
Intan menghela napas lega, Shinta sudah memaafkannya.
Diliriknya jam yang ada di sudut kamarnya.
Waktu menunjukkan pukul 2 siang.
Ia ingin menelepon Bagas, tetapi tiba- tiba perutnya sakit kembali.
Ia merintih kesakitan. Air mata nya keluar ketika menahan sakit.
" Ibu.. bu.. tolong Intan bu," panggilnya dengan lirih.
Bu Marsih tergesa masuk dan melihat Intan sedang kesakitan di ranjangnya.
" Intan kenapa kamu? sakit lagi nak? sudah minum obat belum ? Jangan banyak pikiran Intan, beristirahatlah." kata ibu dengan wajah kuatir.
Bu Marsih tak tega melihat penderitaan Intan. Air matanya turun deras melihat nya.
Lekas diambilnya obat Intan dan diberikan padanya.
Dengan tangan gemetar, Intan mengambil obatnya dan meminumnya.
" Ya bu, sakit banget bu, Intan istirahat dulu ya bu, terimakasih bu sudah mau peduli Intan," sahutnya dengan lirih menahan sakit.
" Tidurlah... jangan banyak pikiran. Dengan banyak istirahat kamu akan punya tenaga untuk melawan sakitmu," kata bu Marsih mengelus rambut Intan.
Tak lama Intan pun tertidur lelap, bu Marsih memandang anaknya dan hatinya terasa sakit melihat penderitaan Intan.
Jam 5 sore Intan terbangun, tubuhnya jauh lebih enak dari pada yang tadi siang.
Obat yang diminumnya membuat ia dapat tidur sehingga ketika bangun segar tubuhnya.
Setelah melihat Dion dan menyuapinya, terlintas di pikirannya kembali ia akan menelepon Bagas.
Intan berpikir biasanya pada jam segini Bagas sudah pulang atau bila masih di kantor, ia tidak sesibuk tadi siang.
Diraihnya ponsel, jantungnya berdetak kencang, ia sebenarnya tak siap dengan itu semua, tetapi ia harus segera melakukannya, karena ia berpikir ini berlomba dengan waktu.
Mulai dicarinya nama Bagas, lalu setelah beberapa saat ia terdiam, ia pun memencet nomor itu, terdengar nada dering yang cukup lama dan beberapa kali, sampai akhirnya telepon itu diangkat.
Terdengar suara yang sangat ia rindukan.
Ia tak bisa membohongi hati dan perasaannya, jauh di lubuk hati terdalam ia sangat mencintai Bagas, tetapi ia tak bisa dan menepisnya dalam hati karena ia telah membohongi Bagas dan menipunya.
__ADS_1
" Halo... halo dengan siapa ini ?" tanyanya dengan suara berat.
" Halo.. ini siapa?" tanyanya kembali.
Bagas tidak tahu itu siapa karena Intan memakai nomor baru dan tanpa foto profil sehingga Bagas tak mengenalinya.
" Ini siapa ya? Jangan main- main anda?" katanya dengan nada mulai marah.
Intan pun tersadar dari lamunannya, lalu ia pun menjawab.
" Bagas.. ini aku " kata Intan lirih.
" Siapa ya, saya tidak kenal anda ! " katanya dengan kesal.
Ketika ia berinisiatif mau menutup telepon, ia mendengar orang itu menyebut nama seseorang yang ia sangat benci.
" Bagas.. ini aku Intan," kata Intan pelan.
" Oh kamu ya pembohong.. kemana saja kamu selama ini ? Kamu hilang tanpa suara dan kata, kamu penipu, kamu sudah bohongi aku, mau apa lagi hah kamu telepon aku ?" tanyanya dengan marah.
" Kamu telepon aku mau balik lagi padaku? atau kamu mau kasih anak yang kamu kandung itu padaku dengan berbohong itu anakku kah ? Aku benci padamu, kamu sudah rusak rumah tanggaku dengan Mira, lalu kau mau masuk lagi dalam kehidupanku dan mengacaukannya lagi hah .. ! tidak puaskah dulu kamu rebut Mira dan sekarang kamu mau rebut apa lagi dariku? Aku benci kamu Intan," sahut Bagas marah.
Intan tak menyangka Bagas akan semarah itu dan mencaci maki dirinya.
Ada perasaan kuatir dan bersalah hinggap pada Intan.
Tetapi demi ia merasa ini waktu yang tepat untuk ia katakan yang sebenarnya.
