Hot Mother And The Bos Mafia

Hot Mother And The Bos Mafia
Ancaman Frans


__ADS_3

Samantha langsung menegakkan tubuhnya saat mendengar suara Frans, kenapa ayahnya bisa bersama dengan Frans?


"Frans? Apa yang dia lakukan terhadap daddy?" pikirnya penuh tanda tanya.


Saat itu juga, perasaannya jadi tidak enak, entah mengapa dia merasa jika akan terjadi hal yang tidak bagus.


"Samantha, apa kau mendengarku?" tanya Frans lagi disebrang sana.


"Ada urusan apa kau mencariku?" tanyanya dengan dingin.


"Wah, kau masih saja sombong! Asal kau tahu, aku sedang berada dirumahmu saat ini."


Samantha sangat kaget mendengarnya, mau apa Frans kerumahnya?


"Frans, buat apa kau kerumahku? Bukankah ayahku telah memutuskan tali pertunangan kita?"


"Ck...ck..honey, Aku kemari tentu saja untuk?"


Samantha menahan nafasnya karena Frans menghentikan perkataannya.


"Untuk apa?" tanyanya penasaran.


"Kill your father and mother!" jawab Frans dengan seringgai jahat menghiasi wajahnya.


Wajah Samantha langsung pucat sedangkan ponsel yang dipegangnya hampir tergelincir dari tangannya.


"Kau jangan main-main!"


"Aku tidak main-main sayang, apa kau ingin melihat anak buahku memperkosa ibumu? Jika kau mau aku akan mengirimkan videonya untukmu."


"Frans!!!!" teriaknya.


Teriakan Samantha membuat Ron langsung melihat kearahnya sedangkan Edward kaget dan bangun dari tidurnya.


Tangan Samantha bergetar dan air matanyapun mulai mengalir membasahi kedua pipinya. Dia takut terjadi sesuatu terhadap ayah dan ibunya.


"Apa maumu?" tanyanya.


"Segera datang!" pinta Frans.


"Aku tidak bisa."


"Tidak masalah, jika kau tidak mau maka kau akan lihat mayat ayah dan ibumu diberita nanti."


"Jangan mengancamku!"


"Aku tidak mengancammu sayang, aku?"


"Samantha, jangan kemari!" teriak ibunya disebrang sana.


"Mom?" Samantha menyeka air matanya, ternyata Frans benar-benar menyandera ayah dan ibunya.


Samantha dapat mendengar suara ibunya yang ketakutan, entah apa yang Frans lakukan terhadap ayah dan ibunya. Sungguh dia tidak berani membayangkannya.


"Perempuan bodoh tapi dengan begini kau percaya bukan?"


"Frans, jangan pernah berani menyentuh mereka."


"Ini tergantung dirimu sayang, jika kau datang maka aku akan menjaga mereka dengan baik tapi jika tidak? Kau tahu bukan apa yang akan aku lakukan!"

__ADS_1


"Aku akan kesana tapi beri aku waktu."


"Samantha, kau kira kita sedang bermain catur sehingga aku harus memberimu waktu?"


"Kau tahu bukan aku perlu waktu untuk kesana?"


"I know, dua belas jam! Jika dalam waktu dua belas jam kau tidak datang maka?"


Frans menodongkan pistol yang dipegangnya dikepala Alex Jackson.


"Peluru dalam pistol yang aku pegang ini akan bersarang dikepala ayahmu."


Keringat dingin mengalir dari dahi Samantha saat mendengarnya, dua belas jam? Waktu yang sangat singkat.


"Baiklah, aku akan kesana tapi jangan berani menyentuh ayah dan ibuku!" ancamnya.


"Of course tapi ingat, datang sendiri dan tidak dengan ba**ngan itu! Jika kau berani datang bersamanya maka lihatlah, aku juga akan menghabisinya didepan matamu. Kau harus ingat juga jangan coba-coba untuk melapor kepolisi!" ancam Frans.


Setelah berkata demikian Frans mematikan ponselnya dan menarik bibirnya, tersenyum penuh kemenangan.


Sebentar lagi, dia akan mendapatkan semua kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Jackson dan dia sudah tidak sabar menantikannya.


"Ikat mereka." perintahnya kepada anak buahnya.


Para anak buahnya langsung mengikat Alex Jackson dengan istrinya.


"Dad, kenapa kau menghubungi Samantha? Kau tahu ini bisa mencelakainya." bisik Ana Jackson pada suaminya.


