
POV Intan
Intan Widiastuti seorang wanita karier yang bekerja di sebuah perusahaan di Bali.
Intan sejak dari kecil tinggal bersama orang tuanya di sebuah kota di pulau Jawa.
Ayah dan ibunya sempat hampir bercerai karena ayahnya tak peduli dengan keluarganya, tetapi dengan kesabaran ibunya akhirnya rumah tangga mereka dapat diselamatkan dan hidup rukun sampai sekarang.
Intan sudah lepas dari orangtuanya sejak kelas 1 SMA dengan ikut kakak ibunya di Jakarta.
Dia bersekolah di sekolah swasta dan dari situ ia berkenalan dengan Shinta walau tidak pernah menjadi teman akrab.
Intan yang terbiasa hidup selalu dituruti dari dulu membuat ia kesulitan di rumah bibinya sehingga kadang ia tak tahan dengan aturan- aturan dari bibinya.
Akhirnya ketika kelas 2 SMA ia minta ijin untuk kost dekat sekolah.
Hidupnya pun mulai bebas dan karena kecantikannya membuat beberapa pria di sekolahmya jatuh hati padanya.
Tetapi bagi Intan mereka itu hanya hiburan di tengah suntuknya belajar.
Termasuk yang pernah di sebut Shinta dengan nama Rian, kasus itu yang membuat Intan dikenal negatif di kalangan teman- teman sekolahnya dulu dengan julukan sering gonta ganti pacar dan bila sudah tidak suka maka akan mencampakkannya dan mencari yang lain sesuka hatinya.
Itu yang membuat ayah dan ibunya malu, mereka sangat malu dan tidak mau peduli lagi dengan Intan.
Setelah lulus, ia melanjutkan kuliah dan setelah lulus kuliah ia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan yang ada di Bali.
Ia bekerja sudah lama dan menjadi kepercayaan pak Anton bosnya.
Kehidupan Intan yang memanfaatkan kecantikannya membuat pria- pria rekan bisnis bosnya terpincut oleh Intan.
Kadang Intan mengantarkan rekan bisnis bosnya untuk belanja oleh- oleh dan tak lupa mereka sering mampir di hotel untuk sekedar menemani rekan bisnis pak Anton selama beberapa hari.
Dari situ Intan bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dengan gaya hidup yang tergolong mewah.
Sampai akhirnya ia bertemu Bagas, orang yang telah membuat dirinya jatuh hati bukan hanya ketampanannya tetapi juga hartanya.
Intan tak pernah menduga Bagas akan secepat itu luluh padanya, ia melihat sosok Bagas adalah seorang suami yang setia, tetapi ketika ia tahu kelemahan Bagas, di situlah ia bermain sehingga seorang Bagas yang begitu mencintai Mira pun tak berkutik padanya.
Ia tak ada niat mempermainkan Bagas, ia cinta pada Bagas karena itu ia mau dan senang ketika ia hamil.
Dan ia sangat yakin ini anaknya Bagas.
**
__ADS_1
Intan sore itu sedang duduk di teras depan, ia masih kesal dengan sikap dari pada orangtua Bagas yang tak percaya bahwa Dion adalah anaknya Bagas.
Ia memikirkan bagaimana agar orangtua Bagas percaya ini anaknya dan ia pun kuatir bila Bagas akan terpengaruh oleh orangtuanya. Karena bila Bagas percaya pada orangtuanya maka otomatis kedudukan Intan sebagai istrinya akan goyah.
Apalagi perusahaan papanya Bagas akan diberikan pada Bagas bila Bagas sudah menunjukkan itikad baik dalam sikap dan tindakannya.
Ia tak mau hidup susah, anaknya harus berkecukupan.
Ia pun berencana akan test DNA, tetapi ia minta persetujuan dari Bagas lebih dahulu.
Karena itu ia menunggu Bagas pulang dari kantor.
Tak lama Bagas pun pulang, ia tersenyum melihat Intan dan Dion yang menyambutnya di depan rumah.
" Halo sayang, hai anak papa cakep ... lagi tunggu papa pulang ya?" sahutnya riang.
