
Indah sedang menyisir rambutnya saat pesan masuk ke handphone nya dan pesan tersebut berasal dari Abi.
" Apa kamu tahu kalau Laras ditantang balapan mobil oleh Amora ?," isi pesan dari Abi.
" Tidak. Laras tidak mengatakan apa-apa," balas Indah.
" Ini surat tantangan dari Amora," pesan Abi masuk bersama surat yang dikirim Laras sehari sebelumnya.
" Bagaimana mungkin dia bilang padamu sementara denganku tidak sama sekali."
" Mungkin dia tidak mau kamu khawatir. Aku hanya minta kamu menegur Amora , karena ini bukan yang pertama dilakukan oleh Amora !."
" Tentu aku juga tidak mau anak itu jadi kebiasaan menantang sembarangan, sementara dia tahu kalau Laras tidak bisa mengemudi,"balas Indah lagi.
" Bagaimana apakah Mas Dirga masih ada disana ?, Laras tadi mengabari ku kalau ia tidak latihan hari ini karena Mas Dirga ada dirumah," tanya Abi.
" Ya, Mas Dirga menginap disini."
" Semoga hubungan kalian membaik. Jangan biarkan Laras mempunyai harapan kosong terhadap Papanya."
" Aku mengerti. Terima kasih Bi, kamu selalu ada untukku."
" Karena aku adalah adikmu meskipun usia kita hanya selasih berapa menit saja."
Indah masih memandang handphonenya ketika ia merasakan tangan Dirga memegang bahunya dari belakang.
" Ada apa ?, tanya Dirga memandang wajah Indah dari cermin yang berada didepannya.
Indah memandang wajah Dirga yang segar sehabis mandi sementara suaminya hanya memakai handuk yang menutupi pinggang bagian bawah.
" Apakah aku mengatakan pada Mas Dirga mengenai tantangan Amora pada Laras." kata Indah dalam hati.
" Indah, siapa yang menelepon atau mengirim pesan padamu hingga wajahmu khawatir begitu ?," tanya Dirga sambil membalikkan tubuh Indah hingga menghadapnya.
" Hem, siapa yang khawatir ?, aku khawatir kalau malam ini cepat berlalu sehingga Mas akan pergi meninggalkan kami," jawab Indah tersenyum menggoda.
" Benarkah ?, mengapa aku tidak percaya padamu ?," tanya Dirga menatap mata Indah.
" Bagaimana dengan ini ?, apakah kamu akan percaya ?," goda Indah dengan meletakkan tangannya pada simpul handuk yang dipakai Dirga.
" Kamu sangat pintar mengalihkan perhatian ku sayang," kata Dirga dan ia segera mengangkat tubuh Indah dan membawanya ke tempat tidur sementara tangan Indah telah membuat handuk yang dikenakannya terlepas.
Dengan tertawa Dirga segera memeluk Indah yang berbaring dan memberikan ciuman pada wajah dan tubuhnya.
" Aku sangat merindukan dan membutuhkan dirimu Indah, layani dan beri aku kepuasan," rayu Dirga dengan penuh gairah yang sudah ditahannya sejak ia melihat Indah keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Dirga merasa sangat puas dan ia tersenyum melihat Indah yang masih merasa lelah karena serangan yang dia lakukan tetapi bibirnya tersenyum puas seperti dirinya.
" Apakah kamu menyukainya ?," tanya Dirga dan ia bergerak menjatuhkan tubuhnya di samping Indah karena ia tahu tubuh nya cukup berat untuk isterinya yang berbadan langsing.
" Sangat..., bagaimana denganmu ?," bisik Indah dengan menyentuh telinga Dirga saat berbisik.
" Sangat. Apa kamu masih capek ?."
" Kenapa ?, apakah Mas mau lagi ?, siapa takut ," tantang Indah tertawa menggoda membuat Dirga dengan cepat melakukan keinginannya lagi.
Suara alarm membangunkan Indah dan ia membuka matanya dengan berat.
Ia mencoba melepaskan lengan Dirga yang berada di atas dada dan dibawah perutnya sementara Dirga masih tidur dengan pulas nya.
Setelah berhasil melepaskan pelukan Dirga pada tubuhnya Indah segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sambil menyabuni tubuh nya Indah tersenyum puas karena dapat memberikan dan memenuhi kebutuhan Dirga meskipun ia merasakan pegal dan ngilu pada tubuhnya.
Indah keluar dari kamar mandi dan ia segera berpakaian dan dilihatnya Dirga masih tidur. Dengan senyum di bibir Indah keluar kamar untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berempat.
Jam 5.10 Laras sudah rapi dan ia membantu Indah merapikan meja makan dan membuat susu.
" Mam, majikan minum apa ?," goda Laras membuat Indah mendelik kesal hingga Laras tertawa.
