Hot Mother And The Bos Mafia

Hot Mother And The Bos Mafia
Tanda tangan kontrak.


__ADS_3

Setelah selesai melakukan interview, Samantha duduk termenung disebuah restoran fastfood yang dia jumpai saat hendak pulang.


Dia hanya memperhatikan orang-orang yang keluar masuk direstoran itu, sudah hampir dua jam dia duduk disana dan tidak terlihat bersemangat.


Dia hanya menyomot kentang gorengnya dengan tidak niat.


Samantha melirik ponselnya dan menarik nafasnya dengan berat.


Dia baru saja melihat saldo tabungannya dari ponselnya, isinya sudah sekarat dan dia benar-benar sudah harus cepat-cepat mendapatkan pekerjaan.


Biaya rumah sakit waktu Edward dirawat sudah menguras begitu banyak isi tabungannya, belum lagi untuk membayar sewa apartemen.


Tapi dia tidak menyesal karena semua itu untuk Edward.


Padahal tadi adalah kesempatan bagus untuknya, tapi sepertinya dia tidak akan diterima disana.


Samantha kembali menarik nafasnya, sepertinya dia harus membuat lamaran baru.


Jika dia berlama-lama mungkin isi tabungannya tidak akan cukup sampai dua bulan kedepan.


Jika sudah seperti itu bisa-bisa dia harus merangkak pulang dan meminta bantuan ayahnya tapi sebelum itu terjadi, dia akan tetap berusaha. Jika tidak, pelariannya akan menjadi sia-sia.


"Nona, apa kau sudah selesai?"


Seorang pramusaji mendekatinya dan bertanya padanya.


"Ya, ada apa?"


"Tolong mengertilah nona, ini restoran fastfood. Anda sudah duduk disini selama dua jam dan para pelanggan kami butuh tempat duduk ini. Jika anda sudah selesai makan bisa tolong beri giliran yang lain?" kata pramusaji itu tanpa basa basi.


Samantha langsung malu dan tidak enak hati.


"Ma..maaf. Aku akan pergi."


"Baguslah." pramusaji itu meninggalkannya dan mendengus kesal.


Samantha meraih ponsel dan tasnya, setelah membereskan mejanya dia segera keluar dari restoran itu.


Samantha melihat sebuah taxi dan hendak menyetopnya tapi saat itu ponselnya berbunyi dan dia menghentikan niatnya.


Dia segera menjawab panggilan masuk yang entah dari siapa.


"Samantha Jackson?" tanya seorang pria disebrang sana.


"Ya." jawabnya singkat.


"Saya dari perusahaan Smit. Selamat, anda kami terima diperusahaan kami."


Mata Samantha terbelalak kaget dan wajahnya langsung berseri.


"Apa? Benarkah?" tanyanya tidak percaya.


"Benar. Bisa anda datang keperusahaan kami sekarang?"

__ADS_1


"Sekarang?"


"Ya."


"Tentu saja bisa. Lima belas menit lagi aku akan tiba disana." jawabnya penuh semangat.


Samantha segera menyetop taxi yang kebetulan lewat, dia merapikan rambutnya dan membenarkan riasan wajahnya selama didalam taxi.


Padahal dia sudah sangat yakin tidak akan diterima disana tapi siapa sangka, sepertinya hal baik sedang menghampirinya.


Saat itu, Billy masuk kedalam ruangan bosnya untuk melaporkan jika Samantha akan tiba dalam waktu lima belas menit lagi.


Jhon telah menunggu laporannya dan melemparkan sebuah kertas yang telah dijepit dengan rapi padanya.


Billy merasa heran tapi dia tidak berani bertanya, sedari tadi senyum terus mengembang diwajah bosnya itu.


Jhon memerintahkan Billy untuk menemui Samantha dan dia akan memantau mereka dari ruangannya.


Lima belas menit kemudian Samantha tiba kembali kegedung itu, dia memberitahukan pada resepsionis yang ada didepan dan diantarkan masuk kedalam satu ruangan.


Samantha menunggu dengan gugup disana, dia akan berbicara dengan hati-hati agar tidak salah berbicara dan mengulangi kesalahannya.


Tidak lama kemudian Billy masuk kedalam ruangan itu, matanya terpana melihat perempuan cantik yang telah membuat bosnya tergila-gila.


"Billy, jika kau berani melihatnya terlalu lama akan aku korek matamu keluar!" Ancam bosnya dari headset yang terpasang ditelinganya.


