
Neno berjalan mencari alamat sesuai dengan yang ditunjukkan Ina.
Ia berhenti di suatu gang yang tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa ibu- ibu yang sepertinya sedang bercengkrama dan bergurau.
Neno menghampiri mereka lalu bertanya.
" Selamat sore bu, mau bertanya yang mana rumah Desi ya bu ? " katanya.
" Rumah Desi ? Itu lurus sedikit, lalu belok kiri ada gang cari rumah ke dua yang cat biru. Itu rumahnya. " kata seorang ibu yang memakai daster warna hijau.
" Kenapa cari Desi ? Ada apa?" tanyanya lagi.
" Tidak ada apa- apa bu. Hanya ada pesan dari kantor. " sahut Neno.
" Mari bu. Terima kasih " sahutnya lagi cepat- cepat meninggalkan para ibu- ibu itu.
Tak lama Neno sampai di rumah Desi.
Di ketuknya pintu. Di tunggu nya sebentar tapi hening.
Di cobanya beberapa kali lagi mengetuk pintu rumahnya.
Lalu terdengar langkah sendal diseret mendekati pintu.
Neno menunggu orang yang di dalam itu membuka pintu.
" Selamat sore pak.. apa ini rumah Desi ?" tanya Neno menatap seorang bapak tua yang membukakan pintu.
" iya.. ini rumah Desi. Tetapi Desi sedang keluar. Saya bapaknya. Ada apa ya cari Desi ?" tanya laki- laki tua itu.
" Lama kah Desi perginya pak? Saya ada hal penting yang saya harus sampaikan. " jawab Neno .
" Desi pergi dari pagi. Katanya dia lagi cari kerja.
Kemarin ini dia di pecat hanya gara- gara masuk lift punya bosnya.
Masa hanya kesalahan seperti itu Desi sampai dikeluarkan dari pekerjaannya.
Sungguh tak punya hati bosnya.
Dia berjuang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Dia membiayai ibunya yang sejak dari 6 bulan lalu sering sakit- sakitan.
Desi sekarang sebagai tulang punggung keluarga tetapi yang ada malah dikeluarkan oleh bosnya.
Sungguh terlalu, tidak ada belas kasihan sedikitpun pada kami keluarga miskin ini. " sahut ayah Desi kesal saat mengetahui Neno datang suruhan dari perusahaan.
" Iya bapak, saya pun tidak terlalu mengetahui permasalahannya.
Hanya di suruh menyampaikan pesan saja. " kata Neno lagi.
" Pesan apa ?" tanya ayahnya Desi.
" Besok siang jam 11 Desi di tunggu pak Andi di kantor, ada hal penting yang akan ditanyakan. " sahut Neno.
" Baik saya akan sampaikan . Siapa pak Andi itu, apa bosnya Desi yang semena- mena memecat Desi?" tanyanya ketus.
" Pak Andi itu kepala staff bagian pemasaran. Desi bekerja di bagian pemasaran. " jelas Neno .
" Saya permisi pak. Tolong sampaikan pesan saya ini ya pak. Terima kasih.
Bapaknya Desi pun mengangguk lalu Neno bergegas pergi.
Pukul 7 malam Desi pulang.
Tubuhnya letih sekali. Ia seharian berkeliling mengunjungi teman- temannya yang bekerja di pabrik dengan harapan ada lowobgan pekerjaan untuknya, tetapi sampai sore tadi belum ada kabar baik untuk dirinya .
Rasa lelah dan lapar membuat dirinya merasakan sebagai orang yang paling malang, dia meratapi nasibnya yang tak berpihak padanya.
Disapanya ayah dan ibunya yang sedang berada dalam kamar mereka.
__ADS_1
Setiap dari manapun Desi selalu menyempatkan melihat orangtuanya dahulu sebelum ia bebenah membersihkan dirinya.
" Desi... " panggil ayahnya.
" Ya ayah.. selamat malam. Sudah makan belum ayah dan ibu ?" sapanya .
