, Bagas yang sudah menunggu dengan senang mempersilahkan Mira duduk.


" Hai Mira, silahkan duduk, mau pesan minum apa?" tanya Bagas lembut.


Mira yang merasa diperlakukan seperti itu tidak menunjukkan reaksi senang malah memalingkan mukanya kesal.


" Aku tidak butuh minum, aku ke sini mau bicara, waktuku tak lama, harap mas dengarkan apa keputusanku," katanya ketus.


Bagas terkejut mendengarnya, tetapi ia tetap memesan minum.


" Baiklah... aku akan mendengar keputusanmu, tetapi sebelumnya aku ingin kamu dengar apa yang aku inginkan Mira, boleh kan Mir, mas bicara dulu," katanya.


Mira mengangguk dan Bagas pun senang, lalu ia mulai berbicara.


" Mira... aku tahu, aku salah. Aku sudah memohon maaf padamu sudah beberapa kali, tetapi sikapmu tak berubah padaku, aku hanya ingin satu hal kamu dan Intan bisa bersama, bersatu denganku, aku janji aku akan adil Mir.. walau pun kamu tidak serumah dengan aku, tapi aku janji akan membagi waktu untukmu juga. Aku tidak mau pisah dengan Yunia, itu anakku Mir.. juga anak yang di kandung Intan pun anakku Mir, aku tidak mau jauh dari anak dan istri- istriku, coba kamu pahami itu Mira, mengertilah.. aku hanya ingin bersama kalian membina rumah tangga ini," kata Bagas.


Mira terhenyak kaget, air mata nya turun menetes. Ia tak menyangka Bagas seegois itu.


Mira menyeka air matanya, lalu berkata ," Mas... maaf aku tidak bisa seperti yang mas mau," katanya.


" Kenapa Mir..? " tanyanya.


" Mas mau dengar keputusanku ? Simak baik- baik ya, baru nanti aku akan jawab semua pertanyaanmu," katanya.


" Baik... bicaralah," kata Bagas.


" Aku sudah memikirkannya mas dan aku juga melihat kamu awalnya menyesal dan ingin berubah, tetapi ternyata aku salah duga, kamu tak berubah mas, waktu di mana aku pergi dari rumah adalah waktu kamu untuk merenung dan menyesali serta berubah dan memikirkan bagaimana solusinya yang terbaik untuk rumah tangga kita, tetapi aku melihat kamu seakan tak punya rasa bersalah telah menghianati aku, bahkan kamu merasa lebih bebas tanpaku berhubungan dengan wanita itu, jadi mas ... buat apa aku teruskan rumah tangga ini denganmu, aku memilih berpisah mas, uruslah surat cerai agar kamu bisa bebas menikahi wanita itu, " kata Mira.


Bagas kaget Mira memilih berpisah dengannya, bahkan menyuruh Bagas mengurus surat cerainya.


" Kamu tidak cinta aku lagi Mir.. ?" tanyanya.


" Apa aku bilang cinta padamu kamu akan berhenti menghianatiku mas??" tanyanya lagi.


" Bagaimana dengan Yunia?" tanya Bagas.


" Nanti kita bicarakan itu di pengadilan mas, yang pasti aku sudah tak ingin bersamamu lagi, lebih baik aku sendiri, tetapi hatiku tak kau sakiti lagi mas lewat perbuatanmu itu," kata Mira.

__ADS_1


Bagas terdiam. Ia terpukul dengan omongan Mira. Apa yang Mira bicarakan, itu benar semua adanya.


***


__ADS_2