
Selepas Marsih mengasuh Dion yang sekarang berusia hampir 7 tahun, Marsih tetap mempunyai keinginan untuk menyenangkan Dion dan membuat Dion se nyaman mungkin dalam segala sesuatu.
Dion sekarang lebih menerima kenyataan yang ada dalam kesehariannya sebagai seorang anak yang tidak mempunyai lagi ibu. Ia harus melihat anak- anak di sekeliling nya yang sedang bermain dan di manja oleh ibunya.
Keadaan itu yang membuat Dion tumbuh menjadi seorang anak yang pendiam.
Seperti hari ini, ketika bu Marsih mengajak Dion jalan- jalan sore menemani Dion yang sedang bersepeda.
Wajah ceria Dion berubah ketika melihat anak seusianya yang sedang bersepeda dengannya tiba- tiba jatuh lalu kedua orangtuanya berlari menghampiri, memeluk anak itu yang menangis dan ayahnya menggendongnya.
Hal itu membuat Dion terdiam melihatnya. Matanya basah dan hatinya sedih.
Bu Marsih yang melihat itu lalu memeluk Dion dan membawa Dion duduk di salah satu bangku taman.
" Dion.. sudah cape belum naik sepedanya? Kalau sudah cape kita pulang yuk," kata bu Marsih sedih menatap Dion.
Dion menggelengkan kepalanya lalu menunduk.
" Dion.. bicara.. jangan kamu sedih seperti itu, nenek tahu Dion rindu mama kan ?" tanya bu Marsih.
Dion menatap neneknya, ada linangan air mata di pipinya. Bu Marsih pun memeluk cucunya dan mengusap rambutnya.
" Dion rindu mama nek.. Dion ingin dipeluk mama lagi seperti dulu, Dion nggak punya siapa- siapa selain nenek dan kakek, di mana papa Dion nek? Apa masih hidup ?" tanyanya seraya menangis tersedu- sedu.
Hati bu Marsih serasa tersayat mendengar curahan hati cucunya yang belum siap menerima kenyataan ini.
Dion menanyakan ayahnya Sekian lama tidak pernah sekalipun ia menanyakan ayahnya.
Kali ini ia bertanya apakah ayahnya masih hidup atau sudah tiada.
Bu Marsih pun tidak tahu keberadaan Anton ayahnya ada di mana dan mungkin juga ayahnya tak akan pernah mengingat Dion.
Sungguh malang anak ini ditinggal mamanya sejak usia dini, tak pernah tahu ayahnya sejak di kandungan.
Bu Marsih menghela napas, lalu menjawab.
" Dion.. sudah jangan menangis cucu nenek yang paling ganteng. Kamu tidak sendiri ada nenek dan kakek ya, ingat apa kata mama ... kalau rindu Dion harus apa ? " tanyanya bu Marsih sambil menatap Dion dan menghapus air matanya.
" Bila Dion rindu tatap foto mama nek," sahut Dion sambil terisak - isak.
" Hiks.. hiks .. Dion harus berdoa biar rindu Dion pada mama terdengar mama nenek.. hiks.. hiks " Dion berkata sambil terisak kembali.
Bu Marsih meneteskan air mata, hatinya menjerit mendengar kata- kata polos Dion yang rindu mamanya.
__ADS_1
Ia pun mengangguk dan berkata dengan tegar.
" Dion anak pintar.. sudah jangan menangis. Berdoa pada Tuhan ya, mama itu selalu ada di hatimu, "
Lalu Dion pun mengusap air matanya dan bertanya lagi," Nek, apa papa Dion masih hidup ? apa sudah meninggal seperti mama?" tanyanya .
Sejenak bu Marsih terdiam lalu menjawab.
" Papamu sudah meninggal Dion... sejak kamu masih di kandungan mamamu," kata bu Marsih berbohong.
Ia melakukan itu karena tak ingin Dion tambah terluka dengan kenyataan yang ada bila Anton menolaknya.
Dulupun ketika Intan memberitahu ia hamil anak Anton malah Anton mengelak dan mengatakan bahwa itu bukan anaknya, apalagi sekarang sudah bertahun- tahun Anton tak tahu di mana, pasti ketika diberitahu ia pun tetap tak akan mengakui Dion.
" Papa sudah meninggal juga nek? berarti Dion sudah tidak ada papa dan mama ya nek ?" tanyanya sedih.
Nenek menggangguk dan berkata ," Ya sayang... Dion sekarang ada nenek dan kakek yang akan selalu ada untuk Dion. " katanya sedih.
Dion terpekur dan menunduk. Ia sedih dan tak bisa bermanja- manja dengan kedua orangtuanya lagi.
" Ayo kita pulang, kakek pasti sudah lapar di rumah. Dion mau makan malam apa, nenek mau masak yang enak untuk Dion dan kakek." kata bu Marsih mengajak Dion pulang.
Dion pun mengangguk lalu naik sepedanya dan beriringan bersama neneknya pulang .
" Kakek.. Dion sayang sama kakek," serunya dan langsung memeluk kakeknya.
