
Samantha segera turun dari mobil dan menggendong Edward saat mereka sudah tiba diapertemennya.
Supir pribadi Jhon mengambil barang milik Edward dibagasi dan segera memberikan barang itu pada bosnya.
Setelah itu mereka berjalan bersama menunggu lift yang akan membawa mereka kekamar apartemen Samantha.
"Baby, apa Edward tidur?"
"Sepertinya." jawab Samantha.
Samantha mengusap kepala Edward yang bersandar pada bahunya, selama didalam perjalanan kembali Edward tertidur diatas pangkuannya.
"Apa perlu aku yang gendong?" tanya Jhon lagi karena dia tidak tega melihat Samantha menggendong Edward.
"Tidak perlu Jhon, aku masih bisa mengatasinya."
Saat pintu lift yang mereka tunggu terbuka, mereka segera masuk kedalam dan menutup pintu itu kembali.
"Baby, kau itu benar-benar istri idaman."
"Jangan menggodaku, semua wanita bisa melakukannya."
"Baby, asal kau tahu, tidak semua wanita bisa sepertimu. Kau belum pernah menikah dan punya anak, tapi kau sudah bisa menjaga Edward. Kau benar-benar luar biasa kau tahu?" puji Jhon.
"Terima kasih Jhon, kau tidak perlu memuji. Aku bisa karena bantuan bibi Ann."
"Bukan itu maksudku sayang, kau merelakan waktu dan tenagamu untuknya dan jika Silvia berada diposisimu, aku sangat yakin dia tidak akan bisa!"
"Kau tahu, sekalipun aku hidup miskin aku akan tetap memberikan yang terbaik untuk Edward." kata Samantha.
"Sayang, kau itu seperti seorang pahlawan bagi Edward."
Samantha hanya tersenyum dan kembali membelai kepala Edward, dia memang akan melakukan apapun untuk Edward walaupun Edward bukan darah dagingnya.
Saat pintu lift sudah terbuka, mereka keluar dari sana dan Jhon melingkarkan tangannya dipinggang Samantha.
Baru saja mereka melangkahkan kaki mereka beberapa langkah ,didepan pintu apartemen Samantha tampak seorang pria sedang melotot kearah mereka.
Samantha dan Jhon langsung menghentikan langkahnya dan menatap pria itu dengan tajam.
"Frans!" gumam Samantha dan dengan cepat dia mundur kebelakang dan bersembunyi dibalik tubuh Jhon.
Frans yang melihat kedatangan mereka langsung dikuasai Emosi, kenapa wanita yang dia incar bisa bersama dengan Jhon?
"Baby, cepatlah kembali ke lift dan tunggu aku dimobil." perintah Jhon.
"Bagaimana denganmu?" tanya Samantha kawatir.
__ADS_1
"Sayang, jangan kawatirkan aku tapi kawatirlah dengan Edward. Jangan sampai Frans melihatnya karena ini akan menjadi hal yang tidak bagus."
Samantha mengangguk dan segera memutar langkahnya dan kembali kelift, tangannya memegangi kepala Edward agar wajah Edwrad tidak dilihat oleh Frans.
"Samantha, mau kemana kau?"
Frans berteriak dan berjalan dengan cepat menghampiri mereka.
Samantha berdiri didepan pintu lift yang masih bergerak naik dengan cemas.
Frans hendak mengejarnya dan hendak melewati Jhon begitu saja tapi Jhon segera menghalanginya.
"Ups...Frans. Kau tidak boleh kesana!"
Jhon berdiri didepan Frans sehingga pria itu tidak bisa mendekati Samantha dan Edward.
"Aku tidak ada urusan denganmu!" kata Frans kesal.
"Tentu ada? Jika kau berani mendekati wanitaku maka kau akan berurusan denganku!"
"Wanitamu?" Frans tertawa terbahak-bahak.
"Kau sungguh serakah! Berapa wanita yang kau punya, hah? Kau selalu merebut apa yang jadi milikku!" katanya kesal.
Jhon hanya diam saja dan melirik kearah Samantha yang memandang kearahnya, dia tidak boleh memancing emosi Frans sebelum Samantha dan Edward masuk kedalam lift dan aman.
"Samantha, aku ingin berbicara denganmu!" teriak Frans lagi.
Teriakan Frans begitu kencang sampai membuat Edward kaget dan terbangun dalam gendongan Samantha.
