
Setelah pergi dari tempat itu, Jhon meminta Billy mengantarnya kembali keapartemen Samantha.
Selama dia berada di Colorado, ayahnya yang menggantikannya mengurus semua pekerjaannya disana.
Walaupun begitu, dia tetap harus menghadiri rapat yang telah dijadwalkan untuknya besok pagi.
Selama diperjalanan, Billy menerawang memandangi jalanan. Semenjak mengikuti Jhon dia tidak pernah memikirkan ingin memiliki kekasih.
Tapi saat melihat bosnya? Sungguh dia sangat ingin seperti bosnya dan dia tidak mau hidup sendiri seperti Ron yang mengabdi tanpa menikah.
"Master." panggilnya memecahkan keheningan diantara mereka.
"Hm!"
"Boleh aku cuti?" tanyanya.
"Tentu saja, berapa hari?" tanya Jhon.
"Entahlah." jawabnya.
"Kapan?" tanya Jhon lagi.
"Besok kau ada rapat mungkin lusa aku akan cuti." jawabnya.
"Oke, kau boleh cuti tapi ingat jangan lama-lama."
"Siap master."
"Billy, selama kau cuti utus seseorang untuk melakukan perintahku. Sebelum menyiksa Frans Lebih jauh, aku ingin dia melihat kenyaatan yang ada sehingga dia tidak ingin mati lagi. Dan setelah itu, aku akan membiarkan Frans Rional membunuhnya sehingga dia mati dalam penyesalan yang teramat dalam." perintahnya.
"Siap master."
Setelah mendapat perintah, Billy kemudian terdiam. Pria itu sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan nanti selama cuti.
Setelah tiba diapartemen Samantha, Jhon membiarkan Billy kembali, dia juga tidak bertanya kenapa asistennya itu minta cuti.
Jhon sudah tidak sabar bertemu dengan Samantha, padahal ini baru beberapa jam saja tapi memang rasanya dia tidak mau berjauhan dengan kekasihnya.
Dengan tidak sabar Jhon membuka pintu apartemen Samantha, didalam tampak sunyi, hanya terdengar suara mesin cuci yang berbunyi.
Jhon masuk kedalam dan tampak Samantha sedang tertidur diatas sofa. Sepertinya wanita itu kelelahan karena membersihkan apartemennya sendiri.
Jhon berjalan kekamar Edward dan tampak Edward tertidur dengan pulas disana. Jhon tersenyum dan kembali menutup pintu kamar itu kembali.
Pria itu segera berjalan kearah mesin cuci yang masih bekerja, setumpuk cucian ada disana dan sepertinya Samantha tertidur karena menunggu cucian yang sedang dicuci olehnya.
Setelah Itu Jhon menghampiri Samantha, mengangkat tubuh wanitanya dan membawanya kedalam kamar. Jhon membaringkan Samantha diatas ranjang dan setelah itu dia keluar dari sana.
Beberapa waktu berlalu, Samantha membuka matanya dan bangkit dari atas ranjang. Dia sangat heran, kenapa dia ada dikamar?
Bukankah dia sedang tiduran diatas sofa sambil menunggu cuciannya? Tapi kenapa dia ada didalam kamar sekarang? Tidak mungkin bukan dia tidur sambil berjalan?
Dengan cepat Samantha keluar dari kamarnya karena dia ingin melihat cuciannya tapi saat dia tiba, semuanya sudah terjemur ditempat seharusnya.
Samantha sangat heran, siapa yang melakukannya?
Selagi dia masih bertanya-tanya, terdengar suara didalam dapur. Samantha mengernyitkan dahinya, siapa?
Samantha meraih sebuah tongkat yang ada disamping lemari, jika pencuri maka akan dia pukul sampai mati.
Saat sudah berada didalam sana, matanya terbelalak kaget saat melihat dapurnya yang berantakan oleh ulah seseorang.
"Jhon."
Samantha tercengang melihat pria itu yang sedang mencuci tangannya.
"Baby, kenapa kau sudah bangun?"
Jhon merasa malu karena Samantha melihat hasil perbuatannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin membakar rumahku?"
Dengan cepat Samantha berjalan menghampiri kompor yang masih menyala dan mematikannya.
Diatas wajan, tampak telur beserta kulitnya sudah gosong dan menghitam.
Tidak hanya itu, dua pak telur ada diatas meja dalam kondisi mengenaskan. Pecah dan isinya meleleh kemana-mana.
