
Beberapa menit telah berlalu tapi Samantha masih diam saja belum menjawab pertanyaan dari Jhon.
Dia sendiri tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Jhon sedangkan Jhon sudah mulai tidak sabar menanti jawaban darinya.
"Hei kenapa kau diam saja? Jawab pertanyaanku, apa kau pernah berhubungan dengan frans?
"Frans?" tanya Samantha
"Ya." jawab Jhon singkat
"Franskenstein?" Samantha bertanya dengan asal.
"Oh come on, aku sedang tidak bercanda." Jhon mulai kesal.
"Aku juga tidak bercanda." Jawab Samantha.
"Sam, kenapa kau tidak pernah menjawab pertanyaanku dengan serius?" tanyanya penasaran.
"Jhon, aku sudah pernah bilang ayah Edward sudah mati. Apa orang yang kau panggil Frans itu sudah mati?"
Jhon hanya menggeleng.
"Lagi pula kenapa kau sangat penasaran dengan ayah Edward? Apa itu sangat penting bagimu?"
Samantha menatap kearahnya dengan serius.
"Tentu saja penting." Jawab Jhon dengan cepat.
"Kenapa?"
"Hmmm, itu?"
Jhon ragu mengatakannya, tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia hanya ingin memastikan apakah Edward dan Samantha memiliki hubungan dengan Frans musuhnya.
"Jhon, bagaimana jika aku mengatakan ini!"
"Apa?"
Samantha menarik nafasnya sejenak dan melihat kearah kulkas.
"Aku belum pernah menikah!"
Jhon terbelalak kaget, apakah yang diucapkan oleh Samantha adalah benar? Jhon menatap Samantha dengan serius tapi kemudian dia tertawa melihat expresi Samantha yang tidak serius saat mengatakan itu.
"Baby, kau punya selera humor yang bagus."
Samantha menyunggingkan bibirnya, seperti yang dia tebak, Jhon tidak akan percaya dengan perkataannya. Sebab itulah dia mencoba mengatakan itu untuk melihat reaksi Jhon.
"Kau tidak percaya bukan?" tanyanya.
"Tentu saja tidak sayang, jika kau belum pernah menikah lalu Edward datang dari mana? Aku tahu kau bukan perempuan seperti itu!"
"Baguslah, aku hanya mengetesmu saja."
Samantha bangkit berdiri dan meluruskan kedua tangannya yang terasa pegal.
"Mau kemana?"
"Tidur! Kau tidak mengijinkan aku pulang bukan? Jadi biarkan aku tidur sampai jam kerjaku selesai."
"Baby, apa kau mengajakku tidur bersama?" tanya Jhon menggoda.
"Stupid man!" maki Samantha kesal.
Jhon hanya terkekeh, dia segera bangkit berdiri dan menghampiri Samantha. Tanpa Samantha duga, Jhon mengangkat tubuhnya dan menggendongnya.
"Jhon, apa kau gila ya!" Maki Samantha lagi.
"Sayang, Satu makian satu hukuman!"
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Perjanjian nomor seratus dua puluh: Jika kau berani memakiku maka kau harus menerima hukuman dariku." Jelas Jhon.
Mulut Samantha ternganga seperti orang bodoh. Perjanjian macam apa itu?
"Kau bercanda ya?"
"Baby, apa aku terlihat sedang bercanda? Sebaiknya kau rem mulutmu dan setelah ini kau harus membaca isi surat kontrak itu baik-baik tapi sebelum itu, aku akan menghukummu sampai puas hari ini!"
Wajah Samantha langsung pucat saat Jhon membawanya menuju kamarnya.
"Tuan Smith, bisa kita bicarakan baik-baik?" pintanya.
"Apa kau tahu? Dalam surat kontrak itu juga menyebutkan jangan memanggilku tuan Smith!"
"Jhon, Kau!"
Samantha langsung menutup mulutnya untuk menghentikan makiannya, jika dia berbicara lebih jauh lagi bisa-bisa Jhon tidak akan membiarkannya pulang.
Jhon hanya tersenyum senang melihatnya dan membawa Samantha masuk kedalam kamarnya.
"Baby, kau benar-benar minta dihukum!"
"Sialan! Jangan sampai keperawananku hilang oleh pria gila ini." maki Samantha dalam hati.
Saat sudah berada didalam kamar, Jhon hendak menurunkan tubuh Samantha diatas ranjang tapi wanita itu memeluk lehernya dengan erat dan tidak mau melepaskan diri darinya.
"Baby, apa sebegitunya kau tidak ingin lepas dariku?" godanya.
"Jhon aku peringatkan padamu, jangan macam-macam denganku!" ancamnya
Samantha sengaja memeluk tubuh Jhon dengan erat karena dia takut turun diatas ranjang dan takut Jhon akan menggerayanginya.
Saat ini dia sudah bagaikan kelinci yang ketakutan didepan serigala yang lapar.
