
Selama diperjalanan menuju rumah sakit, Samantha duduk dipangkuan Jhon dan pria itu memeluknya dengan erat sambil mengusap-usap rambut panjangnya.
Samantha memejamkan matanya, merasakan kehangatan tubuh suaminya.
Saat membawa Samantha keluar dari tempat pesta itu, Jhon memanggil Billy dan mengajaknya pergi.
Billy begitu kaget melihat wanita yang digendong oleh bosnya tapi kemudian pria itu tersenyum senang untuk bosnya.
"Memang jodoh tidak akan lari kemana-mana." pikir Billy dalam hati.
Billy mengikuti bosnya untuk menuju kesebuah rumah sakit, senyum mengembang diwajahnya saat melihat kemesraan bosnya kembali.
Kebahagiaan terpancar dari kedua orang itu dan hal itu membuat Billy berpikir sepertinya dia harus segera melamar Amber.
"Jhon, im sorry." kata Samantha tiba-tiba.
"Baby, katakan padaku kenapa kau ada disini dan kenapa kau ada dipesta itu?" tanya Jhon penasaran.
"Oh my." Samantha teringat sesuatu.
"Ada apa?" tanya Jhon heran.
"Boleh pinjami aku ponsel?"
Jhon mengeluarkan ponselnya dan memberikannya.
"Kau ingin menghubungi siapa?" tanya Jhon penasaran.
"Untuk menghubungi sahabatku, aku kepesta itu dengannya tadi."
Samantha mengambil ponsel Jhon dan menghubungi Zack yang masih berada dipesta, sia lupa membawa ponselnya dan dia tidak mau membuat pria itu kawatir nantinya.
Setelah memberitahukan kepada Zack jika dia telah pergi, Samantha segera mengembalikan ponsel itu pada Jhon.
"Siapa Zack?"
Jhon sangat penasaran saat mendengar istrinya memanggil seorang pria disebrang sana dengan sebutan Zack.
Samantha hanya tersenyum dan kembali memeluk suaminya.
"Sahabatku, selama aku disini dialah yang membantuku."
"Begitu, kenapa dia harus membantumu?"
"Hei, kau tidak sedang cemburu bukan?"
"Baby, tentu saja aku akan cemburu jika ada pria yang mendekatimu."
Samantha tersenyum senang, wanita itu mengangkat kepalanya dan mengecup bibir suaminya.
"Jhon, kau tidak perlu cemburu dengannya karena berkat dialah aku bisa bertahan disini dan bisa menyembuhkan trauma Edward."
Jhon tampak bingung, ada apa dengan Edward?
"Baby, apa yang telah terjadi dengan Edward?"
Samantha menarik nafasnya, bagaimanapun Jhon harus tahu keadaan Edward.
"Tiga bulan belakangan ini Edward mengalami trauma, dia ketakutan saat melihat orang asing."
"Kenapa bisa seperti itu?" Jhon semakin penasaran dibuatnya.
"Jhon, waktu itu Stela mengancamnya dengan sebilah pisau dilehernya. Untuk anak seusia Edward hal itu pasti akan meninggalkan trauma. Bahkan Stela ingin menyiramkan air keras ke wajah Edward, saat itu aku tidak punya pilihan lain selain pergi meninggalkanmu."
Jhon kembali memeluk Samantha dengan erat, bisa dia bayangkan istrinya pasti sudah melalui hari yang berat selama tiga bulan belakangan ini.
__ADS_1
Dalam hatinya sedikit menyesal, seharusnya dia menyiram wajah Stela dengan air keras juga biar wanita itu merasakan bagaimana sakitnya terkena cairan berbahaya itu.
"Dont worry baby, Stela tidak akan mengganggu kalian lagi." katanya sambil mengusap rambut Samantha dengan lembut.
"Oh yah?"
"Yes."
"Kenapa? Apa kau memenjarakan Stela?" tanya Samantha penasaran.
"Kau tidak perlu kawatir Ms karena nona Stela sudah mati." Sela Billy.
"What?" Samantha tidak percaya mendengarnya.
Jhon langsung melotot kearah Billy sedangkan Billy langsung memalingkan kepalanya dan menelan ludahnya saat melihat tampang bosnya, sepertinya dia salah bicara.
"Kenapa dia bisa mati?" tanya Samantha.
"Baby, kau tidak perlu memikirkannya."
"Jhon!" Samantha semakin penasaran.
"Billy stupid!" maki Jhon dalam hati.
"Hei, jawab pertanyaanku?" Samantha jadi kesal.
"Ms, nona Stela jatuh kedalam kolam buaya saat melarikan diri." dusta Billy.
