
Aria begitu percaya dengan Baskoro.
Dari pertama mereka kenal Aria sudah yakin Baskoro orang baik.
Karena itu ia tak segan mendukung usaha Anita di mana ada orang yang ingin bantu memodali untuk binis usaha Anita melalui Baskoro.
Aria ingin Anita menjadi wanita mandiri yang dapat berusaha untuk dirinya sendiri. Ia mampu membiayai Anita tetapi ia pun ingin Anita tidak bergantung padanya agar Anita dapat membiayai keluarganya tanpa harus sungkan padanya.
Walaupun Aria siap membantu untuk keluarga Anita bila ada kesusahan.
Juga agar Anita tidak bosan di rumah, ada kegiatan yang dilakukannya setiap hari.
Karena itu Aria mendukung apa yang Anita kerjakan sepenuhnya.
Selain bisnis cafe yang Aria percayakan pada Anita, bisnis online yang sudah Anita geluti dari dulu pun ia ingin mengembangkan lebih besar.
Anita sangat senang karena ia di dukung dalam usahanya oleh Aria.
Ia berpikir sangat beruntung punya suami yang mendukung usahanya di samping ia juga sebagai seorang istri yang tak pernah lalai dalam melayani kebutuhan Aria .
Segala urusan dengan orang yang mempunyai modal itu, Aria ikut berperan serta mengantar, bertemu, berbicara dan mengatur di sela kesibukan nya memimpin perusahaanya.
Ketika semua sudah beres, Anita mulai diajarkan untuk berstrategi dalam pengelolaan, pengaturan keuangan, pelanggan dan stock barang.
Aria yang berpengalaman mengajarkan istrinya agar lebih mahir lagi dalam usahanya.
Dan dalam waktu 2 bulan usahanya pun berkembang pesat.
Ketika pendapatan nya sudah mulai banyak, Aria mengingatkan untuk Anita mulai menyimpan dan mencicil untuk membayar hutang yang dipinjam.
Aria sungguh seorang yang selalu bekerja teratur dan tertata, ia ingin tak mempunyai hutang bila usaha.
Karena itu Aria selalu mengingatkan Anita.
Anita pun mulai rutin membayar hutangnya.
Sampai ketika usahanya berkembang pesat dalam 2 tahun terakhir, Anita cukup senang hutangnya terbayar lunas kemarin.
Ia pun berinisiatif untuk menghubungi Baskoro memberitahukan bahwa hutangnya pada teman Bsskoro sudah lunas.
Sudah beberapa kali ia menelepon Baskoro tetapi ponselnya tidak aktif.
Anita pun berpikir mungkin Baskoro sedang sibuk.
Sudah 1 minggu ini Anita terus menghubungi Baskoro, tetapi ponselnya selalu tidak aktif.
Anita yang merasa heran memberitahu Aria dan menanyakan mengapa tidak dapat menghubungi Baskoro.
" Mas.. kenapa ya Baskoro tidak pernah aktif ponselnya, apa sudah ganti nomor ya ?" tanya Anita heran.
Aria menatap Anita dengan heran lalu berkata," Aku tidak tahu sayang.. coba kamu telepon lagi mungkin dia lagi sibuk. " kata Aria.
" Aku sudah telepon mas Baskoro dari minggu lalu loh mas, tapi selalu tidak aktif nomornya, ada apa ya mas?" tanya Anita .
Aria pun lalu mencoba telepon Baskoro tetapi sama seperti Anita, ponsel Baskoro tidak aktif
" Sayang.. kamu sudah lunas kan hutang pada Baskoro? Kamu ada kuitansi pembayarannya nggak ?" tanya Aria cepat.
Aria yang sudah pernah mengalami ini lalu ia menanyakan beberapa hal pada Anita.
" Sudah mas, sudah lunas. Kuitansi pembayaran 3 bulan terakhir belum di kasih sama Baskoro padaku. Ia bilang nanti sekalian saja waktu lunas ia kasih kuitansinya.
" Kenapa kamu tidak kasih tahu aku kalau Baskoro belum kasih kuitansi pembayaran bulan berjalan yang sudah kamu bayar.
Kalau kamu ngomong dari bulan- bulan lalu, aku masih bisa telepon mengingatkannya. ".Aria menatap Anita.
__ADS_1
" Aku pikir mas Baskoro pasti akan tepati janjinya, jangan buruk sangka dulu mas, siapa tahu ia memang lagi sibuk dengan perusahaannya yang berkembang pesat. " jawab Anita.
" Oke, tenang dulu sayang ya, aku mau datangi ke kantornya dan pabriknya besok, siapa tahu ia memang sibuk," jawab Aria.
