
Samantha sedang menundukkan kepalanya tidak berani melihat kearah Jhon.
Pria itu sedang duduk didepannya, menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan melihat kertas yang berada didalam plastik yang diberikan oleh Samantha.
"Apa ini sayang?"
"Hmm...itu.?" Samantha ragu mengatakannya sedangkan Jhon melihatnya dan mengangkat satu alisnya.
Samantha benar-benar tidak enak hati karena semua itu adalah akibat kelalaiannya.
"Surat kontrak yang kau berikan." jawabnya dan dia masih menunduk.
Jhon mengangkat kertas yang sudah menjadi serpihan didepannya dan menatap Samantha dengan heran.
"Kenapa jadi seperti ini?" tanyanya.
"Itu?"
Kemarin, saat pulang kerumah yang pertama kali Samantha Cari adalah surat kontrak yang dia tanda tangani.
Dia bermaksud membaca surat kontrak itu dan mempelajarinya malam itu juga. Dia tidak mau lagi mendapatkan hukuman yang aneh dari Jhon.
Seingatnya dia meletakkan surat itu diatas meja, tapi dia tidak menemukan surat itu disana.
Samantha mulai mencari diberbagai tempat, dia mulai mencari didalam laci dan di rak buku tapi surat itu tidak ada. Dia pikir Anne telah menyimpan surat itu.
Dia ingin menanyakan surat itu pada Anne dan berjalan kekamar Edward. Didalam suara Edward terdengar begitu ceria.
Samantha membuka pintu kamar dan melihat Edward sedang membuat sesuatu dengan ceria bersama dengan Anne.
"Sayang, apa yang kau buat?" tanyanya.
Edward menghentikan kegiatannya saat melihat ibunya, dia segera bangkit berdiri dan berlari kearah Samantha.
"Mommy, look!"
Edward memperlihatkan sebuah karya seni kepada ibunya.
"Wow, this is very nice." pujinya.
Edward tersenyum ceria dan kembali ketempatnya, dia kembali menggunting kertas dan melanjutkan karya seni yang sedang dibuatnya.
Samantha melangkah mendekati Edward dan bertanya pada Anne:
"Aunty, apa kau melihat kertas yang aku letakkan diatas meja?" tanyanya.
"Yang ada dimeja depan?" tanya Anne.
"Iya." jawab Samantha sambil mengangguk.
"Sam, apa itu penting?"
"Yah sangat penting, itu surat kontrak kerjaku." jelasnya.
Wajah Anne langsung pucat dan melihat kertas yang sudah jadi serpihan dilantai.
"Sam, maaf. Aku tidak tahu jika itu surat penting, jadi?"
Anne mengangkat serpihan kertas itu didepannya dengan wajah bersalah sedankan mata Samantha terbelalak kaget.
"Maksud aunty?"
"Edward mendapat tugas kesenian disekolah menggunakan kertas. Karena aku melihat kertas itu dan aku kira itu tidaklah penting jadi aku memberikan kertas itu pada Edward."
__ADS_1
Anne menyodorkan serpihan kertas itu pada Samantha dan tersenyum tidak bersalah.
"Maaf." kata Anne lagi.
"Oh my God!" Wajah Samantha langsung pucat.
Edward terlihat ceria menyelesaikan keseniannya yang hampir selesai, bahkan dia mulai menggunting kertas terakhir yang ada.
Samantha tidak tahu harus bagaimana, entah dia harus marah atau senang melihat Edward yang begitu semangat.
Karena itulah dia memutuskan membawa sisa-sisa kertas itu dan memperlihatkan pada Jhon agar pria itu percaya dengan ucapannya.
"Sam? Kenapa bisa jadi seperti ini?"
Jhon meletakkan kembali serpihan kertas itu diatas meja.
"Maaf Jhon, bisa kau buatkan yang baru?" tanyanya.
"Tidak bisa!"
"Kenapa?"
"Kenapa bisa jadi serpihan begini? Apa kau sengaja menghancurkannya?" tanya Jhon curiga.
"Tidak, bukan seperti itu."
"Lalu?"
"Itu, Edward yang mengguntingnya." katanya dengan ragu.
Jhon menatap kearahnya dengan serius sedangkan Samantha hanya bisa menunduk, memang itu kesalahannya karena menyimpan surat penting itu sembarangan.
"Maaf." ucapnya lagi.
"Ya sudah, mulai sekarang peraturannya sesukaku! Mulai sekarang kau harus mengikuti setiap perkataanku."