"Jhon, aku sedang datang bulan. Jadi tolong jangan melakukan itu denganku!"
"Datang bulan?"
"Benar!"
"Hahahahahahaha!" Jhon tertawa terbahak-bahak.
"Sam, kau selalu punya kejutan baru! Hahahahahha!"Jhon kembali tertawa sampai mereka berdua jatuh diatas ranjang.
Samantha begitu malu dan dengan cepat dia menarik bantal untuk menutupi wajahnya yang merah padam.
"Jhon, hentikan tawamu itu." katanya kesal
"Sayang, aku tidak menyangka pikiranmu begitu liar."bJhon berusaha menghentikan tawanya tapi tidak bisa.
Samantha melemparkan sebuah bantal kearah Jhon dan menggerutu kesal.
Dia mulai marah dan membalikkan badannya untuk membelakangi pria itu.
"Jhon, jika kau masih terus tertawa maka aku akan memukulmu sampai mati." ancamnya.
"Oke, maaf. Aku akan berhenti tertawa."
Jhon mendekatinya dan menarik tangan Samantha hingga tertidur diatas ranjang.
"Jhon, apa yang mau kau lakukan?"
"Memangnya kau pikir apa yang mau aku lakukan? Kau bilang mau tidur bukan?"
"Tapi kenapa aku harus tidur denganmu dan didalam dikamarmu?"
"Sebaiknya jangan banyak bertanya dan melawan sayang atau kita benar-benar tidak akan jadi tidur." ancam Jhon.
__ADS_1
"Uhh!" Samantha begitu malu dan membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Jhon.
Jhon tersenyum dan tidur disisinya, tangannya sudah melingkar ditubuh Samantha dan memeluknya dari belakang.
"Sam, apa kabar Edward?"
"Baik." jawabnya.
Jhon membelai rambut panjangnya dan terkadang menciumi aroma sampo dirambutnya.
"Apa Edward mencariku?" tanyanya lagi
"No!" jawab Samantha singkat.
"Kau bohong, aku tidak percaya dengan penipu kecil sepertimu!"
Samantha hanya diam saja dan memejamkan matanya, seharian membersihkan rumah Jhon benar-benar membuatnya sangat lelah.
"Sam, boleh aku bertemu Edward?"
"Tidak boleh!" jawabnya cepat.
"Kenapa?"
"Jhon, Edward sudah tidak pernah mencarimu jadi aku tidak mau dia terlalu berharap padamu. Aku juga tidak mau dia dalam bahaya lagi." jelasnya.
"Apa maksudmu?"
Samantha tidak menjawab pertanyaan Jhon dan lebih mememilih tidur dari pada menjawab pertanyaan Jhon.
"Sam?"
Jhon mencoba menggoyang tubuh Samantha tapi sepertinya dia sudah tertidur.
Jhon segera menarik selimut dan menutupi tubuh Samantha.
"Apa maksudnya tidak akan membiarkan Edward dalam bahaya lagi? Apa ada yang dia lewatkan?"
Walaupun dia sangat penasaran tapi dia tidak akan memaksa Samantha untuk mengatakan semuanya saat ini, lagi pula lambat laun dia pasti akan mengetahui semuanya.
Lebih baik dia tidur saja dan lagi pula, dia tidak akan melepaskan Samantha dan akan menjeratnya.
Jhon mencium ujung kepala Samantha dan memeluknya dengan erat, sekarang mereka sudah seperti waktu itu lagi dan dia benar-benar senang.
Dia akan berusaha mengambil hati Samantha bagaimanapun caranya dan tidak akan membiarkan siapapun mengganggu Samantha dan Edwrad.
Sedangkan saat itu ditempat lain, seorang pria tampan sedang menghubungi seseorang lewat ponselnya dan pria itu adalah Frans.
Setelah melihat Samantha direstoran, Frans semakin penasaran dan ingin cepat bertemu dengan perempuan yang akan ditunangkan dengannya.
"Tuan Alex, kapan aku bisa bertemu dengan calon tunanganku?"
"Frans, kau tidak perlu kawatir, putriku bilang dia akan pulang." jawab Alex Jackson disebrang sana.
"Kapan? Ini sudah begitu lama?" tanyanya tidak sabar.
"Maafkan, aku akan coba menghubunginya kembali. Jika dia tidak mau pulang maka aku akan pergi menemuinya dan mengatur pertemuan kalian."
"Baiklah, aku tunggu tapi ingat, aku tidak suka terlalu lama menunggu."
"Kau tidak perlu kawatir Frans, secepatnya setelah urusanku selesai." Jawab Alex Jackson memastikan.
Frans mematikan ponselnya, menghisap rokoknya dan melihat sebuah foto ditangannya.
"Samantha Jackson, aku sudah tidak sabar bertemu denganmu lagi." gumamnya.
#Frans#
__ADS_1