Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 113. Kegembiraan Bagas


__ADS_3

Bagas tak lama di Semarang, hanya 2 hari, tetapi ia memanfaatkan waktu yang ada untuk terus mendekati Yunia.


Yunia yang memang sudah tidak mengenali ayahnya karena ketika mereka berpisah Yunia baru 2 tahun lebih, sehingga wajar bila ia tak mengenali ayahnya apalagi setelah perceraian itu Bagas tak pernah sekalipun untuk datang pada Yunia, menjemput atau bermain dengan Yunia.


Yang terekam dalam ingatan dan penglihatan Yunia adalah Aria, sosok yang selalu ada, dekat mamanya, jadi ketika Bagas mencoba untuk meraih dan mengaku papanya pada Yunia, secara langsung Yunia menolak melalui bahasa sikap dan tindakan.


Ia merasa tak nyaman dengan adanya Bagas yang sedikit ngotot untuk ingatan Yunia ada sosok Bagas.


Bagas sangat menyesali semua itu, ia tak habis- habisnya mengutuki kebodohannya meninggalkan Yunia dan asyik dengan dunianya sendiri dengan Intan yang akhirnya bukan kebahagiaan yang ia dapat tetapi penghianatan dan rasa sesal telah ditipu Intan.


Seperti hari ini, Bagas akan pulang ke Jakarta sore hari, maka pagi itu dia sudah datang ke restoran Mira. Ia menunggu Yunia pulang dari sekolah. Waktu menunjukkan pukul 11 siang sebentar lagi pasti Yunia datang dari sekolah. Kemarin ketika Bagas datang pada pukul 11 lebih Yunia baru pulang. Ia akan terus mendekati anaknya agar Yunia dapat mengenali Bagas pelan - pelan.


Terlambat memang tapi daripada tidak sama sekali mengenal ayahnya pasti akan membuat Bagas merasa sedih.


Jadi ia setia menunggu Yunia hari ini. Ditangannya sudah ada oleh- oleh boneka kesayangan dan alat tulis yang mana Yunia nenginginkannya tetapi Aria belum berikan karena Aria ingin Yunia berusaha mendapatkannya dengan rajin belajar sehingga mendidik Yunia mendapatkan sesuatu itu dengan tidak mudah walau Aria sanggup membelikan sebanyak- banyaknya.


Aria sedang mendidik Yunia juga Antony agar tidak menjadi anak manja.


Hadiah itu Bagas belikan setelah menanyakan apa yang dibutuhkan oleh Yunia pada Mira.


Tepat pukul 11.30 Yunia masuk rumah makan itu dengan seorang supir dan Neni.


Ya Neni masih setia untuk menemani Yunia. Mereka sudah tak dapat dipisahkan. Dari sejak bayi Yunia sudah sering bersama Yunia sampai saat ini Neni sudah merupakan ibu ke 2 bagi Yunia.


Pernah Neni ingin istirahat di kampung tidak mau lagi menjaga Neni, karena ibunya Neni sakit di kampung. Yunia menangis seharian tak mau Neni pulang. Mira sampai kewalahan menenangkan Yunia, bahkan malam itu Yunia panas badannya mungkin karena menangis terus.


Akhirnya Mira memohon Neni untuk tidak pulang dan menyuruh supir menjemput ibunya Neni di kampung dan di bawa ke Semarang untuk tinggal bersama Mira dan Yunia.


Neni pun sebenarnya tak tega dengan Yunia yang akan ditinggalkannya, tetapi Neni bersyukur mengikuti Mira yang ternyata adalah seorang ibu yang baik.

__ADS_1


Yunia masuk dengan mengucapkan salam.


Bagas yang melihatnya membalas salamnya lalu berjalan menghampirinya


" Hai Yunia... baru pulang sekolah?" tanya Bagas.


" Iya om Bagas, aku baru saja sampai," kata Yunia.


" Ini ada hadiah untuk Yunia, coba di buka, papa mau Yunia buka ya," kata Bagas lagi.


" Ya om, tunggu dulu ya, Yunia akan ganti dulu baju dan lepas sepatu. Nanti mama marah kalau melihat berantakan. Baru sesudah makan Yunia buka ya hadiah dari om," kata Yunia.


" Baik Yunia sayang, om tunggu ya.. tetapi panggilnya jangan om dong, papa ya, kan om ini papanya Yunia. " kata Bagas dengan bersemangat.


