Hot Mother And The Bos Mafia

Hot Mother And The Bos Mafia
Silvia Smith


__ADS_3

Seorang wanita cantik berwajah oriental dan bermata biru turun dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam sebuah gedung pencakar langit yang ada didepannya.


Wanita cantik itu tampak begitu ceria hari itu, sejak mendengar cerita dari ayahnya jika ada seorang perempuan yang berani melemparkan bikini kearahnya membuat Silvia Smith sangat penasaran ingin bertemu dengan wanita itu.


Setelah kembali dari italia Silvia sangat ingin bertemu dengan kakaknya, tentunya dia juga ingin bertemu dengan wanita yang sangat membuatnya penasaran itu.


Silvia segera berjalan menuju ruangan kakaknya, dia tahu, pria itu pasti ada disana.


Silvia masuk kedalam ruangan itu dan kaget saat melihat tampang Jhon yang terlihat mengerikan.


Bagaimana tidak, setelah Samantha menarik rambut di dadanya, wanita itu langsung kabur pergi begitu saja. Mandi dikamar Edward dan meminta Anne mengambil pakaiannya dan setelah itu Samantha pergi bersama Edward.


Bahkan saat ini Samantha tidak mau menemuinya dan mengunci pintu ruangannya.


Jhon benar-benar kesal, ingin rasanya menghukum Samantha tapi dia tidak bisa. Samantha begitu cerdik menyembunyikan diri dan melarikan diri darinya.


"Kak, ada apa denganmu?" tanya Silvia penasaran.


"Silvia, untuk apa kau kemari?" tanyanya pula dengan malas


"Aku ingin bermain-main saja."


Silvia mengedarkan pandangannya, mencari wanita yang diceritakan oleh ayahnya.


"Kak, dimana wanita itu?" tanya Silvia lagi.


"Siapa? Stela?"


"Bukan! Dimana calon kakak iparku?"


"Dari mana kau tahu dia ada disini."


"Tentu saja dari daddy, aku sangat ingin menemuinya." kata Silvia penuh semangat.


"Calon kakak iparmu sedang menyembunyikan diri!" jawab Jhon pula.


"Apa yang kakak lakukan sampai dia ketakutan begitu?" tanya Silvia heran.


"Tidak ada."


Silvia tersenyum dan menghampiri kakaknya.


"Kak, aku sedang bosan. Boleh aku meminjamnya sebentar?" tanyanya.


Jhon memperhatikan adiknya itu dengan serius, tapi kemudian pria itu menarik bibirnya dan tersenyum dengan usil.


"Silvia, hari ini ajaklah dia bermain-main sampai kau puas tapi ingat jangan keterlaluan!"


Jhon mengeluarkan sebuah kartu dan melemparkannya diatas meja sedangkan Silvia tersenyum dan mengambil kartu itu.


"Kakak tenang saja, aku hanya akan mengisenginya sedikit." katanya dengan gembira.


Setelah tahu ruangan Samantha dari kakaknya, Silvia segera menuju ruangan itu, dia sudah tidak sabar ingin melihat wanita yang bisa membuat wajah kakaknya terlihat mengerikan seperti itu.


Samantha sedang memainkan jarinya di keyboard komputernya dengan serius, dia telah mengunci pintu ruangannya karena takut Jhon tiba-tiba masuk dan membalas perbuatannya.


Jhon memang sudah mengetuk pintu ruangannya berkali-kali, tapi dia tidak perduli. Siapa suruh Jhon selalu mengusilinya?


Tangannya terhenti saat mendengar ketukan dipintu, dia pikir itu Jhon tapi suara seorang wanita diluar sana membuatnya bangkit berdiri dan berjalan kearah pintu.


Samantha membuka pintu itu dan tampak seorang wanita cantik berwajah oriental dan bermata biru sedang tersenyum manis padanya.


"Apa kau Samantha?" tanya wanita itu.


"Ya." jawab Samantha.


"Aku Silvia, Silvia Smith."

__ADS_1


"Smith? Kau saudara Jhon?" tanyanya.


Silvia mengangguk dan tersenyum padanya.


"Kakak bilang kau bisa menemaniku jalan-jalan." kata Silvia.


"Apa dia bilang begitu?"


"Benar!"


Samantha berpikir sejenak, akan lebih baik mengikuti Silvia dari pada seharian menyembunyikan diri diruangan itu.


