
Kembali ke Samantha dan Frans.
Samantha masih menatap Frans dengan penuh tajam dan dari tatapannya sangat jelas dia benci dengan Frans.
Frans masih menunggunya dengan gelas yang terangkat didepanya.
"Ayo, bersulang denganku!" ajak Frans kembali.
Samantha tersenyum dengan terpaksa dan mengangkat gelas wine itu juga. Frans segera mengadukan gelas mereka sehingga menimbulkan dentingan dan mulai meminum wine itu.
Samantha hanya menggoyang-goyang gelas ditangannya dan memperhatikannya. Dia bukan wanita bodoh yang akan terjebak untuk dua kali oleh minuman memabukkan itu.
"Frans, aku sudah menuruti semua keinginanmu, aku sudah makan sesuai keinginanmu dan aku juga sudah menjawab pertanyaanmu. Sungguh tidak adil bukan jika aku tidak melontarkan permintaanku padamu?" tanyanya.
Frans memperhatikannya dan meletakkan gelas wine yang dipegangnya kembali keatas meja.
"Jadi sebelum aku meminum wine ini bisakah kau kabulkan permintaanku?" tanyanya.
"Katakan! Akan aku kabulkan apapun permintaanmu." jawab Frans.
"Tolong kembalikan kunciku sekarang!" pintanya.
"Hanya itu? Apa kau tidak mau meminta hal lain? Seperti berlian atau pakaian mahal?" tanya Frans.
"Tidak terima kasih, yang aku butuhkan hanya kunci rumahku!" jawab Samantha dengan dingin.
"Ayolah, aku akan memberikan semua yang kau sebutkan."kata Frans lagi.
Samantha tersenyum dengan malas, dia bukan wanita mata duitan! Berlian? Pakaian mahal? Dia sudah punya semua itu dirumahnya.
"Terima kasih atas niat baikmu Frans, asal kau tahu aku tidak butuh semua itu dan yang aku inginkan hanya kunci rumahku, jadi tolong kembalikan!" pintanya lagi.
Frans menatapnya dengan serius dan kembali meneguk winenya.
"Apa tidak ada hal lain yang kau inginkan?" tanya Frans meyakinkan kan.
Pria itu mengeluarkan kunci rumah Samantha yang dia simpan dikantong celananya kembali dan menyodorkan benda itu kepada Samantha.
Dengan cepat Samantha segera meraih kunci apartemennya dan segera mengangkat gelas wine didepan Frans.
"Satu hal lagi yang aku inginkan, aku harap kau tidak mencariku lagi!"
Setelah berkata demikian Samantha bangkit berdiri dan menuangkan wine yang ada didalam gelas keatas kepala Frans.
Frans begitu kaget, begitu juga orang-orang yang duduk disekitar mereka.
"Samantha kau!!" geramnya marah.
__ADS_1
Frans tidak menyangka Samantha berani melakukan itu dan mempermalukannya.
Samantha segera pergi dari tempat itu dengan puas, setelah menahan kekesalannya sedari tadi akhirnya dia bisa membalas Frans dan mempermalukannya.
Samantha menaiki sebuah taxi untuk kembali keapartemennya dan selama meninggalkan tempat itu dia tidak mau berpaling untuk melihat Frans.
Setelah tiba Samantha begitu kaget saat membuka pintu rumahnya yang sudah tidak terkunci dan mendapati Jhon sedang duduk diatas sofa dan melotot kearahnya.
"Dari mana saja kau?" tanya Jhon dengan kesal.
"Keluar sebentar."
"Kemana?"
"Pergi dengan Frans."
Wajah Jhon langsung menegang menahan amarah saat mendengarnya, pria itu segera bangkit berdiri dan dengan cepat pula, Jhon berjalan kearah Samantha dan memegangi kedua bahunya dengan erat.
"Apa yang kau lakukan berdua dengan Frans?"
"Jhon, lepaskan! Bahuku sakit!"
Samantha berusaha melepaskan dirinya tapi Jhon mengcengkram bahunya begitu erat.
"Samantha, apa kau kembali hanya untuk menemuinya?" Jhon benar-benar dibakar api cemburu.
"Terpaksa? Apa yang memaksamu sampai kau harus ikut dengannya?"
"Frans merampas kunci rumahku jadi aku terpaksa pergi untuk mendapatkan kunciku kembali." jelasnya.
Kunci? Hanya karena sebuah kunci?
