
Mira sangat menyukai aktivitasnya setiap hari.
Hiburan Mira yaitu Stefan yang akan berusia 1 tahun minggu depan.
Antony sudah lulus dan sudah menetap di Singapura melanjutkan kuliahnya, Yunia sudah naik kelas 6 SD.
Mira merencanakan akan membuat pesta ulang tahun Stefan.
Ia sudah membicarakannya dengan Aria dan ia setuju akan usul Mira untuk pesta ulang tahun Stefan.
Yunia pun ikut senang adiknya akan berulang tahun.
Ia sibuk menelepon neneknya untuk datang minggu depan.
" Ma.. Nia sudah telepon nenek dan oma untuk datang ke pesta ulang tahun Stefan ya," katanya dengan antusias.
Mira mengangguk senang.
" Ma apa boleh aku undang sahabat ku Cecil ?" tanyanya setengah berharap.
" Boleh saja, tetapi mengapa kamu tidak mengundang teman- temanmu juga yang lain untuk meriahkan acara pesta adikmu?," tanya Mira.
" Nia undang Cecil dan dua sahabatku saja ma, karena aku sangat dekat dengan mereka. " kata Yunia semangat.
" Ya sudah kalau gitu, yang penting temanmu ada yang datang ya," kata Mira tersenyum.
Mira lalu menyuruh Yunia mengambil ponselnya. Lalu ia menelepon Antony .
Lama tak diangkat, akhirnya Antony menjawab.
" Hallo mama.. apa kabar ?" tanya Antony dengan riang.
" Hai sayang.. bagaimana kuliahmu ?" tanya Mira .
" Baik ma, aku baru saja selesai mata kuliah Enterprenership ini, mau masuk kuliah lain mama telepon jadi ku angkat dulu sebelum masuk ruangan yang lain. "
" Ada apa ma ? mama sehatkan ? papa kemana ma? " tanya Tony .
" Mama sehat nak, papa juga sehat dan papa lagi kerja.
Tony .. mama mau kasih kabar minggu depan adik Stefan berulang tahun. Nanti kamu sempatkan video call ya biar bicara sama papa dan adikmu Nia juga. Kami kangen sama kamu Tony.. baik- baik di sana ya, salam untuk tante Rossa," kata Mira .
" Wah adik sudah 1 tahun ya ma, berarti aku juga sudah 6 bulan di sini. Waktu cepat sekali.
Baik ma, aku nanti usahakan video call pas acara ulang tahun adik Stefan ya ma,salam buat papa ma, aku kangen kalian," kata Antony.
" Ya Tony.. jaga kesehatanmu ya, " kata Mira menutup teleponnya.
__ADS_1
" Ma.. itu kakak Tony ya, aku mau bicara ma," kata Yunia mengharap.
" Kakak lagi sibuk kuliah Nia, tapi kakak janji akan video call kita pas di acara ulang tahun Stefan. " kata Mira mencubit pipi Nia yang gembul karena ia cemberut tidak dapat bicara dengan kakaknya.
" Oh ya mama lupa mau undang tante Shinta dan om Riki juga, apalagi tante Shinta juga sudah ada anaknya," kata Mira seraya teringat sesuatu.
" Nia ke kamar dulu ya ma, main sama adik," katanya seraya berlari menuju kamar Stefan.
Mira pun menelepon Shinta .
" Halo.. Shinta ini aku Mira," katanya.
" Hai Mira.. apa kabar.. lama tidak kita bertemu ya," sahutnya .
" Ada apa Mir.. tumben kamu telepon aku ?" tanya Shinta heran.
" Aku mau undang kalian untuk datang ke acara ulang tahun anakku Stefan yang pertama, datang ya bawa anakmu ," kata Mira .
" Tidak terasa sudah 1 tahun ya anakmu Mir, selamat ya aku turut senang dengan kebahagiaan rumah tanggamu ini, " kata Shinta.
" Mir... apa kau undang Bagas datangkah ?" tanyanya.
" Hmmm... belum tahu ya Shin.. aku belum list nama soalnya. Tapi nanti aku bicara dulu dengan mas Aria apa Bagas diundang atau tidak," katanya pelan.
" Maaf ya Mir.. aku mengingatkanmu soal Bagas kembali," kata Shinta merasa bersalah.
" Tidak apa kok Shin... tenang aja, aku sudah move on kok sejak lama, tak perlu diingat- ingat masa lalu," katanya.
" Ya.. mau Bagas ada dan berdiri di hadapanku bersama wanita pilihannya pun aku tidak akan marah atau sedih. Yang sudah terjadi tidak dapat diperbaiki. Aku sudah menemukan kebahagiaanku dengan mas Aria yang sangat mencintaiku," kata Mira dengan yakin.
" Bagus Mira.. kamu berhati mulia mau memaafkan Bagas dan selingkuhannya, oh iya aku lupa setahun yang lalu ada tiba- tiba Intan meneleponku ingin minta maaf padaku. Aku aneh kenapa dia bersikap seperti itu padaku. Katanya ia sakit dan sebelum ia meninggal ia ingin minta maaf pada orang yang disakitinya.
Karena dia ngomong begitu, ya aku kasihan dan aku maafkan saja dia," kata Shinta .
