
Tak terasa waktu berlalu. Genap hari ini kehamilan Mira masuk 9 bulan.
Mira sudah mempersiapkan mental dan tenaganya untuk kelahiran anaknya. Walau tak dapat dipungkiri rasa cemas dan takut itu ada, tetapi ia menguatkan hatinya untuk tetap tenang dan semangat.
Aria yang melihat kehamilan Mira semakin mendekati waktunya, ia pun sering cemas. Ia kadang menguatkan Mira dan tetap berusaha terus mendampinginya.
" Mira sayang.. waktu untuk melahirkan hampir tiba, kamu jangan kuatir ya, mas tetap akan jadi suami siaga, akan menemani kamu dan mendampingi sampai anak kita lahir," kata Aria sambil mengelus perut Mira.
" Ya mas, aku akan berusaha tenang, walau takut juga karena waktu dulu melahirkan Yunia aku masih muda, sekarang usiaku dah bertambah, tenaga pasti berkurang mas, doakan aku ya mas agar persalinan ini lancar dan anak kita lahir dengan selamat," kata Mira mengharap dan berdoa.
Malam itu Mira sudah tertidur lebih dahulu jam 8 malam. Rasa mengantuk tak tertahankan. Ia pun tertidur lelap.
Jam 11 malam ia pun terbangun. Ia sangat lapar. Mira beranjak turun dari ranjang ingin keluar menuju dapur.
Aria masih terlihat di ruang tamu dengan berkas- berkas dokumen berserakan. Ia sedang meneliti dan mempelajari berkas itu.
Ia melihat Mira keluar dari kamar.
Aria pun memanggil Mira.
" Mir.. mau kemana? Kenapa bangun ?" tanyanya.
" Aku lapar mas mau ke dapur. Siapa tahu ada yang bisa ku buat dan ku makan mas," katanya.
Mira pun memeriksa isi kulkas dan melihat ada bahan untuk membuat mie goreng.
" Mas.. mau mie goreng nggak? Aku mau buat itu," kata Mira.
" Boleh," sahut Aria.
Mira pun memasak dan tak lama masakannya jadi. Aroma mie goreng yang mengugah selera membuat Mira pun menyantapnya dengan lahap. Aria pun makan berdua.
Mereka terdiam di depan meja makan dan Aria memuji masakan Mira.
Setelah selesai makan Mira ingin ke kamar lagi tetapi tiba- tiba perutnya terasa sakit.
Ia merasakan sakit yang luar biasa. Ia pun tahu ini anaknya sudah waktunya untuk di lahirkan.
" Mas.. perutku sakit sekali. Cepat bawa aku ke rumah sakit mas, ini sudah waktunya aku melahirkan sepertinya," kata Mira dengan napas pendek
Aria terlihat panik. Ia buru- buru membereskan semua berkas dokumennya dan memasukan ke dalam tas nya
Lalu ia ganti pakaian dan membawa tas kecil berisi pakaian bayi.
Ia pun menjalankan mobilnya dengan cepat ke rumah sakit
__ADS_1
Sepanjang perjalanan ia menenangkan Mira yang sudah sangat kesakitan.
Ia terus berdoa agar perjalanan cepat sampai
" Sabar ya sayang.. bentar lagi ini sampai," kata Aria
" Cepat mas, perutku mulas, sakit sekali," kata Mira memegang perutnya.
Aria pun menambah kecepatan mobilnya dan tak lama mereka sampai di rumah sakit.
Mira pun dengan sigap ditangani oleh para perawat yang ada dan langsung masuk ruang bersalin.
Aria menunggu dengan cemas, ia pun mengabari mama Lena dan ibu Sari.
Mama Lena yang sudah terlelap tidur kaget dikabari Mira sudah di rumah sakit, demikian juga ibu Sari.
Mereka segera menuju rumah sakit untuk ikut mendampingi Mira dan menanti kelahiran cucu mereka.
Semua keluarga berkumpul di sudut ruang bersalin. Menanti waktunya melahirkan.
Tepat pukul 2 pagi lahirlah Aria junior.
Aria yang menanti dengan sangat cemas, berubah menjadi lega.