"Baiklah kalau begitu." jawabnya.


Samantha mengambil tasnya dan mengikuti Silvia, Silvia menggandeng tangannya dan mereka berjalan keluar dari tempat itu dengan akrab.


Saat mereka hendak masuk kedalam mobil, seorang wanita berjalan tidak jauh dari mereka dan tanpa sengaja melihat kearah mereka.


Stela yang baru saja tiba sangat kaget saat melihat Silvia menggandeng seorang wanita yang dia kenal, wanita yang menyembunyikan anaknya.


Dia segera berlari hendak menghampiri mereka karena dia ingin menanyakan keberadaan anaknya tapi Silvia dan wanita itu telah naik kedalam mobil dan mobil itupun telah berlalu pergi.


Stela menggenggam tangannya dengan erat, padahal tujuannya hari ini untuk menemui Jhon karena diminta oleh ayahnya.


Tapi wanita itu? Haruskah dia mengikutinya?


Stela mengurungkan niatnya, menemui Jhon sangatlah pentingbkarena perusahaan ayahnya tiba-tiba mengalami kondisi kritis.


Wanita itu segera masuk kedalam tempat itu untuk meminta maaf pada tunangannya, karena bisa dia tebak Jhon lah yang melakukan semua itu.


Dia sangat ketakutan saat melihat tampang Jhon yang mengerikan dan melotot kearahnya.


Suasana hati Jhon yang sudah buruk semakin buruk saat melihat Stela masuk kedalam ruangannya.


"Honey, aku mau minta maaf." Stela memberanikan diri berbicara pada pria itu.


"Honey, aku yang salah. Kenapa kau membuat perusahaan ayahku mengalami kritis?"


"Aku sudah bilang, jangan berani melawanku dan berhenti memanggilku honey!" kata Jhon dengan kesal.


"Tidak, aku tunanganmu. Kenapa kau seperti ini padaku?" teriak Stela.


"Stela, suasana hatiku sedang tidak baik. Sebaiknya kau pergi sekarang!Asal kau tahu, kau bukan tunanganku lagi!"


Stela terbelalak kaget, apa maksud perkataan Jhon?


"Tidak! Aku tidak mau! Aku tetap ingin menjadi tunanganmu!" teriak Stela kembali dengan histeris.


Dia mulai menangis dan menyesali perbuatannya malam itu.


"Terserah, kau bisa jadi tunanganku sampai kau tua!" jawab Jhon dengan malas.


"Apa?" Stela tidak percaya mendengarnya.


Memang waktu itu dia yang menginginkan pertunangan itu, dia langsung jatuh cinta saat melihat Jhon dan memaksa ayahnya untuk berbicara kepada Michael Smith. Dia bahkan meminta ayahnya untuk memaksa Michael Smith supaya mau menjodohkannya dengan Jhon.


Dia bahkan rela membuang semuanya demi pria itu, dia tidak terima tali pertunangan mereka diputus begitu saja oleh Jhon.


"Jhon, kenapa kau begitu jahat. Aku rela melepaskan semuanya demi menjadi tunanganmu!"


"Apa yang kau lepaskan?" tanya Jhon.


Stela diam saja, tidak bisa menjawab pertanyaan Jhon.


"Apa waktu itu aku memaksamu untuk menjadi tunanganku? Ingat pertunangan kita terjadi karena bisnis dan karena paksaan ayahmu yang merengek pada ayahku terus menerus. Aku juga mau menjadi tunanganmu karena ingin memanfaatkan ayahmu saja!"kata Jhon lagi


Stela menggigit bibirnya, jadi selama ini Jhon tidak pernah mencintainya?

__ADS_1


"Stela, mungkin aku akan berbaik hati melepaskan perusahaan ayahmu tapi dengan syarat, kau dan aku tidak punya hubungan lagi karena aku sudah punya wanita lain, aku tidak ingin membuat wanitaku salah paham nanti!"


Wanita lain? Jadi malam itu Jhon tidak asal bicara?


"Jhon, jangan seperti ini." pinta Stela.


"Jadi, harus bagaimana? Malam itu kau berani menjebakku dan tidak berpikir akan akibatnya!"


"Aku minta maaf."


"Aku maafkan jadi selagi aku berbaik hati mau melepaskanmu dan ayahmu maka sekarang keluar dari ruanganku dan jangan menggangguku lagi!"


