
Saat itu Jgon terlihat marah, Jhon menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan membuang wajahnya kesamping, dia tidak mau melihat Samantha dan tidak mau menjawab panggilannya.
Samantha sudah berusaha memanggilnya dan juga membujuknya tapi dia masih kesal, kesal karena Samantha memintanya membersihkan kamar mandi dan membuatnya harus menahan malu didepan asistennya Billy.
Samantha hanya tersenyum melihat tingkahnya, Jhon seperti anak kecil yang sedang marah karena tidak mendapatkan sebuah mainan.
Samantha bangkit berdiri dan berjalan kearah dapurnya sedangkan Jhon hanya melihat kepergiannya dengan menahan kekesalan dihatinya.
Jika wanita lain, mungkin sudah dia tembak mati sedari tadi tapi dia tidak bisa melakukan apapun karena rasa cintanya kepada Samantha.
Tidak berapa lama Samantha kembali dan membawa dua gelas kopi ditangannya, Jhon kembali membuang wajahnya saat melihat kedatangan Samantha dan lagi-lagi Samantha tersenyum melihat tingkahnya.
"Mau merayuku dengan kopi? Yang benar saja!" ucapnya dalam hati.
Samantha duduk disisi Jhon dengan senyum diwajahnya, dia tahu Jhon masih marah dan dia akan berusaha membujuknya.
"Kopi?" tawarnya.
Samantha menyodorkan gelas kopi yang dibawanya didepan Jhon.
Jhon hanya diam saja tidak mau menjawab pertanyaan Samantha, dia juga tidak mau mengambil gelas kopi yang diberikan oleh Samantha.
Samantha menarik nafasnya dan meletakkan gelas kopi itu didepan Jhon dan setelah itu, Samantha menekuk kedua kakinya dan menyeruput kopi yang ada didalam gelas.
"Masih tidak mau berbicara denganku?" tanyanya.
Jhon masih diam saja benar-benar tidak mau berbicara dengannya.
Samantha kembali menarik nafasnya dan meletakkan gelas kopi yang dia pegang diatas meja, mungkin dia sudah keterlaluan?
"Jhon."
Samantha bangkit berdiri dan segera duduk diatas pangkuan Jhon.
Jhon melihat tingkah Samantha dengan tidak percaya. Mau apa?
"Apa kau benar-benar marah?"
Samantha melingkarkan kedua tangannya dileher Jhon dan menatap matanya dalam-dalam sedangkan Jhon masih tidak bergeming ditempatnya.
Dia ingin tahu, apa yang mau dilakukan oleh Samantha lebih lanjut.
"Sorry."
Samantha memasang wajah memelas dihadapannya tapi Jhon masih diam saja.
"Please." rayunya.
"Pergi sana, jangan merayuku." usirnya pura-pura.
"Benar tidak mau memaafkan aku?"
Jhon menggelengkan kepalanya dan masih pura-pura kesal, Samantha tersenyum dan mendekatkan wajahnya, dia juga berbisik ditelinga Jhon.
"Maaf." katanya lagi dan setelah itu, Samantha mendekatkan bibirnya dan mulai menciumi bibir Jhon.
Jhon memejamkan matanya, menikmati bibir Samantha dibibirnya. Entah mengapa Samantha benar-benar tahu kelemahannya.
Samantha melepaskan bibirnya dan memeluk leher Jhon dengan erat dan kembali berbisik ditelinganya.
"Jhon sayang, my darling. Maafkan aku." rayunya.
Sebuah senyum langsung mengembang diwajahnya Jhon, dia senang Samantha memanggilnya seperti itu.
Sayang? My darling? Sepertinya dia sudah menjadi orang spesial di hati Samantha tapi dia tidak akan mau dirayu begitu mudah.
Samantha menggigit bibirnya dan berusaha menahan diri, sebenarnya dia sangat malu karena ini pertama kalinya dia melakukan ini untuk merayu laki-laki.
Jika bukan karena rasa bersalah dihatinya mungkin sudah dia tinggalkan Jhon sedari tadi tapi dia harus bersabar untuk merayu pria itu.
"Jhon, sayang, apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkan aku?" tanyanya.
Senyum Jhon semakin mengembang diwajahnya.
"Panggil aku sayang lagi." pintanya.
__ADS_1
"Jhon sayang."
Jhon memejamkan matanya, hatinya sangat senang mendengarnya.
"Lagi." pintanya.
Samantha menarik nafasnya, apa sih yang Jhon inginkan?
"Sayang." panggil Samantha sekali lagi
"Lagi!"
"Mau aku pukul ya!" Samantha mulai kesal.
Jhon terkekeh dan segera memeluk Samantha dengan erat.
