
Rianti menatap lama wajah Dion, ada keraguan dalam hatinya. Ia ingin percaya tetapi keraguan itu yang membuatnya kembali menatap wajah Bagas dan Dion berkali- kali.
" Bagas... mama mau telepon papa mu dulu ya, ada yang harus mama bicarakan berdua papa" kata Rianti seraya memberikan Dion pada Bagas.
" Bicara pada papa, supaya papa mau datang kemari ma, lihat Dion?" tanya Bagas dengan muka senang.
Rianti mengangguk dan menjauh dari Bagas untuk menelepon Yanto suaminya.
" Halo pa, ini mama," kata Rianti.
" Ada apa ma?" tanta Yanto.
" Papa bisa ke rumah sakit sekarang? Mama ada di sini," katanya
" Mama sakit apa? Kenapa ma?" tanya Yanto panik.
" Mama tidak sakit pa, mama lagi jenguk anaknya Bagas. Wanita itu baru melahirkan tadi malam," kata Rianti.
" Kenapa mama jenguk tidak ijin papa? Buat apa lihat anak wanita itu, papa tidak suka cara mama," kata Yanto mulai marah.
" Pa .. mama minta maaf, tapi dengar dulu penjelasan mama," kata Rianti.
" Penjelasan apa?" sahut Yanto.
" Papa ke sini ya, aku melihat ada yang aneh pada anak Bagas," katanya.
" Aneh.. apa itu ?" katanya
" Pokoknya papa ke sini dan.lihat sendiri," kata mama kembali.
" Oke, papa berangkat sekarang," kata Yanto cepat.
Rianti kembali lagi ke tempat Bagas.
Ditolehnya mamanya dan di tanya,
" Papa mau datang ma ke sini ?" tanyanya.
" Iya.. sudah dalam perjalanan. " kata Rianti.
" Syukur... akhirnya.. kata Bagas senang.
Rianti hanya diam tak bersuara menunggu suaminya datang.
Bagas mengajak Rianti ke ruangan Intan. Mau tak mau Rianti pun ikut.
Bagas sangat perhatian pada anaknya, seringkali ia tersenyum pada Dion.
Bagas ingat ingin membeli air minum untuk Intan, karena Intan harus minum air mineral yang banyak untuk kelancaran air susunya.
" Ma.. titip Intan dan Dion ya bentar, aku ke kantin dulu beli air minum," kata Bagas.
__ADS_1
Rianti hanya mengangguk.
Saat Bagas pergi, Intan dan Rianti hanya terdiam, akhirnya Intan berkata," Ma.. ini Dion, mama mau gendong lagi?" tanyanya.
" Aku mau tanya, itu Dion anak Bagas atau bukan ?" tanyanya.
" Apa maksud mama?" tanya Intan.
" Maksudku cukup jelas, ini anak Bagas atau bukan?" tanyanya lagi.
" Mama menuduh Dion bukan anak kami ?" tanya Intan mulai menangis.
" Ini anak Bagas atau bukan, jawab pertanyaanku?" tanya Rianti dengan nada tajam.
" Ini anak Bagas,ku bilang ini anak Bagas," tegas Intan dengan berlinang air mata.
" Bagus.. kalau itu anak Bagas," kata Rianti meyakinkan dirinya
" Saat ku lihat sekilas pun tak ada mirip Bagas, jadi ku tanya padamu," kata Rianti tegas.
Intan hanya menggelengkan kepala berkali- kali.
Saat itu pun masuk Yanto ke dalam ruangan.
" Ma.. ada apa tadi suruh papa cepat datang, kenapa ma?" tanya Yanto heran.
Ia melihat Intan yang menangis dan Rianti yang mukanya datar menatap keluar.
Intan cepat menghapus air matanya dan tersenyum pada papa mertuanya.
" Pa, apa kabar ?" sapanya sopan.
" Ini anakmu ?" tanya papa.
" Ya pa, mau gendong pa," tanya Intan dengan nada senang.
Yanto mengendongnya dan mengamati bayi dalam gendongannya. Lalu ia menatap Rianti dan mata mereka bertemu, lalu Rianti mengangguk.
Diperhatikan terus muka cucunya ini, pada saat itu masuk Bagas membawa air mineral.
