Janji Dalam Cinta

Janji Dalam Cinta
Episode 64.


__ADS_3

"La ..., Laras, kamu berangkat jam berapa hari ini?."


Terdengar suara panggilan Indah dari lantai bawah membuat Laras segera menemui nya.


"Aku berangkat jam 11 Mam hari ini. Kan acaranya jam 12.30," jawabnya sambil nyengir.


"Terus kamu dari tadi dikamar ngapain? kok tumben ga main dibawah."


"Biasa Mam, nge chat."


"Sama siapa? Bram?."


"Sama Bram ngechat? mana mau dia," katanya tertawa.


"Memangnya kalau sama Bram ngapain? Videocall?."


"Hem, katanya dia mau yang pasti aja."


"Maksudnya? pasti gimana?."


"Kalau lewat chat dia tanya aku lagi ngapain terus aku jawab lagi bantu Mama padahal aku lagi shoping, artinya kan ga pasti," jawabnya.


Mendengar jawaban Laras, Indah hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Nanti Dinar bareng sama kamu ga? soalnya Pak Didi Mama minta tolong antar Amora ke Bandara hari ini."


"Iya Mam, Amora semalam juga udah bilang kalau hari ini dia kembali ke Ausi. Aku sama Dinar nanti naik angkutan umum."


"Terus sekarang udah mandi belum? kalau belum mandi sana! lihat sudah jam berapa!."


"Iya mamaku cantik, bentar lagi aku mandi. Danish kemana Mam?."


"Di belakang lagi di ajakin sama Mba. Kenapa? kamu mau ngajak main juga?."


"Nanti aja Mam, kalau pulang sekolah. Aku mandi dulu ya Mam."

__ADS_1


Siang ini adalah hari penutupan MPLS. Dan pada hari ini setiap ekstrakurikuler disekolah menunjukkan hasil kreasi dan prestasinya agar kegiatan mereka diminati oleh siswa baru. Dan pada hari ini juga akan dilakukan perkenalan dengan para pengajar dan staf yang bekerja di SMA Anabel.


Hari sudah menjelang siang dan Laras sudah siap berangkat, tetapi Dinar belum juga datang.


"Kemana sih tuh anak, tumben belum juga datang?." Laras melihat keluar pagar dan dilihatnya Dinar sedang berjalan sambil tertawa.


"Ga usah tertawa, lihat nih udah jam berapa?," tegur nya sementara Dinar hanya tertawa saja.


Setelah berpamitan pada Indah, mereka segera keluar untuk menunggu angkutan umum yang lewat.


Tidak berapa lama, mobil angkutan umum yang melewati lokasi sekolah mereka datang dan mereka pun segera menyetopnya.


"La, besok kalau udah aktif belajar kita masuk siang kan?," tanya Dinar.


"Hem. Kemarin sih dikasih tahunya begitu. Kenapa?."


"Kalau masuk siang lebih santai dan ga begitu macet."


"Iya juga sih."


"Memang Almer mau apaan?."


"Yang kemarin aku bisikin ke kamu."


"Astaga, jelek banget sih tuh anak kelakuannya."


"Ga sesuai sama wajahnya."


"Memang wajahnya gimana?," tanya Laras tertawa.


"Ya wajahnya kan lumayan ganteng La," jawab Dinar ikut tertawa bersama Laras.


Mereka berdua terus ngobrol dan tidak terasa mobil angkutan umum yang mereka tumpangi sudah hampir sampai sekolah.


"Ayo ah siap-siap. Abang ..., Anabel kiri ya." kata Laras pada sopir angkot dengan suara sedikit keras.

__ADS_1


"Wah si Eneng cantik banget namanya Anabel. Pas sama wajahnya," goda seorang ibu ketika Laras menyetop mobil.


"Terima kasih Bu ..., Anabel memang hebat, makanya banyak siswa yang antri," jawab Laras tersenyum manis.


"Tapi jangan sombong Neng. Mentang-mentang cantik," kata si ibu dengan serius.


"Iya Bu," jawab Laras sementara Dinar berusaha menahan tawa.


"Astaga La, sejak kapan nama kamu diganti Anabel?," katanya tertawa geli ketika mereka. masuk ke halaman sekolah.


"Sejak di angkot tadi. Kalau aku bilang Anabel nama sekolah kita, kasihan ibu itu nanti dia merasa malu."


"Bener juga kamu La. Hebat deh teman aku ini, sampe segitunya."


"Segitu apa nya? kamu kalau ngomong langsung kenapa sih Din."


"Segitu perhatiannya sama perasaan orang," jawab Dinar tertawa.


"Bagaimana dengan perasaanku? apakah kamu memikirkannya?," tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari arah belakang mereka.


"Eh, Kak Almer, kira in siapa." tegur Laras dan Dinar tersenyum.


"Kok ga dijawab?."


"Perasaan Kaka yang memirkan ya yang punya. Karena aku cukup memikirkan perasaan seseorang yang sudah sangat spesial di hati aku. Dan aku berharap tidak akan pernah tergantikan," jawab Laras dengan suara tegas disertai dengan senyum manisnya.


"Jadi kamu udah punya pacar?."


"Hem. Dan kami sudah bertunangan," jawab Laras sambil menunjukkan cincin pertunangan yang selama ini dipakainya.


"Astaga La, ternyata itu cincin tunangan kamu?, itu kan udah kamu pakai sejak SMP. Jadi benar apa yang di bilang Raisya kalau cincin yang kamu pakai itu cincin pertunangan dan cowok keren yang jemput kamu waktu itu Bram?, Ih Laras, kok kamu baru ngenalin ke aku baru sekarang sih." Dinar bicara tanpa henti membuat Almer terdiam karena dari kata-kata Dinar dia tahu siapa cowok Laras.


"Tapi tidak salah kalau aku berharap bukan?."


"Terserah, setiap orang punya hak. Tapi hak tersebut tidak berlaku buat aku. Maaf ya Kak, aku mau masuk kelas dulu. Ayo Din."

__ADS_1


Dengan langkah pasti Laras dan Dinar meninggalkan Almer yang masih berdiri dengan tatapan tidak percaya.


__ADS_2