Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 129. Menghadapi Saat- Saat Terakhir ( I )


__ADS_3

Intan merasakan kekecewaan yang sangat atas sikap Bagas dan Mira padanya.


Tujuan Intan sebenarnya baik, ia ingin minta maaf saja pada orang yang pernah disakiti. Tetapi mungkin Intan tak siap ketika penolakan dan kata maaf itu tidak ia dapatkan.


Intan merenung kata- kata ibunya, yang mengatakan bahwa yang terpenting dari dirinya punya niatan minta maaf, dan bila orang yang dihadapinya tak mau memaafkannya, maka serahkan saja semua pada Tuhan.


Intan pun melakukan semua yang dikatakan ibunya, ia berserah pada Tuhan di sisa hidupnya, ia ingin bertobat, melakukan yang terbaik dan selalu ingin dekat Dion.


Menjelang subuh, Intan bangun, ia berdoa pada Tuhan, di situ ada tangisannya, di situ ada harapannya, di situ ada permohonan ampunnya pada sang pencipta kehidupan.


Setelah selesai berdoa, ia pun bergegas ke dapur, ia ingin membuatkan sarapan untuk Dion dan orangtuanya.


Dan ia pun mandi, lalu membangunkan Dion.


Ia ingat hari ini mau mengajak Dion jalan- jalan.


" Dion.. bangun.. katanya mau jalan- jalan sama mama, kita ke taman yuk," kata Intan menepuk pipi Dion.


" Jam berapa ini ma, aku masih mengantuk," sahut Dion berbalik memeluk guling.


" Katanya mau jalan- jalan sama mama, ini kan hari liburmu sabtu tidak sekolah, ayo jangan tidur lagi, mama sudah siap ini," katanya lagi.


" Mama .. sebentar lagi aja ya, Dion pasti bangun, sabar ya ma 15 menit lagi, " katanya tetap memejamkan mata.


Intan menghela napas melihat Dion yang malas bangun. Ia merasa hidupnya tak lama lagi, ia ingin menghabiskan waktu bersama anaknya dan orangtuanya.


Dengan sakitnya yang semakin parah, kadang datang disaat dirinya lemah, kadang ia kuat menghadapinya, tetapi harus diakui ia merasa tubuhnya dalam minggu - minggu ini semakin lemah, tidak bisa melakukan aktivitas terlalu lama dan banyak, tetapi ia tak mau terlihat kesakitan terus di hadapan ibu dan dan anaknya, tubuh yang semakin kurus, rambut yang rontok membuat ia menggunting rambutnya pendek sekali, kulit yang pucat, itu yang ia lihat sekarang bila bercermin.


Pernah ia ketakutan bila melihat cermin, karena dirinya kaget melihat perubahan dalam dirinya.


Wajah cantiknya, tubuh padat berisi itu hilang dalam dirinya, di telan sakit yang menggerogoti tubuhnya. Dalam pikirannya sakit ini membuat hidupnya sudah seperti seorang nenek usia lanjut.

__ADS_1


Intan pun berjalan keluar menemui orangtuanya.


Dilihatnya ibu sedang menyapu di teras.


" Pagi bu, bapak sudah bangun ?" tanyanya.


" Sudah, ada di belakang lagi mengurus ayam, ada apa Intan kok tumben kamu bangun pagi- pagi begini sudah sedia sarapan untuk kita? Mau kemana kamu ?" tanyanya heran.


" Intan sudah janjian sama Dion mau jalan- jalan ke taman, ia ingin aku senang bu, karena itu aku berusaha untuk sehat, agar bisa bersamanya di saat- saat terakhirku bu, juga aku ingin bersama bapak dan ibu, bersedia ikut ya bu, biar aku menikmati kebersamaan kita," kata Intan menatap sendu pada ibunya.


Bu Marsih pun mengangguk dan terharu, ia sedih bila Intan bicara seperti itu.


" Ibu, tolong bangunkan Dion, ia tak mau bangun dari tadi kubangunkan, mungkin dengan ibu Dion mau bangun," kata Intan.


" Ibu selesaikan ya menyapunya, lalu ibu bangunkan Dion, biar kita sarapan bersama baru jalan ke taman." kata ibunya bergegas menyapu.


' Iya bu, kalau sudah kesiangan, aku tak tahan bu, takut aku kecapean. Mumpung udara masih bersih dan segar, aku mau jalan- jalan.


