
Dirga masih memeluk erat Amora ketika putrinya bertanya.
" Apa malam ini Papa menginap disini ?."
" Maafkan Papa ya sayang," ucap Dirga sambil mencium kepala Amora.
" Aku mengerti. Dimana Papa tinggal selama di Jakarta ?, apa dirumah Tante Indah ?."
" Apakah Papa masih perlu menjawab ?," tanya Dirga.
" Apa boleh kalau aku ingin bertemu dengan Papa aku datang ke rumah Tante Indah ?."
" Tentu saja, yang jelas kamu harus bertanya dulu pada yang punya rumah kalau ingin bertamu. Dan... boleh Papa tanya sesuatu padamu ?."
" Ya, aku tahu apa yang Papa mau tanyakan. Tentang sikap aku pada Laras bukan ?, aku minta maaf Pah, tidak seharusnya aku berbuat seperti itu."
" Bagus kalau kamu sudah menyadarinya. Papa ingin kamu menjaga Laras, sebagai seorang kakak kamu harus melindungi dirinya bukan malah memusuhi dirinya, kamu mengerti ?."
" Ya Pah, aku menyesali nya dan janji tidak akan mengganggunya lagi."
" Itu baru anak Papa. Papa keluar dulu ya, kamu istirahatlah !."
" Hmm."
Dirga meninggalkan Amora dikamar nya dan ia menuju kamar Zenia yang tertutup.
Dengan ragu-ragu Dirga membuka pintu kamar Zenia berharap pintunya tidak terkunci dan ia bersyukur entah sengaja atau sudah menjadi kebiasaan Zenia tidak mengunci pintu kamarnya.
Dirga menatap sekeliling kamar isterinya dan ia melihat photo mereka saat menikah dan ia tersenyum teringat saat-saat mereka masih bahagia dengan kehidupan rumah tangga yang baru terbangun, Lalu pandangannya tertuju pada sebuah lukisan diri Zenia mengikuti pose Kate Winslet dalam film Titanic.
" Bagaimana mungkin ia berpose seperti itu ?, apakah ia begitu bangga pada keindahan tubuhnya yang palsu," ucap Dirga tidak mengerti.
Lalu ia membuka lemari pakaiannya berharap masih ada pakaian nya yang tersimpan, tetapi semuanya sudah tidak ada sama sekali, digantikan dengan baju dan kemeja laki-laki yang dia ketahui bukan lah miliknya.
" Milik siapa semua ini." ucap Dirga mulai tersulut emosinya.
Lalu ia mengambil kotak brankas yang disimpan secara rahasia.
Dirga membuka dan melihat isinya dan ia segera memeriksa semuanya.
" Syukurlah ini semua masih aman. Aku rasa aku harus memindahkannya, karena aku merasa tidak aman bila semua ini masih berada disini." ucap Dirga, lalu ia memindahkan isi brankas kedalam tas kerjanya lalu menyimpan kembali kotak brankas ketempat semula.
Lalu Dirga bermaksud mengambil kotak lain yang berada didalam lemari, tetapi lemari itu terkunci hingga ia tidak dapat memeriksa isinya.
__ADS_1
" Aku harus menyelamatkan ini dulu, sementara yang lainnya tidak begitu penting bagiku." kata Dirga dan ia menemui Amora kembali dikamarnya.
" Mora, boleh Papa bertanya ?."
" Tentang ?."
" Apakah ada lelaki yang datang menemui Mama dan bermalam di rumah ini ?, Papa tidak akan marah karena memang sudah lama Papa tidak melakukan kewajiban Papa. Apakah dia Om Dicky ?," tanya Dirga dengan suara pelan dan lembut, ia tidak ingin membuat Amora takut.
Dengan rasa takut akan kemarahan Dirga, Amora menganggukkan kepalanya dan ia pun menangis membuat Dirga tidak tega melihat kesedihan putrinya.
" Papa ada bersama Mora, Mora tidak perlu takut."
" Aku takut kalau Om Dicky akan memarahi Mama Pah. Aku sering lihat Mama di marahi karena Mama tidak mengikuti kemauan nya."
