
Setelah kepergian Billy, paramedis kembali keruangan itu untuk melihat apakah pasiennya benar-benar hilang.
Saat mereka masuk kedalam, tampak Samantha sedang duduk diatas ranjang. Mereka merasa lega tapi sekaligus juga marah.
Lega karena pasien mereka ternyata ada didalam ruangan itu dan marah karena Samantha membuka alat yang terpasang ditubuhnya tanpa seijin dari mereka.
Tapi dikarenakan kondisi Samantha terlihat baik-baik saja jadi paramedis disana tidak mempermasalahkannya lagi.
Samantha ingin mandi tapi tak diijinkan dikarenakan lukanya masih belum membaik.
Setelah mengecek pasiennya, merekapun pergi.
Saat itu Jhon sedang mengelap tubuh Samantha dengan handuk basah yang berada ditangannya.
Samantha begitu keras kepala dan bersikeras ingin mandi jadi dengan terpaksa Jhon mengelap tubuh kekasihnya yang keras kepala itu.
"Jhon, sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?" tanyanya.
Samantha memejamkan matanya, merasakan sentuhan tangan Jhon dikulitnya.
"Two days."
"Oh aku kira satu minggu."
"Hei, kau tidak berniat koma lama-lama bukan?"
Samantha menyunggingkan bibirnya tersenyum mendengar pertanyaan Jhon.
"Kenapa? Apa kau tidak mau menungguku?"
"Not like that baby, apa kau tidak rindu dengan Edward?"
"Oh my, bagaimana kabar Edward?"
Dia lupa dengan pria kecilnya.
"Baby, Edward baik-baik saja."
"Aku meninggalkannya begitu saja dengan Ron, apa dia tidak menangis?"
"Hmm..no" jawab Jhon.
Dia tidak ingin Samantha kawatir saat tahu Edward menangis semalaman mencarinya.
"Where is he? Sepertinya tadi aku mendengar suara Edward memanggilku."
"Are you sure?"
"Yes."
Jhon meletakkan handuk basah yang berada ditangannya dan memakaikan baju Samantha kembali.
Dia senang, ternyata keputusannya membawa Edward bersamanya tidaklah salah.
"Sayang, Edward dalam keadaan baik-baik saja besok kau pasti akan bertemu dengannya."
"Are you serious?"
"Yes baby."
"Apa kau sedang meminta Billy menjemputnya?"
"Tidak sayang, saat ini Edward sedang bersama dengan kedua orang tuamu."
Wajah Samantha langsung pucat, tidak mungkin! Apa ayahnya akan menerima Edward?
Apalagi wajah Edward sangat mirip dengan Frans! Mana mungkin ayahnya akan menerima Edward setelah apa yang telah Frans lakukan terhadap mereka.
Jhon pasti hanya bercanda dengan ucapannya.
"Kau jangan bercanda?" katanya tidak percaya.
Jhon terkekeh pelan dan menarik Samantha kedalam pelukkannya.
"Baby, percayalah padaku. Selama kau koma sudah banyak hal yang terjadi."
__ADS_1
"Hei, kau bilang aku cuma koma dua hari, memangnya hal apa yang telah terjadi?" tanyanya penasaran.
"Baby, besok kau akan tahu dan aku yakin, kau pasti akan senang."
Samantha menatap Jhon dengan lekat, apa sih maksudnya?
"Jhon."
"Yes?"
"Apa Frans sudah mati?"
"Sayang, kau tidak perlu memikirkan hal itu. Aku jamin seratus persen dia tidak akan pernah bisa melukaimu lagi."
Samantha melingkarkan tangannya dipinggang Jhon dan memeluknya dengan erat.
"Kenapa kau bilang pada Frans jika anaknya ada bersamaku? Kau tahu bukan jika sampai dia tahu dan percaya dengan ucapanmu maka dia akan merebut Edward dariku dan kau tahu juga, aku tidak akan pernah bisa berpisah dengan Edward."
"Baby, aku bukan orang bodoh yang mengucapkan perkataanku tanpa pikir panjang. Trust me, aku mengatakan itu karena aku yakin Frans tidak akan pernah bisa merebut Edward dari tanganmu untuk selamanya."
"Apa kau telah membunuhnya?"
"Yah, anggap saja begitu."
Jhon memeluk Samantha dengan erat dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Dalam hati Jhon berkata:
Setelah ini dia akan menghajar Frans habis-habisan dan membuat ba*ingan itu membayar setiap perbuatan yang telah dia lakukan terhadap Samantha.
Dan pastinya, dia tidak akan membiarkan Frans Leonardo mati dengan mudah.
"Baby, sebaiknya kau tidur."
Samantha mengangguk dalam pelukannya.
"Thanks Jhon."
"Dont say that baby!"
"I love you."
"I know."
Jhon memegangi dagu Samantha dan menciumi bibir kekasihnya dengan mesra dan setelah itu, Samantha kembali keatas ranjang sedangkan Jhon mengunggunya sampai dia tertidur.