" Ayah dan ibu sudah makan. Mandi dulu sana, nanti setelah makan kamu ke kamar ya, ada yang ayah mau sampaikan. " kata ayah.
" Ada spa ayah? Ibu sakit lagi ?" tanyanya cemas.
" Bukan... nanti ayah akan sampaikan. Ayo lekas mandi dulu. " kata nya.
" Oke ayah.. aku mandi dan makan dulu baru ke kamar ayah. " sahut Desi.
Setelah Desi mandi dan makan, ia menghampiri kamar ayahnya.
Lalu ia duduk di dekat ibunya seraya mendengar perkataan ayahnya.
" Desi, tadi sore ada seorang yang bernama Neno datang ke sini menyampaikan pesan dari pak Andi bahwa besok kamu jam 11 siang menemui pak Andi di kantornya.
Ayah sempat menanyakan siapa pak Andi, ayah pikir itu bos kamu tetapi ternyata itu kepala bagian pemasaran katanya.
Jadi apa kamu besok akan datang kesana ? Apakah menurutmu kamu diterima lagi atau apa ya Des?" tanya ayahnya.
" Desi pun belum tahu pasti yah.. apa Desi di terima lagi atau Desi mungkin ada pekerjaan yang menurut pak Andi belum selesai.
Jadi lebih baik Desi akan datang ke sana sesuai dengan waktu yang diminta pak Andi, yah.. " katanya.
" Baiklah agar ada kepastian ya, kamu datangi dan tanya yang jelas . " kata ayahnya lagi.
" Ya sudah.. kamu istirahat dulu, cape kelihatannya kamu seharian cari kerja.
Mudah- mudahan kamu di terima kerja lagi ya di sana. Biar tidak cari- cari lagi pekerjaan. " kata ayahnya seraya tersenyum.
" Doakan saja ayah.. agar Desi diberikan jalan yang terbaik. " sahutnya seraya melangkah keluar dari kamar ayahnya.
Keesokan harinya Desi pergi ke perusahaan Bagas menemui pak Andi.
Setelah berbincang sebentar dengan Leli sekretaris pak Andi, Desi dipersilahkan untuk masuk.
Tok Tok Tok
" Masuk " sahut pak Andi.
" Selamat siang pak. " sapa Desi.
" Desi.. silahkan duduk. Bagaimana kabarmu Desi ?" tanya pak Andi tersenyum.
" Kabar saya baik pak. " sahutnya.
" Desi.. sengaja saya panggil kamu kemari lewat Neno karena saya kaget kamu menulis surat pengunduran diri.
Siapa yang menyuruh kamu untuk mengundurkan diri ? Apa kamu memang sengaja mau keluar ? " tanya pak Andi menatapnya.
" Sebelumnya Desi minta maaf pak, karena saya mengundurkan diri tanpa menunggu dan menrmui bapak.
Saya tidak pernah berniat untuk keluar pak. Saya sangat betah di sini.
Dari gajian saya di sini, saya sangat senang katena dapat mengobati ibu saya yang sedang sakit.
Tetapi saya juga tahu diri pak. Saya keluar karena ada perkataan dari bapak soal bagai
mana saya melanggar aturan yang sudah ditentukan, saya salah pak karena satu lift dengan bapak direktur pak. " jelas Desi panjang lebar.
Pak Andi terdiam mendengarkan suara hati Desi yang menjelaskan mengapa ia menulis surat pengunduran diri.
" Berarti dia belum tahu omset perusahaan merugi, " batinnya berkata.
" Begini Desi, kemarin itu kamu salah memang karena kamu tidak membaca peraturan yang ada.
Saya hanya kesal dengan kecerobohan kamu. Dan saya ucapkan kata apa kamu mau di pecat karena tidak mengikuti aturan yang ada.
__ADS_1
Saya tidak berniat memecat kamu kemarin ini. " sahut pak Andi.
