Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 96. Tak Seindah Kenyataan


__ADS_3

Sewaktu Bagas pulang dari kantor, ia memanggil Intan.


" Sayang.. bagaimana? Besok kamu jadi pulang ?" tanyanya.


" Jadi mas, besok sore sudah pesan travelnya langsung sampai ke depan rumah mas," katanya.


" Mas tidak bisa ikut ya Intan, karena sudah bicara dengan papa dan papa bilang kerjaan lagi banyak sekali dan mas juga lagi buktikan ke papa biar papa percaya pada apa yang sedang mas kerjakan dan bila nanti pada saat yang tepat papa sedang promosikan aku untuk naik jabatan lagi, walaupun belum 1 tahun, jadi aku ingin bekerja yang sebaik- baiknya, untuk masa depan kita bersama Dion," kata Bagas tersenyum.


" Ya mas, tidak apa, cuman nanti kalau kangen mas bisa ke sana ya," sahutnya manja.


Bagas mengelus kepala Intan dan menciumnya.


Bagas menahan gejolak yang bergemuruh di dadanya karena ingat Intan baru melahirkan 2 minggu yang lalu.


Jadi Bagas hanya mengelus pucuk kepala Intan.


Bagas ingin menunggu Intan pergi, tetapi sore ini ada meeting. Jadi ia bilang bila sudah pergi telepon Bagas.


Bagas memberikan uang saku dan menitipkan uang pada Intan untuk membawa ibu ke dokter.


Malam itu Intan telepon Bagas dan bilang sudah berangkat 2 jam yang lalu.


Bagss dan Intan pun saling bertelepon ria selama 30 menit.


Setelah 1 minggu kemudian ..


Pagi itu di kantor, Bagas habis menelepon Intan menanyakan Dion dan ibu, Intan menanyakan pada Bagas tentang hasil DNA.


" Mas.. sudah berangkat ke kantor ?" tanya Intan.


" Sudah.. ini lagi bekerja," sahutnya.


" Mas.. apa sudah ada kabar kapan hasil test itu keluar ?" tanya Intan.


" Sudah keluar sayang.. nanti sore sepulang kantor mas mau ambil mau lihat hasilnya, sudah tak sabar ya sayang mau tahu hasilnya?" tanya Bagas tertawa.


Intan hanya tertawa.


" Mas.. kalau nanti ada hasilnya mas jangan telepon karena Intan lagi antar ibu ke dokter, tulis di pesan saja ya mas, takut tidak terdengar mas panggil jadi nanti mas berpikir berbeda pada Intan, jadi di tulis pesan saja ya mas," katanya.


" Baik sayang.. nanti mas chat saja, tapi nanti malamnya kita video call ya, mas kangen nih," kata Bagas.


" Ya mas.. Intan mau ucapkan terima kasih atas semua yang mas berikan pada Intan dan Dion, juga perhatian mas dan pengorbanan mas pada Intan. Intan tidak akan lupakan semuanya.


Intan sayang banget dengan mas, tapi sekarang Intan jauh dan Intan tidak berani bilang maka itu maafkan Intan ya mas bila Intan ada salah.. " katanya pelan.

__ADS_1


" Sayang.. kenapa bicara begitu, kamu buat mas makin kangen dan ingin secepatnya ke sana nyusul," katanya.


" Ya mas.. Intan juga kangen tapi Intan tidak bisa ketemu mas," jawabnya.


" Sabar ya, mungkin 3 minggu lagi mas bisa datang ke sana, kita berkumpul lagi," jawab Bagas.


" Ya mas.. sebelum ku tutup telepon ini .. ku ucapkan terima kasih mas dan maafkan aku sekali lagi.. tapi yang harus mas ingat, aku cinta pada mas," katanya makin pelan dan terdengar isak tangisnya.


" Hei.. hei .. kenapa harus menangis sayang.. kita akan bersama lagi, membangun rumah tangga yang baik."


" Baik mas, aku pamit dulu, jangan lupa makan ya," sahut Intan menutup telepon.


Intan pun menghela napas setelah menutup telepon. Ia menangis tersedu- sedu setelahnya lalu ia menghampiri Dion dan menciumnya dengan penuh kasih.


Ponsel Bagas berbunyi ada nomor tak dikenal di situ. Segera ia angkat.


