
Seperti kemarin, hari ini Laras pagi-pagi sudah bangun dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah karena Dirga akan berangkat keluar kota.
"Kaka sudah tahu kalau Bram akan menyusul Papa ke Makasar?," tanya Dirga.
"Sudah. Semalam dia ngasih kabar," jawab Laras.
"Terus?," tanya Dirga ingin mendengar kelanjutan cerita Laras.
"Terus Kaka lupa beri tahu kalau Jum'at sore itu ada acara penutupan MPLS," jawab Laras tertawa.
"Ya sudah. Kalau kalian memang mau menyusul naik pesawat pada Sabtu siang aja," kata Dirga.
"Kalau begitu Mama akan pesan tiket untuk Sabtu siang. Dinar belum datang Kan?," tanya Indah ketika melihat jam dinding yang sudah mendekati angka 6.
"Assalamualaikum...," Indah tersenyum karena baru saja ia menanyakan Dinar, ternyata orangnya sudah memberi salam.
"Waalaikum salam. Masuk dulu Din."
"Iya Tante. Dinar nunggu di teras aja," jawab Dinar.
"Din, kamu suka buah mangga tidak?, kemarin suaminya Mba Sri panen buah Mangga."
"Wah suka banget Tante. Apalagi yang matang di pohon. Maklum Tante dirumah ga punya pohon buah sama sekali," jawab Dinar tertawa.
"Kalau begitu nanti sebelum kamu pulang kerumah mampir kesini lagi ya!."
__ADS_1
"Ya Tante. Dan terima kasih sebelumnya.."
Tidak berapa lama Laras dan Dirga keluar membuat Dinar menunduk malu.
"Pak Didi sudah panaskan mobil?," tanya Dirga.
"Sudah Tuan. Apa kita berangkat sekarang?," tanya Didi.
"Ya kita berangkat sekarang, karena kita harus mengantarkan anak-anak ke sekolah lebih dulu."
"Baik Tuan."
Setelah berpamitan pada Indah, mereka segera masuk kedalam mobil dan tidak berapa lama kemudian Mobil yang dikendarai oleh Didi sudah meninggalkan rumah.
Didalam mobil, Dinar duduk dikursi depan dengan rasa gugup dan juga salah tingkah sementara Dirga dan Laras duduk dikursi depan.
"Jadi. Dan kami akan latihan dirumah Weni."
"Kaka tidak keberatan Mama tahu mengenai teman-teman Kaka?," tanya Dirga karena ia baru tahu kalau Indah memantau semua teman dan kegiatan Laras dirumah maupun diluar.
"Engga. Malah itu lebih enak buat Kaka. Jadi ga perlu jelasin macam-macam ke Mama. Mungkin jadinya malah bisa bohong dan ga jujur," jawab Laras.
"Kalau Dinar bagaimana?, Mama nya suka mantau kegiatannya?," tanya Dirga pada Dinar yang duduk dikursi depan.
"Mama aku ga seketat itu Om. Mungkin karena Mama sudah pusing dan repot sama anak-anaknya jadi ya gitu deh. Buat Mama yang penting Mama tahu aku perginya sama siapa?, kalau sama Laras, Mama ga tanya macam-macam. Dan memang setiap pergi aku sama Laras terus Om," jawab Dinar.
__ADS_1
"Oh ya?, memang rumah Dinar dimana?," tanya Dirga.
"Rumah aku 3 rumah dibelakang rumah Om. Jadi masih 1 komplek dan ga jauh."
"Oh, dekat sekali ya. Kalian teman SMP juga kan?."
"Iya Om."
Dinar merasa Dirga sangat ramah tidak seperti apa yang dia bayangkan pada awalnya.
Banyak hal ditanyakan oleh Dirga pada Laras maupun Dinar, dan tanpa terasa mereka sudah tiba didepan gerbang sekolah.
"Setelah selesai latihan langsung pulang kalau ingin dijemput oleh pak Didi telepon saja. Kaka sudah tahu nomor nya bukan?," tanya Dirga pada saat Didi mulai menepikan mobilnya.
"Iya Pap. Tapi kita biasa naik angkot kok. Jadi papa tidak perlu khawatir," jawab Laras.
Setelah mencium tangan Dirga, Laras dan Dinar turun dari mobil tepat didepan pintu gerbang sekolah.
Dirga menatap putri nya dengan penuh sayang dan tiba-tiba ia merasa rindu dengan Amora yang lebih memilih sekolah diluar.
"Bagaimana kabarnya?, Apakah Indah bisa pergi menemui Amora Bulan depan?," ucap Dirga dalam hati.
Setelah memikirkan perbedaan waktu, Akhirnya Dirga mengirim pesan untuk menanyakan kabar putrinya yang lain yaitu Amora.
"Papa sangat merindukan mu. Bagaimana kabar Mora, apakah kamu bisa liburan ke Jakarta?, Sudah sangat lama kamu tidak datang ke Indonesia. Pagi ini Papa akan ke Makasar dan Papa menunggu telepon balik dari Mora."
__ADS_1
Setelah mengirim pesan, membuka laptopnya untuk melihat laporan proyek yang akan dia kunjungi hari ini di kota Makasar.