" Berarti saya bisa diterima lagi di sini pak ? Saya lagi butuh uang untuk berobat ibu saya. " kata Desi tersenyum.
Andi melihat Desi dalam diam.
Ia percaya Desi belum tahu kesalahannya yang sangat fatal dan membuat pak Bagas marah.
" Desi. saya mau tanya, apa kamu dalam 6 bulan ini menjual barang produksi dengan cara memberi discount 50 % kepada konsumen ?
Kita merugi Desi, omset kita turun karena kesalahan kamu menjual barang terlalu murah. Dan pak Bagas bos kita sangat marah ketika dia tahu omset kita menurun tajam.
Dan itu kamu yang lakukan.
Mengapa kamu tidak bertanya dulu pada yang lebih senior atau pada saya?
Mengapa kamu ceroboh dan merasa kamu itu lebih pintar dalam memasarkan dibandingkan dengan senior kamu?
Yang ada dan terjadi kita sangat merugi, omset turun karena kamu menjual terlalu murah. " kata pak Andi menatap tajam.
Desi terlihat diam dan bingung dengan perkataan pak Andi.
" Pak.. saya sudah mengikuti prosedur yang berlaku pak.
Saya memang menjual dengan harga murah karena pak Krisna yang menyuruh saya menjual dengan harga seperti itu.
Sewaktu saya tanya kenapa murah sekali, jawaban pak Krisna supaya yang stok lama habis dulu, jadi saya di suruh menjual dengan discount tinggi berturut- turut.
Saya tak mungkin semena- mena menaikkan atau menurunkan harga atau ketetapan aturan yang ada.
Saya tidak mungkin bertindak sembarangan bila tidak di suruh pak. " jawab Desi dengan mata memerah menahan rasa sesak di dada karena di tuduh merasa lebih pintar dari senior.
" Saya orang miskin pak, saya butuh kerjaan dan saya lagi butuh uang untuk berobat ibu saya.
Tidak mungkin saya korbankan pekerjaan saya bila saya masih dibutuhkan di sini. " ujarnya .
Pak Andi tersentak kaget dengan penjelasan dari Desi.
Ternyata ada yang menjadi penghianat di perusahaan ini dengan memperalat Desi untuk menghancurkan omset perusahaan.
" Desi.. karena kesalah pahaman ini, pak Bagas telah memecat kamu.
Saya pun baru tahu ketika kamu menjelaskannya.
Ternyata biang keladinya itu Krisna.
Saya minta maaf telah mengucapkan kata- kata yang akhirnya kamu tinggalkan pekerjaanmu, tetapi maaf saya tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk diterima lagi di sini, karena pak Bagas tidak akan pernah lagi toleran dengan keputusan yang di ambil. " kata pak Andi .
Desi pun tertunduk dan tak kuasa menahan linangan air mata yang mengalir di pipinya.
Ia menangis atas apa yang sudah terjadi dan keputusan yang susah diberikan.
Dia merasa tak berbuat yang fatal, tetapi karena mengikuti saran seniornya akhirnya membuat ia merana dan terpuruk.
Diusapnya air matanya lalu ia tersenyum pada pak Andi.
" Baik pak, mohon maaf saya rasa sudah jelas apa yang terjadi.
Saya memang salah, saya yang ceroboh mau mendengarkan saran dari senior saya tanpa konsultasi dengan bapak dan menyebabkan perusahasn merugi.
Saya siap dengan segala konsekuensinya.
Terima kasih bapak susah banyak mengajarkan pada saya banyak hal.
Saya menangis bukan karena saya cengeng, hanya saya menaruh harapan saya akan diterima kembali.
Tetapi ternyata saya salah duga.
Mohon maaf dan saya permisi pak. " sahut Desi seraya mengusap air matanya kemvali.
Andi hanya terdiam bingung ketika Desi permisi kelyar dengan sir mata uang masih menetes.
__ADS_1
Ada rasa iba walau ia pun tidak dapat bertindak apa- apa.