" Ya Shin.. ia pun telepon aku minta maaf padaku. Tapi karena aku masih kesal maka tak kuhiraukan permohonan minta maafnya padaku. Aku kesal dengan mudahnya ia menelepon minta maaf setelah apa yang ia lakukan pada keluargaku dan membuat rumah tanggaku hancur waktu itu. Sebenarnya aku harusnya memaafkan dia, sekarang kan rumah tanggaku bahagia dengan mas Aria yang sangat perhatian padaku, tetapi entah kenapa aku tetap tak percaya dengan dia, siapa tahu pura- pura baik meminta maaf tetapi maksudnya ingin menghancurkan rumah tanggaku yang sekarang ini sudah ku bangun," kata Mira seraya menarik napas jengkel.
" Jadi tidak ku maafkan dia walau dia menangis minta maaf waktu itu. Malah tak kuhiraukan tangisan penyesalannya," kata Mira.
" Ya Mir.. memang tidak mudah seperti itu kita memaafkan orang yang bersalah pada kita. Yang seharusnya ia minta maaf itu padamu dan Bagas yang terutama. " kata Shinta.
Setelah mereka berbincang sebentar lalu Mira pun mengakhiri telepon dan menutupnya.
Shinta yang telah menutup teleponnya, terdiam memikirkan kata- kata Mira. Ternyata Intan menelepon orang- orang yang telah disakitinya.
Rasa penasaran, Shinta pun menelepon Bagas ingin menanyakan apa Intan meneleponnya ingin minta maaf.
Bagas mengambil teleponnya ketika berdering dan melihat nama Shinta di situ.
__ADS_1
Ia sempat mengerenyitkan keningnya tanda heran melihat nama Shinta di layar ponselnya.
" Halo... " tanya Bagas pelan.
" Gas.. ini aku Shinta. Maaf aku mengganggumu. Aku cuman ingin tahu apa kamu pernah ditelepon kemarin itu sama Intan untuk dia minta maaf ?" tanyanya
" Ya.. ia telepon aku ingin minta maaf juga, tetapi aku tidak memaafkannya, karena pikirku untuk apa ia minta maaf atas segala yang telah ia perbuat untukku dan telah menghancurkan rumah tanggaku, aku tak mau, aku tak mau memaafkannya," kata Bagas.
" Iya, Intan juga telepon Mira untuk minta maaf. Tetapi Mira pun tak mau memaafkannya.
Ia juga menelepon ku Gas, minta maaf," kata Shinta.
Bagas terdiam sejenak, ia pun menyadari ternyata Intan sebelum meninggal memang sudah punya niat untuk meminta maaf pada orang yang telah disakitinya.
" Gas.. halo.. kamu masih dengar aku kan Gas?" tanya Shinta.
" Masih Shin.. aku hanya berpikir rupanya Intan sebelum meninggal ia meminta maaf pada kita semua," kata Bagas.
" Apa katamu Gas? Intan sudah meninggal? Kapan?" tanya Shinta kaget.
" Satu tahun yang lalu. Aku sempat heran melihat sikap Intan yang ingin sekali minta maaf. Jadi aku telepon Intan, ternyata Intan sudah meninggal. Aku tak sempat memaafkannya, karena itu aku menyesal tak memaafkannya Shin.. " kata Bagas pelan.
" Aku tak menyangka Gas, Intan meninggal secepat itu. Aku harus kasih tahu Mira. Karena tadi Mira menelepon aku." sahut Shinta.
" Baik Gas, aku tutup teleponku ya, nanti aku telepon lagi bila ada yang ingin kutahu," kata Shinta.
Bagas pun akhirnya menutup teleponnya.
Shinta kembali menelepon Mira untuk mengabarkan Intan sudah meninggal.
" Halo Mir... aku telepon kamu lagi," kata Shinta.
" Ya Shin.. ada apa ?" sahut Mira heran.
" Sorry Mir.. aku tadi telepon Bagas karena aku heran kok semua orang ditelepon Intan . Ia menelepon orang - orang yang telah disakitinya.
Bagas pun sama sepertimu, tidak mau memaafkan Intan, " kata Shinta.
" Lalu maksud kamu telepon aku Shinta ada apa ? Biarkanlah bila Bagas tak mau memaafkan dia ya itu sudah urusannya mereka, kenapa kamu beritahu aku? Aku sudah tidak ada urusan lagi dengan mereka Shin.. aku tegaskan. " kata Mira agak kesal dengan Shinta.
" Mira.. aku tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin memberitahu padamu kalau kamu tidak mau memaafkan Intan itu memang urusanmu, hanya aku ingin katakan bahwa Intan sudah meninggal satu tahun yang lalu. Berarti tujuan dia untuk menelepon meminta maaf itu memang ia lakukan tulus agar dimaafkan," kata Shinta pelan.
" Apa? Intan meninggal ?" tanya Mira kaget.
Ia kaget Intan sudah meninggal 1 tahun yang lalu.
Berarti Intan memang butuh maaf dari orang- orang yang disakitinya untuk mendapat pintu maaf ketika ia meninggal kelak.
__ADS_1
Mira terhenyak kaget, dan langsung timbul penyesalan mendengar Intan sudah meninggal dan dia belum sempat memaafkan Intan.
***