
Samantha memejamkan matanya sejenak dan menepis pegangan tangan Jhon.
"Pakai bajumu dulu!"
Setelah berkata demikian Samantha segera berlalu pergi dan keluar dari kamarnya, dia masih bimbang apakah perlu menceritakan masa lalu Edward pada Jhon?
Pria itu bukan siapa-siapanya, bahkan kedua orang tuanyapun tidak tahu dia mengasuh Edward. Apakah tepat menceritakan masalah ini pada Jhon?
Setelah meletakkan kotak obat Samantha segera menuju kedapur dan membuatkan susu hangat untuk Jhon, dia berlama-lama mengaduk susu didalam gelas karena enggan kembali kedalam kamarnya karena dia tahu Jhon pasti akan menanyakan masalah Edward kembali.
Sepuluh menit telah berlalu, susu yang berada didalam gelas sudah mulai mendingin. Samantha menarik nafasnya, sepertinya dia tidak punya pilihan lain selain menceritakan masa lalu Edward pada Jhon.
Dia segera meraih gelas susu dan masuk kembali kedalam kamar, disana Jhon telah memakai pakaiannya dan menunggunya.
"Kenapa begitu lama?"
Samantha kembali menarik nafasnya dan memberikan gelas susu itu pada Jhon.
"Minum ini, aku dengar susu bisa menetralkan pengaruh obat!"
Jhon mengambil gelas susu itu dan segera meneguknya, dia sudah tidak sabar mendengar kebenaran dari mulut Samantha.
Samantha duduk disisi ranjang dan memperhatikan Jhon yang berjalan dengan susah payah kearahnya dan duduk disebelahnya.
"Apa kakimu masih berdarah?" tanyanya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat katakan padaku, apa Edward bukan anakmu?" tanyanya tanpa basa basi.
"Benar!" jawabnya.
Jhon terbelalak kaget, mana mungkin?
"Kau bercanda bukan? Kau mengatakan ini supaya aku tidak menyentuhmu." katanya tidak percaya.
"Entah kenapa, kau selalu menganggap perkataanku sebagai sebuah candaan." jawab Samantha.
"Bagaimana aku bisa percaya? Kau terlalu misterius dan selalu menjawab pertanyaanku seperti sebuah candaan belaka!"
Samantha terseyum kearahnya, memang dia berharap Jhon tidak perlu tahu tentang kehidupannya dan Edward.
"Jadi benar? Waktu itu kau bilang belum pernah menikah apa itu juga benar?" tanya Jhon.
"Jhon, sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini pada siapapun. Bahkan kedua orang tuaku pun tidak mengetahui ini."
Samantha menatap pria itu dengan serius dan sebelum mengatakan kebenarannya Samantha menarik nafasnya kembali.
"Edward bukan anakku, dia hanya bayi yang aku temukan didepan rumahku tiga tahun lalu dan aku mengadopsinya karena kasihan."
Wajah Jhon menegang, apa Samantha sedang tidak bercanda?
"Apa kau pernah mendengar Alex Jackson menikahkan putri nya?" tanyanya.
Jhon hanya menggeleng.
"Aku putri satu-satunya, seandainya aku menikah ayahku pasti akan membuat pengumuman dimana-mana dan sebagai seorang pengusaha kau pasti akan tahu. Tiga tahun lalu aku lari dari rumahku karena tidak mau mengikuti keinginan ayahku, aku bekerja dicafe pinggir pantai dan pada malam yang dingin, aku menemukan seorang bayi yang masih merah didepan rumahku." jelasnya panjang lebar.
"Jadi benar kau belum pernah menikah dan Edward bukan anakmu?" tanyanya meyakinkan.
__ADS_1
"Kau masih belum percaya?"
"Bukan begitu, aku sangat kaget mendengarnya. Aku kira Edward?"
"Jhon, aku wanita terhormat. Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu dalam keadaan sadar dan aku bukan wanita yang mau bermain dengan sembarang orang sampai aku menikah. Apalagi melihat kehidupan Edward, aku sungguh mengutuki orang tua yang membuangnya. Asal kau tahu, aku juga bukan wanita yang mau menikah dengan sembarang orang sebab itulah aku pergi dari rumah ayahku."
Jhon meraih tangan Samantha dan menggenggamnya dengan erat.
"Sory baby, aku hampir saja menodaimu."
Samantha hanya tersenyum kearahnya, dia tahu jika Jhon hendak melakun hal itu karena pengaruh obat.
"Tidak apa-apa, lagi pula kau sedang didalam pengaruh obat!" jawabnya.
"Jadi, tiga tahun lalu kenapa kau berani merayuku dihotel?" tanya Jhon lagi.
Samantha menatap Jhon dengan heran.
