
Pagi-pagi sekali Laras sudah bangun , karena sudah menjadi kebiasaannya.
Selesai mandi dia mendengar suara kegiatan di dapur yang menandakan bahwa Indah sudah bangun.
" Halo Mam, bikin apa ?," tanya Laras.
" Ga bikin apa-apa. Tadi di Mpo Nisih ada lupis sama ketan."
" Ketan ?, pakai gula durian nya ga Mam ?."
" Ya engga lah, kecuali kalau kamu mau pesan."
" Tapi tumben Mama ga pesan nasi uduk ?,"
" Engga. Papa sepertinya kurang suka."
" Ooh, Mam kopi nya mau dibuatin sekarang apa nanti ?," tanya Laras setelah dia selesai membuat susu untuknya.
" Nanti saja. Papa belum bangun. Kalau dibuatin sekarang keburu dingin."
" Oke. Mam..., kalau Raisya sama yang lainnya main kerumah hari ini boleh ga ?."
" Kok tumben ?."
" Iya, kemarin kan aku ada beli sesuatu buat dia, jadi aku akan minta datang ke kemari. Ga enak kalau aku bawa ke sekolah Mam."
" Boleh, tapi bilang Raisya harus kasih kabar ke orang rumahnya lebih dulu. Kamu serius cuma Raisya , sepertinya kemarin kamu beli banyak ?."
" Ya, nanti yang kerumah memang bukan dia aja Mam, temen-temen yang biasa kesini."
" Belum, tapi ingat jangan macam-macam !."
" Oke Mam."
" Ya sudah, kamu pakai seragam sana, nanti Mama antar !."
" Oke Mam. Tapi Tuan besar kan belum bangun ?."
" Ya nanti Mama bangunkan untuk pamit nganter kamu."
" Siap Mam."
Setelah Laras sudah pergi ke kamarnya, Indah pun masuk ke kamarnya untuk membangunkan Dirga.
Indah membuka pintu kamar dan dilihatnya Dirga yang masih tertidur pulas.
Indah duduk ditepi tempat tidur dan menepuk bahu telanjang Dirga dengan pelan.
__ADS_1
" Mas..., bangun sudah siang." ucap Indah pelan.
Dirga memandang wajah Indah yang sedang tersenyum dan rambutnya yang belum kering.
" Sudah jam berapa ?," tanya Dirga masih mengantuk.
" Jam 6 kurang. Papa mau kekantor tidak ?."
" Aku suka kalau kamu memanggilku Papa. Kemari lah !."
" Sudah siang Pap, aku mau mengantar Laras ke sekolah dulu. Nanti aku kembali lagi."
" Naik motor ?," tanya Dirga.
" Engga. Motor aku kemarin kan dibawa Bram. Makanya aku mau berangkat pagi-pagi, supaya tidak terlambat."
" Bukankah sekolahnya tidak jauh ?."
" Kalau bawa motor memang tidak jauh, karena kita bisa belok didepan langsung. Tapi kalau bawa mobil harus putar dulu."
" Ya sudah hati-hati, Papa mau mandi dulu. Laras nya dimana ?," tanya Dirga.
Belum lagi Indah menjawab, terdengar suara Laras memanggilnya.
" Mam, udah siang..."
" Pap, aku berangkat dulu ya !," ucap Laras sambil tertawa.
" Ya, hati-hati !."
Kesibukan setiap pagi selalu sama bagi Indah dan Laras, dan mereka gembira serta merasa bahagia karena tidak menjadikan sebuah beban setiap kali melakukan tugas.
" Mam, boleh tanya sesuatu ga ?."
" Apa ?."
" Kalau aku tidak memakai cincin ini bagaimana ?," tanya Laras memperlihatkan cincin pertunangan nya.
" Kenapa ?, Mama rasa tidak masalah kamu memakainya. Seperti cincin biasa bukan ?."
" Tapi ini kan sangat berharga Mam, walaupun barangnya terlihat kecil."
" Darimana kamu tahu ?."
" Waktu kita di toko perhiasan. Aku kan sempat bertanya, dan harganya wow banget ."
" Itu artinya kami berharap kamu menghargainya. Pakai saja, teman-teman kamu paling menyangka cincin biasa."
__ADS_1
" Iya juga sih, sejak kapan aku pakai perhiasan ," ucap Laras tertawa.
" Kamu udah dapat kabar Bram kapan kembali ke Jakarta ?,"
" Engga, emangnya dia harus ngasih kabar ya ?."
" Ya ga tau juga. Siapa tahu dia mau ngasih tau kamu."
" Ga lah Mam, paling yang dikasih kabar Papa, kan dia ga tau nomor aku ."
" Kamu ga kasih tau nomor handphone mu ?."
" Engga. Kan dia juga ga minta."
" Berarti kalau nanti dia minta sama Papa atau Mama, ga masalah ya kalau Mama kasih tau."
" Terserah ."
" Mam, aku berhentinya jangan pas didepan gerbang ya !," pinta Laras saat mereka sudah dekat sekolah.
" Bikin macet. Aku turun di halte, sebelum gerbang aja Mam."
" Ya sudah, Mama minggir dulu ya."
Indah segera ambil jalur kiri khusus mobil yang akan berhenti di halte.
" Dah Mam, " ucap Laras berpamitan sambil mencium tangan Indah dan sebagai gantinya Indah mengecup kening dan kedua pipinya.
" Belajar yang baik, jangan banyak ngerumpi dikelas." ucap Indah membuat Laras tertawa.
" Ya Mam."
Laras turun dari mobil dan segera berjalan menuju gerbang sekolahnya.
" Laras...!," terdengar suara memanggil namanya dari belakang.
" Hey, kok tumben baru sampe, biasanya kamu duluan ?."
" Iya, Tadi aku telat bangun." jawab Rasiya tertawa.
" Diantar siapa ?."
" Mama."
" Oooh, eh waktu hari Jum'at diantar siapa ?, ada yang lihat kamu diantar cowok keren. Siapa sih ?."
" Kepooo." jawab Laras tertawa membuat Raisya cemberut.
__ADS_1