
Bagas pulang dengan memikirkan apa kata teman- temannya.
Dalam hati yang terdalamnya ia pun merasakan kekosongan.
Di usianya sekarang ia merasa tak seperti teman- temannya yang lain.
Ia terkadang merasa kesepian ketika teman- teman seusianya cerita soal keluarga.
Walau banyak juga yang jomblo tapi Bagas meligat dari susi temannya yang sudah berkeluarga.
Ia ingin melangkah.. tetapi takut dan trauma selalu menghantuinya sedangkan di sisi lain ia pun ingin punya kehidupan normal seperti orang lain.
Tak mudah memang menjalaninya, tak semudah yang dikatakan.
Sudah tiga kali ia gagal dalam mempertahankan cintanya.
Dan untuk sekarang ia tak mudah untuk memulainya lagi.
Orangtuanya sudah beberapa kali ingin menjodohkan Bagas dengan wanita- wanita yang menurut mereka baik dan berpendidikan, tetapi selalu Bagas tak hiraukan.
Bagas masih menata hati setelah Intan pergi meninggalkannya.
Sakit itu masih ada, tetapi ia tak mau larut dalam keterpurukan lagi, ia juga ingin bangkit.
Pernah Rianti bertanya padanya secara pribadi berdua dengan Bagas.
Rianti memikirkan nasib anaknya yang sudah gagal dalam rumah tangga.
Ia sedih melihat Bagas yang terpuruk dalam kesedihan dan sakit hati.
Bagas teringat kembali percakapan itu.
" Gas.. mama mau serius tanya padamu," kata Rianti.
" Ya ma, ada apa," tanya Bagas.
" Sampai kapan kamu akan seperti ini nak, terpuruk dalam sakit hati dan kesedihan yang berlarut, lupakan Intan, dia bukan yang terbaik untukmu, buktinya ia berbohong padamu soal anak dan sekarang ia pergi meninggalkanmu," kata Rianti.
" Ayo Bagas, kamu harus move on. Sudah berapa kali mama bawa wanita anaknya teman mama untuk kamu bisa melupakan sakit hatimu, tetapi yang ada kamu diam seribu bahasa, kamu cuek pada wanita itu dan kamu bahkan tak menghiraukannya. Kamu lampiaskan sakit hatimu dengan gila bekerja serta pergi minum- minum dengan teman- temanmu. Mama sedih lihat kamu seperti ini nak," kata Rianti meneteskan air mata.
" Ma, akupun tak mau seperti ini. Aku kalau sudah mencintai seorang wanita itu selalu sungguh- sungguh.
Tetapi ini mungkin karma ku ma, maka aku seperti ini.
Aku ditinggalkan oleh Sherly, lalu Shinta yang selingkuh ketika sudah mau menikah, aku mendapat Mira yang sungguh- sungguh mencintaiku, aku sia- siakan dan ku kejar Intan yang ternyata menipu dan membohongiku. Aku menyesal ma, aku terbuai oleh pesona dan terjebak di situ.
Bila aku tahu Intan hamil bukan olehku, mungkin sudah kutinggalkan dia dan rumah tanggaku masih bisa kuselamatkan ma, ternyata sebuah penghianatan harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Aku sangat menyesal ma, sangat menyesal. Rumah tanggaku hancur oleh kesalahanku, aku terbuai oleh kenikmatan sesaat. Aku yang sudah buat Mira terluka dan Yunia.
Walau aku senang lihat Mira bahagia sekarang itu membuat rasa penyesalanku berkurang sedikit, tetapi aku juga sedih Yunia anakku tak mengenaliku lagi," kata Bagas menangis tersedu.
Tampak di wajahnya penyesalan yang sangat dalam.
" Aku manusia yang tidak bersyukur ma, aku sudah dapat segalanya malah membuang mereka istri dan anakku sendiri," kata Bagas masih menangis.
Rianti yang melihat anaknya seperti itu, menghampiri dan memeluknya.
" Bertobat nak, jangan sekali- kali lagi kamu lakukan itu, ingat siapa menabur ia akan menuai, sekarang posisimu ada di situ kamu sedang menuai semua kelakuanmu di masa lalu.
__ADS_1
Berdoa mohon ampun pada Tuhan, mama percaya dengan kamu sungguh- sungguh maka Tuhan akan ampuni kamu dan membuka jalan kemudahan bagi hidupmu nak," kata Rianti mengelus rambut anaknya.
Bagas pun mengganggukkan kepalanya dan Rianti memberikan banyak nasehat dan kata - kata semangat untuk anaknya.
Ia sayang pada Bagas, di saat seperti ini anak tunggalnya memerlukan dirinya, dan Rianti siap memberikan pelajaran berharga untuk kehidupan Bagas selanjutnya untuk Bagas menghargai apa yang Tuhan sudah percayakan pada hidupnya dengan menjaganya baik- baik.
Bagas terbangun dengan tubuh segar setelah semalam ia tertidur dengan lelap.
Pagi ini ada meeting penting dan ia pun mempersiapkan diri dengan baik.
Bahan materi pun sudah di susun oleh sekretarisnya.
Ia tinggal mempresentasikan dan membahas kemajuan perusahaan.
Bagas sampai di kantor tepat pukul 9 pagi. Sesuai yang ia umumkan meeting akan berlangsung pukul 10 pagi.
