
Jhon masih berada didalam kamar setelah Samantha berlari keluar, dia disini karena sedang membaca pesan dengan asistennya Billy.
"Master, nona Stela menunggmu sedari tadi, dan dia bilang sangat ingin bertemu denganmu." itu pesan yang dikirimkan oleh Billy.
Setelah membaca pesan itu, Jhon segera menghubungi Billy. Dia tidak menyangka jika Stella masih bersikeras menunggu kedatangannya.
"Billy, abaikan saja dia!" perintahnya.
"Siap master." jawab Billy.
"Aku ingin kau datang kemari, bawakan semua berkas kerja sama dengan Bill Lourent dan semua berkas yang berhubungan dengannya." perintahnya.
"Untuk apa master?" tanya Billy heran.
"Bawa saja tapi ingat, jangan sampai Stela tahu kau akan kesini. Aku ingin membicarakan hal penting denganmu. Satu hal lagi, aku ingin kau memanggil dokter pribadiku kemari dan nanti aku akan mengirimkan alamatnya padamu."
"Siap master."
Jhon mematikan ponselnya dan berpikir sejenak, dia ingin berbicara serius dengan Billy tapi dia tidak ingin Samantha mendengar dan tahu pembicaraan mereka.
Jhon segera keluar dari kamar dan mencari Samantha, dibalkon tampak Samantha sedang menjemur pakaian yang telah dicucinya.
Jhon tersenyum dan segera menghampiri Samantha dan segera memeluk wanita itu dari belakang dan menciumi pipinya.
"Baby, kita sudah seperti pengantin baru saja." bisiknya.
"Jangan menghayal!" Samantha melepaskan lengan Jhon yang melingkar dipinggangnya.
"Sana pergi, jangan ganggu!" usirnya.
Jhon menarik tangan Samantha dan membawanya kedalam pelukannya.
"Baby, aku ingin kau pergi kerumahku untuk mengambil pakaianku."
Samantha langsung menatap Jhon dengan tidak percaya.
"Apa? Kenapa aku harus mengambil pakaianmu?"
"Aku ingin mandi tapi aku tidak punya pakaian bersih. Apa kau ingin melihatku telanjang seharian?" tanyanya sambil tersenyum usil.
"Uhh..kenapa harus aku? Kau bisa meminta Ron mengirimkan pakaianmu bukan?!"
"Baby ingat, kau sedang bekerja denganku dan jangan membantah!"
"Baiklah, tapi setelah ini."
"No baby, i want now! Tapi jika kau tidak mau tidak apa-apa, aku akan pergi mandi dan telanjang didepanmu seharian." katanya lagi.
Samantha memejamkan matanya, mulai kesal dengan Jhon yang sedang memeluknya.
"Baik-baik, aku akan pergi! Dasar menyebalkan!" gerutunya kesal.
__ADS_1
Samantha melepaskan diri dari pelukan Jhon dan mendengus kesal, dia berlalu dari hadapan Jhon dan segera masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian.
Tidak lama kemudian dia keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.
"Dibawah ada supirku, kau bisa pergi dengannya." kata Jhon yang sudah duduk diatas sofa.
Samantha hanya melihatnya sekilas dan menggerutu kesal, dia segera keluar dari apartemennya untuk pergi kerumah Jhon dan mengambil pakaian pria itu.
Tidak berapa lama Billy telah datang bersama dokter pribadi bosnya, dia tidak tahu kenapa bosnya memintanya memanggil dokter itu.
Dengan alamat yang telah diberikan Jhon padanya membuat Billy tidak kesulitan menemukan apartemen itu.
Setelah tiba dia sangat kaget melihat kaki bosnya yang terluka.
"Master, apa ada musuh yang menyerang? Apa kau kena tembak?" tanyanya dengan kawatir.
"Tidak ada, ini hanya luka goresan kaca saja." jawab Jhon.
Dokter pribadinya segera memeriksa luka dikakinya, untungnya luka itu tidak terlalu dalam sehingga tidak perlu sampai dijahit.
Setelah memberikan obat pada kaki Jhon dan mengganti perbannya, dokter itu segera undur diri meninggalkan mereka berdua.
"Master, ini semua yang kau minta."
Billy menyodorkan beberapa map yang berisi berkas-berkas yang Jhon inginkan.
"Apa yang Stela lakukan disana?" tanyanya.
"Biarkan dia menunggu sampai lelah,bjangan ajak dia berbicara!" perintahnya.
