
Syafira memperhatikan putra tunggalnya dengan senyum yang tidak dapat dia sembunyikan. Selama ini dia menilai kalau Bram sama sekali tidak memiliki rasa tertarik pada
Laras sebagi seorang pria kepada wanita.
Syafira melihat perhatian Bram kepada Laras seperti seorang kakak lelaki pada adik perempuannya sementara hubungan mereka berdua adalah sebagai tunangan.
Dan semalam setelah dia bertemu dengan Laras, dia memutuskan untuk menelepon Indah untuk meminta persetujuan nya agar hubungan mereka bisa berkembang dan memiliki gairah baru. Dan Fira beruntung ketika Indah menyetujuinya.
Dan Syafira segera menyuruh penata rias agar makeover penampilan Laras dari seorang gadis remaja menjadi wanita yang berpenampilan dewasa dan terlihat menggoda.
Walupun laras tidak menyadari, setidaknya dia belum mengerti, tapi Syafira melihat putranya tidak berkedip ketika melihat Laras saat menuruni tangga. Dan sejak itu Syafira melihat Bram posesip pada Laras.
“Kenapa mama tersenyum?” tanya Rizal pada istrinya.
“Papa lihat kalau putra kita tidak bisa menjauhkan mata dan tangannya dari Laras?” bisik Fira.
Rizal tertawa pelan karena sejak Laras menemui mereka, tidak sekalipun Bram melepaskan pegangan tanggannya. Kalau tidak menggenggam telapak tangan Laras, Bram pasti meletakkan tangannya di pinggan atau bahu Laras. Dan menyatakan secara jelas bahwa wanita bergaun kuning adalah miliknya.
“Benar. Papa tidak mengira kalau Bram bisa melakukannya. Awalnya papa berpikir kalau Bram tidak tertarik pada Laras dan hanya menganggapnya sebagai anak kecil saja. Tapi. Lihat lah sekarang anak itu.” Katanya tertawa.
Bram membawa Laras untuk menemui Rizal dan Syafira dan dia melihat kedua orang tuanya tertawa dengan pandangan tertuju pada dirinya.
“Apa yang dipikirkan papa dan mama? Apakah mereka tahu kalau aku sudah mencium Laras?” katanya sambil melirik bibir Laras.
“Kenapa?” tanya Laras pelan ketika dia memergoki Bram menatap bibirnya.
“Kalau aku bicara jujur kamu marah tidak?” goda Bram.
“Maksud kamu?”
__ADS_1
“Aku ingin menyentuh dan menghisap bibir kamu lagi Yank,” sahut Bram dengan berbisik pelan.
“Kamu?”
Laras tidak tahu harus mengatakan apa pada Bram. “Kenapa kamu menginginkannya?”
“Karena aku menyukai dan sudah berhasil menggoda ku Laras. Sekian tahun aku harus menahan diri karena dirimu yang masih sangat muda. Tapi sekarang kamu sudah kelas 2 sma dan aku yakin kamu bisa menerima saat aku menciummu,” kata Bram.
Bram kembali menatap Laras dan menunggu reaksi yang diberikan olehnya.
“Tapi aku tidak tahu apa-apa Bram. Aku berdekatan dengan seorang laki-laki secara khusus hanya dengan kamu. Dan jujur aku tidak tahu harus mengatakan melakukan apa,”
sahut Laras pelan membuat Bram meletakkan tangannya pada pinggangnya.
“Aku akan mengajari.” Jawab Bram antusias.
“Kan kamu tunangan aku Yank. Jadi yang berhak memberi pelajaran khusus ke kamu ya aku. Masa kamu mau ngasih kesempatan seperti itu sama Arya sih,” sahut Bram merajuk
membuat Laras menghentikan langkahnya dan menatap Bram.
“Kamu cemburu sama Arya?” tanya Laras geli.
“Jelas cemburu lah. Kamu pikir aku tidak tahu kalau dulu Arya suka sama kamu?”
“Dulu kan?” goda Laras tertawa.
“Memangnya sekarang dia masih suka sama kamu? Kalau iya, aku akan langsung minta Mama Indah agar kamu pindah sekolah.”
“Ya mana aku tahu Arya masih suka sama aku atau tidak. Setahu aku dan Fakhry itu jadi mata-mata kamu.”
__ADS_1
“Ya karena kalau mereka tidak aku jadikan mata-mata dan pengawal kamu, mereka tidak menganggap serius pertunangan kita,” jawab Bram yang secara tiba-tiba menarik pinggang Laras sehingga tubuh Laras merapat ke tubuhnya.
“Eh Bram. Apaan sih? Malu tahu dilihatin Mama Fira,” katanya mencoba mendorong dada Bram.
“Mereka suka kok. Memangnya kamu tidak lihat sejak tadi mereka tertawa melihat kita?”
kata Bram tertawa.
“Iya. Tapi bukan hanya kedua orang tua kamu saja yang memperhatikan kita. Tapi juga semua tamu yanghadir di sini,” kata Laras tertunduk malu.
“Kenapa?” tanya Bram mendekatkan bibirnya ke telingan Laras.
“Aku lagi mikir, apa aku tiba-tiba menjadi wanita dewasa dengan meladeni semua kata-kata
kamu? Perasaan kemarin aku masih cuek deh sama kamu,” gumamnya membuat Bram kembali tertawa.
“Ya Tuhan … Kamu benar-benar membuat aku tidak bisa berpikir kalau dekat sama kamu Yank.”
“Benarkah? Kalau kamu tidak bisa berpikir berarti harus diragukan dong gelas sarjana dan
juga prestasi yang sudah kamu capai selama ini,” goda Laras sehingga Bram memutuskan untuk mendekatkan kepalanya dan hendak menciumnya.
“Kalau kamu terus bicara aku tidak segan-segan mencium kamu di depan banyak orang,” kata
Bram mengancam Laras yang hanya di jawab dengan anggukan kepala Laras.
“Bram brengsek. Kenapa kalau dia seperti itu aku tidak bisa bicara,” gerutu Laras dengan pipinya yang merona.
“Aku menyukai mu dengan semua sifat yang ada padamu Laras. Sebagai gadis remaja yang belum pernah merasakan sentuhan pria maka aku akan menjadi satu-satunya lelaki yang kamu inginkan,” katanya dengan tatapannya yang merayu dan Laras hanya tersenyum mengiyakan.
__ADS_1