
Saat itu Jhon sudah berada diparkiran, dia sudah mencari Samantha dan Edward disana tapi mereka tidak ada.
Jhon juga sudah menghubungi ponsel Samantha tapi tidak dijawab olehnya, Jhon kembali ke mobilnya dan bertanya kepada supir pribadinya, apakah ada melihat Edward dan Samantha?
Tapi supir pribadinya menggeleng dan berkata jika tidak melihat Samantha dan Edward.
Jhon mulai kawatir, apa mereka bertemu dengan Frans?
Apa Frans melihat Edward, menyadari kemiripan mereka dan membawa Edward dengan paksa sehingga Samantha juga terpaksa mengikuti Frans?
Jhon mengumpat dalam hati, seharusnya dia membawa Samantha pergi dari sana sejak mengetahui Frans membawa Samantha pergi dengan paksa.
Semua ini kesalahannya karena terlalu lengah dan tidak berhati-hati.
"Baby, where are you?" tanyanya cemas.
Tidak mau diam saja, Jhon segera memerintahkan supir pribadinya untuk mencari Samantha disetiap lantai dengan cara menaiki anak tangga, bisa saja Saat ini Samantha dan Edward sedang bersembunyi disana.
Sedangkan Jhon menaiki lift karena dia akan kembali kekamar apartemen Samantha, dia ingin melihat apakah Samantha dan Edward telah kembali ke kamarnya?
Sementara itu Samantha sedang mengatur nafasnya yang hampir putus dan duduk dianak tangga, dia menurunkan Edward dari gendongannya dan mendudukkan pria kecil itu disebelahnya.
kakinya sudah sangat sakit karena berlari menuruni anak tangga sambil menggendong Edward.
Belum lagi high heel yang dipakainya, tumitnya benar-benar sakit.
Samantha membuka high heel yang dipakainya, melemparkannya dan memijat-mijat tumitnya.
"Mommy, kenapa kita berlari menuruni tangga?" tanya Edward.
Samantha mengangkat tangannya memberi isyarat pada Edward untuk menunggu sejenak sampai nafasnya kembali teratur.
Dia sudah berlari menuruni delapan lantai, bahkan tasnya sudah dia buang entah dilantai berapa.
"Mommy, are you oke?" tanya Edward memastikan.
"I'm oke honey." jawabnya setelah nafasnya sudah kembali normal.
"Sialan, kenapa harus bertemu Frans disini. Aku kira dia tidak akan datang lagi." katanya dalam hati.
"Mom?" panggil Edward lagi.
"Honey, tunggulah disini sampai daddy datang." katanya.
Samantha memeluk Edward dengan erat, dia tidak tahu harus bagaimana, apa dia harus kembali keatas atau dia harus turun kebawah.
Dia tidak tahu dengan situasi diatas, apa Frans sudah pergi? Jika iya maka dia takut akan berpas-pasan dengan pria itu.
Dia juga kawatir dengan Jhon, bagaimana dengan keadaan pria itu sekarang?
Jadi dia memutuskan duduk disana menunggu beberapa saat lagi.
Beberapa saat kemudian, Samantha mendengar suara ketukan sepatu dilantai anak tangga.
Samantha segera bangkit berdiri, membawa Edward dalam gendongannya, dia takut jika Frans yang tiba-tiba muncul. Jika benar pria itu maka dia harus kembali berlari membawa Edward.
__ADS_1
"Ms?."
Seorang pria muncul dari lantai bawah dan memanggilnya, Samantha bernafas lega ternyata pria itu adalah supir pribadi Jhon.
"Ternyata anda ada disini, bos sedang mencari anda."
"Jhon? Dimana dia?"
"Sepertinya bos kembali ketempat anda." jelas supir itu.
"Terima kasih." Samantha sangat lega mendengarnya.
Samantha segera berjalan menuju lift, dia harus kembali ke kamarnya untuk menemui Jhon tapi sebelum itu, dia meminta bantuan supir pribadi Jhon untuk mengambil tasnya yang telah dia tinggalkan.
Saat pintu lift telah terbuka Samantha berjalan dengan cepat menuju ke kamar apartemennya.
Dengan tidak sabar Samantha membuka pintu apartemennya dan tampak Jhon berada didalam, pria itu menoleh kearahnya saat mendengar suara pintu yang terbuka.
"Baby, apa kau baik-baik saja?"
Samantha segera menurunkan Edward dari gendongannya dan berlari kearah Jhon. Samantha memeluk Jhon dengan erat karena dia benar-benar kawatir dengan pria itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
Jhon tersenyum dan membalas pelukan Samantha.
"Tidak perlu kawatir sayang, aku baik-baik saja."
