
Indah meninggalkan kamar penuh kemarahan dan Laras baru akan keluar kamar ketika Dirga memanggilnya.
" Katakan dengan jujur pada Papa, sudah berapa kali Amora bertindak kasar padamu ?," tanya Dirga tenang.
" Pap , bukan maksudku membuat Mama marah. Aku hanya..."
" Laras, apakah Amora kakak kelas mu disekolah ?, katakan dengan jujur pada Papa atau kamu akan melihat hukuman apa yang akan diterima Amora kalau kamu berbohong."
" Hem, aku harus bicara jujur apa ?,"
" Laras !."
" Amora bilang ke teman-teman disekolah kalau aku menggoda Papa hingga Papa melupakan Mama Zenia dan dirinya." jawab Laras pelan tetapi berhasil membuat wajah Dirga merah karena murka.
" Papa..., Laras mohon Papa jangan menghukum Amora. Laras yakin Amora merasakan kesepian karena Papa jarang pulang seperti yang Laras dan Mama rasakan juga."
" Tapi bukan seperti itu yang harus dilakukan Amora. Dia sudah bertindak diluar batas ," jawab Dirga tajam.
" Kalau ada yang salah itu adalah Papa bukan Amora, kalau saja Papa memberikan perhatian pada kami, Amora tidak akan bertindak seperti itu. Dimana Papa selama ini ?, harusnya Papa berkaca pada diri Papa sendiri sebelum memberi hukuman pada seorang anak yang membutuhkan kasih sayang," kata Laras dengan suara serak karena menahan tangis dan ia segera berlari keluar dari kamarnya.
" Laras ?," panggil Indah yang melihat Laras berlari ke arah kamarnya dan nyaris menabrak Bram yang berjalan kearah ruang tamu.
" Ada apa Tante ?," tanya Bram pada Indah.
" Tante tidak tahu. Kamu panggil Om untuk sarapan ya Bram, Tante akan lihat Laras." kata Indah dan ia segera menuju kamar Laras.
" Laras ?, ada apa ?," tanya Indah begitu melihat Laras memasukan buku kedalam tas dengan kasar.
" Mama tanyakan pada 'dia' ada apa !," jawab Laras marah.
__ADS_1
" Laras ?,"
" Mam, please aku tidak mau membahas dan membicarakannya."jawab Laras dan ia berjalan turun dengan membawa tas sekolahnya.
" Laras, Mama tetap menunggu penjelasan mu," kata Indah.
" Nanti ya Mam kalau kesal Laras sudah hilang," jawab Laras pelan.
Mereka menikmati sarapan dalam diam dan seperti biasa Laras lebih memilih sereal dibandingkan nasi goreng atau nasi uduk yang berada di atas meja makan.
Tepat jam 6.30 Laras sudah siap berangkat sekolah.
" Laras berangkat sekolah dengan siapa ?," tanya Dirga berusaha berbaikan pada putrinya.
" Sendiri ," jawabnya pelan.
" Bagaimana kalau Papa mengantarmu ?," tanya Dirga lagi.
" Sekolah Laras dekat Mas, aku akan mengantarnya sebentar," jawab Indah mengeluarkan motornya.
" Kamu mengantar Laras sekolah dengan motor ?," tanya Dirga.
" Biar aku yang mengantar Indah Tante, aku juga sudah siap berangkat kuliah kok. Aku pinjam motornya ya Tante," kata Bram mencoba mengatasi masalah mengantar Laras.
" Baiklah. Ini helm dan STNK nya. Hati-hati ya Bram," kata Indah menyerahkan STNK dan helmnya sementara motornya sudah menyala sejak tadi.
" Ya Tante," jawab Bram.
" Ayo naik !," katanya pada Laras.
__ADS_1
Bram melirik Laras yang naik ke jok dibelakangnya dan ia tersenyum melihatnya pakaian yang dipakai gadis itu.
" Om, Tante kami berangkat dulu," katanya dan motor pun melaju menuju sekolah Laras sesuai petunjuk yang diberikan gadis itu.
" Sekarang seragam sekolah seperti itu ya ?," tanya Bram pada Laras yang duduk dibelakang nya.
" Tidak semua memakai seragam seperti ini. Kebetulan aku menyukainya," jawab Laras.
" Bagus juga, tidak membuat mata berpaling ketika naik motor dengan caramu duduk seperti itu," kata Bram dan ia menerima pukulan di bahunya sebagai jawaban atas perkataanya.
" Sekolahmu ternyata dekat, pantas saja Tante Indah ingin mengantarmu pakai motor." kata Bram saat ia menurunkan Laras didepan gerbang sekolahnya.
" He eh, terima kasih sudah mengantarku," kata Laras sebelum masuk ke lingkungan sekolahnya.
Setelah Laras tidak terlihat lagi, Bram segera menarik gas motornya dan ia pun melaju dengan kencang menuju kampusnya.
Sementara itu dirumah Indah sedang duduk berhadapan dengan Dirga menanyakan sebab Laras menangis.
" Aku berkata keras akan menghukum Amora atas perbuatannya pada Laras, tapi dia melarang ku dan mengatakan semua itu adalah kesalahanku karena tidak memperhatikan dirinya maupun Amora. Jadi apa yang terjadi pada Laras dan Amora adalah kesalahanku," jawab Dirga pelan.
" Aku mengerti, karena yang harus Amora terima bukanlah hukuman tapi bimbingan dari Zenia maupun darimu Mas. Laras beruntung karena memiliki Abi, tapi bagaimana dengan Amora ?, sementara yang aku tahu Zenia mempunyai pergaulan sosial yang menyita waktunya untuk bersama Amora."kata Indah mencoba bersikap bijak.
" Ya aku telah bersalah pada kalian semua karena terlalu mengejar nafsu dan juga ambisi. Jam berapa kamu berangkat kerja ?," kata Dirga.
" Nanti jam 8. Mas sendiri jam berapa berangkat ke kantor ?,"
" Sebentar lagi. Nanti pulang kerja aku akan mampir kerumah Zenia. Kamu tidak keberatan bukan ?."
" Tidak. Tentu saja aku tidak keberatan. Dan Laras juga pasti mengerti bila Mas menginap dirumah Zenia," jawab Indah penuh pengertian.
__ADS_1
"