Stela memandang Jhon dengan lekat dand dia tidak punya pilihan. Jika dia masih disana dan memaksa Jhon maka bisa dipastikan, besok perusahaan ayahnya hanya akan tinggal nama saja.


"Aku akan kembali!" Stela segera keluar dari ruangan itu tapi sebelum itu dia menemui seorang security yang berjaga dipintu masuk untuk bertanya mengenai wanita yang keluar bersama Silvia tadi.


Setelah tahu ternyata wanita itu bekerja disana, Stela jadi memiliki kesempatan untuk menemui wanita itu kapan saja. Bertanya dimana anaknya dan tentu saja meminta wanita itu mengembalikan anaknya.


Dia juga akan mencari tahu, wanita mana yang telah merebut Jhon darinya. Bukan hanya anaknya nanti, dia juga akan menyingkirkan wanita yang telah menghalangi jalannya.


Sementara itu Samantha, tidak perlu ditanya! Dia benar-benar dikerjai oleh Silvia habis-habisan.


Mereka sudah masuk kedalam semua butik yang mereka temui. Silvia juga meminta Samantha mencoba semua pakaian yang dipilihnya.


Samantha dengan terpaksa mengikuti perkataan Silvia, dia juga diminta berjalan dengan baju yang dipakai nya seperti seorang model.


Samantha sangat kesal, dia berharap tidak akan bertemu lagi dengan anggota keluarga Smith lainnya.


Saat itu bahkan Silvia belum puas mengerjainya. Silvia mengajak Samantha masuk kedalam sebuah butik khusus pakaian pengantin.


Samantha sedang berdiri didepan Silvia dengan gaun pengantin yang dipilih wanita itu dengan keadaan lelah.


"Silvia, kenapa kau selalu meminta ku mencoba pakaian yang kau pilih? Dan kenapa aku harus mencoba pakaian pengantin juga?" tanyanya


"Ini semua untuk calon kakak iparku." jawab Silvia dengan santai.


"Kakak ipar? Kenapa kau tidak ajak orangnya langsung?" tanya Samantha.


Samantha sangat kesal, dia pikir bisa melarikan diri dari Jhon. Tapi ternyata?


"Kenapa kedua orang ini begitu menyebalkan? Jangan sampai aku bertemu dengan ibunya atau saudara lainnya kelak!" kata Samantha dalam hati.


Silvia tersenyum padanya, memang sudah dia lakukan. Apa Samantha tidak sadar?


"Cobalah yang lain, ini jelek." kata Silvia.


"Silvia, aku benar-benar lelah. Kakiku juga sudah sakit, bisa lain kali saja?" pinta Samantha.


Sepatu hak tinggi yang dipakainya sudah seperti paku yang menancap dikakinya. Bisa dibayangkan? Berjam-jam mencoba semua baju yang dipilih Silvia, berjalan seperti seorang model dan wanita itu belum puas juga?


"Oh please, aku hanya punya waktu hari ini." Silvia memasang wajah memelas padanya.


Samantha memejamkan matanya, tidak bisa menolak permintaan Silvia. Jika Silvia laki-laki, mungkin sudah dia pukul sedari tadi.


Akhirnya dia mengikuti permintaan Silvia untuk mencoba beberapa gaun yang dipilih olehnya dan setelah dirasa cukup, Silvia menyudahi keisengannya.


Hari itu Samantha pulang kerumahnya dengan kaki pegal dan lelah yang luar biasa.


Samantha pulang dan langsung tewas diatas tempat tidurnya, tidak sanggup lagi menggerakkan kakinya.


Dia bahkan meminta Anne menginap untuk satu malam karena dia tidak yakin bisa membawa Edward tidur.


Tapi sebelum itu, dia meminta Anne mengunci pintu rapat-rapat dan meminta Anne tidak membuka pintu jika Jhon datang. Samantha sangat tidak ingin bertemu Jhon saat ini tapi dia lupa, tadi pagi dia meninggalkan kunci diatas meja agar saat Jhon pergi, pria itu bisa mengunci pintu rumahnya.


Dan saat malam Jhon kembali keapartemen Samantha dengan membawa beberapa paper bag yang diberikan Silvia.


Pria itu masuk kedalam kamar, tersenyum melihat Samantha yang sudah tidak sadarkan diri dan tidur karena kelelahan.

__ADS_1


Sepertinya Silvia sudah sedikit kelewatan.


__ADS_2