"Oh my God." Samantha sangat kaget mendengarnya.
"Lalu apa yang terjadi dengannya? Apa dia diterkam para buaya itu?" tanyanya lagi penasaran.
"Yah, nona Stela langsung menjadi obat sakit perut untuk para buaya." ucap Billy.
"Oh my God, seharusnya aku melihatnya." kata Samantha penuh semangat.
"Baby, apa kau tidak kasihan dengannya?"
"Untuk apa? Aku tidak akan memberikan rasa ibaku pada wanita yang ingin membunuh anaknya sendiri."
Jhon terkekeh pelan dan semakin mengencangkan pelukannya.
"Apa kepalamu masih sakit?"
"Hmm.."
"Baby, setelah ini, aku akan menghukummu." bisik Jhon ditelinganya sedangkan Samantha tersenyum didalam pelukan suaminya.
Tidak lama kemudian, mereka tiba disebuah rumah sakit yang ada disana.
Jhon menggendong Samantha masuk kedalam rumah sakit karena dia tidak ingin Samantha tersandung dan terjatuh.
Dia bahkan menyewa sebuah ruangan Vip untuk memeriksa keadaan istrinya.
Jhon sedang berdiri disebelah istrinya didalam ruangan itu untuk menunggu seorang dokter yang sedang memeriksa keadaan Samantha.
Wajahnya tampak kawatir, takut terjadi sesuatu dengan kepala Samantha karena istrinya pernah mengalami benturan.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanyanya tidak sabar.
Dokter itu hanya tersenyum saja sedangkan Jhon semakin tampak khawatir.
"Hei!" Jhon jadi kesal. Bukannya menjawab pertanyaannya tapi dokter itu hanya tersenyum saja.
"Jhon, rileks. Aku hanya sakit kepala." Samantha menenangkan suaminya yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Baby, kau pernah terbentur, aku hanya takut ada sesuatu dikepalamu."ujarnya
"Tuan Smith, kau tidak perlu kawatir." sela dokter itu.
"Apa maksudmu?"
"Istri anda sedang hamil."
"What?" kata Jhon dan Samantha bersamaan.
"Oh my God, aku akan punya anak."
Jhon begitu bahagia mendengarnya sedangkan Samantha tampak bahagia dan tangannya mulai mengusap perutnya. Pantas saja dia selalu merasa pusing dan mual akhir-akhir ini, bahkan dia sudah tidak datang bulan dua bulan terakhir.
Dia kira itu akibat terlalu stres karena menghawatirkan Edward, tapi ternyata?
"Baby, kenapa kau tidak katakan ini padaku?"
"I dont know Jhon."
"Oh my, kau benar-benar harus aku hukum."
Jhon memeluk Samantha dengan erat, dia benar-benar bahagia mendengarnya.
"Congratulitions Mr Smith and Mrs Smith." ujar dokter itu.
Jhon berjalan kearah dokter pria itu dan memeluknya.
"Yes, aku akan mempunyai anak." katanya dengan nada bahagia.
Dokter itu hanya terdiam, baru kali ini ada suami pasien yang memeluknya.
Samantha hanya terkekeh melihat tingkah suaminya.
"Jhon."
Jhon melepaskan dokter itu dan kembali menghampiri istrinya.
"Baby, jadi disini ada Smith Junior?" sambil mengusap perut istrinya.
"I think so." jawab Samantha sambil tersenyum bahagia.
Dokter itu hendak keluar dari sana, hendak meninggalkan pasangan yang sedang bahagia itu.
"Wait." cegah Jhon.
Dokter itupun menghentikan langkahnya.
Jhon kembali mendekati dokter itu dan Samantha melihatnya dengan heran.
"Istriku sedang hamil jadi bolehkah kami?" Jhon melirik kearah Samantha sebelum menyelesaikan pertanyaannya.
Samantha melihat Jhon dengan heran, apa yang mau ditanyakan oleh suaminya?
Sedangkan dokter itu menunggu pertanyaannya.
"Bolehkah kami melakukan hubungan suami istri?" tanyanya tanpa basa basi lagi.
Samantha terbelakak kaget dan wajahnya langsung merah padam.
"Oh my God, Jhon!!" Samantha langsung menutupi wajahnya yang memerah.
"Aku harus memastikannya baby." jawab Jhon dengan santai.
"Tentu saja Mr Smith." jawab dokter itu sambil tertawa.
__ADS_1
"You hear that baby, maka bersiaplah menerima hukumanmu!"
Jhon benar-benar bahagia begitu juga dengan Samantha, ini adalah kabar yang sangat membahagiakan untuk mereka.