
Hari ini Bram mengajak Laras ke Negara tempat keluarganya tinggal dan Laras sangat gugup hingga Bram menggodanya.
"Kenapa? Ga biasanya gugup seperti itu?"
"Sebenarnya pertama ketemu keluarga kamu juga gugup ... Lebih gugup malah. Tapi waktu itu kan sama Papa dan Mama," jawab Laras meringis.
"Sekarang kan ada aku Yank, masa masih gugup sih?" Bram membujuk Laras kemudian meraih tangannya Laras dan menggenggam nya erat.
"Tidak ada yang akan membuat mu gugup karena kamu sudah menjadi bagian keluarga ku. Sejak hubungan kita diresmikan," ucap Bram dan kini dia membawa tangan Laras ke bibirnya.
Mendapat perlakuan yang penuh perhatian dan mesra akhirnya bisa membuat Laras tenang.
Lalu lintas yang lancar membuat perjalanan mereka tidak memakan waktu lama dan tidak berapa lama mobil yang membawa mereka memasuki halaman parkir yang sangat luas dan berhenti tepat di depan beranda rumah yang lebih pantas di sebut istana.
"Ayo turun Yank'!" Bram membuka pintu mobil di sampingnya dan segera berputar ke arah pintu tempat Laras duduk dan membukanya.
Laras menerima uluran tangan Bram dan dengan senyum di bibirnya dia melangkah masuk mengikuti langkah Bram sementara tangannya berada dalam genggaman Bram yang kuat dan melindungi.
"Halo. Sayang ...." suara lembut menyambut mereka yang berasal dari Mama nya Bram yaitu Syafira.
"Halo Tante ...."
"Hey! Kok masih panggil Tante sih? Panggil Mama dong Sayang. Kamu kan anak menantu Mama," Syafira memotong sapaan Laras dan segera memeluknya lembut.
__ADS_1
"Mama kangen sama kalian dan berharap kalian berdua segera meresmikan hubungan kalian," kata Fira. Dan ia segera melanjutkan ucapannya ketika melihat Laras seperti hendak bicara. "Dan Mama tahu sayang... Sekolah mu tidak bisa mengijinkan siswanya ada yang menikah."
"Ya Mam."
"Tenang saja Mam. Buat aku ga masalah kok selama aku bisa bersama dan melihat wajahnya. Apalagi kalau setiap bangun tidur. Uuuh, asik sekali," sahut Bram yang langsung mendapat cubitan di lengannya.
"Kalian... Benar yang dikatakan oleh Indah. Kelakuan kalian selalu membuat geleng kepala. Ayo masuk sayang, Mama akan tunjukkan kamar kamu."
"Kenapa ga Aku saja Mam yang nganter ke kamar?"
"Mama khawatir kamu ga keluar lagi dari dalam kamar Laras," sahut Fira membuat Laras malu sementara Bram hanya garuk kepala.
Syafira menggandeng tangan Laras layaknya seorang teman membuat Laras tersenyum.
"Ga apa-apa Mom. Laras merasa sikap Mama Fira sama dengan Mama Indah di rumah," jawab Laras malu.
"Mama suka kamu menganggap Mama seperti Mama kamu sayang. Nah ini adalah kamar kamu. Mama harap kamu suka," ucap Syafira sambil membuka pintu kamar.
Melihat kamar mewah yang berada di hotel, buat Laras tidak aneh karena ada harga yang harus di bayar. Tapi melihat sebuah kamar besar dan mewah yang berada di rumah membuat Laras terpana.
"Ada apa? Kamu tidak suka?" tanya Syafira.
"Bukan tidak suka Mam. Hanya saja kamar ini sangat berlebihan buat aku. Mengapa tidak kamar yang dulu aja?"
__ADS_1
"Dulu kamu masih tamu sayang. Sedangkan sekarang kamu adalah anak Mama."
Mendengar jawaban Syafira membuat Laras malu. Dia tidak menduga kalau dirinya mempunyai tempat di keluarga Wiguna.
"Terima kasih Mam."
"Mama tidak memerlukan ucapan terima kasih. Karena tugas orang tua adalah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sekarang kamu istirahat. Kalau nanti sudah mendekati waktunya makan malam, nanti Bram akan beritahu kamu."
"Ya Mam."
Setelah meminta Laras istirahat, Syafira meninggalkan kamar dan menutup pintu.
"Kenapa Mam? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Bram ketika melihat Syafira tersenyum.
"Mama suka dengan Laras. Kamu tidak melakukan yang merugikan pada Laras kan?"
"Engga Mam. Aku tetap sabar kok," jawab Bram dengan senyum rahasia.
"Ada apa dengan senyuman mu itu?"
"Ga apa-apa Mam. Curiga banget sih sama anaknya. Ya udah aku juga mau istirahat dulu deh."
"Hm ... Nanti sore Kakek datang."
__ADS_1
"Ya."