"Jadi kau mau melakukan permintaanku?" tanyanya sedangkan Samantha mengangguk.
"Jangan memintaku jadi pembantumu lagi!" katanya.
"Baik, cuma itu?" tanya Samantha.
"Baby, kau sangat tidak sabar. Aku belum juga melontarkan permintaanku yang lain."
"Katakanlah, akan aku lakukan."
Jhon tersenyum dan membelai punggungnya dengan lembut, kekesalan dihatinya sudah hilang entah kemana.
"Mulai sekarang aku ingin kau memanggilku Jhon sayan." pintanya.
"Apa? Amu tidak mau." tolak Samantha cepat.
"Aku tidak menerima penolakan baby." kata Jhon cepat.
"Uhh.....yang lain?"
"Aku ingin kau membangunkan tidurku dengan sebuah ciuman."
"Baiklah, ada lagi?"
"Hmmm?"
"I love you."
Samantha tersenyum dan membenamkan wajahnya dileher Jhon.
"Jadi, kau tidak marah lagi bukan?" tanyanya.
"Baby, aku tidak bisa marah terlalu lama padamu."
"Thanks honey."
"Kau benar-benar pandai merayu."
"Aku hanya merayumu."
"Really?"
Samantha mengangguk.
"Bagaimana dengan Mack?"
Jhon penasaran dengan pria ini.
"Mack?"
Jhon mengangguk.
Samantha mengangkat kepalanya, menatap Jhon dengan lekat.
"Dia..dia cinta pertamaku." jawab Samantha ragu.
"Kenapa kau bisa berpisah dengan nya?" tanya Jhon penasaran.
"Dia hanya ********, aku putus dengan nya karena dia mengkhianati ku dan pergi dengan wanita lain."
__ADS_1
"Kenapa dia mengkhianatimu?"
"Jhon, sudah aku katakan aku bukan orang yang suka bermain-main. Mack mengajakku tidur bersama dan aku menolaknya,jadi dia berselingkuh dengan seorang wanita yang mau tidur dengannya kapan saja."
"Sebab itulah aku tidak mau berhubungan lagi dengan pria mana pun karena aku pikir setiap pria pasti akan meminta melakukan hal itu." jelasnya.
"Bagaimana denganku? Bukankah aku juga memintanya?"
"Kau?"
Samantha juga tidak tahu kenapa dia mau menyerahkan dirinya pada Jhon. Apa karena dia sudah yakin dengan pria itu?
"Yes?"
Jhon membelai wajahnya dan mulai mencium pipinya.
"Karena aku tahu kau tidak bermain-main denganku."
"Baby, asal kau tahu. Sejak bertemu dengan mu, kau sudah mencuri hatiku."
"Jhon, terima kasih sudah mau mencintaiku dan mau menerima Edward."
"Sssttt! Jangan berterima kasih padaku sayang."
Samantha tersenyum dan mendekatkan bibirnya dan dengan cepat pula, Jhon menyambut bibir Samantha dan **********.
Tapi tunggu! Ada yang dia lupa.
Samantha segera melepaskan bibirnya dan bangkit berdiri.
"Edward." katanya.
"Ada apa dengan Edward?"
"Lihatlah, karena kau merajuk seperti anak kecil aku jadi lupa mau menjemput Edward."
"Jadi salahku?"
Samantha melihat jam yang ada di dinding.
"Oh my, Edward sudah pulang sejak setengah jam yang lalu." katanya kesal.
Samantha segera berlalu pergi masuk kedalam kamarnya, dia harus segera pergi untuk menjemput Edward.
Jhon bangkit berdiri dan mengikutinya dari belakang, didalam kamar Samantha tampak sibuk membuka bajunya dan menggantinya.
"Baby, kenapa kau begitu buru-buru?" tanyanya.
"Tentu saja untuk menjemput Edward!"
Jhon tersenyum dan mendekatinya.
"Baby, apa kau tahu harus menjemput Edward dimana?"
Samantha diam sejenak, iya juga, dia tidak tahu rumah keluarga Jhon!
Jhon menarik Samantha dan memeluknya.
"Kebetulan, ibuku mau bertemu denganmu." katanya.
"Ibumu?"
Jhon mengangguk.
"Oh tidak!"
"Kenapa?"
"Jhon, jangan bilang jika ibumu juga sama menyebalkannya sepertimu dan Silvia!"
Jhon terkekeh pelan dan mengelus rambutnya.
"Kau akan tahu nanti setelah bertemu dengannya."
Samantha mengangguk, padahal dia belum siap bertemu dengan keluarga Jhon tapi sepertinya dia tidak bisa mengelak dan dia berharap keluarga Jhon mau menerimanya.
__ADS_1