Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 115 Mira Hamil


__ADS_3

Aria dengan sabar mendampingi Mira di periksa dokter.


Dokter yang memeriksanya mengatakan Mira sedang hamil 7 minggu.


Aria sangat senang karena apa yang ia tunggu- tunggu akhirnya datang.


Ia akan mempunyai anak lagi dari Mira.


Aria langsung melarang Mira banyak kegiatan, harus banyak istirahat dan ia ingin Mira menjaga kehamilannya.


Aria pun bergegas menelepon Lena memberitahukan bahwa Mira hamil.


Lena pun sangat senang dan ingin Mira banyak istirahat.


Seluruh keluarga Kusuma merasakan kebahagiaan bahwa Mira hamil.


Antony dan Yunia pun senang mendengar mamanya akan punya adik lagi bagi mereka.


Pagi itu saat Mira ingin bangun tidur, ia merasakan sakit kepala yang hebat serta mual. Aria yang melihatnya segera menolong Mira.


ia memijat- mijat kepala Mira dan memberi ketenangan pada Mira.


Mira merasa kehamilan yang ini membuat ia tak bisa melakukan aktivitas dan membuat ia banyak diam untuk istirahat.


Ketika malam hari, Mira sudah terlelap tidur. Aria yang disampingnya bersiap- siap juga mau tidur.


Tiba- tiba ponsel Mira berbunyi, ada pesan masuk.


Aria lalu membukanya dan membacanya.


Pesan dari Bagas.


Ada rasa aneh dan penasaran dengan pesan Bagas.


" Mira... apa kabar. Bagaimana kabar Yunia ? Aku kangen. Mungkin 2 minggu lagi aku akan ke Semarang untuk melihat Yunia. Salam rindu untukmu dan Yunia. " tulis pesan Bagas.


Bagas merindukan Yunia atau merindukan Mira sebenarnya ini, batin Aria berkata


Tetapi Aria mencoba untuk berpikir positif walau memang ada setitik rasa cemburu di hatinya.


Esok harinya saat sedang sarapan,. Aria berkata ada pesan dari Bagas untuk Mira.

__ADS_1


Mira kaget dan bertanya, " Mas apa mas balas pesannya ? " Mira bertanya.


" Belum " jawab Aria.


" Biar saja mas, tidak usah di balas. Nanti juga akan datang . Aku akan kasih pengertian pada Yunia. Karena kasihan Yunia dia kalau terus menerus Bagas datang bilang bahwa ia papanya terus," Kata Mira.


" Ya .. sudah atur saja. Mas tidak masalah hanya ingat, jangan kamu beri harapan untuk Bagas kembali padamu ya, aku tidak mau itu," Aria mengingatkan Mira.


" Mas.. percaya padaku.. tidak mudah bagiku untuk kembali pada orang yang sudah menghianatiku. Walau bagaimana pun aku bukan orang yang begitu gampang untuk melupakan apa yang sudah terjadi pada diriku yang dilakukan oleh mantan suamiku dulu, jadi percayalah padaku." kata Mira menatap Aria.


Aria yang melihat itu pun terenyuh. Dia berpikir Mira tak pantas dicurigai karena memang ia tahu hati wanita seperti cermin, bila jatuh atau retak pasti akan ada bekas atau tandanya.


Dan itu sulit untuk direkatkan kembali.


Aria pun memenangkan kembali pikiran Mira serta berkata," Ya mas percaya padamu Mir.. sudah jangan dipikirkan itu. Lebih baik kamu pikirkan anak kita yang ada di perutmu itu, aku tidak mau kamu banyak pikiran dan memikirkan yang tak perlu kamu pikirkan Mas sayang padamu Mir.. " kata Aria.


" Ya mas, Mira akan jaga kepercayaan itu," kata Mira menatap Aria.


Sorenya mama lena dan papa datang menjenguk Mira. Lena banyak memberi nasehat padanya tentang kehamilannya.


Meskipun Mira sudah tahu dan pernah hamil Yunia sebelumnya tetapi ia menghargai dan mendengarkan saran dari Lena. ia sangat menghargai mertuanya ini.


Ia bersyukur dikelilingi oleh orang- orang yang baik, sayang dan perhatian padanya.


