
Setelah tiba disekolah Edward, Jhon segera turun dari mobilnya dan mengikuti Edward.
Ini pertama kalinya dia pergi kesekolah Edward, Jhon memerintahkan supir dan bodyguardnya untuk pergi.
Dia tidak mau apa yang pernah dialami olehnya waktu kecil akan dialami oleh Edward pula.
Dengan penuh percaya diri Jhon mengikuti Edward yang tampak ceria menuju keruangan kelasnya.
Dia tidak tahu harus kemana selain mengikuti Edward dan dia melihat sekolah Edward yang tampak biasa saja.
Selama ini dia tidak pernah tahu tempat Edward bersekolah, sekolah itu tampak biasa saja dan mungkin setelah ini, dia akan memindahkan Edward kesekolah yang lebih bagus lagi
"Daddy, lets go." ajak Edward dengan tidak sabar.
Jhon mengangguk dan mengikuti Edward masuk kedalam ruangan kelasnya.
Edward berlari masuk kedalam sedangkan Jhon menghentikan langkahnya didepan pintu.
Pria itu menelan ludahnya saat semua mata yang ada disana menatap kearahnya.
Tiba-tiba saja mereka berteriak secara serempak.
"Waaaaaaaaaaaaaahhhhhh..!!"
Oh no?
Jhon menelan ludahnya dengan kasar, sepertinya ini bukan hal baik tapi dia tidak akan bisa kabur dari sana dan harus tetap menemani Edward.
Saat hari sudah siang.
Samantha menaiki sebuah taxi untuk bertemu bertemu dengan Amber, mereka telah berjanji untuk bertemu disebuah restoran.
Samantha berjalan dengan cepat dan tampak Amber sudah menunggu disana dengan cantiknya.
"Amber, sorry telah membuatmu lama menunggu." ujarnya.
"No problem Sam."
Amber bangkit berdiri dan memeluk sahabatnya.
"Hei, mana pria yang mau kau kenalkan padaku?" tanyanya tanpa basa basi.
"Apa belum datang?"
Amber menggeleng.
"Billy bodoh, kenapa harus terlambat?" maki Samantha dalam hati.
Mereka segera duduk bersama sambil menunggu kedatangan Billy.
"Sam, seperti apa pria yang mau kau kenalkan padaku?" tanya Amber penasaran.
"Hmm..itu?"
Samantha mengaruk pelipisnya, dia juga tidak tahu Billy pria yang sperti apa tapi yang jelas tidak menyebalkan seperti Jhon.
"Nanti kau akan tahu." jawabnya.
"Aku sudah tidak sabar." kata Amber senang.
Dia mulai membayangkan pria tampan yang menjemput Sahabatnya kemarin.
Tidak lama kemudian, Billy datang dengan seikat bunga ditangannya. Dia terlambat karena harus membeli bunga itu.
__ADS_1
Billy segera bergegas masuk kedalam restoran dimana Amber dan Samantha telah menunggunya.
Saat Billy masuk kedalam dengan seikat bunga ditangannya, Amber tanpa sengaja melihat kedatangan pria itu.
"Oh my God, sam?" ujarnya.
Amber terpana melihat Billy yang berjalan dengan gagah menghampiri mereka.
Samantha melihat kearah mata Amber tertuju, didepan pintu masuk tampak Billy dengan gaya kerennya berjalan menghampiri mereka dengan seikat bunga mawar merah ditangannya.
"Good job Billy." kata Samantha dalam hati.
Mata Amber tidak lepas dari Billy, dia benar-benar kagum dengan pria yang semakin mendekat pada mereka.
"Sorry aku terlambat."
"No problem." Jawab Amber cepat.
Dia hanya melongo seperti orang bodoh saat pria itu berdiri didepannya dengan seikat bunga mawar merah ditangannya.
Samantha melihat kearah Amber dengan heran, ada apa dengan sahabatnya? Mana Amber yang bisanya cerewet?
"Billy, kenapa kau lama?"
"Sory Ms, aku mampir ketoko bunga untuk membeli ini." jawab Billy sambil memperlihatkan bunga yang dipegangnya.
"Baguslah, sana berikan."
"Ini." Billy menyodorkan bunga mawar yang berada ditangannya.
"Dari bos untuk Ms." katanya.
"What?"
Samantha tidak percaya mendengarnya, dia kira bunga itu untuk Amber. Tapi ternyata?