Intan tersenyum dan menitikkan air mata melihat Dion yang berlari, teriak, tertawa senang bersama kakeknya.


Ia sangat menikmati hari ini, dengan melihat anaknya bahagia ia sudah senang.


Ibu yang duduk menemani Intan tersenyum bahagia.


" Ibu.. bila saatku nanti tiba, tolong jaga Dion ya bu, aku mohon ibu dan bapak didik dan rawatlah Dion menjadi anak yang baik dalam segala hal terutama karakternya bu, taat pada ibu dan bapak dan punya sifat tidak memanfaatkan orang, serta rajin ibadahnya.


Aku ingin ia berhasil dalam hidupnya kelak bu, itu harapanku bu," kata Intan menangis sedih memikirkan semua itu.


Bu Marsih memeluk anaknya dalam diam, ia pun sedih, tetapi di tahannya.


" Bu, nanti aku berikan buku tabungan atas nama Dion.

__ADS_1


Ketika ia kecil aku sudah menabung sedikit - sedikit uang dari pemberian Anton untuk hidupku dan Dion.


Ku sisihkan bu agar kelak Dion SD nanti itu cukup, pakailah bu itu untuk kebutuhan Dion dan apa yang ibu rasa berguna untuk Dion, agar tak menyusahkan ibu dan bapak dalam menghidupi Dion. " kata Intan.


" Dion punya sifat bila malam akan tidur, ia akan menyusup pada badan kita bu, ia sempat waktu itu tak tidur denganku, waktu itu aku pindah tempat tidur karena sakitku tak tahan, aku tidak mau suara sakitku terdengar olehnya, ternyata subuh Dion nangis mencari aku bu, ia hanya perlu sosok kita, lalu ia pun menyusup badanku bu, dan tertidur nyenyak lagi, aku minta mungkin bila aku sudah tak ada, ibu mau melakukan itu untuk Dion beberapa waktu, sampai ia sudah mengiklaskan mamanya pergi jauh, mungkin di situ ia sudah tidak melakukan itu saat tidur. " kata Intan sedih.


Bu Marsih menangis tersedu mendengar Intan seperti itu, yang ada dalam benaknya hanya Dion.


Ia melihat kasih sayang Intan pada Dion sangat besar, dan yang menjadi kekuatan Intan hanya Dion.


" Bu, aku berdoa pada Tuhan 3 minggu lagi Dion berulang tahun ke 6, aku ingin merayakan ulang tahunnya bu, aku harus kuat sampai saat itu bu, aku mau merayakan ulang tahunnya sebelum aku pergi bu, aku mohon doa ibu agar aku dikuatkan sampai aku dapat merayakan ulang tahun anakku," kata Intan menatap ibunya.


Bu Marsih mengangguk dan tak dapat berkata apapun, hatinya sudah sangat sedih, hanya air mata yang keluar deras mengalir di pipinya.


Dion yang sedang bermain dengan kakeknya, melihat mamanya menangis bersama neneknya berlari mendatangi mereka.


Ia langsung memeluk Intan dan menciumnya.


" Ma.. kenapa menangis ? kok nenek juga menangis ? Ada ada ini ? " tanyanya bingung.


Ia menatap kakeknya bingung.


" Dion .. itu mamamu dan nenek sedang saling sayang, jadi menangis akhirnya," kata kakeknya pelan.


" Oh begitu ya kek, Dion juga mau saling sayang sama kakek, tapi Dion tidak mau menangis, karena mama pernah bilang anak laki itu tidak boleh cengeng, tidak boleh sering menangis, ya kan mama pernah bilang itu pada Dion ?" kata Dion menatap mamanya.


"Ya Dion benar, anak laki itu harus kuat, harus bisa menahan air matanya, tetapi bila tidak kuat lagi boleh kok menangis anak laki juga, semua orang pasti pernah menangis baik perempuan maupun laki- laki, jadi bila sudah tidak kuat maka menangislah ya," kata Intan memeluk dan mencium Dion.


Dion pun membalas memeluk Intan dan mencium pipi Intan serta menghapus air mata Intan.


Ada goresan perih di hatinya, ia harus siap meninggalkan Dion untuk selama- lamanya bila saatnya tiba nanti.

__ADS_1


***


__ADS_2