Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 98. Keterpurukan Bagas


__ADS_3

Bagas menunggu Shinta yang masih emosi, ia masih akan menanyakan beberapa pertanyaan pada Shinta tentang Intan.


Shinta sepertinya tahu banyak tentang Intan.


" Shinta.. maaf bila kamu jadi emosi karena ku tanya soal Intan.


Aku boleh menanyakan sesuatu padamu lagi soal Intan?" tanya Bagas.


Shinta sudah lebih tenang sekarang dan ia pun mengangguk.


" Apa lagi yang ingin kau ketahui tentang Intan, bila aku tahu kan ku jawab semua itu," kata Shinta.


" Apa benar orangtua Intan ada di Jawa? Dia sudah pulang beberapa hari yang lalu katanya ibunya sakit parah dan ia mau merawat ibunya, katanya," sahut Bagas.


" Apa kau tahu kampung halamannya dia di Jawa itu Gas?" tanya Shinta.


" Aku baru tahu kemarin ini dia bilang di desa Sindangsirna, Brebes," katanya.


Shinta terdiam sejenak lalu ia berkata," Dulu itu ketika sekolah yang aku tahu dan dengar ibunya sudah meninggal ketika ia SMP kelas 2 dan ayahnya pergi ke Sulawesi bekerja, tapi aku yakin ibunya sudah meninggal," kata Shinta.


" Benarkah ibunya sudah meninggal ? Kemarin ini dia pulang untuk merawat ibunya yang sedang sakit, aku juga semakin tidak yakin dengannya, mungkin saja itu alasannya dia begitu agar aku tidak mencurigai bahwa Dion itu bukan anakku setelah hasil test keluar " kata Bagas.


Apa yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Ia merasa menjadi orang yang paling bodoh, digelapkan oleh cinta sampai tak pernah mencari tahu tentang latar belakang Intan yang sebenarnya.


" Kalau kamu mau cari tahu ya pergi saja ke sana Gas, biar kamu tidak penasaran, aku sudah curiga pasti dia mau menipumu ketika kita bertemu dulu, hanya aku menduga dia sudah berubah setelah sekian puluh tahun tak bertemu," kata Shinta.


" Ponselnya tidak aktif dari kemarin. Aku juga tidak mau mencarinya. Biarkan saja . Mungkin ini hukuman untukku karena aku tidak memakai akal sehatku sehingga mudah di tipu dan dibohongi.


Aku hanya menyesal telah menghianati mantan istriku Mira, sehingga dia sangat terluka oleh perbuatanku," sahut Bagas pelan.


" Kamu cari Mira Gas, kamu minta maaf mungkin dengan kamu bertobat Mira akan menerima mu lagi," jawab Shinta memberi usul.


Bagas menggelengkan kepalanya dan berkata," Aku tahu siapa Mira, tak mudah baginya untuk bersikap baik setelah ia dikhianati," sahutnya.

__ADS_1


" Lagi pula aku tidak tahu dia di mana, aku sudah tak dengar kabarnya, aku ingin menjenguk Yunia, dia akan berulang tahun, tapi Mira seolah menyembunyikan Yunia dariku," lanjut Bagas.


" Apa kamu masih suka memberikan nafkah untuk Yunia ?" tanya Riki.


" Waktu itu masih, sekitar 3- 4 bulan, tetapi sesudahnya Mira tidak mau terima lagi, dia waktu itu menelepon papa ku dan menjelaskan semuanya bahwa ia tidak mau terima lagi karena sekarang ia sudah bekerja, jadi ia merasa cukup untuk hidupnya dan.anaknya," kata Bagas.


" Wah padahal Gas bila saja Mira masih suka menerima uang untuk kebutuhan Yunia maka bila sekarang kamu mau minta maaf dan balikan lagi dengannya mudah itu, " kata Riki.


" Itulah Mira, seorang wanita yang baik, lembut tetapi keras dan berpegang prinsip bila tersakiti," kata Bagas.


" Rupanya baru kau sadari ya Gas, kemana saja hatimu selama ini, kau dibutakan oleh cinta yang palsu sampai kamu tak dapat bedakan mana cinta sejati seorang istri dengan cinta yang penuh kepalsuan," kata Shinta menyayangkan kehidupan Bagas sekarang.