2 Minggu berlalu..


Bagas datang menemui Yunia. Yunia masih belum mau akrab dengan papanya.


Ia tetap meminta bantuan dari Mira untuk dapat membujuk Yunia agar lebih dekat dengannya.


Mira berkata," Mas.. lebih baik pelan- pelan saja dan sering mengunjungi Yunia, bila mas sering maka lama- lama Yunia pasti tahu mas, dan sejalan waktu pasti Yunia akan berubah lebih perhatian pada saat mas datang.


Anak kecil tidak bisa dikerasi mas, bila dikerasi akan nangis, takut dan jauh dari kita nantinya. " sahut Mira.


Bagas pun menuruti apa yang Mira katakan demi untuk mendapatkan hati Yunia anaknya.


Mira memanggil Yunia dan berkata," Nia.. ini om maksudnya baik nak, ia ingin perhatikan kamu, jangan takut ya, kan ada mama di sini bersamamu," kata Mira memeluk Yunia untuk memberikan rasa nyaman pada gadis kecilnya.


" Nia takut ma, karena om ini maksa untuk Nia panggil papa, kan om ini tahu papanya Nia ya papa Aria," kata Nia dengan ekspresi tidak suka.


" Ya sudah.. Nia main dulu sama Neni di luar, nanti mama panggil setelah mama kasih tahu om ini ya," jawab Mira dengan tersenyum.

__ADS_1


" Mas .. lihat dan dengar sendiri kan ? Yunia tidak suka kamu panggil papa, nanti akan ada waktunya dia akan mengerti dan memanggil kamu papa, mungkin tidak sekarang, tetapi lambat laun kanu sering datang dan kasih perhatian maka ia pun akan berpikir dan mengerti, jangan paksa dulu mas, karena saat ia masih kecil kamu abaikan moment penting ini, padahal Yunia belum mengerti sama sekali saat itulah harusnya kamu ada, bukan setelah ia bertumbuh saat ini baru kamu muncul dan memaksanya memanggil papa, ya dia tak akan mau melakukannya karena yang ia tahu papanya dari kecil ya Aria." jelas Mira.


Bagas terdiam membenarkan semua yang diucapkan Mira


Hatinya sedih,tetapi itu konsekuensi untuk Bagas yang telah melupakan Yunia anaknya dulu.


Tiba- tiba Mira merasakan kepalanya sakit, pening dan mual.


Ia berlari ke WC dan muntah.


Bagas yang melihat Mira seperti itu merasa heran..


Ketika Mira datang lagi, Bagas bertanya," Kamu sakit Mir? Mukamu pucat. Maaf aku tidak tahu kamu lagi sakit," katanya dengan suara pelan.


Mira tersenyum dan berkata," Aku lagi hamil mas, aku lagi mengandung anak Aria mas," katanya dengan nada ceria.


Bagas terkejut, ia tak menyangka ternyata Mira lagi hamil.


Ia pun memberi.selamat dan ikut senang mendengarnya.


" Selamat ya Mira.. mas turut senang, dengan kehamilanmu," kata Bagas.


Ketika mereka lagi bicara, Aria datang.


Mira menyambutnya dan terlihat senang suaminya datang.


" Mas.. sudah pulang ?" katanya memberi salam.


" Sudah sayang, mas pulang duluan ini," katanya.


" Mas ini ada mas Bagas datang mau menengok Yunia," kata Mira.


" Oh ya kenalkan ini saya Aria, suaminya Mira," katanya menjabat tangan Bagas dengan mantap dan ada penekanan kata pada kata " suami " Mira.


Bagas tersenyum dan berkata," Maafkan saya baru datang sekarang menengok Yunia, dan maaf bila saya juga menganggu kesibukan Mira untuk mendampingi Yunia ketika saya mengunjunginya," jawab Bagas.


Bagas melihat adanya Aria seorang yang bertanggung jawab bagi Mira dan Yunia.


Ia pun berniat tidak akan mengganggu kehidupan Mira, karena ia melihat Mira yang bahagia dengan Aria di tambah dengan kehamilan Mira maka lengkaplah sudah kebahagiaan mantan isterinya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2