Ada kecemasan dalam pikiran Anita, karena bila Baskoro tidak dapat menunjukkan kuitansi pembayaran itu maka akan dianggap belum membayar.
Hatinya sangat gelisah, tapi ia masih berpikir jernih Aria akan bertemu Baskoro besok.
Keesokan harinya Aria menyempatkan diri untuk mendatangi kantornya.
Baskoro tidak ada di tempat, sedang meninjau pabrik kata managernya dan sudah 3 hari berangkatnya.
Sore hari Aria terlihat sibuk, karena tadi waktunya terpakai untuk datang ke lantor Baskoro maka ia pun menyelesaikan semua pekerjaannya.
Tadi ia sudah mengatakan pada Anita bahwa bila belum selesai pekerjaannya ia akan lembur.
Tiba - tiba ponselnya berbunyi, ingin diabaikan tapi berulang kali bunyi. Dilihatnya nama Anita istrinya memanggil.
Ada apa Anita memanggil? batinnya berkata.
Lalu ia cepat menekan tombol menjawab.
" Halo mas... " sapa Anita cepat.
" Ada apa?" tanya Aria heran.
" Ini ada orang yang bawa surat menagih hutang ke rumah mas?" sahutnya cepat.
" Ada yang menagih hutang ? Hutang apa? Bukannya sudah lunas? Atau kamu ada yang di beli tapi belum di bayar sayang?" tanya Aria cepat.
" Nggak ada mas, aku nggak lagi beli apapun.
Ini mas katanya kita belum melunasi hutang pinjaman kita pada temannya Baskoro" kata Anita menjelaskan.
" Ada mas semuanya lengkap. " jawab Anita.
" Coba kamu kasih ponselmu ke orangnya, mas mau bicara," sahutnya.
Anita pun mendekati orang itu lalu memberikan ponselnya seraya berkata," Ini mas, suami saya mau bicara," katanya
" Halo pak, bagaimana? kapan ini mau melunasi pembayarannya? Bos saya sudah menunggu pembayaran ini kenapa sampai hari ini belum dibayarkan?" tanyanya.
" Mas, kami sudah melunasinya minggu lalu. Ada bukti transfer kami pada Baskoro untuk pembayaran yang terakhir. " kata Aria.
" Bagaimana yang terakhir ? ini sudah menunggak 6 bulan ya pak.
Kami terpakaa nagih bersama bunganya.
Kapan bapak mau bayar?" tanyanya mendesak.
" Apa ?? 6 bulan.belum di bayarkan ? Tidak mungkin pak.
Kami selalu bayar tepat waktu pak. Tidak pernah kami menunggak. Buktinya ada kok," kata Aria.
" Kami tidak tahu pak. Hanya menjalankan tugas.
Untuk selanjutnya silahkan hubungi bos kami di nomor ini. Ia yang menyuruh kami untuk datang menanyakan, mengingatkan untuk membayar cocilan. " kata salah aatu yang datang .
" Baik.. saya akan datang ke tempat bos kamu itu.
Saya akan telepon sendiri menanyakan kenapa bisa seperti itu," sahut Aria .
Aria pun meneleponnya.
" Halo ... pak Adi ?" tanya Aria.
__ADS_1
" Ini siapa?" tanyanya.
" Saya Aria pak. Begini tadi ada suruhan bapak untuk menagih hutang yang belum dibayarkan selama 6 bulan pak. Saya sudah membayarkan semuanya pak Sudah lunas kemarin pak terakhir isteri saya transfer ke Baskoro. " kara Aria menjelaskan.
" Maaf pak Aria, tapi di catatan komputer saya hanya baru 3 bulan saja bapak mencicilnya itu di awal saja, tetapi sesudahnya tidak ada lagi pembayarannya
Bila ingin lebih jelas lagi silahkan ddatang. Kami tunggu sore ini sampai jam 5 agar bapak jelas semuanya. " kata pak Adi .
" Baik pak, saya akan datang 30 menit lagi. Mohon di tunggu ya pak. Terima kasih bapak . Selamat sore. " kata Aria.
Aria pun bergegas pergi setelah ia membereskan dokumen penting yang sedang ia kerjakan.
Tak lama Aria sudah ada di depan kantor pak Adi.
Setelah berbincang sebentar, mereka berdua pun terlihat serius dalam pembicaraan.
" Pak Adi, maaf mau bertanya apa memang selama ini bapak yang mengkuasakan Baskoro untuk cicilan di transfer pada Baskoro ? Karena Baskoro ada bicara seperti itu pada saya dan isteri saya. Ini nomor rekening perusahaannya pak yang Baskoro berikan pada saya. Baskoro berkata bahwa bapak mempercayai dia untuk mengurus soal ini.