Samantha melihat kearah Jhon dengan heran, apa yang mau pria itu lakukan?
Jhon hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pura-pura tidak melihatnya.
"Jhon, apa yang mau kau lakukan?" tanya Samantha kesal.
"Sory baby, sepertinya aku tidak ahli dalam hal ini." jawab Jhon tidak bersalah.
"Lihatlah!"
Samantha mengangkat wajan dan memperlihatkannya kepada Jhon, menghitam karena telur yang gosong. Kemudian Samantha berjalan kearah keranjang sampah, disana penuh dengan telur gosong pula.
Dua pak telur itu?
"Oh my God. Kenapa ada orang yang tidak bisa memecahkan telur dengan benar bahkan satu telur saja!" gerutu Samantha kesal.
Jhon menghampirinya dan memeluknya.
"Sorry, aku pikir aku bisa membuatkan sandwich untukmu dan Edward."
"Apa kau pernah melakukannya?"
"No."
"Jika begitu kenapa kau melakukannya?"
"Yah?" jawab Jhon malas.
"Kau benar-bener!" Samantha kehabisan kata-kata.
"Sorry."
"Sudahlah, apa kau yang menjemurkan cucianku?" tanyanya.
"Yes."
"Kau sudah ahli sekarang." pujinya.
"Yah, untukmu."
"Tapi?"
Samantha kembali melotot kearah Jhon.
"Jangan pernah coba-coba masuk kedalam dapur untuk membuat sesuatu lagi!" ancamnya.
Jhon terkekeh pelan dia segera mengangkat tubuh Samantha dan membawanya duduk diatas pangkuannya.
"Baby."
"Hm?"
"Apa bahumu masih sakit?"
"Masih, sedikit." jawabnya.
"Baby, kapan kita akan menikah?"
"Apa kau sudah sangat ingin menikah denganku?" Samantha balik bertanya.
"Of course baby, jangan bilang kau tidak ingin menikah denganku."
__ADS_1
Samantha mengusap wajah Jhon dengan senyum diwajahnya.
"Of course i want. Tapi bukankah lebih baik kita bertunangan terlebih dahulu?"
"Jadi kau ingin kita bertunangan?"
"Yes."
"Seperti yang kau inginkan sayang."
"Jhon."
"Yes baby."
"Jika suatu hari nanti kita punya anak, apa kau masih akan menyayangi Edward seperti sekarang?" tanyanya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Bagaimanapun dia bukan anak kita. Aku tidak mau setelah kita punya anak kau malah melupakannya dan tidak mencintainya lagi."
"Baby, aku berjanji padamu, walaupun kita punya sepuluh anak sekalipun aku akan tetap menyayangi Edward dan memberikan yang terbaik untuknya seperti anak kandung kita kelak."
"Really?"
"Yes baby."
Samantha memeluk Jhon dengan erat dan menyembunyikan wajahnya dibahu Jhon.
"Aku akan meminta orang tuaku datang untuk membicarakan pernikahan kita."
"Baby, tidak perlu merepotkan orang tuamu. Aku akan mengajak keluargaku pergi ke Colorado untuk menemuinya."
Samantha tersenyum dan tampak senang.
"Kapan?"
"Secepatnya karena aku sudah tidak sabar ingin menjadikanmu milikku."
"Baiklah, aku tunggu."
"Baby, apa kau ingin aku melamarmu dengan romantis?"
"Tidak perlu Jhon, aku tidak memerlukannya. Cukup lamar aku didepan kedua orang tuaku."
"Aku pasti melakukan hal itu, kau tidak perlu kawatir sayang."
Jhon mengangkat dagu Samantha dan hendak menciumnya tapi Samantha langsung menutup bibir Jhon dengan tangannya.
"Stop!"
"Why?"
"Bersihkan dapurku terlebih dahulu!" perintahnya.
"What?"
"Jika tidak kau tidak boleh menciumku!" ancam Samantha.
"Oh my, biarkan aku menciummu satu kali terlebih dahulu." pintanya.
"No!"
Samantha segera bangkit berdiri dan berjalan pergi Sedangkan Jhon mengacak rambutnya kesal.
"Benar-benar perempuan yang suka memperbudak orang! Sepertinya aku sudah gila mau menikah dengannya." makinya.
"I hear you Jhon." reriak Samantha.
Jhon hanya menggeleng dan mulai membersihkan dapur yang berantakan karena ulahnya.
__ADS_1