Tepat jam 10 ia menuju ruang meeting.
Tampak beberapa staff nya sudah siap di meja meeting.
" Selamat pagi semua," sapa Bagas pada para staff karyawannya.
' Selamat pagi pak," sapa mereka seraya bangkit berdiri.
" Silahkan duduk," katanya lagi.
" Semua sudah hadir ?" tanyanya.
" Sudah pak," sahut sekretarisnya.
Bagas pun melayangkan pandangannya ke semua yang hadir, tapi kemudian matanya memandang pada satu kursi yang kosong tetapi di meja ada buku catatan.
" Itu bangku Desi pak. Dari bagian pemasaran. Tadi ia ijin ke toilet pak sebentar," kata Ina temannya.
Bagaspun manggut- manggut.
Pada saat ia akan memulai, pintu ruangan tiba- tiba di ketuk.
Dengan wajah kesal ia menoleh, tampak Desi masuk dengan rasa takut.
Tadi ia tiba- tiba ingin ke toilet dan hanya sempat bilang pada Ina.
" Permisi pak. Maaf tadi saya ke toilet sebentar. Saya tadi mau ijin sama... " Bagas langsung memotong ucapan Desi.
" Duduk cepat, saya tidak mau bila saya sudah masuk ruangan ada karyawan yang masih berada di luar, mengerti ! " kata Bagas tegas.
Matanya tajam menatap Desi, wanita yang sudah memaki dia di kantin.
" Pak Andi .. anda kepala bagian pemasaran kan ? Tolong kasih tahu aturan kita di sini, agar tidak seenaknya melanggar aturan yang ada ! " kata Bagas tegas.
" Baik pak, nanti saya beritahu anak buah saya," sahut pak Andi menunduk.
" Baik.. kita akan mulai sekarang meeting ini," lalu Bagaspun memulai meeting dengan menjelaskan untuk kemajuan perusahaan.
Desi pun mendengarkan meeting itu walau pikirannya melayang.
Ia malu ketika di tegur oleh bosnya. Ia merasa bersalah.
Tepat pukul 12 siang meeting selesai.
__ADS_1
Semua staff dan karyawan keluar dan istirahat.
Bagas keluar dari ruangan bersama beberapa staff. Tampak mereka masih berbicara seraya berjalan menuju ruangan Bagas.
Dari jauh Bagas melihat Desi yang tertunduk diam di sudut ruangan dekat lift.
Mungkin ia juga ingin turun untuk ke kantin.
Bagas menemukan ide untuk membuat Desi lebih merasa bersalah.
" Pak Andi mau ke kantin ?" tanya Bagas.
" Iya pak, saya mau makan siang," kata pak Andi.
" Saya juga mau makan di kantin pak , kita sama- sama saja pak ," kata Bagas.
" Oh, baiklah kalau begitu, apa kita langsung atau bapak mau masuk ruangan dulu ?" tanya pak Andi.
" Langsung saja, " kata Bagas.
" Yuli kamu simpan berkas- berkas meeting kita di meja, saya mau ke kantin dengan pak Andi," seru Bagas pada sekretaris barunya Yuli.
" Baik pak," sahut Yuli.
Lalu Bagas bergegas ke lift di mana ada Desi berada.
Pak Andi memberi isyarat pada Desi untuk tetap menunggu dulu karena bosnya akan turun memakai lift itu.
Desi pun mengerti lalu ia mundur beberapa langkah untuk Bagas dapat lewat.
Tak sedikitpun Bagas menoleh pada Desi pada saat Desi menggangguk memberi hormat.
Desi yang melihat itu mengomel dalam hati ," Sombong dan dingin sekali pak Bagas ini ya," batinnya berkata.
Di dalam lift Bagas berkata pada Andi," Nanti saat saya sudah sampai di kantin, kamu suruh operator lift mematikan lift ini, nanti bila saya selesai makan di kantin baru nyalakan lagi. " kata Bagas.
" Tapi pak, masih ada beberapa karyawan yang belum turun," kata Andi heran.
" Berapa orang ? Yang ku lihat tadi hanya 1 orang sajakan ?" kata Bagas ketus.
" Ini perintah saya, lakukan atau kamu juga mau nanti naik tangga menuju ruanganmu ?" kata Bagas menatap tajam Andi.
" Baik pak, saya hubungi operatornya sekarang," kata Andi dengan perasaan heran sekaligus aneh dengan sikap bosnya.
Maka diteleponnya operator itu dan dalam hitungan menit setelah bosnya sampai kantin maka lift pun dimatikan.
Desi yang masih menunggu di atas bingung ketika ia mendapati lift mati. Dia dari tadi melihat angka di lift yang menyala, tetapi tiba- tiba mati.
Ia ingin makan karena lapar, ingin turun pakai tangga dari lantai 15 akan membuatnya kehabisan tenaga.
Karena itu ditahannya lapar dan ia pun bergegas ke dapur yang ada di sudut ruangan lain.
Ia pun membuat teh manis untuk mengusir laparnya.
Tangannya memencet tombol nama Ina lalu ia memesan kue di kantin untuk dia makan nanti sambil bekerja.
Di kantin terlihat Bagas yang tersenyum senang. Ia puas dapat mengerjai Desi.
" Tunggu saja Desi.. aku akan buat kamu menangis memohon maaf padaku karena sudah memaki aku," batinnya berkata .
__ADS_1
***