"Mommy, What happen?"
Edward mengangkat kepalanya sejenak tapi dengan cepat Samantha menekan kepala Edward hingga wajah Edward kembali bersembunyi dilehernya.
Dengan perasaan ketakutan Samantha langsung berlari kearah anak tangga, dia tidak mau menunggu lift lagi disana karena bisa saja Frans melihat wajah Edward.
"Samantha, tunggu!" teriak Frans.
"Frans, sudah aku bilang jangan menganggu wanitaku!"
Jhon menekan setiap perkataannya, dia sudah tenang saat melihat Samantha membawa Edward berlari menuruni tangga.
"Jhon, kau ba**ngan. Kenapa kau selalu merebut wanita yang aku sukai?"
Frans mulai kesal karena Samantha telah kabur darinya dan Jhon menghalanginya.
"Jangan salah paham, aku tidak merebut apapun darimu!"
__ADS_1
"Kau! Setelah merebut Stela dariku dan membunuh anakku sekarang kau mau merebut Samantha Jackson dariku?"
Jhon tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Frans.
"Percayalah, aku tidak merebut apapun darimu. Stela yang memaksa ingin menjadi tunanganku dan aku juga tidak membunuh anakmu karena aku tidak tahu apa-apa. Seharusnya kau menyalahkan Stela atas semua yang terjadi diantara kalian berdua!" katanya.
"Kau tahu, sedari dulu aku sangat membencimu!" Frans menatap Jhon dengan tajam dan api kebencian jelas terpancar dari tatapan matanya.
"Terima kasih." jawab Jhon cuek
"Kau!" Frans benar-benar emosi.
"Sekarang aku tambah membencimu, tidak hanya merebut Stela tapi kau merebut Samantha dariku!" Frans mengulangi perkataannya.
"Frans, jika kau pintar, sebaiknya kau pergi dari sini!"
Jhon mengeluarkan sebuah pistol yang ada dibalik bajunya dan mengarahkan benda itu tepat dikepala Frans. Benda itu memang selalu dia bawa untuk berjaga-jaga.
"Aku bukan orang yang suka bernegosiasi jadi sebaiknya kau pergi dan jangan mengganggu Samantha!"
Frans menatap tajam kearah Jhon, dia tidak menyangka Samantha memiliki hubungan dengan Jhon. Karena hari ini dia hanya mau bertemu dengan Samantha dan mendekati nya, jadi dia tidak membawa senjata.
Walaupun tali pertunangan mereka telah diputuskan begitu saja, dia masih berniat mengenal Samantha lebih jauh.
Tapi saat melihat Samantha bersama dengan Jhon membuatnya sangat emosi, kenapa setiap perempuan yang dia sukai menempel pada Jhon?
"Jhon, aku akan membuat perhitungan denganmu dan kali ini aku pastikan, akan merebut Samantha Jackson darimu sehingga kau merasakan apa yang aku rasakan tiga tahun lalu saat kehilangan orang yang sangat aku cintai!" ancam Frans.
"Aku bukan orang yang takut pada ancaman jadi aku akan menantikan balasan darimu!" jawab Jhon dengan santai.
Pintu lift yang ditunggu Samantha tadi berbunyi dan terbuka, Frans masih menatap Jhon dengan api permusuhan diantara mereka, dengan memendam kekesalan dihati Frans berlalu dari hadapan Jhon dan menuju kepintu lift.
Jika dia bersikeras untuk melawan Jhon saat itu maka akan sia-sia, pria itu bisa menembakkan senjatanya kapan saja.
Setelah kepergian Frans, Jhon menurunkan senjatanya dan menyimpannya kembali. Dia tidak menyangka Frans bisa ada disana.
Sepertinya, keselamatan Samantha dan Edward mulai terancam. Frans tidak akan pernah main-main dengan ancamannya.
Jhon segera mengambil ponselnya dan menghubungi supir pribadinya.
"Apa Samantha dan Edward ada dimobil?" tanyanya.
"Tidak ada bos!"
Jhon menahan nafasnya dan segera mematikan ponselnya.
"Oh Si*lan. Jangan sampai Frans dan Samantha bertemu dibawah!" Dia segera memutar langkahnya dan berharap, Frans dan Samantha tidak bertemu dibawa sana.
__ADS_1