Hot Mother And The Bos Mafia

Hot Mother And The Bos Mafia
penyesalan Frans Leonardo


__ADS_3

Frans Leonardo terkulai tidak berdaya, dia hanya bisa melihat anak buah Jhon yang begitu sibuk menyiapkan sebuah televisi berlayar besar didepannya.


Entah apa yang Jhon rencanakan yang pasti saat itu rasanya dia sangat ingin mati.


Bahu kanannya sangat sakit karena bekas luka tusukan yang diberikan Jhon mulai bernanah dan mengeluarkan cairan darah dari sana. Belum lagi pelipisnya yang terluka?


Wajahnya juga dipenuhi lebam, sekujur tubuhnya pun sangat sakit luar biasa.


Terkadang Frans Rional datang untuk menghajarnya dan memberikan makanan busuk untuknya, tidak hanya itu, pria itu bahkan memberinya minum air kotor.


Frans memejamkan matanya, berharap Jhon segera datang untuk membunuhnya. Setiap hari dia berharap demikian tapi sepertinya Jhon memang tidak membiarkannya mati dengan mudah.


"Hei, bangun!"


Panggil salah satu anak buah Jhon yang berjaga disana sedangkan salah satu anak buah Jhon lainnya menyiramkan air dingin padanya.


"Hei ba**ngan, cepat bunuh aku!" teriak Frans.


Pria itu menggeleng untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Lukanya terasa perih karena terkena air dingin itu.


Walapun dia berteriak meminta seseorang membunuhnya tapi tidak ada yang bergeming dan menghiraukannya.


"Hahahahahaha...!!" Frans Leonardo tertawa seperti orang gila dan tawanya memenuhi ruangan yang sunyi.


"Selamat datang master."


Terdengar anak buah Jhon sedang memberi hormat pada bos mereka, mereka sudah berbaris dengan rapi dan menunduk hormat pada seorang pria yang berjalan masuk kedalam.


Frans Leonardo memalingkan wajahnya, melihat kedatang Jhon. Pria itu sedang berjalan kearahnya dan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Frans Leonardo, sepertinya kau sudah gila!" kata Jhon.


"Jhon, akhirnya kau datang. Sekarang bunuhlah aku!!" pinta Frans.


"Oh ya? Tapi kita lihat nanti! Sebentar lagi kau pasti berubah pikiran dan memohon padaku untuk tidak membunuhmu."


"Hahahahahahha!!!" Frans Leonardo kembali tertawa.


"Untuk apa aku memohon padamu? Sekarang aku sudah sangat siap mati!"


"Jangan buru-buru Frans, nyawamu bukan milikku!"


"Cuihhh..!" Frans Leonardo meludah kearah Jhon dan ludahnya mengenai sepatu pria itu.


Dengan cepat Billy mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap sepatu bosnya sampai bersih.


"Itu terakhir kalinya kau meludah dan sebentar lagi aku jamin kau tidak bisa melakukannya lagi!" kata Jhon dengan kesal.


"Hahahahahhaha....!!" Frans Leonardo kembali tertawa untuk kesekian kalinya.


"Billy, apa Frans Rional belum datang?" tanya Jhon kepada asisten priabdinya.


"Sedang diperjalanan master."


"Good, sebelum dia datang aku akan memberikan sebuah tontonan menarik pada ba**ngan ini."


Billy mengangguk dan segera mengambil sebuah kursi untuk bosnya.

__ADS_1


Jhon duduk disamping Frans Leonardo, menyilangkan tangan dan kakinya, duduk dengan angkuh.


"Jhon, jangan main-main denganku. Aku sedang tidak ingin menonton apapun."


"Benarkah? Sebentar lagi kau tidak akan berkata demikian!"


"Billy, lakukan." perintahnya.


"Yes master."


Billy mulai menyalakan televisi didepannya dan memasukkan sebuah flashdisk disana.


"Angkat kepalanya, dia harus melihat ini dengan jelas sampai dia menyesal dan memohon padaku supaya aku tidak membunuhnya." perintah Jhon pada anak buahnya.


Kedua anak buah Jhon menghampiri Frans dan mengangkat dagu pria itu agar matanya berfokus pada layar televisi didepannya.


"Jhon, jangan bercanda!" teriak Frans Leonardo.


Saat itu dilayar televisi, tiba-tiba muncul wajah seorang anak kecil yang tampak ceria.


Frans Leonardo menahan nafasnya, anak itu sangat mirip dengannya. Apakah mungkin?


"Percaya atau tidak, anakmu ada bersama dengan Jhon." perkataan Stela kembali terngiang dikepalanya.


Dia juga mengingat perkataan Jhon jika anaknya diasuh oleh Samantha.


Mata Frans Leonardo tidak bergeming dari layar televisi, tidak hanya menayangkan wajah seorang pria kecil yang mirip dengannya tapi tampak anak kecil itu sangat bahagia bersama dengan Samantha Jackson.