" Wah.. cucu kakek yang paling ganteng sudah pulang. Gimana sudah lancar naik sepedanya ? hati- hati jangan ngebut nanti nenek ketinggalan loh ," kata kakek seraya bingung bertanya dalam hatinya cucunya sehabis pulang dari jalan- jalan memeluknya dengan erat.
Tapi kakek membalas memeluknya dan menggoda Dion.
" Tadi Dion pelan- pelan kok kek, kasihan nenek nanti ketinggalan,," kata Dion tertawa.
" Besok kakek ajarin kamu lagi cara naik sepeda di tanjakan ya," kata kakek.
" Asyik... kakek mau ajarin Dion lagi, janji ya kek.. " katanya seraya mengeluarkan jari kelingkingnya untuk dikaitkan dengan jari kakek tanda sudah berjanji.
Kakekpun mengikuti kemauan Dion dan mengangguk.
" Nah.. sekarang Dion mandi ya, nenek mau masak. Mau makan malam apa kalian ini ?" tanya nenek.
" Kakek mau nasi goreng ati ayam," kata kakek.
" Dion juga nasi goreng nek tapi pakai udang," kata Dion menatap neneknya.
__ADS_1
" Oke.. untung ada bahannya, kemarin kan sudah beli di pasar. Nenek ke dapur dulu ya, Dion mandi dan kakek teruskan menyiram. Nanti kita serbu nasi goreng nenek ya," kata nenek seraya masuk ke rumah.
Dion tertawa dan menuju kamar mandi.
Tepat pukul 7 mereka sudah berkumpul di meja makan. Dion melahap makanannya, ia sangat suka nasi goreng buatan neneknya. Bagi Dion nasi goreng neneknya paling lezat tiada duanya. Mereka bertiga makan
Waktu menunjukkan pukul 20.30 Dion harus tidur karena besok sekolah.
Nenek pun menemani Dion tidur, dan Dion masih tidur dengan menyusup pada tubuh neneknya.
Setelah ia pulas, nenek pun beranjak keluar kamar dan menuju ruang depan.
Tampak kakek sedang menonton TV.
Dihampirinya kakek lalu ikut duduk di sebelahnya.
Suasana hening mereka berdua asyik menonton berita yang ditayangkan.
Tiba- tiba bapak berpaling pada ibu dan bertanya.
" Bu.. tadi apa yang terjadi dengan Dion ketika Dion berjalan- jalan bersama ibu ?" tanya bapak membuka percakapan.
" Kenapa bapak bertanya seperti itu ?" tanya ibu.
" Bapak aneh tiba- tiba Dion memeluk erat bapak, tidak biasanya anak itu seperti ini kelakuannya. Seakan ia tak mau jauh dari kita, ada apa bu ?" tanya bapak kembali.
" Tadi Dion melihat ada anak yang naik sepeda juga jatuh, lalu ayah dan ibunya berlari memeluk dan menggendongnya. Dion langsung terdiam dan menunduk, ia ingat Intan. Tak lama ia menangis di pelukan ibu dan berkata bahwa ia rindu pada mamanya dan menanyakan siapa ayahnya, apa masih hidup atau sudah meninggal" katanya.
" Lalu ibu jawab apa soal ayahnya ?" tanya bapak kemudian.
" Ibu jawab ayahnya sudah meninggal sejak dari Dion dalam kandungan.
Ibu tidak mau pak kalau Dion tahu ia masih punya ayah, tetapi kenyataannya Anton sudah menolak Dion. Intan pernah bicara pada ibu bahwa ketika Anton dijumpai Intan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya Anton mengelak dan mengatakan bahwa itu bukan anaknya, siapa tahu itu anak orang lain. Jadi Intan pergi meninggalkan Anton setelah beberapa bulan Anton membiayai kehamilan Intan." kata ibu seraya matanya menerawang jauh mengingat semua itu.
" Kalau Dion tahu ayahnya masih hidup pasti minta bertemu Anton. Kita tidak tahu di mana keberadaan Anton sekarang, lagi pula bila bertemu apa Anton akan mengakui Dion sebagai anaknya? Kalau Anton menolak Dion di depannya, apa Dion siap ? Apa bukan akan menambah sedih dan terlukanya hati Dion.
Trauma kesedihan ditinggal Intan pun belum sirna dalam hatinya, apakah kita tega melihat ia makin terluka bila nanti ayahnya menolak dia juga?
Itu pak alasan ibu mengatakan ayahnya sudah meninggal agar hatinya Dion tak terguncang lagi pak. Memang ibu telah berbohong tapi ibu rasa lebih baik ini ibu lakukan daripada melihat cucuku terluka dan bertumbuh dalam kesedihan ayahnya menolak dia," kata ibu panjang lebar menjelaskan.
Bapak manggut- manggut mengerti sekarang mengapa Dion ketika bertemu dengannya memeluk erat sekali
Rasa iba dan ingin melindungi cucunya agar tak terluka dan dapat bertahan menghadapi cobaan hidup ini membuat mereka berdua akan melindunginya dari segala hal yang membuat cucunya bersedih.
__ADS_1
***