
Dua hari Rizal menghubungi Dirga agar bersedia membantu putranya mengelola hotel yang baru di akusisi oleh perusahaan nya karena Bram juga masih harus kuliah. Dan ia juga meminta agar Dirga mengenalkan Bram pada keluarganya seperti hubungan mereka saat masih muda.
Di rumah yang terlihat ramai karena suara musik dari kamar Laras serta panggilan Indah yang meminta putrinya mengecilkan volumenya.
"Laras..., kamu kecilkan volumenya atau Mama matikan listrik nya." Suara Indah terdengar kencang saat memberi peringatan pada putrinya.
"Iya Mam...." jawabnya sambil menurunkan volumenya sambil tertawa.
"Laras, Mama mau balik ke kantor dulu ya!" katanya sambil melihat jam tangannya.
"Bukankah Mama udah izin?" tanya Laras sambil lalu.
"Sudah sih..., bagaimana kalau kita ke mini market depan komplek? mau tidak?"
"Kita. Memangnya kalau Mama sendiri kenapa?" tanya Laras tertawa.
"Anak ini. Cepat atau Mama klitikan kamu ya...." ancam Indah pada putrinya.
"Ih Mama mainnya klitikan, ga seru," katanya cemberut.
"Udah cepat ganti celana kamu!" perintahnya.
"Ini juga bagus kok Mam," katanya sambil melihat kearah celananya.
"Tidak. Mama ga suka kamu keluar pakai celana pendek seperti itu, apalagi pakai rok mini," ucap Indah.
"Ya ya ya... Mama Indah yang cantik," jawabnya dan ia segera mengambil celana panjangnya.
Laras menatap Indah yang sedang mengeluarkan motornya.
"Dia ga datang ya Mam?" tanyanya pelan.
"Mama ga tau, ga ada kabar. Kenapa?" tanya Indah menatap Laras.
__ADS_1
"Ga pa pa..., walaupun udah biasa dia seperti ini kaya nya ga seru ya Mam kalo di php in terus," katanya pelan.
Indah tidak menjawab perkataan Laras putrinya, dia hanya merangkul bahu anak gadisnya dengan rasa sayang.
"Kamu mau menghubungi nya?"" tanya Indah sambil mengunci pintu pagar.
"Menghubungi nya? males banget," jawab Laras dan ia naik dibelakang Indah.
Motor yang dikemudikan Indah baru bergerak sekitar 15 meter ketika Laras mencolek pinggang Indah.
"Seperti nya majikan baru dateng Mam," katanya dekat telinga Indah.
"Hah, mana?" tanya Indah menghentikan motornya.
"Baru lewat tuh," katanya melihat ke belakang.
"Dia sudah terlambat berapa jam dari kamu pulang sekolah?" tanya Indah kalem.
"Hemmm, hampir 4 jam," jawab Laras tertawa.
"Terserah Mama aja lah," katanya tertawa.
Sementara itu Dirga sudah tiba di depan rumah yang ditempati Indah bersama putrinya dan dia merasa kesal karena pintu pagar terkunci sementara mobil Indah ada dirumahnya.
"Kemana dia, aku sudah bilang bahwa aku akan datang." katanya pelan dan ia segera menelepon Indah, tetapi tidak terhubung.
"Ini rumah siapa Om?" tanya Bram saat ia keluar dari mobil.
Bram melihat rumah yang berada didepannya tidak terlalu mewah tetapi mempunyai halaman yang cukup luas. Rumah ini terlihat asri dan hijau dengan banyaknya tanaman yang menghiasi halaman.
"Ini rumah Indah, isteri kedua Om. Mamanya Laras lebih memilih rumah yang tidak terlalu besar dengan alasan agar bisa selalu melihat putrinya," jawab Dirga.
Apakah Tante Indah tidak mempunyai asisten rumah tangga?"
__ADS_1
"Tidak. Hanya mereka yang tau alasannya," jawab Dirga yang sudah keluar dari mobilnya.
Dirga kembali menghubungi Indah dan ia menghela nafasnya ketika terhubung.
"Halo, dimana kalian?" tanya Dirga langsung.
"Oh, kami di mini market depan komplek. Mas dimana?" tanya Indah tersenyum dengan Laras.
"Aku didepan rumah. Cepat kembali aku menunggu di depan rumah!" katanya jengkel.
"Ya, kami akan segera kembali," jawabnya.
Tidak berapa lama Indah dan Laras tiba dari mini market.
Dirga menatap tajam dan tidak percaya Ketika melihat isteri dan anaknya keluar mengendari motor.
"Kalian keluar membawa motor?Apa gunanya mobil kalau tidak dipakai," tegur nya tanpa memperdulikan Bram yang menatapnya geli.
"Kita cuma ke mini market depan Mas, bukannya keluar jauh," jawab Indah dan ia mengeluarkan kunci untuk membuka pintu pagar sementara Laras memasukan motor mereka.
"Dan kamu, kenapa ikut pergi?" tegur Dirga pada Laras.
"Tadinya sih males, cuma kasihan sama Mama kalau nanti nyasar," jawab Laras setelah mencium tangan Dirga.
Dirga menatap putrinya yang sudah besar dengan bicaranya yang ceplas-ceplos dan terkadang lancang terhadap dirinya tetapi dengan sikapnya itu justru membuat dirinya kerasan bila bersama Indah dan juga Laras.
"Aku pikir Mas tidak datang karena sudah sangat terlambat dari waktu yang Mas Dirga katakan," kata Indah membela diri sementara Laras menyiapkan minuman untuk Dirga dan juga pria yang datang bersama Papa nya.
"Indah, kenalkan dia adalah Bramasta Wiguna, putra satu-satunya dari Rizal dan Syafira dan Bram kenalkan isteri Om Indah dan gadis cantik itu adalah putri Om namanya Larasati," kata Dirga memperkenalkan mereka.
"Selamat datang dirumah kami, maaf kalau kalian sudah menunggu," kata Indah sementara Laras hanya tersenyum tipis.
"Apakah aku boleh permisi, ada sesuatu yang belum aku selesaikan," kata Laras pada mereka.
__ADS_1
"Tidak! Duduk kamu tetap disini," jawab Dirga dan Indah bersamaan membuat Bram dan Laras geli.
"Ga mesti kompak juga kali kalau ngelarang," jawab Laras sambil duduk tidak jauh dari mereka.