
Samantha terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ponsel yang berbunyi dan dengan malas Samantha meraih ponsel itu dan melihatnya.
Bukan ponselnya, melihat itu Samantha melemparkan ponsel itu dan kembali memejamkan matanya.
Tapi kemudian Samantha menyadari sesuatu dan bangun dari tidurnya dengan cepat. Ponsel Jhon? Kenapa ada disana?
Samantha melihat ponsel itu kembali. Apa Jhon lupa membawanya?
Tapi dia sedang malas memikirkannya, pria itu pasti tidak bisa masuk kedalam rumahnya karena tidak ada kuncinya. Samantha segera bangun dan mengambil ponselnya yang berada didalam tas.
Sudah pukul delapan dan Samantha segera melemparkan ponselnya diatas ranjang. Ternyata dia tidur cukup lama walaupun begitu pegal dikakinya masih terasa.
Sambil merenggangkan otot tangannya Samantha berjalan kearah kamar mandi, dia ingin berendam air hangat karena sudah lama tidak melakukannya.
Samantha menutup pintu kamar mandinya dengan asal karena dia pikir tidak ada orang selain dirinya disana.
Dia mulai mengisi air bathub dan menuangkan sedikit aroma terapi disana, gara-gara Silvia, tubuhnya sangat pegal dan hari ini dia tidak mau pergi bekerja.
Dia tidak perduli Jhon akan marah atau tidak, lagi pula semua yang dia alami gara-gara adiknya.
Setelah air bathub terisi penuh, Samantha segera membuka pakaiannya dan masuk kedalam bathub, air hangat yang menyentuh kulitnya membuatnya terasa nyaman.
Samantha mengangkat kepalanya, bersandar pada ujung bathub dan memejamkan matanya. Aroma terapi yang dia tuangkan tadi kedalam bathub membuat perasaannya menjadi ringan.
Tanpa sadar, dia mulai tertidur disana karena dia masih merasa lelah.
Saat itu, Jhon masuk kedalam kamar dan mendapati Samantha sudah tidak ada diatas ranjang.
Jhon segera masuk kedalam kamar mandi dan pada saat melihat Samantha tertidur didalam bathub, senyum Jhon langsung mekar diwajahnya.
Jhon berjongkok didekat Samantha dan mengusap wajahnya dengan lembut.
Dia seperti itu cukup lama karena dia merasa tidak puas melihat wajah cantik Samantha, ingin rasanya dia seperti itu selama berjam-jam tapi jika terlalu lama maka Samantha bisa masuk angin.
"Baby, apa kau berencana tidur disini seharian?"
Samantha membuka matanya saat mendengar suara Jhon, dia begitu kaget melihat Jhon ada disana. Kenapa bisa? Bagaimana Jhon masuk kedalam rumahnya?
Dia melotot kearah Jhon sedangkan Jhon hanya tersenyum dan mengusap pipinya kembali.
"Jhon, kenapa kau ada disini?" teriaknya.
Samantha menyadari jika dia sedang mandi dan dengan cepat Samantha duduk dibathub, menekuk kedua kakinya untuk menutupi dadanya.
"Baby, jangan tidur disini, nanti kau masuk angin."
"Jhon, kenapa kau bisa masuk kedalam rumahku?"
"Bukankah kau meninggalkan kunci rumahmu untukku? Jangan bilang kau lupa sayang."
"Hah?" Samantha merasa bodoh sekarang. Kenapa dia bisa lupa?
__ADS_1
"Jhon, keluar sana! Aku sedang mandi!" usirnya.
"Ya..aku akan keluar tapi jangan terlalu lama, nanti kau bisa masuk angin."
"Lama? Aku baru saja masuk!"kata Samantha kesal.
"Baby, aku sudah disini memperhatikanmu selama sepuluh menit, apa kau tidak kau baru saja masuk?"
Perkataan Jhon membuat wajah Samantha merah padam. Sepuluh menit memperhatikannya dalam keadaan telanjang? Yang benar saja?
Samantha menceburkan kepalanya kedalam air bathub karena malu ternyata Jhon melihatnya sedari tadi.
Jhon terkekeh pelan, dia bangkit berdiri untuk mengambil sebuah handuk dan setelah itu, Jhon menarik tangan Samantha hingga wanita itu bangkit berdiri.
"Sayang, tidak perlu malu. Bukankah aku sudah pernah melihatnya?"