Dipeluk dan diciumnya Intan serta Dion.
" Mas... mandi dulu ya, nanti ada yang mau aku bicarakan," katanya.
" Apa itu, oke aku mandi dulu ya," sahut Bagas.
Setelah Bagas mandi, ia menggendong Dion dan mereka berduapun berbicara.
" Untuk apa test DNA, Dion kan anakku," katanya mantap.
" Aku tidak mau orangtuamu curiga dan menuduhku mas bahwa Dion itu bukan anakmu, " kata Intan.
" Kau yakin ini anakmu mas?" tanya Intan.
" Kalau kamu yakin ? " tanya Bagas balik bertanya.
" Aku.. aku yakin mas, ini Dion anak kita," sahutnya.
" Ya sudah, mengapa harus test lagi ?" tanya Bagas.
" Aku mau buktikan saja pada orang tuamu mas, itu saja," jawabnya.
Bagas berpikir sejenak, lalu berkata," Baiklah.. untuk membuktikan sehingga kita tidak ragu- ragu lagi ya," jawab Bagas.
Bagas pun dalam hati setuju agar keraguannya hilang.
" Lusa kita ke rumah sakit ya, besok tidak bisa mas, karena ada meeting di kantor," katanya.
__ADS_1
Yanto dan Rianti sesampainya di rumah mereka membahas tentang masalah cucu mereka Dion.
" Ma.. papa mau minta nanti Dion di test DNA agar kita yakin itu cucu kita Bagas, walau kita tidak menyukai wanita itu," katanya.
" Apa tidak terlalu cepat di test DNA, karena baru juga lahir beberapa hari pa?" tanya Rianti.
" Loh .. mama ini gimana? Siapa yang pertama katakan cucu kita ini tidak mirip Bagas? Mama kan ? terus sekarang mama bilang terlalu cepat untuk di test DNA, kenapa jadi mama yang ragu sekarang?" tanya Yanto heran.
" Bukan begitu maksud mama pa, yang mama masih bingung kan Dion baru beberapa hari lahir, apa secepat itu di test DNA itu pa maksudnya," kata Rianti.
" Nanti kita tanyakan saja pada dokter, mereka lebih mengerti daripada kita," kata Yanto.
" Ya sudah pa, mama mau mandi dulu gerah seharian dari rumah sakit," kata Rianti seraya berlalu ke kamarnya.
Yanto juga pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
Malam itu Intan gelisah tak bisa tidur, di sisinya Bagas terlihat nyenyak tidurnya, dan Dion pun tertidur pulas setelah tadi Intan susui.
Pikirannya masih melayang- layang, ia merenung dan masih memikirkan sesuatu yang ia sendiri masih ragu benar atau tidaknya,
Di satu sisi ia sangat yakin, di sisi yang lain ia juga agak meragukannya bila melihat kenyataan yang ada di depannya.
Pikiran itu yang terus mengelayuti di benaknya, menganggu dirinya untuk istirahat yang akan berdampak pada berkurangnya kelancaran asi bila ia kurang tidur dan stress.
Ingin ia bercerita tetapi ia ingin membuktikannya lebih dahulu pada dirinya sendiri apa benar semua yang dipikirkannya itu sudah tepat atau belum.
Tak ada yang dapat ia lakukan sekarang ini selain menunggu dan berdiam diri lebih dahulu untuk mencari amannya.
Menunggu lusa di mana itu yang akan membuktikannya semua, ia sangat yakin Dion ini anaknya, darah dagingnya dengan Bagas, orang yang sangat ia sayangi.
Suara tangisan Dion membuyarkan lamunannya.
Ia pun bergegas menengoknya di tempat tidur bayi yang ia letakkan tak jauh dari tempat tidur mereka.
Dion terbangun karena haus, maka di ambilnya dan disusui kembali oleh Intan.
Setelah kenyang maka ditidurkannya kembali.
Intan pun bergegas tidur karena rasa kantuk menyerangnya.
Ia melepaskan semua pikirannya untuk menyambut esok pagi datang menjelang.
***
__ADS_1