Jhon semakin kesal dibuatnya apalagi sedari tadi dia menunggu Samantha dengan cemas tapi wanita itu malah pergi dengan Frans?
Jhon benar-benar tidak bisa menahan emosinya.
"Kenapa kau harus mengikutinya? Kau bisa kembali kerumahku dan menungguku kembali! Apa kau lupa jika aku juga punya kunci rumahmu?" teriaknya penuh emosi.
"Jangan berteriak padaku!" teriak Samantha kesal.
"Jelaskan padaku, kenapa kau mengikutinya hanya gara-gara sebuah kunci saja?" Jhon kembali bertanya dan berusaha menahan emosinya.
"Apa kau bodoh? Jika aku membiarkan Frans membawa kunci rumahku maka secara tidak langsung aku telah terang-terangan mengundangnya untuk keluar masuk seenaknya dalam rumahku! Apa kau mau itu terjadi?" tanyanya.
Jhon menatap Samantha dengan tajam begitu pula dengan Samantha.
Jhon menarik nafasnya dan segera melepaskan cengkraman tangannya dibahu Samantha.
__ADS_1
"Dengar aku sangat khawatir denganmu, aku sudah menunggumu sedari tadi dan menghubungimu tapi kau tidak menjawab ponselmu, aku benar-benar khawatir padamu."
Jhon hendak meraih tangan Samantha tapi Samantha segera menepis tangan Jhon dan berlalu pergi dari hadapannya tanpa berkata apa-apa.
Samantha berjalan menuju kamarnya, dia sangat lelah dan ingin secepatnya beristirahat tapi Jhon malah memperlakukannya seperti itu.
Kedua bahunya terasa sakit ,apa Jhon tidak tahu bahwa dia mencengkram bahunya begitu kuat?
"Baby, maafkan A?"
"Brakkk!"
Samantha membanting pintu kamarnya dengan kencang tampa mau mendengar ucapan Jhon lagi.
Jhon melihatnya dengan perasaan bersalah, apa tindakannya tadi salah?
Dia hanya kawatir dengan Samantha dan saat mendengar Samantha pergi dengan Frans membuatnya dikuasai oleh emosinya.
Jhon kembali duduk diatas sofa tapi matanya masih menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Haruskan dia masuk kedalam dan meminta maaf?
Sedangkan didalam kamar, Samantha melepaskan bajunya dan segera menuju kamar mandi. Samantha melihat bahunya didepan cermin yang tampak memerah dan bekas jari Jhon terlihat disana.
Samantha mengusap-usap kedua bahunya dan segera berdiri dibawah Shower, sakit seperti itu sudah biasa dia terima sewaktu latihan karate jadi dia tidak memperdulikannya.
Tapi yang membuatnya kesal, Jhon memperlakukan dirinya seenaknya dan berani berteriak padanya.
Samantha segera membersihkan dirinya dibawah guyuran air shower karena dia ingin segera beristirahat, selagi dia sedang mandi, Entah kenapa dia kangen Edward. Disaat sedih seperti ini Edwrad selalu menjadi obat untuknya tapi dimana pria kecilnya sekarang berada?
Setelah selesai mandi, Samantha segera menjatuhkan diri diatas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Dia malas keluar dari kamar dan sedang malas bertemu dengan Jhon, lebih baik dia tidur dan melupakan apa yang barusan terjadi.
Jhon menunggu diluar dengan perasaan bimbang, sudah lebih dari tiga puluh menit dia menunggu disana tapi Samantha belum juga keluar.
Jhon segera bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar Samantha, Jhon ingin membuka pintu kamar itu tapi dia ragu, bagaimana jika Samantha masih marah dengannya?
Tapi ini semua bukan salahnya bukan? Dia hanya kawatir saja dan tidak seharusnya Samantha marah seperti ini!
Jhon mengurungkan niatnya dan hendak berjalan pergi tapi kemudian pria itu menghentikan langkahnya.
"Oh Shit! i hate this situation!" makinya.
Jhon kembali melangkah menuju pintu dan memutar handel pintu dengan cepat. Dia kira Samantha akan menangis didalam sana tapi ternyata wanita itu sedang tidur.
Jhon menghampiri Samantha dan naik keatas ranjang. Dengan pelan Jhon segera menarik Samantha yang tertidur kedalam pelukkannya.
Lebih baik mereka seperti ini terlebih dahulu dan pada saat mereka bangun nanti, dia harap hubungan mereka kembali seperti semula lagi.
__ADS_1