Pada keesokkan harinya, Alex Jackson dan istrinya memasuki rumah sakit tempat putrinya dirawat dengan tergesa-gesa.
Pagi-pagi sekali Billy telah datang kehotel tempat mereka menginap dan mengabari mereka jika Samantha telah sadar dari komanya.
Dengan tidak sabar sepasang suami itu berjalan menuju ruangan putrinya dirawat dengan Edward bersama mereka sedangkan Edward tampak ceria saat tahu akan menemui ibunya.
Mereka masuk kedalam ruangan itu dan tampak Samantha sedang duduk diatas ranjangnya sambil memakan sarapannya.
Dengan cepat Ana Jackson berlari kearah putrinya karena dia sangat bahagia melihat keadaan putrinya yang sudah baik-baik saja.
Saat melihat kedatangan kedua orang tuanya, Samantha meletakkan makanan yang dipegangnya diatas meja.
Matanya terbelalak kaget saat melihat ayahnya masuk kedalam ruangan itu sambil menggendong Edward.
Apa dia sedang bermimpi?
"Sayang, akhirnya kau sadar juga."
Ana Jackson memeluk putrinya dan menangis. Dia tidak bisa membendung air mata bahagia saat melihat keadaan putrinya yang sudah baik-baik saja.
"Sory mom." Samantha memeluk ibunya dan mengusap punggung ibunya dengan lembut tapi matanya masih setia melihat kearah ayahnya.
"Mommy."
Edward turun dari gendongan Alex Jackson dan berlari kearahnya dan pada saat itu Jhon mengangkat Edward dan mendudukkannya disisi ibunya.
Saat itu Ana Jackson melepaskan pelukannya dan melihat wajah putrinya yang tampak bahagia saat melihat Edward.
"Mom, are you oke?" tanya Edward.
__ADS_1
Samantha langsung memeluk Edward,vdia sangat rindu dengannya.
"Im oke honey."
"Aku telah membangunkan mommy, apa mommy tidak mendengar?" tanya Edward.
"Sorry sayang, jika mommy tidak mendengarmu."
Samantha mulai menangis, bagaimana jika dia tidak sadar dari komanya, Edward pasti akan sangat sedih.
"Sorry." katanya lagi.
"Its oke mom." Edward melepaskan pelukannya dan mengusap air mata ibunya sedangkan Samantha tersenyum dan mencium wajah Edward.
"Apa kau sudah menjadi anak baik?" tanyanya.
"Yes mom, aku tidak menangis karena kakek mengajakku pergi membeli beberapa permen. Apa mommy mau?"
Edward mengeluarkan beberapa permen dari saku celananya dan menunjukkan kepada ibunya.
Apa? Kakek?
Samantha melihat kearah ayahnya tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Alex Jackson melangkah kearah putrinya dan memeluknya, dia sangat lega saat melihat putrinya yang telah sadar kembali.
"Samantha, daddy minta maaf padamu."
"Dad, jangan berkata begitu."
"Tidak,semua ini kesalahanku. Seandainya aku?"
"Dad, tidak perlu diungkit lagi." Samantha menyela perkataan ayahnya.
"Maaf untuk semuanya,bmaaf daddy telah mengusirmu tiga tahun lalu."
"Its oke dad, anggap saja tidak pernah terjadi."
"Samantha, daddy benar-benar minta maaf dan kembalilah kerumah." pinta ayahnya.
Jhon langsung melihat kearah Samantha, apakah Samantha akan kembali kerumahnya dan meninggalkannya?
Jika iya, bagaimana dengan hubungan mereka?
"No dad, tempatku bukan disini. Aku sudah menemukan tempat yang nyaman untukku."
Samantha berkata demikian sambil memandang kearah Jhon dan saat itu Jhon begitu senang mendengarnya.
Jika dia tidak mengenal Jhon mungkin dia akan kembali kerumahnya dengan senang hati tapi sekarang, dia tidak akan pergi dari sisi pria itu.
Alex Jackson melepaskan putrinya dan memandanginya.
"Daddy akan menghormati setiap keputusanmu, tapi ingatlah untuk sering pulang bersama Edward."
"Are you serious dad?" tanyanya tidak percaya.
Ada apa dengan ayahnya, apa ayahnya bisa menerima Edward?
Alex Jackson mengangguk sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajahnya.
"Apa aku sedang bermimpi?" tanyanya.
"Jika iya tolong seseorang pukul aku."
"Tidak sayang." sela ibunya.
"Dad, mom, kalian mau menerima Edward sekalipun? Kalian tahu bukan?"
Samantha menangis tidak percaya jika ayah dan ibunya mau menerima Edward sekalipun pria kecil itu anak Frans.
"Tentu sayang, tentu."
Alex Jackson dan istrinya langsung memeluk putrinya.
Senyum Jhon mengembang diwajahnya, dia senang melihat mereka.
__ADS_1
"Aduh, aku harus segera menikahinya supaya bisa cepat punya anak!" katanya dalam hati dan dia harap hari itu cepat datang.