" Bagas.. boleh aku bicara sebentar? Aku minta maaf Gas untuk setiap kesalahan yang aku perbuat padamu, aku menyesal sudah membohongi kamu, aku pun sebenarnya tak menyangka akan seperti itu, tetapi aku harus minta maaf padamu Gas," kata Intan mulai tersendat menahan tangis.
" Memang banyak kesalahanmu Intan. Kamu menipu dan membohongiku, kamu merusak rumah tanggaku, kamu meninggalkanku dan kamu menipuku dengan mengatakan itu anakmu,aku benci kamu Intan, sangat benci," kata Bagas dengan nada dingin.
Intan menangis mendengar apa yang diucapkan Bagas.
Ia tak menyangka Bagas sangat benci pada dirinya.
Ia mulai bimbang apakah Bagas akan memaafkannya atau tidak, tetapi ketika ia ingat penyakitnya, ia lalu semangat lagi untuk minta maaf.
" Apa yang ada diotakmu sekarang Intan? Kalau kamu hanya ingin minta maaf apa tujuan kamu telepon aku?" tanyanya ketus.
Intan pun mulai berkata bahwa ia ingin minta maaf karena hidupnya tak lama lagi.
" Bagas.. aku minta maaf padamu, aku banyak salah padamu, aku telah menipu kamu dan membuat hatimu benci padaku, tujuan aku tekepon ini hanya ingin minta maaf atas segala perbuatanku, hidupku tak lama lagi Gas, aku sakit, dokter sudah memvonisku hidupku tak akan sampai hitungan tahun hanya bulan, karena itu aku berniat meminta maaf pada orang- orang yang telah ku sakiti, aku menyesal Gas, telah merusak rumah tanggamu, aku minta maaf Gas untuk hal ini," sahutnya.
__ADS_1
Bagas terdiam mendengar apa yang dikatakan Intan.
Ia masih benci pada Intan, ia tak mampu melupakan apa yang sudah Intan perbuat.
" Gas, maafkan aku.. aku bohong padamu pada saat itu, aku masih ragu apa itu anakku atau anak kita.
Dion ternyata anak Anton bukan anakmu Gas.
Sebenarnya karena ragu membuat aku mau melakukan test DNA.
Maaf aku sudah buat hatimu kecewa Gas .. " kata Intan lagi.
" Sekarang aku hanya menunggu waktu ajalku menjemput sambil merawat dan membesarkan anakku Gas, Anton tidak mau mengakui anaknya dan ia telah pergi meninggalkanku dan aku tidak tahu ia kemana," katanya .
" Gas.. bicaralah, makilah aku bila kamu belum puas, tetapi satu hal ku mohon padamu, maafkan aku agar jalanku lapang bila saatnya aku tiba," kata Intan mulai menangis karena Bagas terdiam saja di telepon.
Bagas tetap terdiam, sampai Intan memohon- mohon maaf, Bagas tetap terdiam.
Akhirnya Intan ingin mengakhiri teleponnya dan saat itu Bagas bicara.
" Intan, memang aku sangat benci padamu, bila kamu ada di hadapanku aku bisa sangat marah, bisa ku tampar kamu karena perbuatanmu padaku, aku belum bisa memaafkanmu, kamu tahu sendiri masa laluku, saat aku sudah melupakan semua itu, kamu menoreh lagi luka yang sangat dalam padaku, tidak segampang itu aku bisa memaafkanmu Intan, selepas kamu sakit atau apapun aku tak peduli, aku sudah mulai menata hatiku lagi, jangan kamu ganggu hidupku lagi, aku sudah fokus dengan apa yang ada sekarang.
Mohon ampunlah pada Tuhan. Aku hanya bisa bilang itu.
Aku sibuk dan jangan coba ganggu atau telepon aku lagi," sahutnya .
' Gas.. maafkan aku Gas.. maafkan aku," rengek Intan memohon maaf pada Bagas di telepon, tetapi percuma setelah Intan bicara itu, Bagas menutup teleponnya.
Intan lalu menelepon lagi, tetapi Bagas telah mematikan ponselnya sehingga tidak aktif lagi.
Intan menangis, menjerit dan meraung menyebut nama Bagas beberapa kali, sampai bu Marsih berlari masuk ke kamar melihat Intan.
Bu Marsih melihat Intan terduduk di lantai sambil meraung.
Ia tahu bagaimana perasaan Intan.
Dia memeluk Intan dan menguatkan Intan.
Intan masih menangis tergugu, ia tak menyangka Bagas tak mau memaafkannya.
Tubuhnya serasa makin lemah, ia tak kuat lagi, dan tiba- tiba ia pingsan di pangkuan bu Marsih.
***
__ADS_1