"Dihotel? Apa kau pria yang berada dihotel waktu itu?" tanyanya tidak percaya.
"Benar! Beraninya kau meninggalkan aku begitu saja setelah berani merayuku!"
"Maaf, aku tidak bermaksud merayumu. aku dijebak oleh manajerku."
"Dijebak? Bagaimana bisa?"
"Aku tidak bisa mengkonsumsi minuman beralkohol dan aku dijebak dengan minuman memabukkan itu." jelasnya.
Jhon tersenyum senang, dia segera menarik tubuh Samantha dan memeluknya dengan erat.
Bahkan pada malam sebelum dia hilang ingatan, dia kembali kecafe pinggir pantai tempat Samantha bekerja hanya untuk melihatnya tapi dia tidak menyangka, ternyata perempuan itulah yang menolongnya.
"Baby, sepertinya kita berjodoh." katanya.
"Apa? Aku tidak mau berjodoh denganmu!"jawab Samantha dengan ketus.
Jhon terkekeh dan membelai punggung Samantha dengan lembut.
"Terima kasih telah mengatakan semuanya padaku. Aku akan selalu menjaga Edward seperti kau menjaganya apapun yang akan terjadi nanti."
"Jhon, tolong rahasiakan ini. Jangan katakan pada siapapun tentang hubunganku dengan Edward, aku sangat menyayanginya dan walaupun dia bukan darah dagingku, tapi dia segalanya bagiku." pintanya.
"Tentu sayang, rahasiamu akan menjadi rahasiaku juga."
"Terima kasih."
Samantha memejamkan matanya, mungkin setelah tahu kebenarannya, Jhon akan membantunya melindungi Edward dari ibu kandungannya.
Jhon melepaskan pelukannya dan menatap Samantha dengan lekat.
"Mulai sekarang, jika ada sesuatu katakan padaku. Jangan menyembunyikan apapun lagi dariku!"
Samantha mengangguk. Kenapa Jhon begitu peduli dengannya dan Edward?
Jhon mendorong tubuh Samantha dengan pelan hingga wanita itu tertidur diatas ranjang. Jhon berbaring disisinya dan menahan kepalanya dengan satu tangannya.
"Jadi benar kau masih perawan?" tanyanya.
__ADS_1
"Sialan! Masih tidak percaya!" maki Samantha.
"Sayang, aku sangat senang mendengarnya."
"Kenapa kau harus senang?"
"Jagalah keperawananmu untukku sampai waktunya tiba."
"Mau mati ya! Aku akan menyimpannya untuk suamiku kelak!"
"Apa aku tidak bisa menjadi suamimu?"
"Kau? Kau pria pertama yang aku banned dalam hidupku!"
"Baby, kau sungguh tega!"
Jhon mendekatkan bibirnya dan menciumi bibir Samantha. Dia sangat senang Samantha sudah mau mulai terbuka padanya.
Dengan begini hubungan mereka sedikit demi sedikit akan menjadi semakin dekat.
"Boleh aku tidur denganmu?" tanyanya.
"No!"
"Oh come on, aku tidak bisa pulang karena kakiku sangat sakit."
"Itu bukan salahku!" Samantha membuang wajahnya kesamping.
"Baby ingat peraturannya, kau harus selalu menuruti semua perkataan ku!"
"Apa?"
"Aku ingin tinggal disini selama beberapa hari sampai kakiku sembuh, aku ingin tidur denganmu setiap hari, aku juga ingin kau melayaniku setiap hari." katanya sambil tersenyum usil.
"Apa? Dasar iblis!"
"Jika kau punya istri nanti sudah dipastikan wanita itu pasti akan lari hanya dalam satu hari saja!" kata Samantha kesal.
Jhon terkekeh, pria itu segera menarik Samantha dalam pelukannya.
"Baby, percayalah, aku sedang mentraining calon istriku."
"Pria gila, jangan asal bicara!"
Jhon memegangi wajahnya dan menciumnya dengan mesra dan setelah itu, mereka saling pandang sesaat tapi tidak lama kemudian mereka kembali berciuman dengan mesra.
Sementara itu diparkiran.
Seorang supir pribadi sedang terlantar, supir itu menunggu dengan harce (harap-harap cemas).
Supir itu sudah modar mandir keluar masuk dari mobil, pria itu melihat jam diarloji yang dipakainya, sudah tengah malam.
Dia tidak mendapat perintah apapun dan ditinggalkan begitu saja. Dia ingin tidur dimobil tapi takut bosnya tiba-tiba kembali, jika itu terjadi, maka bisa dibayangkan dia akan langsung dipecat saat itu juga.
Pria itu kembali masuk kedalam mobil dan menguap panjang.
"Bos, kenapa begitu lama? Aku sudah mengantuk!" gumamnya.
__ADS_1