Stefan Moreno Kusuma, itu nama yang sudah dipersiapkan Aria untuk anaknya yang ke 3.
Adiknya Antony dan Yunia.
Mira merasa senang karena proses kelahiran Stefan berjalan dengan lancar. Ia bersyukur masih diberi kekuatan untuk melahirkan normal di saat usianya yang ke 31 tahun ini.
Anaknya yang gagah lahir tanpa kesulitan hanya sakit yang luar biasa sebelum melahirkan saja.
Lena dan Sari saling berpelukan bahagia ketika mendengar Mira sudah melahirkan.
Mereka bahagia atas lahirnya cucu ke 2 bagi mereka berdua.
Setelah Mira dibersihkan dan anaknya pun sudah dimandikan maka perawatpun membawa Stefan untuk digendong Mira.
Mira terharu melihat anaknya ini yang tumbuh dengan sehat tanpa kekurangan apapun.
Digendongnya dan diciumnya dengan lembut
Lena dan Sari pun ingin menggendong cucu mereka karena itu dengan sabar menunggu giliran menggendong.
Keesokan harinya Antony, Neni dan Yunia datang ke rumah sakit.
__ADS_1
Mereka senang melihat Stefan.
Antony malah menggendong dan mencium adiknya.
Yunia pun tak mau kalah, ikut menggendong dan menciumnya juga.
Mira yang melihatnya tersenyum.
" Ma.. adik Stefan mau sama Nia ma, dia tidak nangis waktu digendong Nia," katanya dengan bangga.
" Ya pasti nggak nangis lah Nia.. kan dia lagi tidur, kamu ini ada- ada saja," sahut Antony seraya mengelus kepala Yunia.
" Itu tandanya adik kecil senang dengan Nia kak," kata Yunia tak mau kalah.
" Ya . ya.. kamu ini selalu tak mau kalah," kata Antony tertawa.
Semua yang melihat perdebatan mereka tertawa.
Mira dan Aria bersyukur keluarga mereka termasuk harmonis, tidak ada terjadi keributan- keributan yang besar, bila keributan kecil itu pasti sering terjadi, tetapi bagaimana kita menghadapinya secara bijak.
Hari demi hari berlalu, Mira sibuk dengan Stefan kecil yang sangat menyita waktu dan tenaganya.
Juga tetap memantau kegiatan belajar Antony juga Yunia. Walau ada Neni yang masih setia dengan Yunia, tetap Mira berusaha untuk memantau juga Yunia.
Ia tak mau Yunia lebih perhatian pada Neni dibandingkan dirinya.
Aria yang juga sangat sibuk berusaha meluangkan waktunya untuk bermain dan memantau anak- anaknya.
Hari ini Stefan kecil sudah berusia 4 bulan, Mira sudah berani mulai untuk bermain bersama Stefan di halaman rumah.
Ia bertumbuh pesat dengan berat yang terus bertambah. Aria sangat senang padanya dan selalu pulang kerja lekas- lekas mandi untuk dapat menggendong Stefan.
Stefan pun sudah tahu bila mendengar suara Aria dan kakak- kakaknya, ia akan melonjak- lonjak kegirangan.
Sungguh gambaran keluarga harmonis yang selalu gembira dan bersyukur dengan keadaan yang bahagia.
Mira selalu berdoa dan bersyukur. Tetapi akankah kehidupan mereka akan terus seperti ini atau akan ada guncangan kecil atau badai dalam kehidupan mereka, tidak ada yang tahu. Karena hidup milik yang maha kuasa, kita menjalani dan bersyukur atas nikmat yang diberikan, tetapi bila kesusahan itu datang masih sanggupkah kita bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan ?
Itulah di sini ujian kita, bila kita menjalaninya dengan bersyukur berarti kita adalah manusia yang selalu berterima kasih atas nikmat Tuhan.
Tetapi bila kita tidak bersyukur dalam hal kecil apapun maka kita tidak berterima kasih atas nikmat yang Tuhan berikan.
Itulah yang selalu Mira ajarkan pada anak- anaknya, terutama Antony dan Yunia yang sudah mengerti arti bersyukur.
***
__ADS_1