Hatinya sangat senang papanya datang.
" Pa.. " sapanya riang.
" Gas .. ini anakmu ?" tanya papa.
" Ya pa, ini Dion ," kata Bagas seraya tersenyum.
" Ini anakmu Gas?" tanya papa bertanya lagi.
" Ada apa pa, kok bertanya lagi, ini anak Bagas pa, Bagas melihat persalinan ini, Intan melahirkan Dion."
__ADS_1
kata Bagas heran.
Papa berpaling pada Intan dan menatapnya.
" Ini anak Bagas?" tanyanya.
Intan merasa heran, kenapa ia di tanya seperti itu tadi oleh mama sekarang oleh papa.
" Iya pa, itu anak Bagas. Anak Bagas," sahutnya agak kesal.
" Memang kenapa pa?" tanya Bagas heran.
" Tidak apa, papa hanya bertanya saja karena sekilas tidak ada mirip denganmu," kata papa.
Bagas kaget sekali, ia melihat anaknya dan berkata, " Apa maksud papa seperti itu? Jangan bilang begitu pa, anak bayi masih bisa berubah- ubah wajahnya sampai akhirnya hampir 6 bulan baru terlihat mirip siapa,lihat saja nanti kalau tidak percaya," kata Bagas tidak suka.
" Papa hanya bertanya, tidak ada niat apapun. Nanti kita dapat melihatnya lagi, sekarang ini anakmu Intan, papa kembalikan," kata Yanto seraya menghampiri Intan.
Setelah memberikan Dion pada Intan, papa dan mama berniat pulang.
" Gas.. papa dan mama pulang ya, jaga baik- baik anakmu itu, nanti kapan- kapan kami jenguk lagi," katanya seraya merangkul Bagas dan beranjak keluar.
Rianti mengusap punggung Bagas dan berjalan keluar.
Mereka keluar tanpa melihat sedikitpun pada Intan.
Intan merasa sedih karena tak dianggap oleh mertuanya.
" Mas.. kenapa papa dan mamamu bertanya seperti itu? Harusnya mereka tuh bangga dapat cucu laki- laki, apa mungkin anak bayi baru lahir 1 hari dibilang tak ada mirip denganmu mas? Aneh sekali papa dan mamamu," kata Intan seraya meneteskan air mata.
" Apa tadi ada mama juga bicara begitu padamu? tanya Bagas.
" Ada saat kamu pergi beli air mas, aku sampai tegaskan padanya bahwa ini anakmu mas," katanya lirih.
" Ya sudah kamu tenangkan dirimu dulu ya, jangan nangis, nanti kalsu dokter periksa kita tanya kesehatanmu ya," kata Bagas mengalihkan pembicaraan.
Dion di bawa kembali ke ruang bayi, sepanjang perjalanan kembali menuju ke ruangan Intan Bagas merenungkan apa yang papa dan mamanya katakan.
Ia merasa sangat yakin ini anaknya karena Intan pun hamil akibat permainan mereka yang sangat sering, dan Intan pun tidak sedang bersama yang lain ketika Intan sudah bersama Bagas.
Tetapi mengapa papa dan mama seakan heran melihat Dion tak mirip denganku padahal mama baru dua kali melihat Intan dan papa baru kali ini melihatnya, apa mereka sudah lebih berpengalaman sehingga tahu atau memang anak bayi itu berubah- ubah wajahnya belum terlihat mirip siapa yang dominannya? batin Bagas berontak untuk mencari tahu.
Sementara itu Intan tidur lelap setelah tadi menangis dan minum obat.
Ia tadi memikirkan juga ucapan dari mertuanya itu.
pikirannya terus bermain karena ia yakin itu anak Bagas, tak ada yang lain bersamanya, selalu bersama Bagas, tapi mengapa di bilang tak mirip Bagas?
Anak bayi itu adalah hasil hubungan cinta mereka berdua, kenapa mereka jahat sekali menuduh itu bukan anak Bagas, " batinnya berkata.
Bagas kembali ke kamar, dilihatnya Intan tertidur, Bagas memperhatikan istrinya dengan saksama, ia ingat saat pertama bertemu Intan, wajahnya yang cantik dan polos serta senyum yang manis sempat membuat hati Bagas bergetar.
__ADS_1
***