"Apa? Apa yang telah Frans lakukan padamu?"
Samantha memejamkan matanya, benar-benar lega.
"Mom?" panggilan Edward menyadarkannya.
Samantha segera melepaskan pelukannya dan kembali mengangkat Edward dalam gendongannya.
"Jhon, bagaimana sekarang? Apa aku harus pindah lagi?" tanyanya.
"Baby, aku sudah memikirkan ini. Sebaiknya kalian tinggal di rumahku untuk sementara waktu."
"Tidak mau, apa kata orang nanti!"
"Sayang, hanya untuk sementara. Aku pasti akan mencarikan tempat yang aman untukmu dan Edward."
"Jhon, maaf aku telah melibatkanmu, semua ini karena aku."
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Kau dan Frans, seharusnya kalian tidak bermusuhan. Semua ini karena kesalahanku."
Jhon segera mengambil Edward dari gendongan Samantha dan meminta Edward untuk bermain didalam kamarnya.
Setelah kepergian Edward didalam kamar, Jhon menarik Samantha kedalam pelukannya dan menghiburnya.
"Baby, semua ini tidak ada hubungannya denganmu. Frans hanya sakit hati dan membenciku karena Stela telah meninggalkannya dan mengatakan telah membunuh anaknya."
__ADS_1
"Percayalah padaku, semua permasalahan ini dimulai dari Stela. Jika saja aku tahu dia sedang mengandung anak orang lain, aku tidak akan mau menjadi tunangannya."
"Jadi ini bukan karena kesalahanku?"
"No baby, sebelum aku mengenalmu, Frans memang sudah membenciku dan selalu berusaha menjadi sainganku."
"Tapi dia tambah membencimu sekarang karena aku."
"Sayang, apa yang kau katakan? Aku lebih dulu mengenalmu dibandingkan dengannya jadi dia yang ada diantara kita dan semua ini bukan kesalahanmu."
"Tapi?"
"Sttss...Baby, jangan menyalahkan dirimu."
Jhon mengangkat dagu Samantha dan mencium bibirnya sejenak dan melepaskannya.
"Kau tidak perlu kawatir, jika sampai Frans berani menyentuhmu walau seujung rambutpun maka aku tidak akan mengampuninya."
Samantha mengangguk.
"Sekarang, bereskan barangmu dan Edward yang penting-penting saja. Sisanya aku akan mengutus orang untuk membawanya, disini sudah tidak aman untuk kalian berdua."
"Apa tidak apa-apa seperti ini?"
"Maksudmu?"
"Kau tahu, aku sudah seperti penculik anak. Aku lari dari ibunya dan sekarang aku harus menyembunyikan Edward dari pria yang belum tentu ayahnya."
"Baby, percayalah padaku. Jika Edward sampai ditemukan oleh Stela maka Edward akan berakhir ditangannya dan jika Edward sampai berada di tangan Frans maka masa depan suram yang akan dia dapat."
"Apa maksudmu?"
"Baby, aku sudah memastikannya bahwa Frans memang ayah Edward, tanpa perlu tes DNA pun mereka sudah seratus persen ayah dan anak. Aku juga yakin seratus persen bahwa Frans tidak tahu bahwa anaknya masih hidup, jika dia tahu maka dia pasti akan merebut Edward. Saat itu mau kau ataupun aku tidak bisa melawannya dipengadilan karena dia ayah kandungnya."
Samantha terdiam, hatinya langsung ketakutan saat memikirkan Frans merebut Edward darinya. Anak yang telah dia rawat dari bayi, bagaimana dia bisa berpisah dengannya?
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanyanya ketakutan.
"Sudah aku bilang, ikutlah denganku. Aku akan menempatkan beberapa pengawal untuk menjaga Edward dua puluh empat jam. Aku pastikan tidak akan ada yang bisa menyentuhnya, sekalipun itu Frans."
Samantha mengangkat kepalanya, menatap Jhon dengan lekat.
"Trust me, baby."
"Maaf Jhon, aku telah melibatkanmu."
Jhon tersenyum dan membelai wajah Samantha yang tampak kawatir.
"Sayangku, aku telah berjanji padamu untuk menjaga Edward. Maka akan aku tepati walaupun nyawaku taruhannya."
"Terima kasih, aku?"
"Sttttss!"
Jhon langsung menciumi bibir Samantha, dia tidak mau wanita itu tambah kawatir.
__ADS_1
Malam itu Jhon langsung membawa Samantha dan Edward pulang kerumahnya. Dia tidak mau mengambil resiko lagi karena Frans, bisa datang ketempat itu kapan saja tanpa mereka duga.