
Setelah mengatakan alamatnya Samantha segera turun dari atas ranjang dan berlari kearah kamar mandi.
Dia tidak perduli lagi dengan tubuhnya yang telanjang karena handuknya sudah terlepas, Jhon memperhatikannya dengan heran karena Samantha tampak begitu panik setelah mematikan ponselnya.
Tidak lama kemudian Samantha keluar lagi dari kamar mandi dan mengambil bajunya dalam lemari.
"Baby, kenapa kau begitu panik?" tanyanya penasaran.
Samantha tidak menjawab dan setelah memakai pakaiannya Samantha segera berlari keluar dari kamarnya.
Jhon benar-benar penasaran dibuatnya, kenapa Samantha terlihat begitu panik.
Pria itu mengikuti Samantha masuk kedalam kamar Edward dan didalam sana Samantha mulai mengambil koper kecil dan mulai memasukkan barang-barang Edward kedalam koper itu.
Jhon menghampirinya dan memegang kedua bahu Samantha.
"Kenapa kau begitu panik? Apa terjadi sesuatu dengan Edward?" tanyanya sedangkan Samantha hanya menggeleng.
"Lalu?" Jhon tambah tidak mengerti.
"Jhon, nanti kita bicarakan. Aku harus merapikan barang-barang Edward terlebih dahulu."
"Tidak, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi."
Samantha merapikan rambutnya, kenapa Jhon tidak membiarkannya merapikan barang-barang Edward terlebih dahulu?
Bagaimana jika nanti ayah dan ibunya tiba-tiba sudah berdiri didepan pintu rumahnya?
"Jhon, ayah dan ibuku sedang menuju kemari!" katanya.
"Ayah dan ibumu mau datang? Lalu kenapa kau begitu panik?" tanya Jhon penasaran.
"Jhon, bantulah aku, bawa Edward bersamamu"
"Kenapa?"
Samantha melirik barang Edward yang belum selesai, dia sangat frustasi, bagaimana jika ayah dan ibunya tahu ada seorang anak kecil tinggal bersamanya? Pasti kedua orang tuanya akan shock dan salah paham.
"Aku belum mengatakan pada mereka jika aku mengadopsi Edward. Aku takut mereka akan melihat Edward dan akan salah paham." jelasnya.
"Baby, kau bisa mengatakan Edward itu anak kita."
Samantha menatap Jhon tidak percaya.
"Apa kau ingin melihat ayahku mati disini?"
"Kenapa?"
"Seandainya kau jadi orang tua bagaimana perasaanmu saat melihat putrinya yang kabur dari rumah, tinggal dengan seorang laki-laki dan mempunyai seorang anak?"
"Aku belum pernah jadi orang tua jadi mana aku tahu!" jawab Jhon asal.
"Jhon, aku sedang tidak ingin bercanda jadi tolong bawa Edward bersamamu. Nanti aku akan menceritakan hal ini pada kedua orang tuaku." pintanya.
Jhon menarik nafasnya sejenak, kenapa Samantha menyembunyikan hal sebesar ini pada kedua orang tuanya?
"Oke...oke...aku akan membawanya."
__ADS_1
Samantha segera melepaskan diri dan kembali membereskan barang-barang Edward.
Setelah dirasa cukup, Samantha menutup koper itu dan memberikannya pada Jhon.
"Ayahku mungkin tidak akan lama, aku benar-benar minta bantuanmu. bawalah Edward beberapa hari dan setelah ayahku pergi, aku akan menjemputnya."
Jhon menarik tangan Samantha dan memeluknya.
"Bagaimana denganku, apa kau akan menceritakan hubungan kita pada orang tuamu?" tanyanya.
"Aku pasti akan mengatakannya, aku akan mengatakan hubungan kita pada ayahku supaya dia membatalkan tujuannya."
"Tujuan? Memangnya apa tujuan ayahmu?"
"Jhon, aku tidak punya waktu lagi untuk menjelaskannya. Sebentar lagi Edward pulang, tolong kau jemputlah dia."
"Baiklah, tapi setelah ini kau harus menceritakan tujuan ayahmu!"
Jhon memegang pipi Samantha dan menciumnya.
Setelah itu Jhon keluar dari apartemen Samantha untuk menjemput Edward dan membawanya.
Selama menunggu lift, Jhon memainkan ponselnya untuk menghubungi Billy, saat itu lift lain terbuka dan tampak sepasang suami istri keluar dari sana.
Jhon memperhatikan mereka, Alex Jackson dan istrinya. Mereka keluar dari dalam sana tanpa melihat dirinya.
Sedangkan Samantha sedang merapikan rumahnya, menyembunyikan barang Jhon dan paper bag yang dibawanya. Dia takut ayah dan ibunya akan menginap dan melihat semuanya.