Jhon melihat kearah Frans Leonardo dengan puas, dengan begini pria itu akan mati dengan penuh penyesalan.


"Cukup, matikan!" perintahnya.


"Tidak Jhon, jangan kau matikan." pinta Frans Leonardo karena dia belum puas melihat anak kecil yang ada dilayar televisi.


"Sepertinya tadi ada yang bilang tidak ingin menonton sesuatu!" hina Jhon.


"Jhon, pa itu putraku?"


"Seharusnya kau tahu saat melihatnya."


"Bagaimana mungkin?" Frans tidak percaya, bukankah Stela telah mengugurkan anaknya? Bagaimana mungkin anaknya bisa ada bersama Samantha Jackson.


"Asal kau tahu, Stela membuang anakmu dan Samantha Jackson menemukannya dan merawatnya tapi berani-beraninya kau!!!"


Darah Jhon kembali mendidih dikepalanya saat mengingat Samantha hampir mati ditangan Frans.


"Anakku masih hidup, anakku masih hidup." gumam Frans putus asa. Entah dia harus senang? Atau sedih kerena situasi yang sedang dia hadapi!


"Stela ja*ang sialan, penipu!" teriak Frans frustasi sedangkan sebuah seringgai menghiasi wajah Jhon.


"Jhon, tolong maafkan aku, aku telah salah selama ini." pintanya.


Jhon hanya diam saja dan memberikan kode pada Billy, saat itu Billy mendekatinya dan memberikan sebuah gunting untuk bosnya.


"Jhon, jangan bunuh aku, maafkan aku." teriak Frans putus asa.


Dia sangat menyesal dengan tindakannya, dia berharap Jhon mau melepaskannya sehingga dia bisa menemui putranya.

__ADS_1


"Hari itu aku sudah katakan padamu, jangan menyakiti Samantha Jackson dan kau tidak mau mendengar perkataanku."


"Jhon, tolong beri aku kesempatan."


"Jika kau ingat, aku juga sudah memberikan kesempatan padamu saat itu tapi kau sia-siakan."


"Pegang tangannya." perintah Jhon pada anak buahnya.


Dengan cepat anak buah Jhon memegang tangan Frans.


"Jhon, jangan! Tolong berikan kesempatan untukku." mohon Frans Leonardo lagi.


Jhon tidak bergeming, dia sudah tidak sabar membalas setiap perbuatan Frans terhadap kekasihnya.


"Angkat telunjuknya." perintahnya lagi.


"Jhon, jangan bunuh aku, kasihanilah nyawaku."


"Bukankah tadi kau sangat ingin mati?"


"Jhon, biarkan aku menemui putraku." pinta Frans.


"Kau tahu, aku akan mengambil semua jarimu karena telah berani memukul dan menyentuh kekasihku." katanya dengan dingin.


Frans bergetar ketakutan, dia memang salah mencari lawan.


Tanpa perintah lagi, anak buah Jhon langsung memegangi tangan Frans dan menyodorkan jari pria itu kehadapan bosnya.


Tanpa belas kasihan, Jhon segera memainkan gunting tajam yang berada ditangannya dan hanya dalam hitungan detik saja sepuluh jari Frans jatuh diatas lantai. Frans berteriak menahan sakit yang luar biasa ditangannya yang bergetar. Darah segar keluar dari setiap jarinya yang telah hilang dan membasahi lantai.


"Jhon, berikan kesempatan padaku untuk menemui putraku." pintanya dengan lemah.


"Nyalakan lagi televisinya." perintah Jhon.


Billy kembali menyalakan Televisi itu dan menampilkan wajah Edward kembali.


"Lihatlah sampai kau puas sebelum kematianmu, dia tidak perlu tahu bahwa ayahnya seorang pembunuh!" kata Jhon dengan dingin.


"Jhon, biarkan aku hidup. Kau telah mengambil jariku bukan?"


"Oh, kalau aku tidak salah ingat. Waktu itu kau menjilati wajah Samantha didepanku."


Frans Leonardo menelan ludahnya.


"Asal kau tahu, aku tidak suka ada yang menyentuh milikku."


"Jhon,tidak, tolong ampuni nyawaku." pinta Frans ketakutan.


Jhon hanya melebarkan senyumnya.


"Nyawamu bukan milikku dan setelah orangnya datang kau bisa memohon padanya, itupun jika kau masih bisa berteriak."


"Keluarkan lidahnya!" perintahnya.


"Jhon jangan! Aku benar-benar menyesal." teriak Frans ketakutan.


Saat itu Billy datang membawa sebuah tang ditangannya dan kedua anak buah Jhon segera memegang kepala Frans.

__ADS_1


Frans bergetar ketakutan saat Billy memaksa membuka mulutnya untuk mengeluarkan lidahnya.


Matanya hanya melotot dan sungguh dia berharap langsung mati dari pada harus disiksa seperti itu.


__ADS_2