" Halo.. ini dengan Bapak Bagas Wibowo?"" tanya orang diujung sana.


" Ya saya sendiri, ini dengan siapa?" tanyanya.


" Saya dengan petugas lab rumah sakit pak,mau kasih kabar hasil test DNA nya sudah keluar, bapak bisa mengambilnya sekarang di bagian lab ," katanya.


" Baik, nanti saya kesana ya, ini masih di kantor," kata Bagas.


" Baik pak, lab kami tutup jam 7 malam, bila bapak ingin mengambilnya malam ini sebelum jam 7 malam," kata petugas labnya.


Malam itu jam menunjukkan pukul 6 sore, Bagas sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


Ia menelepon Intan, " Sayang.. aku lagi menuju rumah sakit ini hendak mengambil hasil test, kamu lagi apa?" sahutnya.


"Lagi antar ibu ke dokter mas, nanti mas chat aja ya," katanya.


" Aku permisi dulu ya mas, ini ibu sudah di panggil dokter," katanya buru- buru.


" Oh ya sayang.. salam untuk Dion ya," katanya tertawa.


Intan pun lekas menutup teleponnya dan mematikan ponselnya.


Ia menggigit keras bibirnya dan meneteskan air mata.


" Bapak Bagas Wibowo?" tanya petugas lab.


" Ya mas, ini saya Bagas Wibowo." katanya.


" Ini pak hasil test DNA nya. " kata petugas lab.

__ADS_1


Bagas menerima hasilnya dan ia mencari tempat duduk didekatnya, ia ingin membaca dengan saksama.


Dibukanya sampul itu dan mulai di bacanya.


Dahinya berkerut dan tatapannya tak mengerti apa yang ada di kertas.


Bagas menoleh pada ruangan lab di mana petugasnya sedang bersiap- siap mengunci pintu lab hendak pulang. Ia ingin kepastian.


" Mas.. mas.. permisi sebentar. " katanya dengan cepat mencegah orang itu pergi.


" Ya pak.. ada apa ?" tanyanya heran.


Petugas itu berpikir apa mungkin salah beri amplop, tapi tadi ia sudah 2x mengeceknya.


" Bisakah mas jelaskan apa maksudnya ini semua?" tanyanya.


" Coba saya lihat pak," sahutnya.


Petugas itu membacanya sejenak lalu berkata," Siapa nama anak bapak?"


" Dion Saputra Wibowo," sahutnya.


' Nama ibunya ?" tanyanya lagi.


" Intan Widiastuti," jawab Bagas.


" Nama lengkap Bapak ?" kejarnya.


" Bagas Suryo Wibowo," kata Bagas.


Petugas itu membaca lagi sejenak lalu menatap Bagas.


" Maaf pak, kalau dari hasil lab ini menunjukkan keakuratan hampir 100 % pak, bahwa anak Dion ini ....bukan anak bapak," katanya pelan.


" Apa ??? " tanya Bagas kaget.


" Bagaimana mungkin, apa hasil test ini tertukar kah ?" tanya Bagas dengan nada tinggi.


" Tidak pak, semua sama dan hasilnya memang seperti ini bapak bukan ayah biologisnya Dion," kata petugas itu dengan pasti.


" Maaf pak, saya tidak mengada- ada, tapi ini sudah bukti pak, permisi saya pulang dulu pak " kata petugas itu sambil menyerahkan hasil lab tadi pada Bagas.


Bagas terhenyak kaget.. ia tak dapat bicara apa- apa, ia menatap kertas itu dan tangannya mengepal marah. Ia tak menyangka akan seperti ini hasilnya, ia merasa Intan sudah mempermainkannya dan menipunya.


Apa yang sudah Bagas impikan mengayuh biduk rumah tangga bersama Intan, wanita yang ia cintai ternyata bohong belaka, ia yang sudah rela menghianati Mira, melepaskan Mira dan Yunia dan mengambil Intan demi anak yang dikandungnya, bagai melepas mutiara yang sangat mahal demi perhiasan mainan plastik, Bagas menyesal sekali, Ia berteriak untuk menumpahkan kekesalannya dan

__ADS_1


kemarahannya karena ia sudah di tipu dan dibohongi Intan.


***


__ADS_2