Wajah Amber langsung tampak kecewa, dia juga berharap bunga itu untuknya. Wanita itu tampak murung dan menundukkan kepalanya.
Samantha melihat kearah Sahabatnya itu dan langsung bangkit berdiri, dengan cepat Samantha menarik tangan Billy, membawa pria itu menjauh dari meja dan berbisik ditelinganya.
"Dasar kau bodoh, berikan bunga itu untuknya." bisiknya.
"Tapi Ms, ini bunga untukmu dari bos." balas Billy dengan berbisik pula.
"Aku tidak butuh, sana berikan padanya." perintah Samantha.
"Ms aku tidak berani, bagaimana nanti bos?"
"Billy, aku yang tanggung jawab!" Samantha mulai kesal.
Billy mengangguk dan segera kembali mendekati Amber.
"Hai." sapanya.
Amber mengangkat kepalanya dan melihat kearah pria itu.
"Aku Billy, senang berkenalan denganmu." Billy menyodorkan bunga itu dihadapan Amber.
Amber tersenyum senang dan segera mengambil bunga yang diberikan oleh Billy.
"Amber." jawabnya singkat.
Mereka melemparkan senyuman satu sama lain dan saling bertatapan mata beberapa saat.
__ADS_1
Samantha begitu senang melihat kearah mereka dan segera menghampiri kedua orang itu.
"Aku rasa tugasku sudah selesai." ujarnya.
Samantha segera mengambil tasnya, berniat pergi dari sana.
"Sam, kau mau kemana?"
Amber memegangi tangan sahabatnya itu dan menahannya.
"Pergi, aku tidak mau jadi peganggu."
"Sam, bisa kau temani kami?" pinta Amber.
"No Amber, setelah ini kalian bisakan berdua?"
"Sam, please." mohon Amber sambil menarik-narik tangannya.
Menemani dua sejoli yang sedang kasmaran? Yang benar saja!
"Please." pinta Amber lagi.
Samantha menarik nafasnya frustasi, dengan berat hati dia kembali duduk disebelah sahabatnya itu.
Billy dan Amber mulai berbincang, mereka berbicara dengan malu-malu sedangkan Samantha menyeruput minumannya dengan kesal.
Dia benar-benar merasa menjadi nyamuk dihadapan dua sejoli yang sedang jatuh hati itu.
Back to Jhon.
Pria itu, tidak perlu ditanya, frustasi.
Semangatnya tadi sudah hilang, dia hanya bisa menarik nafasnya frustasi berkali-kali.
Bagaimana tidak?
Saat masuk kedalam ruangan kelas Edward, semua yang ada disana menatap kearahnya dan berteriak histeris.
Yak, saat itu diruangan kelas Edward, para orang tua murid yang telah berkumpul mayoritasnya adalah ibu-ibu.
Hanya Jhon sendiri yang laki-laki.
Sontak saja para orang tua murid langsung heboh, berteriak histeris saat melihat kemunculan pria tampan itu.
"Oh my God, hot dady." salah seorang berteriak demikian.
Dengan cepat orang tua murid langsung berlari mengerumuninya, sepertinya mereka mendapat hiburan saat diperjalanan nanti.
Benar saja, hari itu Jhon menjadi artis dadakan untuk satu hari. Selama diperjalanan para orang tua murid yang mayoritasnya ibu-ibu menempel padanya.
Mereka bahkan berselfie ria dengan pria itu, Jhon hanya tersenyum dengan terpaksa tanpa bisa melakukan apa-apa.
Dia kembali teringat waktu naik bus dengan ayahnya, mungkin waktu itu ayahnya memasang tampang sangar untuk menghindari hal ini.
Sepertinya dia harus belajar banyak dari ayahnya, Jhon kembali menarik nafasnya frustasi.
Edward begitu ceria bermain dengan teman-temannya selama diperjalanan dan dia tidak bisa melakukan apa-apa, dia tidak mau mengecewakan Samantha.
"Dad, sekarang aku tahu kenapa kau melakukan hal itu dulu." katanya dalam hati.
Seorang ibu-ibu kembali menempel padanya hendak berselfie.
Jhon hanya tersenyum terpaksa menerima semua itu.
__ADS_1
"Daddy, i miss you so much." katanya lagi dalam hati.
Setelah ini dia tidak akan mau menemani anaknya kesekolah dikemudian hari dan dia juga akan memindahkan Edward kesekolah lain yang lebih bagus.