"Apa? Kenapa tidak buatkan yang baru saja?"
"Aku tidak punya waktu!" jawab Jhon dengan santai.
"Jhon, please." pinta Samantha sambil memasang wajah memelas.
Bisa celaka jika dia harus mengikuti setiap perkataan Jhon, lebih baik terikat dengan surat kontrak itu dari pada diatur seenaknya oleh Jhon.
"No!" Jhon membuang wajahnya tidak mau melihat Samantha agar dia tidak tergoda.
"Cih, sial!" makinya dengan pelan.
"Aku dengar sayang. Setelah merusak surat kontrak itu beraninya memakiku?"
"Aku tidak memakimu!" Samantha membuang wajahnya kesamping karena kesal.
Jhon hanya tersenyum saja melihatnya, sebenarnya dia bisa membuatkan yang baru karena dia masih ingat apa saja perjanjiannya dan lagi pula dia punya salinannya tapi dengan hancurnya surat itu malah lebih menguntungkan dirinya.
"Besok, kau harus datang." katanya.
"Apa? Besokkan akhir pekan? Bukankah besok aku tidak harus bekerja?" protes Samantha.
"Benar, tapi besok kau harus menemaniku pergi kesuatu tempat. Bukankah aku sudah bilang, kau harus mengikuti perkataanku" katanya.
"Jhon, besok aku tidak bisa."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Besok aku sudah janji dengan Edward untuk mengajaknya kepantai."
"Pantai?"
Samantha mengangguk sedangkan Jhon tampaj berpikir.
"Oke kalau begitu!" jawabnya.
"Apanya yang oke?" tanya Samantha dalam hati.
"Jadi besok bolehkan aku tidak datang?" tanyanya memastikan.
"Tentu sayang, besok kau boleh tidak datang." jawab Jhon dengan senyum diwajahnya.
"Terima kasih Jhon, lain kali aku akan menebusnya." katanya dengan ceria.
Samantha begitu senang Jhon mau mengerti sehingga dia bisa menepati janjinya dan mengajak Edward pergi bermain kepantai.
"Tidak masalah!" Jhon semakin melebarkan senyumnya karena dia punya rencana lain didalam otaknya.
Sedangkan saat yang sama ditempat lain, Stela sedang berbicara dengan ayahnya.
Saat itu Stela sedang menemui ayahnya, dia ingin meminta bantuan ayahnya agar bisa secepatnya menikah dengan Jhon.
"Dad, kapan aku bisa menikah dengan Jhon?"
"Stela, kenapa kau bertanya demikian?"
"Dad, aku hanya ingin kepastian. Aku takut Jhon tidak bisa menjadi milikku."
"Honey, kau adalah tunangannya, cepat atau lambat dia akan menjadi milikmu." jelas Bill Lourent.
"Dad, apa kau tidak bisa menemui Michael Smith dan memintanya mempercepat pernikahanku dan putranya?" tanya Stela.
"Stela, mereka bukan orang-orang yang suka dipaksa. Apa kau tidak tahu siapa Michael Smith? Jika dia tidak suka bukan saja kau, tapi aku juga akan habis!"
"Lebih baik kau bersabar dan selama bisnis kita dengannya berjalan lancar, kita tidak salah mengambil tindakan maka cepat atau lambat kau akan menikah dengan Jhon." jelas Bill Lourent lagi.
"Cih, sampai kapan aku akan seperti ini? Aku sudah tidak sabar ingin menjadi istri Jhon."
Bill Lourent melihat putrinya, memang pertunangan Stela dan Jhon sudah begitu lama dan dia mengerti dengan kegelisahan putrinya.
Bill Lourent berpikir sejenak. Mungkin jika Stela?
"Kau tunggu disini!"
Bill Lourent segera meninggalkan Stela dan masuk kedalam kamarnya tapi tidak lama kemudian pria itu segera kembali dan membawa sesuatu ditangannya.
"Gunakan ini!"
Bill Lourent memberikan sesuatu ditangan putrinya.
"Dad, apa ini?"
Stela melihat benda ditangannya dengan teliti.
"Gunakan benda itu baik-baik. Jika kau berhasil maka keinginanmu untuk menikah dengan Jhon akan segera terwujud."
Stela tersenyum dengan licik saat mengetahui benda itu, dia mulai tahu maksud dari perkataan ayahnya.
"Baiklah, kali ini aku akan mencari kesempatan dan menggunakan benda ini dengan baik."
Stela tersenyum licik dan mulai merencanakan sesuatu untuk menjebak Jhon.
__ADS_1