"Aku tidak punya pilihan karena aku tidak bisa melihatmu diperkosa oleh para ba*"ngan itu."


"But dad?"


Ana Jackson menatap mata suaminya dengan lekat dan dalam hatinya juga berharap demikian, berharap Samantha datang membawa bantuan.


Sedangkan saat itu Samantha, dia hanya bisa menghapus air matanya tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Tangannya bergetar dengan ponsel yang masih ditangannya.


"Mom, are you oke?"


Edward yang sudah terbangun duduk diatas pangkuannya dan menyeka air matanya.


Samantha mengangguk dan mengusap kepala Edward dengan lembut, jangan sampai membuat Edward khawatir.


"Apa yang harus aku lakukan?" pikirnya dalam hati.


"Nona, apa yang terjadi?" tanya Ron penasaran.


Samantha hanya menggeleng dan terus menghapus air matanya, sungguh dia sangat menghawatirkan kedua orang tuanya dan dia tidak punya banyak waktu, hanya dua belas jam saja.


Semantha menurunkan Edward dan mulai mencari nomor seseorang disana dan menghubunginya, tapi percuma, ponsel pria itu tidak bisa dihubungi karena Jhon baru saja terbang dari New York dan kemungkinan dia akan kehabisan waktu jika menunggu kepulangannya.


Dan lagipula, Jika dia menunggu Jhon kembali maka waktunya akan terbuang banyak. Sebaiknya dia kembali terlebih dahulu untuk mengulur waktu dan dia berharap Jhon bisa tepat waktu menolongnya nanti.


Samantha merogoh buku kecil dan bolpoin dari dalam tasnya, dengan cepat Samantha menuliskan sesuatu disana.


"Ron, boleh aku minta tolong?" tanyanya.


"Tentu, apa yang nona inginkan?"

__ADS_1


"Tolong jaga Edward."


"Memangnya anda mau kemana?"


"Aku harus pulang ke Colorado karena ada urusan penting."


"Tidak mau menunggu tuan muda kembali?" tanya Ron lagi.


Samantha menggeleng, dia tidak punya banyak waktu untuk menunggu sampai pria itu kembali.


"Nona, apa terjadi sesuatu?" tanya Ron lagi.


"Ron, aku tidak bisa mengatakannya. Aku hanya minta tolong padamu, tolong jaga Edward untukku." pintanya.


"Pasti, aku akan menjaganya sampai nona kembali."


"Terima kasih. Bisa hentikan mobilnya?" pintanya.


Ron segera memerintahkan supir yang membawa mobil itu untuk menghentikan mobilnya.


Sebelum Samantha keluar dari mobil itu, Samantha memeluk Edward dengan erat.


"Sayang, mommy harus pergi."


"Where are you going mom?"


"Mommy ada urusan sayang jadilah anak baik dan dengarkan perkataan uncle Ron."


Edward mengangguk dan Samantha kembali memeluk Edward. Jujur dia sangat takut tidak bisa kembali lagi untuk menemui Edward.


Walapuan dia tidak kembali nantinya dia yakin Edward akan selalu aman bersama Jhon dan dia percaya pria itu akan menjaga Edward untuknya.


"I love you my honey." katanya.


"I love you too mom."


Samantha menghapus air matanya dan melepaskan pelukannya.


"Ron, jika Jhon kembali tolong berikan ini padanya."


Samanta memberikan kertas yang tadi dia tulis tadi ketangan Ron.


Ron mengangguk,bmengambil kertas itu dan menyimpannya.


"Nona, sebentar."


Ron mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik saku jas yang dipakainya dan memberikan benda itu pada Samantha.


"Aku lupa memberikannya pada nona, tuan muda menitipkan ini sebelum pergi." tuturnya.


Semantha mengambil kotak itu dan membuka isinya, sebuah kalung.


Samantha tersenyum dan segera memakai kalung itu.


"Sampaikan ucapan terima kasihku padanya."


Ron menjawab dengan sebuah anggukan.


Setelah itu Samantha menciumi pipi Edward dan keluar dari mobil, dia hanya berdiri di sisi jalan sambil memandangi kepergian mobil yang membawa Edward.

__ADS_1


Setelah mobil itu tidak terlihat lagi, Semantha menyetop sebuah taxi untuk membawanya menuju bandara karena dia harus kembali kerumahnya untuk menyelamatkan kedua orang tuanya.


__ADS_2