Sambungan ponselnya memang sengaja diaktifkan karena Jhon akan memberikan intruksi untuknya secara langsung. Pria itu bahkan memantau mereka dari layar komputernya melalui cctv yang terpasang diruangan itu.


"Ms Samantha Jackson." tanya Billy.


"Iya."vjawabnya.


Billy hanya membalas jabatan tangan Samantha sekilas, dia tidak berani berlama-lama karena bosnya sedang memperhatikan mereka.


"Saya Billy, selamat anda kami terima jadi silahkan menandatangani surat kontrak anda disini."


Billy meletakkan kertas yang diberikan bosnya didepan Samantha. Itu adalah surat kontrak kerja dan persyaratan yang ditulis oleh Jhon.


"Terimakasih tapi bolehkah aku tahu apa posisiku disini?" tanya Samantha.


"Sekretaris." Billy mengikuti perkataan Jhon dari ponsel mereka yang sedang tersambung.


"Tapi tuan Billy, aku tidak melamar menjadi sekretaris. Bisa beri aku posisi yang biasa saja?" pinta Samantha.


"Maaf, hanya posisi ini yang kosong. Apa anda keberatan?"


Samantha terdiam sejenak, posisi itu terlalu tinggi untuknya dan dia tidak yakin apakah bisa menjalaninya atau tidak.


"Anda akan digaji lima milyar dalam setahun." kata Billy lagi.


Mata Samantha terbelalak kaget. Lima milyar?


"Jika anda bersedia anda bisa menandatangani kontrak kerja dan akan bekerja dengan kami selama lima tahun. Disana tertera apa saja yang harus anda kerjakan dan ada konsekuensi jika anda melanggar aturan."

__ADS_1


Samantha mulai melihat kertas itu, kenapa begitu banyak poin yang tertera disana?


"Boleh aku bawa pulang dan mempelajari semua ini terlebih dahulu?" tanyanya.


"Tidak bisa!" jawab Billy dengan cepat.


"Jika anda tidak bersedia maka kami akan memberikan posisi ini pada orang lain." kata Billy sedikit mengancam


Samantha hanya diam saja, matanya sibuk membaca poin pertama yang tertera dikertas itu.


Setelah selesai membacanya dia menatap Billy dengan heran.


"Tuan Billy, apa ini pekerjaan sekretaris?" tanyanya tidak percaya.


"Billy, jangan sampai dia membaca lebih jauh dari itu. Segera selesaikan!" perintah Jhon lewat headsetnya.


"Nona, aku beri anda waktu lima detik dan jika tidak bersedia aku akan pergi, aku tidak punya banyak waktu lagi." kata Billy dengan cepat.


Samantha ingin kembali membaca poin berikutnya tapi Billy mulai menghitung.


"Five.."


Samantha membuka lembar demi lembar kertas yang terlihat banyak itu.


"Four."


Kini dia mulai panik


"Three."


"Aku akan tanda tangan, aku setuju dengan semua persyaratannya." katanya cepat.


Billy menarik nafasnya lega. "hampir saja." pikirnya dalam hati.


"Bagus." Billy memberikan sebuah pena untuk Samantha.


Samantha segera menandatangi surat perjanjian itu tanpa curiga. Dia pikir ini kesempatan yang bagus dan gajinya benar-benar fantastis.


Setelah selesai menandatangani semua surat perjanjian itu Samantha memberikan nya kembali pada Billy.


"Terima kasih, surat kontrak ini saya pegang. Tapi sisanya bisa anda pegang dan anda bisa pelajari dirumah setiap poinnya."


"Tapi anda harus ingat satu hal, apapun yang terjadi anda sudah terikat bekerja dengan kami selama lima tahun kedepan. Jika anda mau mengundurkan diri maka anda harus membayar kompensasi lima kali lipat dari seluruh gaji anda selama lima tahun." kata Billy lagi.


Samantha mengangguk tanpa curiga, dia rasa lima tahun bekerja disana tidak lah buruk.


"Bagus, besok anda mulai bekerja. Anda tidak perlu kawatir, seorang supir akan menjemput anda."


Setelah berkata demikian Billy segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Samantha.


"Master, ikan sudah masuk kedalam kolam buaya." lapornya.


Jhon tersenyum dan segera melepaskan headset yang dipakainya.

__ADS_1


"Perumpamaan yang bagus." katanya.


__ADS_2