" Laras, mengapa kamu tidak bilang ke Mama malah bilang ke Om Abi ?," tanya Indah.
" Soal apa Mam ?," tanya Laras sambil lalu.
" Surat Amora ?, dan mengapa ia menantang mu balapan mobil ?."
" Aku tidak tahu Mam, tapi aku sudah menolaknya ."
" Mengapa ?."
" Mam, aku itu tidak bisa mengemudi, sama aja aku bunuh diri kalau menerimanya," jawab Laras.
" Yakin kamu tidak bisa mengemudi ?," tanya Indah menyelidik.
" Benar Mam. Kalau ia menantang ku adu jotos aku pasti layani, tapi satu lawan satu ," jawab Laras dan ia langsung mengaduh kesakitan saat pahanya dicubit oleh Indah.
" Mam, sakit tahu," katanya mengeluh.
" Jangan sok jagoan, masih kelas 1 SMP mau jadi apa kamu ?, besok kamu tidak usah ikut latihan karate lagi atau ikut Om Abi ke sasana lagi," tegur Indah tajam.
" Mam, aku kan hanya bicara sama Mama aja."
__ADS_1
" Yakin kamu tidak menyombongkan diri pada teman-teman sekolahmu ?,"
" Serius Mam, teman-teman aku malah ga ada yang tahu aku ikut beladiri." kata Laras. Ia khawatir Indah akan melarangnya ikut olah raga beladiri lagi.
" Dengar Laras tugasmu adalah belajar !."
" Iya Mam. Tapi aku ga ngerti deh kenapa Amora bersikap seperti itu ya Mam." tanya Laras pelan.
" Maksudmu ?,"
" Ya Amora itu kan kakak kelasku, tentunya dia harus lebih memperhatikan pelajaran karena akan ujian. Tapi kenapa dia masih bersikap menguasai ?,"
" Mama tidak tahu. Boleh Mama tahu apa taruhan nya kalau kamu kalah ?."
" Jadi pembantunya selama 1 semester " jawab Laras pelan membuat Indah terkejut.
" Abi mengatakan ini bukan yang pertama, apa yang dilakukan sebelumnya padamu ?, jawab Mama Laras !."
" Hem,-
" Laras !."
" Sebelumnya ada yang menggunting rok ku, saat pelajaran olah raga dan aku beruntung karena saat itu pelajaran olah raga. Lalu ada juga yang meletakan pewarna didalam tasku membuat semua buku ku rusak. Aku tidak tahu kalau dilakukan oleh Amora sampai ada surat yang membuktikan semua itu perbuatan nya," kata Laras pelan.
" Apa alasannya ?,"
" Awalnya Amora mengatakan pada ku karena aku merebut perhatian Papa,"
" Mama akan menelepon nya. Anak itu semakin kurang ajar," kata Indah marah dan ia segera mengambil handphonenya di kamar diikuti oleh Laras yang mencoba melarang Indah untuk menegur Amora.
Indah masuk kamar dan mengambil handphonenya tanpa memperhatikan Dirga yang menatapnya heran.
" Mam, aku bisa menyelesaikan sendiri lagipula ini masalah sekolah Mam ," bujuk Laras.
" Masalah sekolah katamu ?, kamu tahu Abi mengirim pesan apa ke Mama ?, kamu bicara ke Om mu tapi tidak bicara ke Mama, apa kamu pikir Mama tidak bisa menjagamu ?,"
" Mam...," bujuk Laras dan ia terdiam ketika Indah bicara cepat pada Mama Amora yaitu Zenia.
" Mba Zenia, maaf mengganggu mu pagi-pagi seperti ini. Aku minta Mba awasi Amora, jangan biarkan ia bertindak kasar pada Laras lagi. Aku tidak akan membiarkan Amora mempermalukan Laras lagi ?."
" Mempermalukan apa Indah ?, bukankah kenyataan kalau Laras merebut Papa nya, sebelum menegurku pikirkan baik-baik apakah yang dilakukan Amora benar atau salah ?," jawab Zenia.
" Mba, apa yang dilakukan oleh Amora jelas salah. Dan aku tidak akan membiarkan nya bertindak kasar dan membahayakan Laras. Ingat Mba, semua surat tantangan dan ancaman yang dikirim Amora berada ditangan pengacaraku. Kalau sampai terjadi sesuatu pada putriku aku akan melaporkan putri mu, aku tidak perduli walaupun Amora tidak bertindak langsung." ancam Indah dengan penuh kemarahan sementara Laras hanya duduk diam di atas tempat tidur.
" Dengar Laras, apapun yang terjadi dan kamu alami disekolah kamu harus katakan pada Mama," katanya dan ia langsung keluar kamar.
__ADS_1