" Om.. papanya Yunia sekarang lagi pergi sama kak Antony, jadi apa yang mama Mira katakan Yunia ikuti," kata Yunia dengan tegas.


Lalu Yunia pergi ke dalam untuk ganti pakaian dulu dan makan.


" Ini Yunia hadiah dari om, semoga Yunia senang, di buka ya hadiahnya," kata Bagas.


" Terima kasih om, Yunia buka ya," sahut Yunia dengan tersenyum.


" Wah.. om belikan hadiah yang Yunia mau, Yunia ini ingin hadiah ini tetapi papa belum belikan. Om tahu ya barang yang Yunia mau. Yunia suka om, terima kasih," kata Yunia senang.


Bagas pun ikut senang melihat Yunia tersenyum senang. Ia berjanji dalam hatinya akan terus menyempatkan diri untuk mengunjungi Yunia, agar Yunia tidak merasa asing lagi dengan dirinya.


Di sudut ruang itu Mira melihat mantan suaminya yang sedang bersama Yunia.


Mira tidak ingin bergabung dengan mereka, karena Mira memang tak mau untuk berlama- lama berdua mantan suaminya itu.

__ADS_1


Ada senyuman tersungging di bibirnya melihat Yunia yang ngotot tak mau disuruh memanggil papa pada Bagas. Ia pun tak dapat melarang Yunia untuk tidak memanggil papa karena Mira berpikir itu akibat dari tindakan Bagas yang melupakan Yunia waktu dulu.


Mira melihat senyuman di wajah Yunia saat membuka hadiah itu, ia senang melihat senyuman Yunia.


Setelah 1 jam Bagas bercakap- cakap dan membahas hadiah nya dengan Yunia, Bagas pamit karena harus ke bandara.


" Yunia sayang.. om Bagas pamit pulang dulu ya, nanti om akan sering ke sini, menengok Yunia. Kalau Yunia mau hadiah lagi nanti Yunia bilang pada mama ya, biar om belikan," kata Bagas.


Yunia menatap Bagas lalu berkata," Om.. papa ajarkan Yunia dan kakak kalau mau sesuatu itu harus berusaha dulu, tidak boleh langsung minta. Karena kami masih sekolah maka bila ingin sesuatu kami minta pada papa tetapi kami juga harus tunjukkan prestasi kami di sekolah. Jadi maaf om, saya tidak bisa seenak saya minta," kata Yunia.


Bagas tertegun menatap Yunia. Yunia sangat dewasa dalam berbicara dan mengatakan sesuatu yang ia tidak mau lakukan. Aria telah mendidik anaknya dengan baik. Yunia tidak memanfaatkan semua fasilitas yang ada pada papanya. Bagas sangat bersyukur Yunia tumbuh dalam didikan Aria.


" Baiklah Yunia, tolong panggilkan mama kamu, om mau pamit. " kata Bagas.


" Ma.. mama .. om Bagas mau pulang," seru Yunia seraya masuk ke dalam.


" Mira.. aku pamit dulu, aku mau ke bandara. Takut terlambat. Mungkin nanti aku akan menjenguk Yunia lagi, aku akan bermain- main dengannya lagi. Aku tak akan putus asa untuk mendekatinya, membuat akhirnya ia pun tersadar aku papanya," kata Bagas optimis.


" Baiklah mas," kata Mira tersenyum.


Bagas pun bergegas menuju bandara.


Kali ini perjalanan dinas keluar kota membawa satu kebahagiaan yang membuatnya bersemangat kembali menjalani kehidupan.


Ia akan merindukan kota ini, kota di mana ada anaknya yang akan ia usahakan mengingat siapa dirinya, memanggil kata " papa," bagi dirinya dan sampai satu tujuan yaitu memeluk dan bermanja padanya.


Bagas berkhayal sepanjang perjalanan ke bandara.


Hatinya sangat senang, setelah sekian lama ia terpuruk, merasakan kesedihan dan tak ada harapan, hari ini ia pulang dengan menegakkan kepalanya.

__ADS_1


Dengan rasa bangga ia bertekad akan menceritakan pada orangtuanya bahwa dirinya yang sekarang telah berubah, Bagas seorang ayah yang akan lebih memperhatikan anaknya Yunia.


__ADS_2