"Baik.
Jhon melihat berkas itu satu persatu,bsetelah melihatnya dia melemparkan berkas itu diatas meja.
"Billy, aku ingin kau menekan perusahaan Bill Lourent. Tarik sedikit demi sedikit semua saham yang kita tanam diperusahaannya dan tekan juga perusahaan yang bekerja sama dengannya, aku ingin lihat sampai berapa lama dia akan bertahan!" perintahnya.
"Tapi master ,Bill Lourent calon ayah mertuamu bukan? Kenapa kau ingin membuatnya bangkrut?" tanya Billy heran.
"Tidak lagi, mereka begitu berani menjebakku dan memberiku obat maka berarti mereka sedang mengibarkan bendera perang padaku."
Billy tercengang, apa maksud bosnya?
"Obat apa master?"
Jhon melirik kearahnya.
"Yah, kau tahu bukan?" jawabnya malas.
Billy mulai mengerti dengan maksud bosnya,:pantas saja Stela begitu ingin bertemu dengan bosnya itu. Pasti wanita itu telah berbuat sesuatu yang telah menyinggung Jhon.
Billy mengedarkan pandangannya dan melihat apartemen itu dengan seksama, sedari tadi dia memang merasa heran,bkenapa bosnya bisa ada disana?
__ADS_1
Tapi kemudian dia bisa menebaknya saat melihat cucian pakaian wanita yang sedang dijemur dibalkon.
"Master, apakah semalam menyenangkan?" tanyanya.
"Billy, jika dia mendengarnya aku yakin kau akan babak belur."
"Master, bukankah kau seharusnya berterima kasih pada nona Stela, berkat obat itu kau bisa berada disini." kata Billy lagi.
"Kau benar, maka dari itu aku akan berterima kasih padanya dengan menghancurkan perusahaan ayahnya!".
Billy terdiam, cara berterima kasih macam apa itu? Tapi dia tahu bosnya tidak akan main-main dengan ucapannya.
Sedangkan saat itu, Samantha mengumpat marah sambil menarik sebuah koper besar ditangannya. Dia sedang menunggu lift untuk menuju kamar apartemennya.
Setelah tiba dirumah Jhon, semua perlengkapan yang Jhon butuhkan sudah disediakan oleh Ron.
Semula dia sangat senang, berarti dia tidak perlu bersusah payah mengambil baju pria itu lagi. Tapi kemudian dia sangat kesal melihat Ron menarik sebuah koper besar dan memberikan koper itu padanya.
Dia sudah protes pada Ron tapi Ron bilang itu semua kebutuhan yang Jhon inginkan.
Selama diperjalanan Samantha hanya memaki kesal, ingin rasanya dia melemparkan koper itu kejalan dan meninggalkannya.
Samantha menarik koper itu masuk kedalam lift, dia sudah tidak sabar melemparkan koper itu didepan Jhon dan memakinya.
Setelah pintu lift terbuka, Samantha dengan cepat menarik koper itu menuju kamar apartemennya.
Dengan tidak sabar Samantha memutar handle pintu dan mendorong pintu itu dengan kasar, menarik koper itu masuk kedalam dan melemparkannya diatas lantai.
Dia melotot kearah Jhon yang sedang bersama Billy diruang tamu apartemennya.
"Jhon, apa-apaan ini? Kau tidak bermaksud tinggal lama disini bukan?" tanyanya kesal.
"Baby, memangnya tidak boleh?"
"Kurang ajar! Apa kau pikir kau itu simpananku?" Samantha semakin kesal mendengar jawaban Jhon yang begitu cuek.
"Kalau begitu jadikan aku simpananmu!" jawab Jhon sambil tersenyum manis padanya.
"Apa? Nasibku sungguh sial bertemu pria gila sepertimu!"
Samantha mengumpat kesal, dia segera membalikkan badannya hendak berjalan kearah pintu.
"Mau kemana?" tanya Jhon.
"Beli samsak! Aku sangat ingin memukul sesuatu!"
Samantha menghentakkan kakinya kesal, dia segera keluar dari apartemennya dan membanting pintu dengan kesal pula.
Jhon tersenyum melihat kepergiannya.
"Master, jangan terlalu iseng, nanti dia kabur." saran Billy
__ADS_1
"Tenang saja, dia tidak akan pernah bisa kabur dariku." katanya dengan percaya diri karena memang Samantha tidak akan bisa lari darinya.