Saya sempat bingung juga mengapa harus Baskoro yang menangani urusan pembiayaan ini, tetapi karena saya sudah percaya pada Baskoro dari dulu pak, jadi ya saya pikir ini aturan dari perusahaan dan disuruh bapak. Karena itu saya tidak ada menanyakan padanya lagi. " kata Aria.
" Memang saya yang sudah mendanai Baskoro untuk punya perusahasn, karena waktu itu dia sedang terpuruk usaha kertasnya bangkrut, dan saya percaya dia, tetapi untuk urusan pembiayaan kan saya sudah bicarakan untuk nanti Baskoro yang akan kasih nomor rekening perusahaan di mana saya pun mempercayai dia untuk urusan penanaman modal ini pada yang berminat " kata pak Adi.
" Saya percaya Baskoro karena dia jujur, bisa di percaya. Dan selama ini setiap yang meminjam modal pada saya selalu lancar- lancar saja, tidak ada yang menunggak dan Baskoro pun selalu jujur serta melaporkan semuanya. " kata Adi.
" Kalau boleh tahu, bapak kenal Baskoro sudah lama ?" tanya pak Adi.
" Kami ini pak, saya, isteri saya dan Baskoro sudah berteman dari kuliah sampai sekarang pak, , kami ini bersahabat karib.
Susah senang sudah kami lalui pak. Dulu banyak Baskoro di bantu keluarga saya, jadi waktu itu pas isteri saya perlu modal ya dia bicara seperti itu , isteri saya senang. Tetapi tetap keputusan di saya pak dan karena saya sudah mengenal Baskoro dari dulu saya percaya pak padanya. " kata Aria menjelaskan.
" Wah.. kenapa Baskoro seperti itu ya, padahal usahanya juga maju. Apa yang dia mau ambil keuntungan dari hal ini ? Secara materi untuk cicilan 6 bulan yang dia belum setorkan ke perusahaan saya, di nilai kecil untuk saya ukur dengan kemajuan perusahaannya. Apa ada hal lain pak Aria, yang membuat Baskoro seperti itu ?" tanya pak Adi heran.
" Saya tidak tahu pak kalau soal itu, Baskoro itu sejak punya perusahaan memang lebih tertutup sifatnya. Mungkin dia sibuk, itu pemikiran kami pak. " kata Aria.
" Oke, coba lihat ini pak, yang Baskoro baru bayarkan hanya 3 bulan, selebihnya 6 bulan tidak ada.
Wah bapak rugi ini, 300 juta lebih selama 6 bulan yang belum dibayarkan Baskoro pada kami, bila melihat bukti transfer yang bapak perlihatkan pada saya. " kata Adi menunjukkan data- data yang ada.
" Dan nomor rekening yang Baskoro berikan itu bukan nonor rekening perusahaan pak. " jawab pak Adi kembali.
" Ya pak, kemarin isteri saya pinjam dana 500 juta untuk modal tambahan bisnis online ini agar lebih besar .
Waktu itu saya belum punya modal sebanyak itu pak, karena membuat perusahaan baru.
Dan isteri saya lagi semangatnya memperbesar bisnis onlinenya. Jadi daripada lama menunggu modal lagi, ya ada Baskoro yang saya sudah kenal lama menawarkan, ya saya ambil.
Ternyata Baskoro menipu saya dan isteri saya. " kata Aria kecewa dengan Baskoro.
" Begini saja pak, besok saya transferkan untuk yang 300 juta itu pada pak Adi. Biar beres dulu dengan bapak. Nanti urusan dengan Baskoro saya akan selesaikan dengannya. " kata Aria.
" Baik bila begitu keputusan pak Aria. Nanti bila sudah ditransfer kasih tahu saya ya, saya akan kirimkan bukti pelunasannya. Terima kasih pak Aria. " jawab pak Adi.
" Ya sudah kalau begitu pak Adi saya permisi pulang dulu. Nanti tolong kirimkan nomor rekening perusahaan yang benar pak. Besok saya akan transferkan. " sahut pak Aria.
Mereka pun berpisah.
Aria pun melajukan mobilnya untuk arah pulang.
Seraya menyetir Aria tak habis pikir mengapa Baskoro seperti itu.
Aria yakin bukan uang yang sedang Baskoro lakukan dalam hal ini, pasti ada hal lain.
Tetapi Aria belum dapat jawabannya sebelum bertemu Baskoro.
***
__ADS_1