Bagas terdiam, ia membenarkan omongan Shinta dalam hatinya.


Baginya sudah terlambat sekarang, Ia hanya menyesal dan menyesal.


Tiba- tiba ponselnya berdering, ia mengambilnya. Tertera nama mama di situ.


" Halo .. ya ma, " sapanya.


" Baiklah ma, " sahutnya.


Bagas menutup teleponnya lalu ia berkata pada Shinta dan Riki.


" Mama telepon minta aku ke rumahnya, aku pergi dulu ya, terima kasih banyak Shin untuk informasinya, nanti bila ada yang mau kutanyakan lagi aku telepon kamu ya," kata Bagas.


" Riki.. aku pergi dulu, terima kasih ya untuk bantuanmu," katanya pada Riki.


Bagas pun bergegas pergi menuju rumah mama.


Sesampainya di sana ia melihat papa dan mamanya sedang duduk di teras.


Setelah memberi salam pada mereka, ia pun duduk.

__ADS_1


" Ma tadi telepon Bagas ada apa?" sahutnya.


" Gas.. apa benar Dion itu bukan anakmu? Dia anak siapa Gas ?" tanya Rianti.


" Memang benar Dion bukan anak Bagas ma dan Bagas juga tidak tahu Dion anak siapa, hanya Intan yang tahu," kata Bagas.


" Keterlaluan sekali ya itu Intan membohongi dan menipumu, perempuan itu di mana sekarang," sahut mama.


" Sudah di Jawa ma, pamit 4 hari yang lalu katanya kangen orang tuanya, ibunya sakit, tapi tadi ku tanya Shinta teman nya dulu waktu sekolah ibunya Intan sudah meninggal ketika dia kelas 2 SMA , aku pun tidak tahu dan tidak mau peduli lagi, biarkan saja ma, biar nanti ada balasan untuknya karena menipu aku ma," katanya lagi.


" Kamu tidak akan mencarinya Gas?" tanya mama.


" Buat apa? itukan bukan anakku ma, jadi buat apa aku cape- cape cari Intan dan anaknya yang nantinya aku akan mendapat masalah baru ?" tanya Bagas.


Yanto tetsenyum menganguk dan menepuk pundak Bagas.


" Bagus... Gas.. kamu harus bisa melupakannya, Intan memancing kamu untuk datang ke sana dan bila kau datangi maka kamu akan dapat masalah baru yang menjeratmu makin dalam," kata Yanto.


" Ya pa, Bagas mengerti ," katanya.


" Oh ya Gas, rumahmu dan Intan itu atas nama siapa kamu beli?" tanya papa.


" Atas nama Bagas pa, rencananya bila Dion sudah 1 tahun mau Bagas pindah nama atas nama Intan, tapi karena mama dan papa sudah curiga waktu di rumah sakit maka terbongkarlah kebusukan dia," katanya.


" Baguslah .. bila itu atas namamu, hati- hati lah kamu Bagas dalam bertindak dan bersikap mulai dari sekarang, jangan kamu ulangi kesalahan ke dua, harta yang berharga sudah kamu lepas yaitu Mira, jangan lagi kamu lepas yang lainnya," kata papa menasehatinya.


" Ya papa dan mama.. maafkan Bagas ya yang tidak mau dengar nasehat papa dan menentang semua omongan papa," kata Bagas.


" Bangkit Gas.. jalan masih panjang, bertobatlah, jangan kamu ulangi lagi, mungkin suatu saat Tuhan akan berikan yang terbaik untukmu bila kamu sungguh- sungguh bertobat, " kata Rianti seraya memeluk anak kesayangannya.


Bagas berjanji dalam hatinya untuk bertobat dan tidak mengulangi kembali kesalahannya.


Ia akan berusaha untuk membuat kepercayaan papanya kembali agar jabatan wakil direktur itu dapat ia ambil sesuai dengan janji papanya yang telah melihat banyaknya perubahan sikap dalam dirinya.

__ADS_1


Dan ia mengambil hikmah dari semua ini Tuhan masih sayang padanya sehingga ia tidak terjerumus semakin jatuh dalam kemaksiatannya.


***


__ADS_2