Jhon melilitkan handuk ditubuh Samantha, membawa wanita itu dalam gendongannya dan membawanya keluar dari kamar mandi.
"Uhh..kenapa kalian berdua begitu menyebalkan!" kata Samantha kesal.
"Kami berdua? sayang, apa Silvia begitu keterlaluan menggodamu?"
"Menurutmu? Aku sangat berterima kasih berkatnya hariku sangat menyenangkan." sindirnya.
Jhon meletakkan Samantha diatas ranjang dengan senyum diwajahnya, tidak hanya itu, dia juga mengambil handuk kecil dan mulai mengeringkan rambut Samantha yang basah.
"Baby, maafkanlah dia. Silvia masih kekanakan." pintanya.
Samantha memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Jhon dirambutnya.
Sebenarnya dia sangat kesal dengan Jhon dan juga Silvia tapi dia sudah malas memperdebatkannya.
"Baby."
"Hm."
Jhon menghentikan tangannya dan menarik Samantha hingga bersandar didadanya.
"Apa kau mencintaiku?"
Jhon mulai menunduk dan menciumi bahunya yang terbuka.
Samantha mengangkat tangannya, memegangi kepala Jhon dan membelai rambutnya.
"Sayang, katakan kau cinta padaku!" bisik Jhon ditelinganya.
Jhon mengangkat dagu Samantha dan menciumi bibirnya.
"Apa itu penting?" tanya Samantha.
"Of course baby."
__ADS_1
Samantha memalingkan wajahnya, kenapa Jhon sangat ingin mendengar cinta dari mulutnya?
Jhon menatapnya dengan lekat, entah kenapa dia sangat ingin mendengar Samantha mengucapkan cinta untuknya.
Sampai saat ini Samantha tidak pernah mengatakan cinta untuknya, apakah Samantha masih belum menyukainya? Apa tidak ada sedikit rasa cinta dihati Samantha untuknya?
Jhon segera menarik Samantha dan memeluknya dengan erat.
"Lupakan, aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu sampai kau mengucapkan kata itu dari mulutmu tapi ingat, jangan membuatku lama menunggu sayang."
Samantha masih diam saja, dia sendiri belum begitu yakin dengan perasaan. Tapi dia merasa nyaman jika bersama dengan Jhon, apa ini bisa disebut cinta?
Jhon membaringkan Samantha diatas ranjang dan setelah itu Jhon tidur disisi Samantha dan memeluknya dengan erat.
"Jhon?"
"Hmm?"
"Tidak ada!"
"Apa sih, jangan membuat orang penasaran!" kata Jhon kesal.
Samantha membenamkan wajahnya didada Jhon sedang dia masih berusaha mencari jawaban didalam hatinya. Apa dia mencintai Jhon?
"Jhon."
"Oh baby, kau benar-benar ingin bermain kata-kata denganku!" Jhon mulai kesal.
Samantha mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Jhon, kemudian Samantha mencium wajah pria itu dengan mesra.
"Jhon, apa begitu penting pernyataan cinta dariku?" tanyanya.
"Tentu saja baby, itu sangat penting untukku karena aku sangat serius denganmu dan aku begitu mencintaimu! Aku harap kau juga memiliki perasaan yang sama denganku tapi jika sekarang kau belum bisa menjawabnya dan belum tahu dengan perasaanmu maka tidak apa-apa, aku akan sabar menunggu."
Mereka saling melemparkan tatapan, Samantha melihat mata Jhon dalam-dalam dan dia tidak mendapati kebohongan disana.
"Jhon, aku?"
Perkataannya terhenti oleh dering ponsel yang dia lemparkan tadi diatas ranjang.
"Apa, kau mau bilang apa?" Jhon sangat penasaran.
"Tunggu sebentar, aku jawab ponselku dulu."
"No baby. Matikan ponselmu dan katakan kelanjutan ucapanmu tadi." kata Jhon dengan tidak sabar.
Jhon kesal, suara ponsel itu menghentikan perkataan Samantha. Dia ingin menyambar ponsel yang dipegang oleh Samantha tapi wanita itu langsung duduk diatas ranjang.
Samantha menjawab panggilan yang masuk itu dengan cepat.
"Aku dan ibumu sudah tiba dibandara jadi katakan dimana rumahmu sekarang juga, kami akan kesana."
__ADS_1
Samantha sangat kaget dan menahan nafasnya.
"Daddy?" gumamnya dan dia merasa ini bukan hal yang bagus.