" Apakah kamu mau tinggal bersama Tante Indah dan Laras ?, Papa rasa mereka tidak akan keberatan. Papa khawatir dengan mu bila harus tinggal dirumah ini."
" Aku tidak ingin mengganggu dan merepotkan Tante Indah, Lebih baik aku menginap di hotel."
" Baiklah, sekarang kamu berkemas, malam ini tinggal di hotel dulu, nanti Papa akan minta Om Andri mencari Apartemen untuk Amora. Jangan lupa buku-buku pelajaran dibawa."
" Ya Pah. Terima kasih Papa sudah ada untuk Mora."
" Maafkan Papa sayang, selama ini Papa tidak ada untuk Amora maupun Laras." ucap Dirga sambil memeluk erat putrinya.
" Iya Pah. Terima kasih."
Dirga meninggalkan kamar Amora dan memanggil pelayan untuk membantu Amora berkemas, lalu ia menemui Andri yang masih berada diruang tamu.
" Andri, kamu hubungi Winata, aku memerlukan dia sekarang!," perintah Dirga.
" Baik Tuan."
Setelah terhubung, Dirga lalu memberikan perintah pada Winata, pengacaranya.
" Halo Winata, aku ingin kamu siapkan surat gugatan cerai pada Zenia Hapsari. Alasannya dia sudah berselingkuh sekian lama. Dan aku tidak bisa menerimanya."
" Baiklah Tuan, apakah ada bukti lain ?."
" Ya, Aku akan mengirim buktinya padamu."
Dengan cepat Dirga mengirim photo yang dia ambil saat berada dikamar Zenia beserta isi lemari yang berisi pakaian pria.
" Andri, aku minta kamu mencarikan apartemen untuk Amora besok, dengan keamanan yang terjamin, karena aku tidak mau putriku tinggal bersama orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri."
__ADS_1
" Baik Tuan, akan saya lakukan segera. Lalu Nona Amora akan menginap dimana malam ini ?, apakah dirumah Bu Indah ?."
" Tidak. Amora tidak mau mengganggu dan merepotkan. Dia lebih memilih tinggal di hotel sampai aku mendapatkan apartemen untuknya. Dan kamu juga minta Didi untuk mengantarnya sekolah besok."
" Baik, akan saya kerjakan."
Dirga kemudian melihat Amora turun bersama pelayan yang sudah lama menemaninya sambil membawa koper besar.
" Tuan, apakah saya boleh menemani Non Amora ?, saya tidak tega membiarkan Nona sendirian." katanya dengan suara penuh harap.
" Amora, apakah kamu bersedia ditemani oleh Bik Sumi ?," tanya Dirga.
" Ya Pah, kalau Papa mengijinkan."
" Baiklah Bik Sumi, apakah Bibik bisa cepat ?."
" " Bisa Tuan, saya akan berkemas dengan cepat," jawab Bik Sumi dan ia langsung menuju kamarnya dan tidak berapa lama ia sudah kembali dengan membawa tas besar.
Mereka sudah berada dijalan menuju hotel ketika Indah menanyakan keberadaan Dirga.
" Halo Mas, sedang berada dimana ?."
" Aku masih dijalan menuju hotel ?."
" Hotel?, Mas mau menginap di hotel ?, boleh aku tahu alasannya?."
" Bukan aku yang menginap di hotel, tapi Amora ?."
" Amora ?, ada apa dengannya dan mengapa ia harus menginap di hotel ?."
" Zenia saat ini berada di Korea, aku tidak tahu dia kapan kembali sementara aku tidak mau dia sendirian dirumah."
" Apakah Mas tidak menawarkan untuk bermalam disini ?, aku rasa Laras tidak akan keberatan karena masih ada kamar."
" Aku sudah menawarkan untuk bermalam di sana, tetapi ia tidak ingin menganggu dan merepotkan kalian."
" Baiklah, tolong Mas katakan pada Amora bahwa ia bisa menghubungi ku dan Laras bila memerlukan bantuan."
" Ya, aku ucapkan terima kasih atas kepedulian mu pada Amora."
" Baiklah, kabari kalau kalian sudah tiba di hotel."
" Ya aku akan memberimu kabar begitu Amora sudah mendapatkan kamar. Aku tutup dulu," ucap Dirga pelan.
__ADS_1