Samantha segera berlari keluar saat mendengar ketukan dari arah pintu, itu pasti ayah dan ibunya yang datang.
Samantha membuka pintu itu dan tampak gembira melihat kedua orang tuanya.
Samantha memeluk kedua orang tuanya satu persatu, mencium pipinya dan mengajak mereka masuk kedalam.
Alex Jackson mengedarkan pandangannya melihat apartemen tempat tinggal putrinya.
"Apa kau tinggal sendiri?" tanyanya.
"Of course dad, memangnya kau pikir aku tinggal dengan siapa?" tanyanya.
"Mana pacar yang kau ceritakan itu?" tanyanya tanpa basa basi.
"Dad, kau baru tiba, kenapa harus bertanya hal ini terlebih dahulu?"
Alex duduk diatas sofa dan menatap putrinya dengan lekat.
"Kau tahu bukan tujuan kami kemari?"
Samantha menarik nafasnya dengan berat, bisa dia tebak, pasti masalah perjodohan lagi.
"Dad, asal kau tahu, aku tidak mau dijodohkan!" tolaknya.
"Samantha, kau tidak bisa menolak kali ini. Jangan membuatku lebih malu dari pada ini, malam ini kau harus menemui calon tunanganmu!"
Samantha tidak percaya mendengarnya, kenapa memutuskan seenaknya?
"Dad, sudah aku bilang aku sudah punya pacar."
__ADS_1
"Pacar? Apa pacarmu lebih hebat dari Frans Rional?" tanya ayahnya.
Frans Rional? Mana dia tahu pria itu sehebat apa!
"Entahlah, aku hanya ingin punya pacar yang baik, bukan pria hebat seperti yang daddy inginkan." jawabnya.
"Samantha!" teriak Alex Jackson.
Ana Jackson langsung mencairkan suasana diantara kedua ayah dan anak itu.
"Kalian benar-benar tidak berubah. Tiga tahun tidak bertemu tapi tetap saja membuat masalah." katanya.
Ana Jackson menghampiri putrinya dan memberikan sesuatu yang sedari tadi dipegangnya.
"Sayang, jangan ribut lagi. Mommy membawakan makanan kesukaanmu, makanlah."
Samantha tersenyum dan mengambil makanan yang diberikan ibunya.
"Thanks mom."
"Ayo kita makan, jangan hiraukan situa yang menyebalkan itu." ajak ibunya
Samantha membawa ibunya menuju kedalam dapur dan meninggalkan ayahnya disana.
Samantha meletakkan makanan yang diberikan ibunya diatas meja dan mulai mengambil beberapa piring untuk meletakkan makanan itu.
"Sayang, apa benar kau sudah punya pacar?" tanya Ana Jackson memastikan.
"Ya." jawab Samantha singkat.
"Bagaimana orangnya?"
Samantha mulai memakan makanan yang diberikan ibunya dan berpikir sejenak.
"Ah, dia hanya pria usil dan menyebalkan." jawabnya.
Ana Jackson memperhatikan wajah putri nya yang tampak bersemangat saat mengucapkan perkataan itu.
"Sam, mommy senang mendengarnya. Sudah lama kau tidak seperti ini dan sepertinya pria ini sudah mencuri hatimu."
"Apa maksudmu, mom?"
Dia tidak mengerti dengan perkataan ibunya, sampai saat ini dia sendiri belum yakin apakah dia mencintai Jhon atau tidak.
"Mommy pernah melihat wajahmu seperti ini tapi dulu waktu kau jatuh cinta pada Mack. Tapi sejak Mack pergi, kau selalu menutup hatimu dengan pria manapun. Itu sebabnya ayahmu selalu berusaha menjodohkanmu. Tapi melihat wajahmu sekarang, sepertinya kau benar-benar sudah menemukan pria lain yang dapat mengisi hatimu selain Mack." kata ibunya panjang lebar.
Mack? Pria masa lalunya yang mengkhianati cintanya.
Samantha diam saja, sedang memikirkan perkataan ibunya.
"Mom, aku benar-benar tidak mau dijodohkan." ujarnya.
"Sam, jangan mempermalukan daddymu lagi. Temuilah Frans malam ini, dia pria baik dan pekerja keras. Dalam tiga tahun dia sudah bisa sukses, sebab itu ayahmu menyukainya tapi jika kau tidak suka tidak apa-apa, kau tolaklah dia baik-baik, dengan begitu kami juga tidak akan begitu malu."
Samantha memperhatikan wajah ibunya, sepertinya dia tidak punya pilihan dan harus menemui pria yang bernama Frans Rional malam ini.
"Oke mom, aku akan menemuinya dan menolaknya baik-baik."
__ADS_1
Dia terpaksa menyetujui menemui Frans Rional agar kedua orang tuanya tidak malu tapi sungguh dia tidak akan pernah menyangka, siapa Frans Rional sebenarnya.